Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Lia menatap tumpukan buku sastra dan mawar putih itu dengan perasaan yang berkecamuk. Kehadiran benda-benda itu seolah ingin menariknya kembali ke masa lalu, namun Lia segera menggelengkan kepala. Ia harus profesional. Ia harus mandiri tanpa bayang-bayang pria itu.
"Pak Wayan!" panggil Lia saat melihat kepala desa itu melintas di depan gubuknya menuju pantai.
Pak Wayan menoleh dan tersenyum ramah. "Iya, Bu Lia? Ada yang bisa saya bantu?"
"Boleh saya titip tolong? Jika Bapak ke kota sore ini, bisakah belikan saya kartu SIM baru? Kartu saya yang lama rusak," ucap Lia bohong, menyembunyikan kenyataan bahwa ia sendiri yang mematahkannya karena kalap.
"Tentu, Bu. Nanti sore sepulang dari pasar saya bawakan," jawab Pak Wayan tulus.
Setelah Pak Wayan pergi, Lia kembali ke depan laptopnya. Jemarinya menari di atas keyboard, membalas email dari Radit dengan jantung yang berdegup kencang. Ini bukan sekadar tentang uang, tapi tentang harga dirinya sebagai seorang sarjana sastra.
To: Radit
Re: Peluang Kerjasama Penerbitan - Urgent!
Dit, terima kasih banyak atas kabarnya. Ini kejutan yang luar biasa di tengah hariku yang cukup berat. Aku sangat tertarik. Bisakah kamu kirimkan nomor teleponmu? Aku ingin bicara langsung tentang detail kontrak dan siapa sebenarnya pihak di balik Penerbit Aksara Nusantara ini.
Aku tunggu balasanmu.
Salam, Lia.
Lia menekan tombol send dan bersandar di kursinya. Pandangannya beralih pada mawar putih yang mulai sedikit layu karena panas pesisir. Ia bertanya-tanya, jika benar Regas yang mengirimkan paket ini, apakah pria itu juga yang menggerakkan Radit? Ataukah ini murni keberuntungan dari semesta yang kasihan melihat nasibnya?
Sore harinya, Pak Wayan kembali membawa kartu SIM baru. Lia segera memasangnya ke ponsel. Setelah mengaktifkan paket data, sebuah notifikasi email masuk. Radit membalas pesannya dengan cepat, memberikan nomor ponselnya yang aktif.
Lia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian, lalu mendial nomor tersebut.
"Halo, Radit?" suara Lia sedikit bergetar saat panggilan tersambung.
"Lia! Akhirnya kamu menelepon juga. Bagaimana Bali? Menyenangkan?" suara Radit terdengar ceria di seberang sana.
"Bali tenang, Dit. Langsung saja, soal penerbit itu... Aksara Nusantara. Siapa pemiliknya? Dan kenapa mereka begitu mendadak mencariku?" tanya Lia tanpa basa-basi.
Radit terdiam sejenak di seberang sana, terdengar suara kertas yang dibalik. "Sejujurnya Lia, ini perusahaan baru di bawah naungan sebuah grup besar. Mereka ingin fokus pada karya-karya sastra yang punya jiwa. Soal pemiliknya... mereka sangat tertutup, tapi manajer aku bilang mereka sangat mengagumi tulisanmu sejak kamu di London."
Lia mematung. London. Kata itu seolah menjadi kunci. Siapa lagi yang tahu detail kehidupannya di London selain Regas?
"Dit, jujur padaku. Apa ada hubungannya dengan keluarga Adhitama atau Regas?" desak Lia.
Bukan, Lia. Sama sekali bukan," jawab Radit mantap, suaranya terdengar meyakinkan di seberang telepon. "Aku tahu sejarahmu dengan keluarga itu, dan jujur, aku pun akan curiga kalau ada nama Adhitama di balik ini. Tapi Aksara Nusantara ini murni investasi dari seorang pengusaha media yang ingin membangkitkan literasi. Mereka tertarik padamu karena tulisanmu di jurnal London itu sempat memenangkan penghargaan kecil, kan? Itu yang mereka kejar."
Lia mengembuskan napas lega yang selama ini tertahan di dadanya. Ada rasa syukur yang membuncah; setidaknya, prestasi sastranya diakui karena kualitasnya, bukan karena belas kasihan atau manipulasi pria dari masa lalunya.
"Syukurlah kalau begitu, Dit. Aku hanya tidak ingin terjebak dalam lubang yang sama lagi," bisik Lia, jemarinya mengusap sampul buku Pablo Neruda pemberian Regas yang masih tergeletak di meja.
"Jangan khawatir. Mereka profesional. Besok mereka akan mengirimkan draf kontrak digital ke email-mu. Kalau kamu setuju, mereka akan mengirimkan tim kecil ke Bali untuk membicarakan konsep sampul dan strategi peluncurannya. Kamu siap kembali jadi 'bintang' sastra, Azzalia?" Radit tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
Lia tersenyum tipis, kali ini senyum itu mencapai matanya. "Aku hanya ingin menulis, Dit. Menulis agar anak-anak nelayan di sini tahu bahwa kata-kata punya kekuatan untuk mengubah hidup."
Setelah menutup telepon, Lia menatap mawar putih yang kini sudah benar-benar layu. Ia mengambil bunga-bunga itu dan membawanya keluar, menguburnya di bawah pasir pantai yang hangat. Biarlah bunga itu membusuk dan menyatu dengan bumi, sama seperti perasaannya yang ia paksa untuk mati.
Malam itu, Lia mulai membuka draf naskah lamanya. Ia menulis dengan semangat baru, mengabaikan bayangan Regas yang mungkin sedang berada di rumah sakit Jakarta. Ia merasa telah menemukan kembali kedaulatan atas dirinya sendiri.
Namun, di Jakarta, di sebuah meja kerja yang gelap, seseorang sedang menutup laporan perkembangan tentang seorang guru sastra di Bali. Di layar komputer orang tersebut, terpampang foto Lia yang sedang tersenyum menatap kartu SIM barunya.