NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Dua hari telah berlalu sejak Freya mengirimkan permintaan penyelidikan kepada Fank, namun ponsel rahasianya tetap sunyi. Tidak ada laporan, tidak ada dokumen PDF, bahkan tidak ada pesan singkat dari kakaknya.

Hal ini sangat tidak biasa bagi seorang Montgomery. Biasanya, Fank hanya butuh hitungan jam untuk menguliti latar belakang seseorang. Keterlambatan ini membuat Freya gelisah; mungkinkah Fank sengaja menunda, ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang sedang ia tutupi?

Namun, kegelisahan itu seolah menguap saat ia berada di dalam ruang musik apartemen mereka. Ruangan itu kedap suara, berbau kayu cendana, dan hanya diterangi oleh lampu berdiri yang memberikan pendar temaram.

Lucky duduk di atas kursi kayu tanpa sandaran, memeluk gitar akustik kesayangannya. Di depannya, Freya duduk di atas karpet bulu, memeluk lututnya.

Di ruangan pribadi ini, masker hitam itu sudah lama tergeletak di atas meja. Wajah Freya yang cantik tanpa polesan—dengan kulit putih porselen, hidung mancung yang tegas, dan mata cokelat yang jernih terpampang nyata di bawah cahaya lampu.

Setiap kali Freya melepas maskernya, Lucky selalu merasa seolah dunianya sedikit bergeser. Ada sesuatu yang menghipnotis dari wajah gadis itu; sebuah kecantikan yang murni dan berwibawa yang sulit ia jelaskan. Bagi Lucky, Freya adalah satu-satunya manusia yang benar-benar ia miliki.

Di sela-sela orang tua yang dingin dan hanya peduli pada citra politik, Freya adalah sosok yang menggantikan semua peran yang hilang. Lucky menganggapnya sebagai adik, sahabat, sekaligus jangkar hidupnya.

"Frey, coba nyanyikan baris ini," ucap Lucky lembut. Jemarinya mulai memetik senar gitar, menciptakan melodi yang manis namun sedikit melankolis.

Lucky baru saja menyelesaikan sebuah lagu baru. Lagu yang ia tulis di sela-sela pertemuannya dengan Renata kemarin. Freya melihat liriknya di atas kertas musik, judulnya tertulis dalam huruf kapital: "YOU AND I".

Freya menarik napas dalam, mengikuti petikan gitar Lucky. Suaranya lembut namun memiliki kekuatan yang mampu menyentuh relung hati.

You and I (Kau dan Aku)

(Bait 1)

In the shadow of the neon lights

(Di bawah bayangan lampu neon)

You were the one who stayed through the nights

(Kaulah satu-satunya yang bertahan melewati malam)

While the world only saw the crown I wore

(Saat dunia hanya melihat mahkota yang kupakai)

You saw the scars, and you loved me more

(Kau melihat luka-lukaku, dan kau mencintaiku lebih dalam)

(Chorus)

It’s always been you and I, against the tide

(Selalu kau dan aku, melawan arus)

With no masks to wear, no place to hide

(Tanpa masker yang dipakai, tak ada tempat sembunyi)

You are the home I never had before

(Kaulah rumah yang tak pernah kumiliki sebelumnya)

Just you and I, forevermore

(Hanya kau dan aku, selamanya)

Suara Freya memudar seiring dengan denting terakhir gitar Lucky. Ruangan itu menjadi sunyi, hanya menyisakan getaran emosi yang menggantung di udara.

Freya menunduk, menatap jemarinya sendiri. Hatinya terasa sesak. Lagu ini indah sekali, Luc, batinnya perih. Ia yakin lagu ini dibuat Lucky untuk Renata.

Baris "Kaulah rumah yang tak pernah kumiliki" terasa seperti pengakuan cinta Lucky kepada wanita yang baru saja kembali ke pelukannya itu. Freya merasa terhormat sekaligus hancur karena harus menjadi orang pertama yang menyanyikan lagu cinta Lucky untuk wanita lain.

Namun, ia tidak tahu bahwa Lucky sedang menatapnya dengan pandangan yang tak berpaling sedikit pun.

Lucky memperhatikan bagaimana cahaya lampu jatuh di lekuk wajah Freya. Di kepalanya, lagu ini sama sekali bukan untuk Renata. Renata adalah masa lalunya yang manis, tapi Freya... Freya adalah realitasnya.

Lagu ini dipersiapkan Lucky sebagai kejutan besar. Ia berencana membawakannya di atas panggung megah saat ulang tahun agensi mereka dua bulan lagi, di depan ribuan orang, sebagai bentuk dedikasi dan terima kasihnya kepada satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkannya.

"Kau menyukainya, Frey?" tanya Lucky pelan.

"Sangat suka, Luc. Renata pasti akan menangis bahagia saat mendengarnya," jawab Freya dengan senyum yang dipaksakan, mencoba menutupi luka di balik matanya.

Lucky tertegun sejenak, namun ia hanya tersenyum misterius. Ia tidak membantah, tapi juga tidak membenarkan. "Lagu ini tentang seseorang yang paling berharga bagiku. Seseorang yang tetap ada saat aku bahkan tidak bisa mencintai diriku sendiri."

Lucky mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Freya dengan sayang, persis seperti seorang kakak kepada adiknya yang paling berharga. "Jangan pernah pergi ya, Frey. Aku tidak tahu bagaimana caranya menulis lagu lagi kalau kau tidak ada di dekatku."

Freya hanya mengangguk pelan. Ia menikmati sentuhan tangan Lucky di rambutnya, mencoba menyimpan memori ini sebelum badai kebenaran tentang Renata dan Arthur menghantam mereka.

Saat itu, ponsel rahasia di saku jaket Freya bergetar. Sebuah tanda bahwa Fank akhirnya mengirimkan sesuatu. Freya bergegas pamit dengan alasan ingin membuatkan kopi untuk Lucky.

Di dapur, dengan tangan gemetar, ia membuka pesan dari Fank. Ada sebuah folder foto dan dokumen laporan. Freya membuka foto pertama, dan jantungnya serasa berhenti. Itu adalah foto Renata dan Arthur di sebuah kafe kecil di London dua minggu lalu. Mereka sedang berpegangan tangan, dan Arthur mencium pipi Renata dengan mesra.

Di bawah foto itu, ada catatan dari Fank:

"Mereka sudah menjalin hubungan selama 14 bulan. Arthur sedang bersiap untuk melamar Renata bulan depan. Dan satu hal lagi, Freya... Renata menerima dukungan dana kuliah dari Arthur selama setahun terakhir."

Freya menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ia menoleh ke arah ruang musik, di mana suara gitar Lucky masih terdengar memainkan melodi "You and I".

Kemarahan yang dingin mulai menyelimuti Freya Montgomery. Ia menatap wajah cantiknya di pantulan pintu kulkas.

Penyamarannya mungkin akan segera berakhir, karena ia tidak akan membiarkan Lucky Caleb berdiri di panggung agensi dua bulan lagi untuk menyanyikan lagu cinta kepada seorang pengkhianat.

"Permainanmu berakhir di sini, Renata," desis Freya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!