NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Ceklek...

Suara pintu yang terbuka pelan itu terasa begitu nyaring di tengah suasana kamar rawat yang hening. Evelyn berdiri di ambang pintu dengan mata yang langsung membulat sempurna. Pemandangan di depannya benar-benar di luar dugaan.

Di atas ranjang pasien yang seharusnya hanya ditempati satu orang, tampak Enzo pria dengan aura dingin dan reputasi yang tak main-main justru sedang tertidur dengan damai. Dan yang membuat Evelyn hampir tersedak oleh napasnya sendiri adalah… di dalam pelukan pria itu, ada Azzura.

Bocah kecil itu tidur pulas. Kepalanya bersandar nyaman di dada Enzo, tangan mungilnya mencengkeram baju pria itu seolah takut kehilangan bantal hidupnya. Mulutnya sedikit terbuka, sesekali mengeluarkan napas kecil yang terdengar seperti dengkuran halus versi anak-anak.

Sementara Enzo… memeluknya dengan begitu alami. Satu tangan besar pria itu melingkar melindungi tubuh kecil Azzura, bahkan jemarinya sesekali bergerak pelan, seperti sedang menenangkan seseorang dalam tidur.

Evelyn menganga lebar. Kalau ada lalat lewat, mungkin sudah masuk tanpa izin.

Dengan langkah super hati-hati, seolah lantai kamar itu dipenuhi ranjau darat, Evelyn masuk ke dalam. Tatapannya tak lepas dari dua makhluk yang entah kenapa terlihat seperti… pasangan bapak dan anak dadakan itu.

Atau lebih tepatnya, bocah cegil dan korban pesonanya.

"Kecil-kecil sudah jadi cegil," gumam Evelyn lirih sambil menggelengkan kepala pelan. Nada suaranya antara tak percaya dan… sedikit terhibur.

Azzura yang biasanya cerewet setengah mati, kini justru tidur manis di pelukan pria yang—l kalau dipikir-pikir harusnya jadi orang paling berbahaya di ruangan ini.

Sangat ironis. Namun, belum sempat Evelyn melangkah lebih dekat, kelopak mata Enzo bergerak. Hanya dalam hitungan detik, mata tajam pria itu terbuka. Tatapannya langsung mengarah ke sumber suara, penuh waspada refleks seorang mafia yang tak pernah benar-benar tidur nyenyak.

Begitu menyadari siapa yang datang, ekspresi dinginnya sedikit melunak.

"Maaf, aku mengganggu mu. Aku kesini hanya ingin melihat Azzura," ucap Evelyn pelan, merasa sedikit bersalah karena seperti memergoki sesuatu yang… entah kenapa terasa privat.

Enzo tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Evelyn beberapa detik, lalu mengangguk pelan. Tatapannya kemudian beralih ke sosok kecil di sampingnya.

Azzura masih terlelap. Bahkan ketika Enzo sedikit menggeser posisinya, gadis kecil itu justru makin mendekat, wajahnya menempel lebih dalam ke dada pria itu. Seolah sudah menemukan tempat ternyaman di dunia.

Sudut bibir Enzo naik tipis.

"Dia belum lama terlelap," ucapnya dengan suara rendah, hampir seperti bisikan. Tangannya secara refleks mengusap pelan rambut Azzura yang sedikit berantakan.

Lalu ia menambahkan, dengan nada santai yang terlalu… santai untuk seseorang seperti dia, "Biarkan dia istirahat dulu di sini. Jangan di pindahkan, nanti dia bangun"

Evelyn menyipitkan mata. Mencium niat modus dari pria itu. Dan sangat tidak sesuai dengan citra seorang Enzo yang selama ini ia kenal.

Evelyn menyilangkan tangan di dada, menatap Enzo dengan ekspresi datar yang penuh arti. "Istirahat… atau kamu sengaja menahannya" tanyanya tanpa basa-basi.

Enzo mengangkat alis sedikit, tapi tidak terlihat terganggu. "Apa bedanya?" balasnya tenang.

Jawaban yang… sangat Enzo. Evelyn hampir saja memutar bola matanya. Namun sebelum ia sempat membalas, Azzura bergerak pelan. Bocah itu mengerutkan hidungnya, lalu menggumam sesuatu yang tidak jelas.

"Om ganteng… jangan belicik…" lirihnya dalam tidurnya

Lalu perlahan, pria itu menarik selimut sedikit lebih rapat menutupi tubuh kecil Azzura. Tatapannya yang biasanya dingin kini berubah lebih lembut, lebih… manusiawi.

"Jangan berisik, dia merasa terganggu" ucap Enzo.

Membuat Evelyn kesal. Dia menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk.

Ini aneh, sangat aneh. Seorang asing yang sama sekali tidak kenal dengan Azzura membiarkan dirinya dijadikan guling oleh seorang bocah kecil yang baru dikenalnya.

Dan yang lebih aneh lagi, Dia terlihat menikmatinya.

Evelyn menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan sambil berbalik menuju pintu.

"Dunia benar-benar sudah terbalik," gumamnya.

Namun sebelum keluar, ia melirik sekali lagi ke arah ranjang itu. Azzura yang tidur pulas.

Dan Enzo yang tetap diam di sana, tidak bergerak sedikit pun… seolah takut mengganggu mimpi gadis kecil itu.

Evelyn tersenyum tipis.

"Yah… cegil ketemu yang lebih parah," bisiknya pelan.

"Kamu mau ke mana?"

Suara rendah itu membuat Evelyn yang sudah hampir membuka pintu berhenti di tempat. Tangannya masih menggantung di gagang pintu, sementara wajahnya perlahan menoleh ke belakang.

Di atas ranjang, Enzo menatapnya dengan ekspresi datar, dia sengaja menjadikan Azzura sebagai alasan untuk menahan Evelyn.

"Pergi," jawab Evelyn singkat. Nada suaranya santai, tapi jelas mengandung sedikit sindiran. "Kata kamu, tadi aku tidak boleh mengganggunya."

Ia menunjuk sekilas ke arah Azzura yang masih terlelap nyaman di pelukan Enzo, seolah dunia tidak memiliki masalah sama sekali.

Enzo menghela napas pelan.

"Di sini saja, Aku kesulitan mengambil minuman kalau dia masih memelukku seperti ini." ucapnya kemudian, dengan nada yang terdengar… serius. Terlalu serius untuk sesuatu yang akan dia katakan selanjutnya.

Evelyn merotasi bola matanya dengan dramatis, bahkan tanpa berusaha menyembunyikan rasa malasnya.

"Serius?" gumamnya.

Ia berjalan kembali mendekat, menatap situasi di atas ranjang dengan ekspresi yang semakin lama semakin tidak percaya.

Azzura memang memeluk Enzo. Tapi… itu bukan pelukan yang mengikat seperti gurita.

Itu hanya pelukan bocah kecil. Setengah badan Azzura bahkan hanya menempel di sisi Enzo, dengan kaki yang sedikit tertekuk dan posisi yang jujur saja lebih mirip anak kecil yang tidur asal nempel daripada benar-benar “mengunci” seseorang.

Dan yang paling penting…Satu tangan Enzo jelas-jelas bebas. Tergeletak santai di samping tubuhnya. Sangat bisa untuk mengambil minuman di samping ranjang, karena memang tidak terhalang apapun.

Evelyn menyipitkan matanya.

"Kamu tahu kan… tangan kamu masih ada satu yang nggak dipakai?" tanyanya datar.

Enzo melirik tangannya sendiri sekilas, lalu kembali menatap Evelyn tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Aku tahu."

"Terus?" Evelyn mengangkat alis.

Enzo terdiam sejenak, seolah benar-benar mempertimbangkan jawabannya. Lalu dengan santai ia berkata, "Jangkauannya kurang nyaman."

Evelyn hampir tersedak oleh udara.

KURANG NYAMAN?! Ia menunjuk ke arah meja kecil di samping ranjang yang bahkan jaraknya tidak sampai satu lengan penuh.

"Itu… cuma sejengkal dari kamu!" protesnya, suaranya masih tertahan agar tidak membangunkan Azzura, tapi emosinya jelas mulai naik.

Enzo tetap tenang. "Aku tidak mau mengganggu tidurnya," tambahnya lagi, kali ini dengan nada yang terdengar lebih… masuk akal. Namun entah kenapa, justru terasa makin mencurigakan.

Evelyn melipat kedua tangannya di dada.

"Oke, adi kamu nggak mau gerak karena takut ganggu dia… tapi kamu masih sempat manggil aku buat bantu ambilin minum?" jawabnya pelan.

Enzo menatapnya lurus. "Iya." Jawaban singkat.

Tanpa beban. Tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Evelyn benar-benar kehabisan kata. Beberapa detik ia hanya berdiri diam, mencoba mencerna logika aneh yang baru saja ia dengar. Lalu akhirnya ia menghela napas panjang, panjang sekali, seolah sedang menahan diri agar tidak melempar bantal ke wajah Enzo.

"Ini bukan soal minum, ya?" ucapnya akhirnya, matanya menyipit penuh kecurigaan.

Enzo tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Azzura yang masih tertidur, jemarinya tanpa sadar kembali mengusap pelan rambut gadis kecil itu.

"Apa maksudmu?" balasnya tenang.

Evelyn mendengus pelan. "Kamu itu…," ia menggantung kalimatnya, lalu menggelengkan kepala. "Sudahlah."

Tanpa banyak bicara lagi, ia mengambil gelas di meja samping ranjang. Dengan sengaja ia mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu menggoyangkannya sedikit di depan wajah Enzo.

"Nih. Minuman yang katanya susah diambil itu," ucapnya sinis.

Enzo menatap gelas itu… lalu menatap Evelyn lagi. "Terima kasih." Nada suaranya datar, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

Evelyn menyipitkan mata lagi. Dia tahu, pria ini tidak benar-benar butuh bantuan. Ini hanya alasan. Tapi entah kenapa… berhasil.

Dengan gerakan hati-hati, Evelyn membantu menyodorkan gelas itu ke tangan Enzo yang bebas. Pria itu menerimanya tanpa kesulitan berarti, yang makin memperjelas bahwa tadi semua hanyalah drama kecil.

Evelyn hanya bisa geleng-geleng kepala.

Namun saat Enzo mulai minum perlahan, Azzura bergerak lagi. Pelukannya mengerat sedikit, wajahnya makin menempel, seolah tidak ingin kehilangan “bantal hangat” miliknya.

Refleks, Enzo langsung berhenti bergerak. Ia menahan posisi, bahkan napasnya pun seperti diturunkan volumenya.

"Ck, sama-sama aneh" cibir Evelyn melihat keduanya.

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!