Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAb 33
Pintu rumah sakit terbuka dengan keras.
Suara langkah kaki tergesa memecah suasana malam yang dipenuhi ketegangan. Vega dan Adi hampir berlari memasuki lobi, napas mereka terengah, wajah mereka pucat penuh kecemasan.
Lampu-lampu putih yang terang menyilaukan mata, kontras dengan kegelapan dan kobaran api yang baru saja mereka tinggalkan. Namun rasa dingin di dalam ruangan itu tak mampu meredakan panas di dada mereka.
"Di mana IGD?!" tanya Adi pada seorang petugas, suaranya tegas namun terdengar terburu-buru.
"Di ujung sana, Pak!" jawab petugas itu cepat sambil menunjuk lorong panjang.
Tanpa menunggu, Vega langsung berlari lebih dulu. "Dimana putri dan cucu saya…?!" teriaknya dengan suara pecah, menggema di sepanjang lorong.
Beberapa orang menoleh. Sebagian terdiam, sebagian lagi hanya bisa memandang dengan iba.
Langkah Vega goyah, tapi ia tidak peduli. Ia terus berlari, meski napasnya terasa sesak, meski air matanya mengaburkan pandangan.
"EVELYN! AZZURA!!" teriaknya lagi.
Adi menyusul di belakang, berusaha mengejar sekaligus memastikan istrinya tidak terjatuh.
Begitu sampai di depan Instalasi Gawat Darurat, pemandangan yang mereka lihat membuat langkah mereka terhenti sejenak.
Beberapa korban kebakaran terbaring di atas ranjang darurat. Ada yang menangis kesakitan. Ada yang terdiam lemah. Ada pula yang dikelilingi tenaga medis dengan wajah serius.
Suara alat medis, tangisan keluarga, dan instruksi dokter saling bercampur, menciptakan suasana yang semakin mencekam.
Vega menutup mulutnya, tubuhnya gemetar hebat. "Ya Tuhan…" lirihnya.
Namun ia segera tersadar. Ia tidak boleh berhenti ia harus menemukan mereka.
Vega langsung menghampiri salah satu perawat yang sedang berjalan cepat. "Maaf! Tolong! Putri saya Evelyn… dan cucu saya Azzura… mereka korban kebakaran mall… di mana mereka?!" ucapnya tergesa, hampir tak memberi jeda.
Perawat itu terkejut sejenak, lalu mencoba tetap tenang. "Nama lengkapnya siapa, Bu?" tanyanya cepat.
"Evelyn Jane Sharon… dokter Evelyn… dan Azzura… masih kecil…" jawab Vega dengan napas tersengal.
Perawat itu langsung mengangguk. "Sebentar, Bu… saya cek dulu," katanya, lalu berjalan cepat ke meja administrasi.
Detik demi detik terasa menyiksa.
Vega menggenggam tangan Adi erat, seolah itu satu-satunya yang menahannya agar tidak runtuh. "Pa… gimana kalau…" ucapnya pelan, suaranya bergetar hebat.
Adi langsung menggeleng.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mereka pasti kuat," potongnya cepat, meski dalam hatinya sendiri dipenuhi ketakutan yang sama.
Tak lama kemudian, perawat itu kembali.
"Ibu, Bapak… pasien atas nama Evelyn dan Azzura sudah tiba di sini. Mereka sedang dalam penanganan di ruang tindakan," jelasnya.
Seolah dunia berhenti sesaat.
"Mereka… selamat?" tanya Vega dengan suara hampir tak terdengar.
Perawat itu mengangguk pelan. "Mereka masih hidup, Bu. Tapi kondisinya cukup serius karena menghirup banyak asap."
Air mata Vega langsung jatuh deras. Tubuhnya melemas, namun kali ini bukan karena putus asa,
melainkan karena secercah harapan.
"Ya Tuhan… terima kasih…" bisiknya lirih.
"Di mana ruangannya?" tanya Adi cepat.
"Saya antar," jawab perawat itu.
Mereka segera berjalan menyusuri lorong lain, lebih dalam ke area IGD.
*
*
Suasana di depan ruang tindakan terasa mencekam. Lampu putih yang menyala terang justru membuat segalanya terasa semakin dingin. Bau antiseptik menusuk hidung, sementara suara langkah kaki tenaga medis yang hilir mudik menambah ketegangan yang menggantung di udara.
Enzo berdiri tegak di depan pintu itu.
Matanya tak pernah lepas dari tulisan “Ruang Tindakan”, seolah dengan menatapnya terus-menerus, ia bisa memastikan Evelyn tetap berada di dunia yang sama dengannya.
Tangannya mengepal di sisi tubuh. Pikirannya penuh. Namun wajahnya tetap berusaha terlihat tenang, meski di dalamnya ia sedang berperang dengan ketakutan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Evelyn… Azzura…"
Suara itu pecah di antara kesunyian yang tegang.
Lemah… bergetar… penuh harap sekaligus putus asa.
Enzo langsung terpaku. Jantungnya berdetak lebih keras saat mendengar nama itu dipanggil dengan nada yang begitu dalam… begitu penuh rasa.
Perlahan, ia menoleh.
Di ujung lorong, seorang wanita paruh baya terlihat berjalan dengan langkah tak stabil. Tubuhnya hampir jatuh jika tidak ditopang oleh pria di sampingnya.
Air matanya tak berhenti mengalir.
"Evelyn… Azzura…" panggilnya lagi, kali ini lebih lirih, namun justru terdengar lebih menyayat.
Tatapan Enzo berubah. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar orang yang mencari korban. Cara wanita itu memanggil… cara ia menahan tangis… cara tubuhnya hampir runtuh, itu bukan sekadar kepedulian biasa, tapi keluarga.
Enzo menoleh cepat ke arah Joe, alisnya berkerut, seakan menuntut jawaban.
Joe yang sejak tadi berdiri di belakangnya langsung mengerti. "Mereka orang tua nona Evelyn, Tuan," jawab Joe pelan, namun jelas.
Kalimat itu seperti menghantam sesuatu dalam diri Enzo.
Orang tua…
Tanpa sadar, pandangan Enzo kembali mengarah ke wanita itu, yang kini semakin mendekat.
Wajahnya penuh luka emosi. Matanya sembab. Namun di dalam tatapannya… ada harapan yang belum padam.
Langkah Enzo bergerak pelan, namun pasti.
Dia akhirnya meninggalkan posisinya di depan pintu itu, mendekati orang-orang yang memiliki hubungan paling dalam dengan wanita yang kini sedang berjuang di dalam sana.
Joe mengikuti dari belakang. Beberapa langkah lagi… Hingga akhirnya, mereka berhadapan.
Vega mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan Enzo.
Sejenak, waktu terasa berhenti.
"Anak saya…" suara Vega pecah, hampir tak terbentuk. "Evelyn… dia di dalam, kan?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun beratnya… seolah menekan seluruh ruangan.
Enzo menatap wanita itu. Ia melihat ketakutan di wajahnya. Sama seperti dirinya
Perlahan, Enzo mengangguk.
"Iya," jawabnya singkat, suaranya dalam dan berat. "Dia di dalam. Sedang ditangani dokter."
Air mata Vega langsung jatuh semakin deras.
Kakinya hampir tak sanggup menopang tubuhnya.
Adi dengan cepat memeluk bahu istrinya, menahan agar ia tidak terjatuh. "Terima kasih… terima kasih…" ucap Vega berulang kali, meski Enzo belum benar-benar melakukan apa-apa.
Namun bagi seorang ibu, mengetahui anaknya masih hidup…itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bersyukur.
Adi kemudian menatap Enzo.Tatapannya tajam, penuh pertanyaan. "Anda siapa…?" tanyanya singkat.
Enzo terdiam sejenak. Ia bukan siapa-siapa. Namun di saat yang sama… ia juga bukan orang asing bagi Evelyn.
"Aku yang membawa mereka keluar dari sana," jawabnya akhirnya.
Hening.
Mata Vega membelalak. "A… anda yang menyelamatkan anak dan cucu saya…?" suaranya bergetar.
Enzo tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya anggukan kecil. Dan itu sudah cukup.
Tanpa pikir panjang, Vega langsung meraih tangan Enzo, lalu menggenggamnya erat.
"Terima kasih… terima kasih sudah menyelamatkan mereka…" ucapnya sambil menangis.
Enzo terkejut. Tubuhnya sedikit kaku. Ia tidak terbiasa dengan hal seperti ini. Dengan sentuhan… dengan rasa terima kasih yang begitu tulus… dengan emosi yang begitu terbuka.
Namun entah kenapa, ia tidak menarik tangannya.
"Belum," ucap Enzo pelan.
Vega terdiam.
"Aku belum menyelamatkan mereka sepenuhnya," lanjutnya, tatapannya kembali mengarah ke pintu ruang tindakan. "Selama mereka belum keluar dari sana… mereka masih berjuang."
Suasana kembali hening. Semua mata kini tertuju pada pintu itu. Pintu yang memisahkan harapan dan kemungkinan terburuk.
Perlahan, Vega melepaskan tangan Enzo. Namun kali ini, ia berdiri lebih tegak. Karena kini… ia tidak sendirian.
Di sana ada suaminya. Dan ada seorang pria asing, yang ternyata mempertaruhkan nyawanya… untuk menyelamatkan anak dan cucunya.
Di balik pintu itu, Evelyn dan Azzura masih bertarung. Dan di luar, tiga orang berdiri dalam diam.
Menunggu. Dan berdoa… agar keajaiban benar-benar terjadi.
SEMANGATT TERUSS KAKK UP NYAA!! HEHEE DITUNGGUUU🤍🤍🤍🤍
deg2an.....
trus nunggu...kpn update lg...