Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecewa
Langkah Raia terasa goyah saat ia keluar dari ruang tamu, meninggalkan ibunya dan ibu Arlan yang masih terisak. Kebenaran yang baru saja terucap dari mulut kedua orang tua mereka jauh lebih menyakitkan daripada ancaman Arlan mana pun.
Ternyata, selama sepuluh tahun ini, kedua ibu mereka saling berkomunikasi. Ibu Arlan menceritakan kecelakaan tragis itu, sementara ibu Raia setuju untuk menyembunyikannya agar Raia bisa fokus pada kuliah dan masa depannya tanpa harus terpuruk menunggu seseorang yang bahkan tidak ingat namanya sendiri. Mereka berkonspirasi membiarkan Raia hidup dalam ketidaktahuan, membiarkannya menangis setiap malam mengira dirinya dibuang.
"Raia, tunggu!" teriak Arlan, mengejarnya hingga ke lobi apartemen. "Aku baru tahu kalau Ibu juga bicara pada ibumu! Aku tidak tahu mereka menyembunyikan semuanya darimu!"
Raia berbalik, matanya merah padam. "Jangan mendekat, Lan. Jangan satu langkah pun."
"Ra, aku juga korban di sini! Aku kehilangan ingatanku—"
"Lalu kenapa setelah ingatanmu kembali, kamu tidak jujur?" potong Raia, suaranya melengking perih. "Kenapa kamu malah datang sebagai bos yang angkuh dan mengancam pengobatan ayahku? Kamu punya waktu tiga tahun untuk bicara jujur, tapi kamu malah memilih menjadi monster!"
Raia menggelengkan kepala, air matanya jatuh tanpa henti. "Aku bukan hanya kecewa padamu, Lan. Aku kecewa pada ibuku, pada ibumu, dan pada semua kebohongan yang kalian sebut 'demi kebaikanku'. Kalian memperlakukan hidupku seperti mainan."
"Ra..."
"Cukup, Arlan. Jangan cari aku. Jangan hubungi aku. Jika kamu benar-benar ingin menebus kesalahanmu, biarkan aku pergi tanpa ancaman apa pun lagi. Aku butuh ruang yang tidak ada kalian di dalamnya."
Raia masuk ke dalam taksi yang baru saja datang, meninggalkan Arlan yang mematung di pinggir jalan. Rahasia sepuluh tahun itu tidak menyatukan mereka; ia justru menjadi ledakan terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa kepercayaan Raia.
Arlan tidak membiarkan taksi itu menjauh begitu saja. Persetan dengan setelan jas mahalnya, persetan dengan citra CEO dingin yang ia bangun bertahun-tahun. Ia berlari sekuat tenaga, mengejar mobil sedan kuning yang membawa Raia pergi.
"Raia! Berhenti! Tolong dengarkan aku sekali saja!" teriak Arlan di tengah hiruk pikuk jalanan depan apartemen.
Napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar, namun kakinya terus melangkah. Saat taksi itu tertahan lampu merah di ujung blok, Arlan berhasil menyusul. Ia memukul kaca jendela taksi dengan telapak tangannya, membuat sopir taksi terlonjak kaget.
"Raia, buka! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan kebencian seperti ini!" Arlan berteriak di balik kaca yang tertutup rapat.
Di dalam taksi, Raia hanya memalingkan wajah. Bahunya berguncang hebat karena isak tangis yang tak tertahankan. Ia melihat pantulan wajah Arlan di kaca—pria yang dulu ia cintai, pria yang menjadi monster di kantornya, dan kini pria yang ternyata adalah korban dari konspirasi kedua ibu mereka sendiri.
"Pak, jalan saja. Jangan pedulikan dia," bisik Raia pada sopir taksi saat lampu berubah hijau.
Taksi itu melesat maju. Arlan sempat mengejar beberapa meter lagi sebelum akhirnya tersungkur di aspal. Ia berlutut di tengah jalan, mengabaikan klakson kendaraan lain yang memakinya. Air matanya jatuh, membasahi aspal yang panas.
"Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu, Ra... meskipun caraku salah," gumam Arlan lirih, menatap lampu belakang taksi yang perlahan menghilang di antara kemacetan Jakarta.
Kejadian itu merubah segalanya. Arlan menyadari bahwa kekuasaan dan uangnya tidak bisa membeli kembali kepercayaan yang telah ia hancurkan dengan kebohongan dan ancaman. Sementara bagi Raia, setiap putaran roda taksi itu adalah langkah menjauh dari masa lalu yang penuh luka.
Arlan melangkah gontai memasuki rumah besarnya dengan kemeja yang kotor terkena aspal dan napas yang masih tersengal. Di ruang tengah, ibunya sudah menunggu dengan wajah sembap namun penuh amarah. Begitu melihat putranya dalam kondisi berantakan, sang ibu bukannya iba, justru berdiri menghampirinya dengan tatapan tajam.
"Lihat dirimu, Arlan! Apa yang kamu lakukan?!" suara ibunya meninggi, memecah keheningan rumah.
Arlan hanya terdiam, menatap lantai dengan tatapan kosong. "Raia pergi, Bu. Dia tahu semuanya."
"Tentu saja dia pergi! Ini semua salahmu sendiri, Arlan!" bentak ibunya sambil memukul lengan putranya dengan dokumen-dokumen yang berserakan. "Ibu dan ibunya Raia sudah mencoba menutupi luka itu supaya kalian bisa memulai pelan-pelan. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah menjadi bos yang kejam, kamu mengancam pengobatan ayahnya hanya karena kamu takut dia pergi!"
Arlan mendongak, matanya merah. "Aku hanya ingin dia tetap di sisiku, Bu! Aku takut kalau dia tahu aku cacat ingatan dulu, dia akan mengasihaniku!"
"Tapi bukan begitu caranya, Arlan! Bukannya memperbaiki keadaan dan menjelaskan pelan-pelan, malah kau bikin jadi rumit! Hanya karena kau tidak sengaja mendengar pembicaraan Ibu dan Ibu Raia tempo hari soal rencana kami menjodohkan kalian, kau malah menjadi egois dan menggunakan kekuasaanmu untuk menekan dia!" ibunya terisak, terduduk di kursi. "Kau merusak rencana yang kami bangun dengan penuh kasih sayang menjadi mimpi buruk bagi Raia."
Arlan jatuh terduduk di lantai, menyembunyikan wajah di balik kedua tangannya. Penyesalan itu datang terlambat. Rahasia sepuluh tahun yang terbongkar dengan cara yang salah telah merubah segalanya menjadi abu.
"Sekarang dia membenci kita semua, Lan. Bukan cuma kamu, tapi juga Ibu," bisik ibunya lirih.
Malam itu, rumah mewah itu terasa sangat dingin. Arlan menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah kecelakaan di London sepuluh tahun lalu, melainkan ketakutan dan egonya sendiri yang telah mengusir satu-satunya wanita yang ia cintai.
Tanpa memedulikan luka lecet di tangannya akibat tersungkur di aspal tadi, Arlan kembali memacu mobilnya menuju apartemen Raia.
Pikirannya kalut. Kata-kata ibunya terus terngiang, menghujam jantungnya dengan kenyataan bahwa ia telah merusak segalanya karena ego dan ketakutannya sendiri.
Sesampainya di depan unit Raia, Arlan tidak lagi mengetuk dengan angkuh. Ia menyandarkan keningnya di pintu kayu yang dingin itu.
"Raia... aku tahu kamu di dalam," bisik Arlan, suaranya parau dan bergetar. "Aku tidak akan memintamu kembali ke kantor. Aku juga tidak akan mengancammu lagi soal ayahmu. Surat pelunasan biaya rumah sakitnya sudah kukirim ke emailmu—tanpa syarat apa pun."
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.
"Aku hanya ingin kamu tahu... sepuluh tahun lalu, saat aku bangun dari koma dan tidak ingat siapa diriku, satu-satunya hal yang tersisa di kepalaku adalah perasaan hangat setiap kali aku mencoba membayangkan seseorang. Ternyata itu kamu, Ra," Arlan terisak, bahunya berguncang. "Aku menjadi monster karena aku tidak tahu cara menjadi manusia lagi setelah hancur di London.
Aku takut kalau aku terlihat lemah, kamu tidak akan mencintaiku lagi."
Tiba-tiba, pintu terbuka sedikit. Bukan Raia yang muncul, melainkan Gilang yang menatap Arlan dengan tatapan kasihan sekaligus marah.
"Dia sudah pergi, Lan. Lewat pintu belakang saat kamu masih berdebat dengan ibumu di telepon tadi," ucap Gilang pelan. "Dia menitipkan ini untukmu."
Gilang menyodorkan sebuah kotak kecil usang. Di dalamnya ada sebuah jam tangan murah yang sudah mati—hadiah ulang tahun dari Arlan untuk Raia sepuluh tahun lalu sebelum Arlan berangkat ke London.
"Dia bilang, waktunya dengan Arlan yang dulu sudah berhenti di jam ini. Dan dia tidak punya waktu untuk Arlan yang sekarang," tambah Gilang sebelum menutup pintu rapat-rapat.
Arlan terduduk lemas di depan pintu yang tertutup itu. Ia memeluk kotak kecil itu erat-erat. Keberaniannya yang terlambat telah merubah segalanya menjadi perpisahan yang paling sunyi.
Raia mematikan ponselnya dan membuang kartunya ke tempat sampah di pinggir jalan. Ia tidak ingin ditemukan oleh siapa pun, terutama Arlan atau ibu mereka. Dengan sisa tenaga dan air mata yang mengering, ia memacu mobilnya menuju pinggiran kota, ke rumah Maya—satu-satunya sahabat yang tidak terlibat dalam drama sepuluh tahun ini.
Begitu pintu rumah kayu minimalis itu terbuka, Maya terkejut melihat kondisi Raia yang kacau balau. Tanpa kata, Raia langsung menghambur ke pelukan Maya dan tangisnya pecah seketika.
"May, aku nggak punya siapa-siapa lagi... Mereka semua membohongiku," isak Raia di bahu sahabatnya.
Maya membawa Raia masuk, memberikannya segelas teh hangat, dan mendengarkan seluruh cerita pahit itu—mulai dari kecelakaan Arlan di London, foto di Instagram yang ternyata sepupu, hingga konspirasi kedua ibu mereka yang menyembunyikan kebenaran selama satu dekade.
"Jadi Arlan mengancammu soal biaya RS ayahmu hanya supaya kamu nggak pergi?" tanya Maya dengan nada tak percaya. "Itu gila, Ra. Itu bukan cinta, itu obsesi."
"Dia bilang dia takut kehilanganku lagi, tapi dia justru membunuh perasaanku dengan caranya yang kasar," sahut Raia lemah. "Aku ingin menghilang, May. Aku nggak mau Arlan tahu aku di sini."
Maya mengangguk mantap. "Kamu aman di sini. Arlan nggak tahu rumah baruku ini. Istirahatlah, biar aku yang jaga di depan."
Malam itu, di rumah Maya yang tenang, Raia akhirnya bisa bernapas tanpa merasa tercekik oleh bayang-bayang Arlan. Namun, ia tahu Arlan adalah pria yang keras kepala. Dengan kekuasaannya sebagai CEO, hanya masalah waktu sampai Arlan mulai melacak keberadaannya.
Setelah hampir sebulan menutup diri di rumah Maya, Raia akhirnya luluh. Bukan karena ia sudah lupa akan rasa sakitnya, tapi karena ia butuh titik terang agar bisa benar-benar melangkah maju tanpa bayang-bayang masa lalu yang menghantuinya.
Melalui perantara Maya, sebuah pertemuan diatur di sebuah taman kota yang sepi—tempat yang jauh dari tekanan kantor maupun campur tangan orang tua mereka.
Arlan datang lebih awal. Penampilannya jauh berbeda dari sosok bos arogan yang Raia lihat di kantor. Ia tampak lebih kurus, matanya kuyu, dan tidak ada lagi setelan jas mahal. Ia hanya mengenakan kaus polos dan celana jins, persis seperti Arlan sepuluh tahun lalu.
"Terima kasih sudah mau datang, Ra," suara Arlan bergetar saat Raia duduk di bangku taman, menjaga jarak yang cukup lebar di antara mereka.
"Aku di sini bukan untuk kembali, Lan. Aku di sini untuk mendengar apa yang belum sempat terucap tanpa ada ancaman atau kebohongan lagi," jawab Raia dingin.
Arlan menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan jujur. Ia menceritakan bagaimana rasanya terbangun di London tanpa identitas, rasa frustasi saat potongan ingatannya tentang wajah Raia muncul tapi ia tidak tahu siapa gadis itu, hingga saat ia akhirnya ingat semuanya tiga tahun lalu namun mendapati Raia sudah terlihat tangguh tanpanya.
"Aku takut, Ra. Aku merasa bukan lagi Arlan yang pantas untukmu. Arlan yang dulu ceria sudah hancur bersama kecelakaan itu. Jadi aku membangun sosok baru yang keras kepala dan berkuasa agar tidak ada yang bisa menyakitiku lagi, termasuk kamu," Arlan menunduk, meremas jemarinya. "Soal ancaman biaya ayahmu... itu adalah kesalahan terbesarku. Aku panik saat tahu kamu mau resign. Aku pikir dengan uang, aku bisa menahanmu sementara aku mencari cara untuk jujur. Aku bodoh."
Arlan kemudian mengeluarkan sebuah surat pernyataan resmi yang sudah dilegalisir. "Ini bukti bahwa seluruh biaya perawatan ayahmu sudah aku depositkan untuk dua tahun ke depan di rumah sakit. Itu bukan pinjaman, itu hadiah dariku sebagai penebus dosa. Kamu bebas pergi sekarang, Ra. Tanpa utang, tanpa beban."
Mendengar kejujuran itu, pertahanan Raia runtuh. Rahasia sepuluh tahun itu memang tragis, namun melihat Arlan yang hancur di depannya membuat Raia menyadari bahwa mereka berdua adalah korban dari waktu yang salah.
"Aku tahu, Ra... aku tahu kamu kecewa," suara Arlan memecah keheningan, matanya berkaca-kaca menatap Raia yang masih bergeming. "Selama berminggu-minggu kamu di rumah Maya, aku selalu mengirim surat setiap hari ke sana melalui kurir. Tapi aku tahu, kamu tidak pernah mau membukanya, kan? Kamu membiarkan amplop-amplop itu menumpuk atau mungkin sudah kamu buang."
Arlan menarik napas panjang, mengeluarkan satu amplop terakhir yang sudah agak lecek dari saku jaketnya. "Aku tidak menyalahkanmu. Kalau aku jadi kamu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Tapi di dalam surat-surat itu, aku menuliskan semua hal yang tidak bisa kuucapkan karena lidahku kelu oleh ego."
Raia menoleh pelan, menatap amplop di tangan Arlan. Benar kata Arlan, tumpukan surat itu ada di meja tamu Maya, sengaja tak ia sentuh karena setiap melihat nama "Arlan" di pengirimnya, hatinya kembali perih.
"Di surat pertama, aku menceritakan tentang malam pertama aku terbangun di London dan hanya mengingat aroma parfummu, tapi lupa namamu," lanjut Arlan lirih. "Di surat kesepuluh, aku memohon maaf karena telah menjadi bos yang mengerikan hanya untuk menarik perhatianmu. Dan di surat yang kamu pegang ini... aku hanya ingin bilang bahwa aku melepaskanmu."
Arlan meletakkan surat itu di bangku taman, tepat di antara mereka. "Aku tidak akan mengejarmu lagi, Ra. Aku tidak akan muncul di depan pintumu lagi. Aku sadar, mencintaimu bukan berarti memilikimu secara paksa dengan uang atau ancaman. Mencintaimu berarti membiarkanmu bernapas tanpa bayang-bayang ketakutan dariku."
Mendengar pengakuan jujur dari mulut Arlan langsung—bukan dari surat yang bisu—merubah segalanya di hati Raia. Kemarahan yang membatu selama sebulan ini perlahan mulai terkikis oleh rasa iba yang mendalam.
Raia terpaku. Kalimat Arlan barusan memicu ingatan yang selama ini ia tekan dalam-dalam. Ia teringat sudut meja di rumah Maya, di mana tumpukan amplop berwarna cokelat pucat teronggok tak tersentuh. Selama ini, ia menganggap surat-surat itu hanyalah bentuk teror emosional atau taktik manipulasi Arlan yang lain.
"Surat-surat itu..." suara Raia tercekat. "Aku pikir itu hanya caramu untuk terus mengontrolku, Lan. Aku tidak pernah menyangka isinya adalah kejujuran yang selama ini aku cari."
Raia teringat bagaimana Maya berkali-kali membujuknya untuk membaca satu saja, namun Raia selalu memalingkan muka dengan marah. Kini, melihat sosok Arlan yang hancur di depannya—pria yang rela mengejar taksi hingga tersungkur, pria yang ternyata memendam luka permanen di kepalanya—Raia merasa dadanya sesak oleh penyesalan yang baru.
"Ada satu surat yang amplopnya berbeda, Ra. Yang ada noda kopinya," Arlan tersenyum pahit, menunduk menatap sepatunya. "Di situ aku menuliskan janji yang aku buat sepuluh tahun lalu di bandara. Janji yang aku lupakan saat kepalaku menghantam besi, tapi perlahan kembali saat aku melihatmu lagi di kantor sebagai karyawanku."
Raia meremas ujung kemejanya. Ia menyadari bahwa selama berminggu-minggu ia menutup pintu hati, Arlan justru sedang mencoba mengetuknya dengan cara yang paling rapuh: melalui tulisan tangan. Rahasia sepuluh tahun itu ternyata bukan hanya tentang kecelakaan, tapi tentang perjuangan seorang pria yang mencoba menemukan kembali jati dirinya demi wanita yang ia cintai.
"Aku akan membacanya, Lan," bisik Raia akhirnya. "Semuanya. Dari surat pertama sampai yang terakhir."
Momen itu merubah segalanya. Tembok kebencian yang Raia bangun perlahan retak, bukan karena uang atau kekuasaan Arlan, melainkan karena kerentanan pria itu yang akhirnya berani ia tunjukkan.
Raia menarik napas panjang, membiarkan udara segar taman kota menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menatap surat lecek di tangan Arlan, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk mengambil kertas itu. Sentuhan jemari mereka yang tak sengaja bertemu mengirimkan getaran akrab yang sudah sepuluh tahun hilang.
"Aku tidak bilang aku sudah lupa semuanya, Lan," ucap Raia pelan, namun matanya menatap Arlan dengan kelembutan yang tulus. "Luka karena dibohongi dan caramu menekanku di kantor itu masih ada. Tapi, mendengar perjuanganmu bertahan hidup sendirian di London... aku sadar kita berdua sama-sama kehilangan sepuluh tahun yang berharga."
Arlan terpaku, matanya berkaca-kaca melihat Raia tidak lagi menjauh darinya. "Kamu... kamu mau memberiku kesempatan?"
"Aku mau kita mulai lagi. Bukan sebagai bos dan bawahan, bukan sebagai tawanan dan penjaga," Raia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang merubah segalanya sore itu. "Tapi sebagai dua orang sahabat yang tersesat dan akhirnya menemukan jalan pulang. Kita harus belajar saling jujur, tanpa ada rahasia atau campur tangan ibu kita lagi."
Arlan mengangguk mantap, seolah beban berat yang dipikulnya selama bertahun-tahun luruh seketika. Ia berjanji dalam hati tidak akan pernah lagi menggunakan kekuasaan untuk mengikat Raia. Cinta yang sempat bermutasi menjadi obsesi gelap itu kini perlahan kembali ke bentuk aslinya: ketulusan yang mendalam.
Malam itu, mereka duduk berdua di teras rumah Maya, membuka satu per satu surat yang sempat terabaikan. Setiap kata yang dibaca Raia menjadi jembatan yang menyambungkan kembali kepingan hati mereka yang sempat hancur.
Di bawah temaram lampu teras rumah Maya, suasana mendadak senyap. Arlan perlahan melepaskan genggaman tangannya pada surat terakhir, lalu dengan gerakan yang sungguh-sungguh, ia berlutut di hadapan Raia.
Raia tersentak, mencoba menarik Arlan untuk berdiri, namun pria itu bergeming. Dunianya yang angkuh sebagai CEO seolah runtuh, digantikan oleh Arlan yang rapuh dan penuh penyesalan.
"Raia," suara Arlan bergetar hebat. "Aku tidak berlutut untuk memintamu menjadi tunanganku sekarang. Aku tahu aku belum pantas setelah semua luka yang kuberikan. Aku berlutut untuk memohon satu hal: ampunanmu."
Arlan menunduk, menyandarkan keningnya di lutut Raia. "Ampuni aku karena telah membohongimu selama sepuluh tahun. Ampuni aku karena sudah menjadi monster yang mengancam keluargamu. Dan ampuni aku karena hampir membuatmu kehilangan kepercayaan pada cinta."
Air mata Raia jatuh, membasahi bahu Arlan. Momen ini benar-benar merubah segalanya. Ego Arlan yang setinggi langit telah hancur total di depan wanita yang ia cintai. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi paksaan. Hanya ada kejujuran yang telanjang.
"Berdirilah, Lan," bisik Raia sambil mengusap rambut Arlan. "Jangan berlutut lagi. Aku ingin kita berjalan berdampingan, bukan salah satu di bawah yang lain."
Arlan mendongak, matanya merah namun bercahaya oleh harapan. Malam itu, di rumah Maya, mereka berjanji untuk menyusun kembali kepingan hidup mereka yang sempat berantakan, tanpa campur tangan siapa pun lagi.