Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Mobil mewah Jati melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi, dikawal oleh dua motor besar tim keamanannya.
Di kursi belakang, Jati mendekap Lintang seolah tak ingin melepaskannya sedetik pun.
Begitu tiba di lobi darurat rumah sakit, Jati langsung turun dan menggendong Lintang masuk tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang di sekitar.
"Dokter! Suster! Segera periksa istri saya!" seru Jati dengan nada otoritas yang tak terbantahkan.
Beberapa perawat segera datang membawa brankar, namun Jati enggan meletakkan Lintang.
Ia terus memegang tangan istrinya saat tim medis mulai melakukan pemeriksaan awal di ruang observasi.
"Mas, aku tidak apa-apa," bisik Lintang lembut, mencoba menenangkan suaminya yang wajahnya masih pucat karena khawatir.
"Hanya sedikit pusing, benar-benar tidak apa-apa."
Jati langsung menoleh, matanya berkilat antara
amarah dan rasa perih yang mendalam.
Ia menggenggam jemari Lintang yang masih dingin dengan erat.
"Tidak apa-apa bagaimana, Lintang?!" suara Jati meninggi, namun bukan karena marah pada Lintang, melainkan karena ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Kamu dibius dengan zat kimia, tangan dan kakimu diikat sampai memar, dan pipimu ditampar sampai berdarah begini!"
Jati menyentuh sudut bibir Lintang yang sedikit robek dengan ujung jarinya yang gemetar.
"Bagi Mas, seujung kuku pun kamu terluka, itu sudah merupakan kesalahan besar Mas sebagai suami. Jangan bilang tidak apa-apa."
Para perawat yang berada di sana hanya bisa tertegun melihat bagaimana seorang pria yang terlihat begitu berkuasa dan dingin bisa menjadi begitu rapuh dan perhatian di depan istrinya.
Jati tidak melepaskan pandangannya dari Lintang saat dokter mulai memeriksa bekas memar di pergelangan tangannya.
"Dokter, pastikan tidak ada efek samping dari obat bius itu. Berikan vitamin terbaik, perawatan terbaik, apa pun yang dibutuhkan. Saya tidak peduli soal biaya," tegas Jati.
Dokter itu tersenyum tipis. "Tenang saja, Pak Jati. Ibu Lintang sangat kuat. Kami akan melakukan observasi menyeluruh malam ini."
"Mas, jangan terlalu berlebihan, ya?" Lintang mengusap pipi Jati dengan tangan yang bebas dari infus.
"Melihat Mas ada di sini, itu sudah jadi obat paling ampuh buat aku."
Jati terdiam, ia mengecup telapak tangan Lintang berkali-kali.
Di dalam hatinya, ia sudah bersumpah; setelah keluar dari rumah sakit ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa mendekati Lintang tanpa seizinnya. Dan untuk Mila serta keluarga Dery, ia akan memastikan hukum memberikan penderitaan yang berkali-kali lipat dari apa yang Lintang rasakan hari ini.
Jati tidak bisa duduk tenang. Langkah kakinya mondar-mandir di depan pintu ruang observasi, menciptakan irama gelisah di koridor rumah sakit yang sunyi.
Setiap kali perawat keluar masuk, jantungnya seolah berhenti berdetak, menunggu kabar yang tak kunjung datang.
Pikirannya masih terbayang adegan di gudang tadi—bagaimana Lintang yang lembut harus menghadapi kekejaman Mila.
Dua jam terasa seperti selamanya bagi Jati. Hingga akhirnya, pintu geser otomatis itu terbuka dan Dokter spesialis yang menangani Lintang melangkah keluar sambil melepas maskernya.
Jati langsung menyergap dokter itu sebelum sempat melangkah jauh.
"Dokter! Bagaimana istri saya? Apa ada luka dalam? Bagaimana dengan efek biusnya?"
Dokter itu tersenyum tenang, sebuah ekspresi yang sedikit meredakan ketegangan di bahu Jati.
"Tenang, Pak Jati. Hasil pemeriksaan menyeluruh sudah keluar. Semuanya bagus. Kondisi fisik Ibu Lintang sangat stabil."
Jati mengembuskan napas panjang, seolah beban berat baru saja diangkat dari dadanya.
"Syukurlah, lalu memar dan bekas biusnya?"
"Luka di sudut bibir dan memar di pergelangan tangan sudah kami obati, itu hanya luka luar yang akan sembuh dalam beberapa hari. Zat bius yang digunakan juga dosis rendah, jadi tidak ada kerusakan pada saraf atau organ dalamnya. Ibu Lintang hanya butuh istirahat total dan nutrisi yang baik untuk memulihkan staminanya," jelas Dokter itu dengan detail.
Jati mengangguk berkali-kali, matanya berkaca-kaca karena lega.
"Terima kasih, Dok. Benar-benar terima kasih. Boleh saya masuk sekarang?"
"Silakan, Pak. Ibu Lintang sudah sadar sepenuhnya dan sedang menunggu Anda. Tapi tolong, pastikan suasananya tetap tenang agar beliau tidak stres pasca kejadian tadi," pesan Dokter sebelum berpamitan.
Jati membuka pintu kamar rawat dengan sangat pelan, seolah takut suaranya akan menyakiti Lintang.
Di dalam, ia melihat Lintang sedang bersandar di bantal, wajahnya masih sedikit pucat namun senyumnya langsung mengembang saat melihat suaminya masuk.
"Mas..." panggil Lintang lirih.
Jati tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menghampiri ranjang, berlutut di sampingnya, dan menyembunyikan wajahnya di tangan Lintang yang terbebas dari infus.
Ia terisak pelan, rasa syukur yang luar biasa tumpah begitu saja.
"Mas, kok nangis? Dokter bilang aku sehat, kan?" Lintang mengusap rambut Jati dengan lembut.
"Mas hanya sangat bersyukur kamu tidak apa-apa, Lintang. Mas bersumpah, mulai detik ini, Mas tidak akan membiarkanmu lepas dari pandangan Mas lagi," bisik Jati sambil menatap mata istrinya dengan penuh janji.
Iring-iringan mobil hitam mewah itu berhenti tepat di depan lobi utama apartemen.
Empat orang pria berbadan tegap dengan setelan safari segera keluar, membentuk pagar hidup untuk memastikan jalan bagi Jati dan Lintang benar-benar aman.
Jati turun lebih dulu, lalu dengan sigap ia membopong Lintang keluar dari mobil, mengabaikan kursi roda yang sudah disiapkan petugas medis.
Sesampainya di dalam unit apartemen, Lintang terkejut melihat dua wanita berseragam perawat sudah berdiri rapi menyambut mereka di ruang tamu.
"Selamat datang kembali, Pak Jati, Ibu Lintang," sapa mereka serempak.
Jati meletakkan Lintang di tempat tidur mereka dengan sangat hati-hati, seolah istrinya itu terbuat dari porselen yang sangat rapuh.
Ia menyelimuti Lintang hingga sebatas dada, sementara para perawat mulai menyiapkan peralatan medis ringan dan vitamin di meja nakas.
"Mas, aku sudah tidak apa-apa," ucap Lintang pelan, matanya menatap Jati dengan perasaan campur aduk antara haru dan canggung.
"Dokter di rumah sakit tadi juga bilang kondisiku bagus. Kenapa sampai harus ada perawat di sini?"
Jati duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Lintang dan mengecupnya berkali-kali.
Tatapannya masih menyiratkan sisa trauma dari kejadian di gudang tadi siang.
"Mas tidak mau ambil risiko lagi, Lintang," suara Jati terdengar berat dan tegas.
"Mulai hari ini, tim keamanan akan berjaga 24 jam di depan pintu. Dan kedua perawat ini akan memastikan kebutuhan nutrisimu terpenuhi dan memantau efek sisa obat bius itu. Mas ingin kamu benar-benar pulih tanpa celah sedikit pun."
Lintang mengembuskan napas panjang, ia tahu suaminya sedang dalam mode protektif yang luar biasa.
"Tapi Mas, ini terlalu berlebihan. Aku merasa seperti pasien rumah sakit, padahal aku ingin masak untuk Mas..."
"Tidak ada masak-memasak untuk sementara waktu," potong Jati sambil mengusap pipi Lintang yang masih sedikit bengkak.
"Kamu adalah prioritas utama Mas. Mas tidak akan bisa fokus bekerja di kantor kalau tahu kamu sendirian di sini tanpa penjagaan."
Jati menoleh ke arah salah satu perawat. "Pastikan Ibu Lintang minum vitaminnya tepat waktu. Jika suhu tubuhnya naik sedikit saja, langsung hubungi saya di ruang kerja."
Lintang hanya bisa terdiam, ia melihat betapa besarnya rasa takut kehilangan dalam diri Jati.
Ia pun menarik tangan Jati, memaksanya untuk ikut berbaring di sampingnya.
"Kalau begitu, Mas juga harus istirahat. Temani aku di sini," pinta Lintang lembut.
Jati akhirnya luluh. Ia melepas jasnya dan berbaring di samping Lintang, memeluk istrinya dengan sangat protektif.
Di bawah penjagaan ketat itu, untuk pertama kalinya sejak penculikan, Jati bisa merasakan napasnya kembali teratur.