NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 2

Mira membalikkan badan dan melangkah menuju pintu keluar dengan langkah yang sedikit terburu-buru, namun suara Romano kembali menghentikannya tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu.

"Jangan berpikir untuk mengganti gaun itu dengan kemeja kerjamu yang kaku, Mira. Aku tahu kau menyembunyikan pakaian ganti di tasmu."

Mira membeku. Ia menoleh perlahan, menatap Romano yang kini sudah kembali duduk santai di kursi kebesarannya, seolah-olah ia bisa membaca setiap rencana pelarian di kepala Mira. "Bagaimana Anda bisa tahu?"

"Aku tahu segalanya tentangmu. Ukuran sepatumu, parfum melati yang kau pakai hari ini, hingga fakta bahwa kau belum sempat makan siang karena terlalu sibuk mengurus berkas piutang orang tuamu," Romano menyandarkan punggungnya, menatap Mira dengan intensitas yang tak berkurang. "Pergilah. Sopirku akan menunggumu di lobi bawah dalam tiga puluh menit."

Mira keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Di ruang ganti khusus karyawan VIP, sebuah kotak beludru hitam besar telah menunggunya. Di dalamnya terdapat sebuah gaun sutra berwarna merah marun yang tampak sangat elegan dan mahal.

Saat Mira bercermin setelah mengenakan gaun itu, ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang selama ini ia sembunyikan di balik pakaian kerja yang longgar.

Tepat tiga puluh menit kemudian, sebuah Rolls-Royce hitam sudah terparkir di depan lobi. Pintu dibuka oleh seorang pria berbadan tegap yang mengenakan earpiece. Di dalam mobil, Romano sudah menunggu, kali ini tanpa jasnya, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memamerkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang maskulin.

"Kau tampak... berbahaya bagi kewarasanku, Mira," ucap Romano pelan saat Mira duduk di sampingnya. Aroma kayu cendana dari tubuh pria itu memenuhi kabin mobil yang kedap suara.

Mobil mulai melaju membelah kemacetan Jakarta, namun bukan menuju restoran biasa. Mereka berhenti di sebuah gedung pencakar langit milik Grup Nusantara yang memiliki landasan helikopter di puncaknya.

"Kita tidak makan di sini?" tanya Mira bingung saat Romano membimbingnya menuju lift khusus.

"Kita makan di tempat di mana tidak ada satu orang pun bisa mengganggu kita. Termasuk lintah darat, wartawan, atau pikiran-pikiran konyolmu tentang melarikan diri dariku," jawab Romano saat pintu lift terbuka langsung di sebuah restoran rooftop pribadi yang sudah dikosongkan.

Meja makan hanya disiapkan untuk dua orang di tepi balkon, menyuguhkan pemandangan lampu kota Jakarta yang berkilauan dari ketinggian. Romano menarikkan kursi untuk Mira, lalu duduk tepat di hadapannya.

"Sekarang, katakan padaku, Mira," Romano memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan. "Selain hutang orang tuamu, apa lagi yang bisa kubeli agar kau mau menatapku tanpa rasa takut?"

Mira menarik napas panjang, mencoba keberaniannya sekali lagi. "Anda tidak bisa membeli rasa hormat, Romano. Dan Anda pasti tahu, cinta yang dipaksakan hanya akan menjadi penjara bagi kita berdua."

Romano tersenyum miring, sebuah kilatan obsesi muncul di matanya. "Kalau begitu, biarlah aku menjadi sipir penjara yang paling baik untukmu. Karena aku tidak berencana melepaskanmu, sampai kau sendiri yang memohon padaku untuk tetap tinggal."

  Pelayan berseragam rapi datang membawakan hidangan pembuka, namun Mira nyaris tidak menyentuh garpunya. Suasana di atas gedung itu begitu sunyi, hanya deru angin malam dan denting alat makan yang terdengar.

Romano memperhatikan keraguan Mira. Ia memotong steak miliknya dengan gerakan yang sangat presisi, seolah sedang membedah strategi bisnis. "Kau tidak suka menunya? Aku bisa memecat koki ini sekarang juga jika masakannya tidak sesuai seleramu."

"Jangan," potong Mira cepat. "Makanannya terlihat sempurna. Hanya saja... aku tidak terbiasa dengan semua ini. Kemewahan ini terasa seperti beban."

Romano meletakkan pisaunya, lalu menatap Mira lekat-lekat. "Semua orang mengejar kemewahan, Mira. Tapi kau justru ketakutan. Itulah yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu sejak hari itu."

"Hari apa sebenarnya?" tanya Mira, akhirnya berani menatap mata elang pria itu. "Anda bilang Anda melihat saya saat wisuda. Tapi saya hanya satu dari ribuan mahasiswa. Kenapa saya?"

Romano tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan pada bawahannya. "Karena saat semua orang sibuk berfoto dan merayakan keberhasilan mereka, aku melihatmu duduk sendirian di sudut taman, menghitung sisa uang di dompetmu dengan wajah cemas, namun tetap tersenyum saat ibumu menelepon. Di detik itu, aku tahu kau punya sesuatu yang tidak dimiliki wanita-wanita di lingkunganku: ketulusan yang keras kepala."

Mira tertegun. Ia tidak menyangka Romano memperhatikan detail sekecil itu. Sebelum ia sempat membalas, ponsel Romano yang tergeletak di meja bergetar hebat. Romano melirik layarnya, raut wajahnya berubah dingin seketika.

"Ada apa?" tanya Mira cemas.

"Hanya gangguan kecil," jawab Romano datar, namun ia segera berdiri dan berjalan menjauh untuk mengangkat telepon.

Mira tidak sengaja mendengar potongan kalimat Romano yang tajam. "Aku sudah bilang, jangan sentuh keluarganya. Jika ada satu goresan pun di rumah itu, kau tahu konsekuensinya."

Romano kembali ke meja dengan wajah yang kembali tenang, namun Mira bisa merasakan ketegangan di udara. "Mira, sepertinya makan malam kita harus berakhir lebih cepat. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan."

"Ini tentang lintah darat itu lagi, kan? Mereka kembali ke rumah saya?" suara Mira meninggi karena panik. Ia segera berdiri, ingin pergi saat itu juga.

Romano menahan pergelangan tangan Mira. Pegangannya kuat, namun tidak menyakitkan. "Tenanglah. Aku sudah mengirim tim ke sana. Tidak akan ada yang berani menyentuh seujung rambut pun orang tuamu selama namaku ada di belakangmu."

"Tapi mereka berhutang pada mereka, bukan pada Anda!"

"Sekarang mereka berhutang padaku, Mira. Dan kau juga," Romano menarik Mira mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Dan cara terbaik untuk melindungimu adalah dengan membawamu tinggal di tempatku. Mulai malam ini."

Mira terbelalak. "Tinggal di rumah Anda? Itu gila! Saya punya kehidupan, saya punya privasi!"

"Kau punya hutang yang belum lunas, dan kau punya musuh yang sekarang tahu bahwa kau adalah kelemahanku," bisik Romano, suaranya terdengar seperti ancaman sekaligus janji perlindungan. "Pilihannya hanya dua: kau ikut denganku ke apartemen pribadiku, atau kau membiarkan orang tuamu menghadapi mereka sendiri tanpa campur tanganku lagi."

Mira merasa dunianya runtuh. Romano tidak hanya mengejarnya dengan pesona, tapi juga dengan jebakan keadaan yang membuat Mira tidak punya jalan keluar.

Mira menatap netra hitam Romano, mencari setitik belas kasihan, namun yang ia temukan hanyalah tekad baja yang tak tergoyahkan. Di bawah gemerlap lampu Jakarta, ia merasa seperti seekor burung kecil yang sayapnya baru saja dipatahkan oleh sang pemilik langit.

"Anda sungguh licik, Romano," desis Mira dengan suara bergetar. "Anda menggunakan keselamatan orang tua saya sebagai alat tawar-menawar."

Romano tidak membantah. Ia justru merapikan sedikit rambut Mira yang tertiup angin. "Aku lebih suka menyebutnya sebagai strategi perlindungan. Di duniaku, kau tidak bisa menang jika tidak memiliki kendali penuh. Dan malam ini, aku memilih untuk mengendalikan situasinya sebelum mereka menyakitimu."

Tanpa menunggu persetujuan verbal, Romano menuntun Mira menuju lift pribadi yang langsung terhubung ke lantai penthouse miliknya di gedung yang sama. Saat pintu lift berdenting terbuka, Mira disambut oleh kemewahan yang bahkan lebih mengintimidasi daripada restoran tadi. Ruangan itu didominasi warna gelap, marmer, dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan cakrawala kota.

"Ini kamarmu," ujar Romano, membuka sebuah pintu ganda yang menuju kamar utama kedua yang sangat luas. "Semua kebutuhanmu sudah disiapkan. Jika kau butuh sesuatu, ada pelayan yang siaga 24 jam. Tapi ingat satu hal..."

Romano berhenti di ambang pintu, menatap Mira yang berdiri kaku di tengah kamar. "...pintu depan apartemen ini hanya bisa dibuka dengan sidik jariku dan wajahku. Kau aman di sini, tapi kau juga tidak bisa keluar tanpa izin dariku."

Mira berbalik cepat. "Jadi ini benar-benar penjara?"

"Anggap saja ini sebagai masa percobaan," jawab Romano dingin namun ada kilatan aneh di matanya. "Besok pagi, sopir akan menjemputmu untuk bekerja di kantor. Kau tetap asisten pribadiku. Kita akan bertemu di meja makan jam tujuh tepat. Jangan terlambat, karena aku benci ketidakteraturan."

Setelah Romano menutup pintu, Mira terduduk di tepi ranjang yang sangat empuk. Ia merasa asing dengan gaun mahal yang melekat di tubuhnya. Ia berjalan menuju jendela besar, melihat ke bawah di mana mobil-mobil tampak seperti semut. Ia terjebak dalam sangkar emas yang dibangun oleh pria paling berkuasa di Nusantara.

Namun, saat ia membuka laci di samping tempat tidur, ia menemukan sesuatu yang membuatnya tertegun. Di sana terdapat sebuah bingkai foto kecil yang sangat usang. Itu adalah foto Mira saat masih kecil, sedang tertawa bersama kedua orang tuanya di depan warung makan sederhana mereka.

"Bagaimana dia bisa punya foto ini?" bisik Mira dengan jantung berdegup kencang.

Rasa takutnya kini berganti menjadi tanda tanya besar. Apakah obsesi Romano padanya benar-benar dimulai sejak hari wisuda itu, ataukah ada rahasia di masa lalu yang menghubungkan keluarga Kusuma dengan hutang-hutang orang tuanya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!