Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Sempurna
Keesokan Paginya, Cahaya matahari California yang keemasan menyapu pelataran universitas dengan intensitas yang berbeda dari New York. Jika di Manhattan semuanya terasa abu-abu dan terburu-buru, di sini segalanya tampak seperti filter Instagram yang terlalu jenuh.
Nomella Kamiyama berjalan melintasi koridor terbuka, merasakan embusan angin dari pesisir yang mencoba mengacak-acak tatanan rambutnya.
Ia benci angin itu. Angin adalah variabel yang tidak bisa ia kontrol.
Nomella menyesuaikan kacamata hitamnya, memastikan pantulan dirinya di pintu kaca perpustakaan tetap tajam.
"Nomella! Tunggu!"
Suara itu. Hangat, bersemangat, dan sangat menjengkelkan.
Nomella tidak berhenti. Ia justru mempercepat langkahnya, sepatu hak tingginya mengetuk lantai beton dengan irama yang presisi. Namun, Zeus Sterling bukan tipe pria yang mudah menyerah. Dengan langkahnya yang lebar dan santai, ia dengan mudah menyamai kecepatan Nomella.
"Kau tahu, berjalan secepat itu di bawah matahari California bisa merusak riasanmu yang... sangat diperhitungkan itu," ujar Zeus. Pria itu tampak sangat betah dengan kaos polo putih yang melekat sempurna di tubuh atletisnya dan celana jins gelap.
Nomella berhenti mendadak, membuat Zeus hampir menabraknya. "Apa maumu, Zeus? Aku sedang menuju kelas Statistik. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan pujian dirimu sendiri hari ini."
Zeus tertawa, suara tawanya menyatu dengan kebisingan mahasiswa lain di sekitar mereka. Ia menyugar rambutnya ke belakang—sebuah gerakan yang sangat narsis, seolah ia tahu persis sudut mana yang membuat garis rahangnya terlihat paling tajam.
"Aku tidak memuji diriku sendiri. Aku hanya menawarkan bantuan. Dosen Statistik hari ini, Prof. Miller, sangat menyukai presentasi yang interaktif. Dan kebetulan, aku adalah asisten praktikumnya tahun lalu. Kau ingin terlihat sempurna di depannya, kan?"
Nomella menyipitkan mata. Tawaran itu menggiurkan bagi sisi ambisiusnya. Menjadi yang terbaik di kelas adalah oksigen baginya. "Kenapa kau ingin membantuku? Apa imbalannya? Jika kau pikir aku akan menjadi salah satu penggemarmu yang berteriak histeris, kau salah besar."
Zeus menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor, melipat tangan di dada dengan pose yang lagi-lagi—sangat narsis. "Imbalannya? Sederhana. Aku ingin kau mengakui bahwa di dunia ini, ada sesuatu yang lebih menarik daripada cerminmu. Yaitu aku."
Nomella mendengus keras. "Narsismemu benar-benar butuh bantuan medis, Zeus."
"Banyak yang bilang begitu, tapi biasanya mereka mengatakannya sambil tersenyum," balas Zeus jenaka.
"Dengar, aku serius. Aku menolak semua wanita bukan karena aku benci mereka. Aku hanya tidak ingin membuang waktu untuk hal-hal yang tidak punya tujuan akhir. Aku ingin seseorang yang siap untuk melompat ke komitmen tertinggi. Menikah, membangun dinasti, dan... yah, menikmati bagian terbaik dari penyatuan dua manusia."
Ia mengatakannya dengan nada yang begitu santai, seolah sedang membicarakan cuaca. Nomella merasakan gelombang panas menjalar ke pipinya. "Kau benar-benar tidak punya urat malu, ya? Mengatakan hal seperti itu di tengah koridor?"
"Kenapa harus malu pada kejujuran?" Zeus melangkah mendekat, aroma parfum kayu cendana dan laut darinya mulai memenuhi indra penciuman Nomella. "Kau ambisius terhadap tubuhmu, pakaianmu, dan otakmu. Aku menghargai itu. Kita punya kesamaan—kita sama-sama tahu nilai kita masing-masing. Bedanya, aku sudah selesai dengan fase mencari jati diri. Aku sudah tahu apa yang aku mau."
Nomella terdiam sejenak. Ia melihat binar di mata Zeus—binar yang hangat, namun sangat mengintimidasi karena kejujurannya. Zeus tidak terlihat seperti pria yang sedang merayu, ia terlihat seperti seseorang yang sedang melakukan negosiasi bisnis tingkat tinggi.
"Aku tidak tertarik pada filosofi hidupmu yang aneh itu," ketus Nomella, meski detak jantungnya sedikit berkhianat. "Sekarang, beri tahu aku tentang Prof. Miller atau menjauhlah dari jalanku."
Zeus tersenyum lebar. "Baiklah, Nona Sempurna. Miller benci angka yang bulat. Dia suka detail hingga tiga angka di belakang koma. Dan jangan pernah gunakan referensi buku terbitan di bawah tahun 2020. Dia menganggapnya sampah sejarah."
Nomella mencatat hal itu dalam memori mentalnya. "Hanya itu?"
"Satu lagi," Zeus menahan lengan Nomella dengan lembut sebelum gadis itu sempat berbalik. Sentuhannya hangat, hampir terasa seperti sengatan listrik kecil.
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri hari ini. Matahari sudah cukup panas, kau tidak perlu mencoba membakar dirimu sendiri hanya untuk bersinar."
Nomella menarik lengannya dengan cepat. "Simpan kata-kata puitismu untuk orang lain, Zeus."
Ia berjalan pergi, namun kali ini ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik melalui pantulan jendela gedung. Zeus masih berdiri di sana, melambaikan tangan pada seorang dosen yang lewat dengan keramahan yang luar biasa, lalu kembali menyisir rambutnya dengan jari sambil tersenyum pada bayangannya sendiri di ponsel.
Sok ganteng. Narsis. Mengganggu.
Namun, saat Nomella duduk di kelas Statistik sepuluh menit kemudian, ia mendapati dirinya memeriksa riasannya di kamera ponsel berkali-kali. Bukan karena ia merasa tidak cantik, tapi karena ucapan Zeus tentang 'membakar diri sendiri' terus terngiang di kepalanya.
Nomella adalah mahakarya yang ia bangun dengan keringat dan air mata sejak di New York. Ia tidak akan membiarkan seorang pria California yang terlalu ramah dan terlalu narsis mengacaukan struktur yang telah ia bangun.
Tapi saat Prof. Miller masuk dan mulai memberikan soal latihan yang sangat rumit, Nomella melihat Zeus Sterling masuk melalui pintu belakang. Pria itu mengedipkan mata ke arahnya sebelum duduk di barisan paling depan, membelakangi semua orang seolah-olah seluruh kelas ini adalah penonton dan dia adalah bintang utamanya.
Nomella mengepalkan pensilnya. Pertandingan baru saja dimulai. Di bawah langit California yang cerah ini, ia harus memutuskan: apakah ia akan tetap menjadi patung yang sempurna dan dingin, ataukah ia akan membiarkan kehangatan Zeus yang aneh itu mulai retakkan permukaannya?
Satu hal yang pasti, Nomella Kamiyama tidak pernah kalah. Dan Zeus Sterling baru saja menjadi target ambisi berikutnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰