Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Tengah Permainan
Udara di dalam gudang itu terasa dingin.
Lampu tunggal yang menggantung di langit-langit memantulkan bayangan panjang di lantai beton yang keras.
Rania berdiri di pintu masuk.
Sepasang matanya langsung tertuju pada Adrian.
Pria itu duduk di lantai dengan tangan terikat di belakang kursi logam. Ada bekas darah kering di pelipisnya.
Namun tatapannya masih tajam.
Masih keras.
Masih sama seperti pria yang pernah ia kenal.
Adrian juga menatapnya.
Beberapa detik mereka tidak berbicara.
Ada terlalu banyak hal yang tidak pernah sempat dikatakan di masa lalu.
Namun suara seseorang memecah keheningan itu.
“Pertemuan yang cukup dramatis.”
Pak Darmawan berdiri beberapa langkah dari Adrian dengan senyum kecil di wajahnya.
Ia menepuk tangannya pelan, seolah menikmati adegan itu.
Rania berjalan masuk perlahan ke dalam gudang.
Langkahnya tenang.
Namun matanya tidak pernah lepas dari Darmawan.
“Aku sudah datang,” kata Rania dengan suara dingin.
“Sekarang lepaskan dia.”
Darmawan tertawa kecil.
“Kau selalu langsung ke inti persoalan.”
Ia berjalan mendekat beberapa langkah.
“Namun dunia tidak sesederhana itu, Rania.”
Rania berhenti beberapa meter dari Adrian.
Ia bisa melihat dengan jelas luka di wajah pria itu.
Rasa marah tiba-tiba muncul di dadanya.
“Jika kau ingin berbicara denganku,” katanya, “tidak perlu menyeret orang lain ke dalamnya.”
Darmawan mengangkat bahu.
“Kadang kita membutuhkan… motivasi.”
Adrian akhirnya berbicara.
“Rania.”
Suaranya serak, tetapi masih kuat.
“Pergi dari sini.”
Rania tidak menoleh.
Tatapannya masih tertuju pada Darmawan.
“Tidak.”
Adrian menghela napas pelan.
“Ini jebakan.”
Darmawan tertawa lagi.
“Kalian berdua memang pasangan yang menarik.”
Ia berjalan perlahan mengelilingi mereka.
“Dulu kalian menikah, lalu bercerai, lalu sekarang saling menyelamatkan.”
Ia berhenti di samping Adrian.
“Romantis sekali.”
Adrian menatapnya dengan dingin.
“Jika kau ingin sesuatu dariku, katakan saja.”
Darmawan menggeleng pelan.
“Oh tidak.”
Ia menunjuk Rania.
“Aku ingin sesuatu darinya.”
Rania tidak terlihat terkejut.
“Apa?”
Darmawan berjalan mendekat sampai hanya berjarak beberapa langkah dari Rania.
Matanya menyipit.
“Perusahaanmu.”
Gudang itu langsung terasa lebih sunyi.
Rania bahkan tidak berkedip.
“Kau menculik seseorang untuk itu?”
Darmawan tersenyum.
“Bukan.”
Ia mengangkat satu jari.
“Aku menculik seseorang… untuk memastikan kau tidak menolak.”
Rania menghela napas pelan.
“Aku sudah menolak kerja sama denganmu.”
“Benar.”
Darmawan mengangguk.
“Itulah masalahnya.”
Ia menatap Adrian sebentar, lalu kembali ke Rania.
“Jika kau menandatangani dokumen penggabungan perusahaan…”
Ia mengeluarkan map dari jasnya.
“…maka pria ini akan pulang dengan selamat.”
Rania menatap map itu.
Beberapa detik ia tidak berbicara.
Adrian langsung berkata keras,
“Jangan lakukan itu.”
Rania masih diam.
Adrian melanjutkan,
“Dia tidak akan menepati janjinya.”
Darmawan tertawa kecil.
“Kau benar-benar tidak percaya padaku.”
Adrian menatapnya dengan tajam.
“Tidak sedikit pun.”
Rania akhirnya berbicara.
“Jika aku menandatangani itu…”
Ia berhenti sejenak.
“…kau akan melepaskannya?”
Darmawan mengangguk santai.
“Tentu.”
Rania menatap Adrian.
Pria itu menggeleng kuat.
“Rania, jangan.”
Namun Rania sudah berjalan mendekat.
Darmawan terlihat puas.
Ia menyerahkan map itu.
“Kontraknya sudah siap.”
Rania membuka map tersebut.
Beberapa lembar dokumen terlihat di dalamnya.
Perjanjian merger.
Jika ia menandatangani ini, Hartono Group akan berada di bawah kendali Darmawan.
Beberapa tahun kerja kerasnya…
akan hilang dalam satu tanda tangan.
Adrian berkata pelan,
“Jangan lakukan ini karena aku.”
Rania menatapnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah sedikit.
“Aku tidak melakukannya karena kamu.”
Adrian terlihat terkejut. Namun sebelum ia sempat berbicara Rania menutup map itu. Ia menatap Darmawan dengan mata dingin.
“Jawab satu pertanyaanku dulu.”
Darmawan mengangkat alis.
“Apa?”
Rania berkata pelan,
“Kenapa kau begitu terobsesi menghancurkan kami?”
Beberapa detik Darmawan tidak berbicara.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Akhirnya.”
Ia berjalan beberapa langkah menjauh.
“Aku kira kau tidak akan pernah bertanya.”
Rania menunggu.
Darmawan menatap Adrian.
“Karena pria ini…”
Ia menunjuk Adrian.
“…menghancurkan sesuatu yang sangat penting bagiku.”
Adrian mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Darmawan tersenyum tipis.
“Perusahaan yang kau banggakan sekarang…”
Ia berhenti sejenak.
“…dibangun di atas reruntuhan perusahaan milikku.”
Gudang itu langsung terasa semakin dingin.
Adrian menatapnya dengan bingung.
“Itu tidak mungkin.”
Darmawan tertawa.
“Oh, itu sangat mungkin.”
Ia mendekat lagi.
“Sepuluh tahun lalu, perusahaan keluargamu mengambil alih salah satu proyek terbesar milikku.”
Adrian langsung mengerti.
Proyek konstruksi besar yang membuat perusahaannya melonjak.
Namun proyek itu juga menyebabkan satu perusahaan bangkrut.
Darmawan melanjutkan dengan suara lebih gelap.
“Perusahaan itu milikku.”
Rania menyadari sesuatu.
“Jadi semua ini…”
Darmawan mengangguk.
“Balas dendam.”
Adrian menatapnya dengan dingin.
“Itu bukan salahku.”
Darmawan tertawa keras.
“Tidak?”
Ia menunjuk Adrian.
“Keputusan itu ditandatangani oleh ayahmu.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Dan keputusan itu menghancurkan hidupku.”
Ia berhenti sebentar.
“Sekarang… aku hanya mengembalikan semuanya.”
Rania menutup map itu perlahan.
Lalu ia berkata dengan tenang,
“Kalau begitu kau melakukan kesalahan.”
Darmawan mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Rania menatapnya lurus.
“Karena orang yang kau ingin hancurkan…”
Ia berhenti sejenak.
“…bukan lagi orang yang sama seperti sepuluh tahun lalu.”
Darmawan tersenyum tipis.
“Kita lihat saja.”
Ia menunjuk dokumen di tangan Rania.
“Waktumu hampir habis.”
Gudang itu kembali sunyi.
Rania memandang dokumen itu beberapa detik.
Kemudian ia mengambil pena dari dalam map.
Adrian langsung berkata keras,
“Rania, jangan!”
Namun Rania sudah membuka halaman terakhir kontrak itu.
Darmawan tersenyum puas.
Ia benar-benar percaya wanita itu akan menyerah.
Namun tepat ketika pena itu hampir menyentuh kertas. Rania tiba-tiba merobek dokumen itu menjadi dua.
Suara kertas robek menggema di dalam gudang.
Semua orang langsung terdiam.
Potongan kontrak itu jatuh ke lantai seperti serpihan salju.
Rania menatap Darmawan dengan mata dingin.
“Aku tidak pernah bermain dengan aturan orang lain.”
Wajah Darmawan berubah gelap.
“Kau membuat kesalahan besar.”
Namun Rania tidak terlihat takut.
Sebaliknya, ia berkata pelan.
“Tidak.”
Ia menunjuk ke arah pintu gudang.
“Kesalahan besarmu adalah berpikir aku datang sendirian.”
Tiba-tiba suara beberapa mobil berhenti terdengar dari luar gudang.
Lampu sorot menembus pintu yang terbuka.
Langkah kaki banyak orang bergema di lantai beton.
Arsen masuk ke dalam bersama beberapa petugas keamanan.
Situasi di dalam gudang langsung berubah.
Darmawan menatap Rania dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
senyumnya hilang.
Sementara Rania berdiri dengan tenang.
Permainan itu akhirnya berbalik.
Cahaya lampu mobil dari luar gudang menembus masuk seperti pisau yang membelah kegelapan.
Langkah kaki banyak orang terdengar mendekat.
Beberapa pria berpakaian hitam masuk ke dalam gudang dengan cepat.
Mereka adalah tim keamanan Hartono Group.
Arsen berjalan di depan mereka dengan wajah serius.
Situasi di dalam gudang langsung berubah.
Pria-pria yang tadi menjaga Adrian terlihat ragu.
Mereka saling menatap, tidak tahu harus bergerak atau tidak. Pak Darmawan masih berdiri di tempatnya. Namun senyum di wajahnya sudah menghilang. Ia menatap Rania dengan mata yang menyipit.
“Kau memang selalu suka bermain trik.”
Rania menjawab dengan tenang.
“Aku hanya memastikan tidak datang ke sarang serigala tanpa perlindungan.”
Arsen berjalan mendekat ke sisi Rania.
Matanya langsung menatap Adrian.
“Tali itu.”
Dua orang keamanan langsung bergerak cepat.
Beberapa detik kemudian, tali yang mengikat tangan Adrian sudah dipotong.
Adrian berdiri perlahan. Ia sedikit goyah karena kepalanya masih terasa sakit. Namun ketika ia sudah berdiri tegak, ia menatap Rania.
Beberapa detik mereka saling memandang.
Seolah banyak hal yang ingin mereka katakan.
Namun tidak ada satu pun kata yang keluar.
Darmawan menepuk tangannya pelan.
“Bagus.”
Ia tersenyum tipis lagi.
“Pertunjukan yang menarik.”
Arsen menatapnya dengan dingin.
“Ini sudah selesai, Pak Darmawan.”
Namun pria tua itu hanya tertawa kecil.
“Selesai?”
Ia menggeleng pelan.
“Kalian terlalu optimis.”
Rania menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Darmawan berjalan perlahan beberapa langkah.
“Apakah kalian benar-benar berpikir aku akan melakukan sesuatu seperti ini tanpa rencana cadangan?”
Arsen langsung memberi isyarat pada timnya untuk tetap waspada.
Udara di dalam gudang terasa semakin tegang.
Darmawan melanjutkan dengan suara santai.
“Kalian mungkin menyelamatkan pria ini.”
Ia menunjuk Adrian.
“Tapi permainan kita belum selesai.”
Rania menatapnya tanpa berkedip.
“Permainanmu sudah berakhir malam ini.”
Darmawan tersenyum tipis.
“Kita lihat saja.”
Ia berhenti sebentar, lalu berkata pelan,
“Besok pagi pasar saham akan membuka.”
Arsen langsung menyadari sesuatu.
“Serangan saham.”
Darmawan mengangguk santai.
“Tepat sekali.”
Ia menatap Rania.
“Besok pagi perusahaanmu akan jatuh lebih dalam dari yang kau bayangkan.”
Rania tidak terlihat terkejut.
“Jadi ini semua hanya untuk mengalihkan perhatian.”
Darmawan tertawa kecil.
“Akhirnya kau mengerti.”
Ia mengangkat bahu.
“Selama kalian sibuk bermain penyelamatan di sini…”
“…orang-orangku sedang bekerja di tempat lain.”
Rania memikirkan sesuatu dengan cepat.
Ia menoleh pada Arsen.
“Periksa pasar Asia sekarang juga.”
Arsen langsung mengambil ponselnya.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Beberapa investor besar mulai menjual saham.”
Rania sudah menduga itu.
Darmawan tersenyum puas.
“Ini baru permulaan.”
Ia menatap Rania dengan mata dingin.
“Besok pagi, Hartono Group akan kehilangan setengah nilainya.”
Arsen mengepalkan tangannya. Namun Rania justru terlihat tenang. Terlalu tenang.
Ia berkata pelan,
“Kalau begitu kau membuat kesalahan lagi.”
Darmawan mengangkat alis.
“Apa lagi?”
Rania menatapnya lurus.
“Kau pikir aku tidak menyiapkan sesuatu untuk itu?”
Darmawan tidak langsung menjawab.
Namun matanya menyipit. Rania melanjutkan,
“Aku sudah tahu rencanamu sejak siang tadi.”
Arsen menoleh kaget.
Ia bahkan tidak tahu hal itu. Rania menambahkan dengan tenang,
“Karena itulah aku memanggil beberapa investor malam ini.”
Darmawan tertawa kecil.
“Kau menggertak.”
Rania menggeleng pelan.
“Tidak.”
Ia mengambil ponselnya.
Lalu menunjukkannya ke arah Darmawan.
Di layar terlihat beberapa pesan masuk.
Konfirmasi investasi. Pendanaan baru. Darmawan membaca sekilas nama-nama perusahaan itu.
Senyumnya perlahan memudar.
Rania berkata pelan,
“Besok pagi bukan hanya sahamku yang naik.”
Ia berhenti sebentar.
“Perusahaanku akan mengumumkan proyek baru.”
Arsen akhirnya mengerti.
“Proyek energi.”
Rania mengangguk.
“Proyek yang nilainya jauh lebih besar dari seranganmu di pasar saham.”
Darmawan menatapnya dengan tajam.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar terlihat marah.
“Kau merencanakan ini sejak awal.”
Rania menjawab singkat.
“Aku selalu merencanakan semuanya.”
Beberapa detik suasana menjadi sunyi.
Kemudian Darmawan tertawa lagi.
Namun kali ini tawanya terdengar lebih dingin.
“Baik.”
Ia menatap Rania.
“Jika kau ingin bermain sampai akhir…”
“…aku akan menemanimu.”
Ia berjalan menuju pintu gudang.
Tidak ada yang menghalangi.
Ketika ia hampir keluar, ia berhenti sebentar.
Lalu berkata tanpa menoleh,
“Ini baru bab pertama dari perang kita.”
Pintu gudang tertutup.
Suasana di dalam gudang akhirnya menjadi lebih tenang.
Arsen menghela napas panjang.
“Pria tua itu benar-benar gila.”
Namun Rania tidak menjawab.
Ia menoleh pada Adrian.
Pria itu masih berdiri beberapa langkah darinya.
Wajahnya pucat, tetapi tatapannya masih kuat.
Beberapa detik mereka saling memandang lagi.
Akhirnya Adrian berkata pelan,
“Kau tidak seharusnya datang.”
Rania menjawab dengan tenang,
“Aku tahu.”
Adrian menatapnya lebih lama.
“Lalu kenapa kau tetap datang?”
Rania tidak langsung menjawab.
Namun akhirnya ia berkata pelan,
“Aku tidak suka berutang.”
Adrian tersenyum tipis.
“Menyelamatkan hidup seseorang bukan urusan utang.”
Rania menatapnya.
“Mungkin.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi aku tidak ingin ada orang yang mati karena permainanku.”
Adrian menghela napas pelan.
Kemudian ia berkata sesuatu yang membuat suasana kembali berubah.
“Rania…”
Ia menatapnya dengan serius.
“Kau harus berhati-hati.”
Rania mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Adrian menjawab pelan,
“Karena Darmawan tidak hanya menyerang perusahaanmu.”
Ia berhenti sebentar.
“Dia juga menyerangmu secara pribadi.”
Rania menatapnya tajam.
“Apa maksudmu?”
Adrian berkata pelan,
“Karena aku baru ingat sesuatu.”
Beberapa detik ia diam.
Kemudian ia melanjutkan dengan suara yang lebih berat.
“Sepuluh tahun lalu… ayahku tidak menghancurkan perusahaannya sendirian.”
Rania merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
“Apa maksudmu?”
Adrian menatapnya lurus.
“Nama keluargamu… juga ada di dalam kontrak itu.”
Gudang itu tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.
Karena itu berarti satu hal.
Perang antara mereka dan Darmawan…
mungkin dimulai jauh sebelum Rania dan Adrian bahkan saling mengenal.