Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyerah
Indira merasa kesal jika terus menerus seperti ini, bahkan ketika dirinya menyembunyikan kunci motornya pun dengan mudah Pamannya bisa menemukannya. Pamannya paham dengan ilmu ilmu kebatinan yang menyangkut pautkan pada indra keenamnya yang terbuka, sehingga tidak ada hal apapun yang bisa disembunyikan oleh orang lain kepadanya.
Ilmu ilmu itu diturunkan oleh Kakeknya Indira kepada Pamannya tersebut, sehingga kebanyakan orang lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pamannya karena menurut mereka tidak ada yang bisa disembunyikan dari Pamannya. Indira juga tau bahwa Pamannya memang sengaja melakukan itu hanya untuk membuat Indira tidak tahan tinggal ditempat itu, dan Pamannya bisa menguasai dua rumah tersebut nantinya.
Pamannya suka sekali pamer tentang apa yang dirinya miliki, dan bahkan ia sering gonta ganti motor agar orang lain iri kepadanya. Indira juga tau bahwa Pamannya memiliki dua motor sekarang, tapi kenapa selalu motor Indira saja yang dipakai olehnya? Kenapa tidak memakai motornya sendiri? Kalo bukan berniat membuat Indira tidak betah disana, lantas apa lagi alasannya.
Rasanya didalam hati Pamannya terdapat sebuah rasa iri kepada keluarga Indira, apalagi Ibunya sama sekali tidak pernah mengeluh tentang kekurangan kepada orang lain sehingga mengira bahwa keluarga Indira sangat hebat. Sementara dirinya suka mengeluh seolah olah masalahnya begitu sangat banyak, mungkin itulah sebabnya ia iri kepada keluarga Indira.
"Aku nyerah," Guman Indira setelah selesai memutuskan sambungan telponnya dengan Ibunya.
Pagi itu Indira berniat untuk berangkat kerja dipagi hari, ia menyalakan motornya untuk memanasi motor tersebut, padahal baru kemarin pulang bekerja dirinya mengisi penuh bengsin miliknya tapi ketika dinyalakan justru bengsinnya ketip. Indira merasa begitu sangat kesal saat ini, entah dipakai apa saja motornya semalaman sehingga bengsin pun tidak ada isinya.
*Nia, jemput aku dirumah ya. Aku tunggu sekarang,* Indira lalu mengirim pesan kepada temannya.
*Bentar, aku belum sarapan, habis sarapan aku jemput,* Balas Nia, besti nya.
Melihat balasan tersebut langsung membuat Indira menaruh kembali motornya didepan rumah, karena bengsinnya sudah ketip ia takut apabila nantinya akan mogok dijalan apalagi pom bengsin disekitar situ hanya ada didekat pabriknya saja. Takutnya nanti dirinya justru akan telat masuk kerja apabila harus mendorong motornya, dan hal itu sama sekali tidak ingin dialami oleh Indira.
"Nek, kesini bentar," Ucap Indira kepada Neneknya.
"Apa?" Tanya Neneknya sambil mendekat.
"Bengsin baru aku isi kemarin malam kenapa sekarang sudah habis? Udah berkali kali loh seperti ini, kalo begini terus bagaimana caranya aku bisa berangkat kerja? Kalo mau pake motorku boleh, tapi setidaknya ganti bengsinnya Nek, bilangin ke Paman." Ucap Indira dengan nada tidak enak karena sudah capek terus terusan seperti ini.
"Ya ndak tau aku, kok tanya aku," Jawab Neneknya dengan jutek dan nada yang menusuk.
"Lah iya bilangin sama Paman, kalo mau pake motorku tuh ganti bengsinnya, masak bengsin penuh jadi ketip gini. Dipake buat apa? Emang motornya kenapa? Kenapa harus pake motorku?"
"Motornya mogok, nggak bisa didandani ya wajar lah dia pinjam motormu,"
"Pinjam sih pinjam tapi ya harus tau aturan lah, masak bengsinnya penuh jadi kayak gini, kalo begini mana bisa di pakek kerja."
Indira merasa tidak terima dengan hal yang dilakukan oleh Pamannya itu, yang menurutnya hanya menyusahkan dirinya saja, dan bukan murah juga harga bahan bakar sepeda motor seperti ini. Bukannya Indira pelit untuk meminjamkan motornya kepada Pamannya, tapi dirinya juga kesal karena tiap kali ingin dipakai olehnya motornya selalu kehabisan bengsin.
Mana ada manusia yang bisa tahan dengan hal seperti itu, pertama dan kedua kalinya masihlah wajar apabila tidak mengganti bahan bakarnya tapi ini sudah lebih dari kebiasaan sehari hari. Orang mana yang bisa tahan jika diperlakukan seperti itu, apalagi dirinya adalah pemilik dari motor itu sendiri dan bukan orang lain.
Kalau tidak berhenti dari sekarang, kedepannya akan jauh lebih sakit lagi, ambil segala resikonya atau tetap seperti ini seterusnya. Hal itulah yang dilakukan oleh Indira saat ini, ia tidak mempunyai pilihan lain selain mengutarakan segala rasa isi dihatinya, meskipun nantinya dirinya akan bertengkar dengan saudara saudaranya.
Baginya percuma saja memiliki saudara seperti itu yang hanya bisa menyengsarakan saudaranya yang lain, lebih baik dirinya kehilangan saudara seperti itu daripada harus bertahan dengan kondisi seperti ini. Tidak ada yang tau bagaimana masa depan nantinya, yang ia tau bahwa kehidupan harus terus berjalan sesuai dengan takdirnya masing masing.
"Halah tinggal beli aja gitu kok repot, lagian gajimu kan banyak masak nggak cukup buat beli bengsin. Hal kayak gini aja dipermasalahkan,"
Gajinya memang masih mampu untuk membeli bengsin setiap harinya, namun dirinya bekerja sendirian tanpa ada yang membantunya, beda lagi dengan Pamannya yang dia dan istrinya juga bekerja. Bisa dibilang bahwa gaji keduanya sangatlah banyak, sementara Indira hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Semenjak menikah lagi, Ibunya jarang memberinya uang, dan bahkan Indira sendiri tidak pernah meminta kepada Ibunya mengenai uang. Indira memiliki uang dari hasil jerih payahnya sendiri, dan bisa membeli apapun yang dirinya mau tanpa harus izin terlebih dahulu kepada orang lain untuk menghabiskan uangnya.
"Banyak apanya? Kalo terus terusan beli bengsin tiap hari mana ada tabungan, kalo tau gini mending ngekos aja. Daripada uangku habis karena beli bengsin, lebih baik uang ku habis karena beli jajan,"
"Oh jadi sudah berani ya, sana ngekos saja sana. Cari kos kosan,"
"Iya, aku akan cari kos kosan. Tapi kalo aku udah ngekos jadi nggak akan ngasih jatah sama Nenek lagi,"
"Nggak kamu jatah juga nggak masalah, Anakku banyak mereka semua masih bisa ngasih aku uang, nggak kamu doang yang bisa,"
"Baiklah."
"Lebaran juga nggak usah kesini biar duitmu nggak habis, aku nggak butuh duitmu, anak anakku lo banyak yang bisa ngasih meskipun tidak kamu kasih."
Neneknya pun mengomel terus menerus seolah olah merendahkan Indira disana, Indira sendiri langsung mengambil ponselnya diam diam dan merekam apa yang diucapkan ditempat itu, ia lalu mengirimkan rekamannya kepada Ibunya sebagai bukti. Jika terus terusan seperti ini dirinya sendiri juga tidak kuat, dan ingin segera pergi dari sana saat itu juga.
Setahu Indira ketika tinggal disana, Neneknya selalu bercerita bahwa anak anaknya tidak pernah ada yang ingat kepadanya, dan bahkan dirinya hanya melihat beberapa kali dalam satu bulan anaknya mengunjunginya. Hanya karena masalah Indira yang tidak tahan dengan sikap Pamannya, Neneknya sampai sampai menyepelekan dirinya dan menganggap bahwa Indira lah penyebab dari semua masalah.
"Emang benar yang dikatakan oleh Riri, emang dirimu yang selalu bikin masalah. Kalo disana salah, disini juga salah berarti ya masalahnya ada pada dirimu sendiri bukan orang lain," Ucap Neneknya yang seketika langsung mendukung Kakaknya.
Padahal dirinya sendiri juga tau betul dengan apa yang tengah dialami oleh Indira, bahkan Anaknya sendiri yang bercerita kepadanya sambil menangis nangis tapi justru dia sekarang mendukung apa yang dikatakan oleh Riri. Hal itu seolah olah Indira yang memang bermasalah bukan orang lain, perkataan itu langsung membuat Indira kehilangan kepercayaannya.
Indira benar benar menyalahkan dirinya sendiri tentang apa yang terjadi kepada kehidupannya saat ini, dirinya pun merasa bahwa kehadiran sama sekali tidak berarti didunia ini dan tidak ada yang menginginkannya untuk lahir. Apakah seseorang yang ingin merenggut kesucian seorang wanita telah dibenarkan? Dan apakah seseorang yang berusaha membela dirinya sendiri memang disalahkan? Lantas untuk apa berbuat baik didunia ini kalau begitu.
"Iya, memang aku yang bermasalah bukan orang lain. Aku juga tidak mau dilahirkan!" Sentak Indira.
Rasa sesak di dadanya seakan akan menyeruak menembus ke jantungnya, rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa hidup dunia ini, entah apa alasannya dulu menyetujui untuk dilahirkan didunia ini. Segalanya sangat menyakitkan bagi Indira, dan bahkan dirinya hanya bisa memeluk lututnya sendiri atas kekejaman dunia kepadanya.
"Cuma sekedar bengsin aja dipermasalahkan,"
"Jangan cuma cuma Nek, aku juga beli bengsin itu pake uang. Aku dapat dari kerja banting tulang, emang gampang nyari uang?"
"Halah tinggal ikhlasin aja apa susahnya sih,"
"Bah... Aku nggak mau tau, jangan pake motorku lagi. Aku nggak mau motorku habis bengsin tapi nggak ikut pake,"
"Oke, aku bilangin ke dia."
Rumah yang tadinya sangat berisik tiba tiba langsung sunyi mendadak, kepergian dari Neneknya membuat rumah tersebut terasa sangat damai daripada sebelumnya. Rekaman suara yang sejak tadi dirinya rekam langsung ia kirimkan kepada Ibunya, tanpa berpikir panjang pesan suara itu langsung terkirim.
"Ca! Ca! Lihat en nih keponakanmu satu ini, mulai sekarang jangan pake motornya Indira lagi, dia nggak terima. Lihat en," Ucap Neneknya mengadu kepada Panca, Pamannya.
"Ada apa sih?" Tanya Panca yang datang seolah olah tidak merasa bersalah sama sekali, dan justru menganggap bahwa Indira lah yang salah.
"Tuh lihat, jangan pake motor Indira lagi mulai sekarang, katanya bengsinnya selalu kamu habiskan tanpa diganti. Noh dia marah marah, gantiin sana bengsinnya,"
"Halah cuma gitu doang aja marah marah, amit amit deh kalo minjem motornya lagi. Iya iya habis ini aku ganti,"
Panca langsung mengambil motornya untuk pergi dari sana demi membeli sebotol bengsin untuk mengganti bengsin Indira yang habis dibuatnya, meskipun begitu dihati Indira masih terasa sangat sakit, apabila dirinya tidak melakukan ini maka mereka akan terus seperti itu. Ambil saja resikonya atau tetap seperti itu seterusnya.
Indira berdiam diri didalam kamarnya sambil menunggu kedatangan dari temannya, meskipun jarak rumah keduanya bisa dibilang lumayan jauh tetapi hanya membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 15 menitan untuk sampai dilokasi tujuan. Butuh waktu yang lumayan lama untuk menunggu kedatangan dari temannya itu, apalagi temannya juga butuh waktu untuk bersiap diri sebelum berangkat bekerja.
*Habis ini otw* Nia mengirimkan pesan kepada Indira.
*Oke, aku langsung tunggu dirumah*
Tak beberapa lama kemudian datanglah Pamannya sambil membawa bengsin se botol air mineral, ia langsung menuangkan nya pada motor Indira. Meskipun begitu mereka sambil mengomel dengan hal yang dilakukan oleh Indira, yang dimana menurut mereka sangat sangat tidak sopan kepada orang yang lebih tua.
"Dia ngancem kalo mau ngekos, ya tak suruh nyari kos kosan aja sekalian. Katanya udah nggak mau tinggal disini dan nggak mau ngasih uang lagi," Neneknya terus saja mengomel.
"Iya nggak papa kalo itu maunya, lumayan kan. Nanti aku mau renovasi kamar ini kalo barang barangnya udah bersih semua,"
"Mau kamu perbarui ta kamarnya?"
"Iya kalo barangnya semuanya udah bersih,"
Mendengar ucapan itu langsung membuat Indira sakit hati, dari dulu mereka bilang kalo mau renovasi kamar yang ditempati oleh Indira saat ini, namun sampai sekarang belum juga di renovasi. Sekarang malah dengar kalo kamarnya mau direnovasi tapi setelah dibersihkan, itu artinya mereka memang sengaja menunggu Indira pergi dari sana sebelum merenovasi kamar itu.
"Dira mana?" Tiba tiba terdengar suara Nia dari luar rumah yang bertanya kepada Neneknya Indira.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Neneknya dengan nada ketus yang sama sekali tidak enak didengar.
"Katanya dia suruh jemput,"
"Halah nggak usah, dia bisa berangkat sendiri. Lain kali nggak usah jemput dia, jangan berteman dengan dia, hati dia busuk. Tenan, busuk hatinya,"
"Lah iya jangan dijemput dan jangan berteman lagi dengan dia, dirimu belom tau busuknya kan? Anak kayak gitu kok diajak berteman," Ucap Panca.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.