NovelToon NovelToon
Ya Mungkin Besok

Ya Mungkin Besok

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Slice of Life
Popularitas:283
Nilai: 5
Nama Author: Budiarto Consultant

Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.

Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”

Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.

Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”

Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Tantangan

Pagi itu terasa berbeda.

Bukan karena matahari lebih cerah.

Bukan juga karena udara Yogyakarta lebih segar.

Tapi karena tiga orang sedang menjalani tantangan paling aneh dalam hidup mereka.

Satu minggu berpura-pura menjadi pasangan.

Atas permintaan seorang nenek yang terlalu cerdas.

Namun yang membuat semuanya semakin kacau adalah…

Hari pertama sudah terasa sangat panjang.

Di sebuah kafe dekat kantor, Raka, Bayu, dan Nadia duduk mengelilingi meja kecil seperti sedang merencanakan operasi rahasia.

Bayu memegang kepalanya lagi.

"Aku masih tidak percaya."

Raka menyeruput kopi.

"Kau sudah mengatakan itu sejak pagi."

Bayu menatapnya kesal.

"Karena ini gila!"

Raka mengangguk santai.

"Memang."

Bayu menunjuk Nadia.

"Kau juga terlalu santai."

Nadia memutar sendok di kopinya.

"Aku hanya menjalani permainan nenekmu."

Bayu hampir berteriak.

"Ini bukan permainan! Ini satu minggu hidupku!"

Raka tertawa kecil.

"Kau yang memulai semuanya."

Bayu menatap langit.

"Kenapa aku tidak bilang saja kalau aku jomblo."

Nadia akhirnya berkata,

"Oke. Kita harus serius sedikit."

Raka mengangkat alis.

"Serius?"

"Iya."

Bayu menatapnya.

"Maksudnya?"

Nadia menjelaskan,

"Kalau kita ingin menyelesaikan ini dengan cepat, kita harus terlihat meyakinkan."

Raka bergumam,

"Itu berarti kita harus semakin dekat."

Bayu mengangguk.

"Iya."

Nadia menatap mereka berdua.

"Lalu ada satu masalah."

Raka menyilangkan tangan.

"Apa lagi?"

Nadia menunjuk Raka.

"Kau."

Raka langsung menoleh.

"Aku?!"

Nadia mengangguk.

"Kau terlalu terlihat seperti orang yang tidak suka melihat kami bersama."

Bayu menatap Raka.

"Iya juga."

Raka hampir tersedak kopi.

"Apa maksud kalian?!"

Nadia berkata tenang,

"Kalau nenekku melihat wajahmu kemarin… dia pasti langsung tahu."

Raka menghela napas panjang.

"Aku tidak tahu harus berekspresi bagaimana."

Bayu menyeringai.

"Seperti orang yang bahagia."

Raka menatapnya datar.

"Itu sulit."

Hari pertama tantangan dimulai di rumah Bayu.

Nenek Bayu duduk di kursi favoritnya di ruang tamu sambil membaca koran.

Saat mereka masuk, nenek langsung menatap.

"Kalian datang."

Bayu mencoba tersenyum.

"Iya Nek."

Nenek mengangguk pelan.

"Hari pertama."

Raka berbisik ke Nadia,

"Ini seperti reality show."

Nadia menahan tawa.

Beberapa menit kemudian ibu Bayu keluar dari dapur.

"Oh Nadia!"

Ia terlihat sangat senang.

"Datang lagi."

Nadia tersenyum sopan.

"Iya Tante."

Bayu langsung duduk di sofa.

Nadia duduk di sampingnya.

Sedikit terlalu dekat.

Raka berdiri di belakang kursi seperti bodyguard yang salah tempat.

Nenek memperhatikan semuanya.

Diam.

Sangat diam.

Lalu ia berkata,

"Bayu."

"Iya Nek."

"Ambilkan Nadia minum."

Bayu langsung berdiri.

"Iya!"

Ia berlari ke dapur.

Raka berbisik ke Nadia,

"Dia terlalu semangat."

Nadia menjawab pelan,

"Dia takut."

Saat Bayu kembali membawa dua gelas jus, ia hampir menabrak meja.

Raka menggeleng.

"Romantis sekali."

Bayu menendangnya di bawah meja.

Tapi kemudian nenek berkata sesuatu yang membuat suasana berubah.

"Nadia."

"Iya Nek."

"Kalau Bayu melamarmu… kamu mau?"

Bayu langsung tersedak jus.

Raka membeku.

Ruangan itu sunyi.

Nadia menatap nenek beberapa detik.

Lalu berkata dengan suara tenang,

"Kalau dia serius… mungkin."

Bayu menatapnya.

"Mungkin?"

Nadia meliriknya.

"Itu jawaban aman."

Raka menatap lantai.

Entah kenapa dadanya terasa sedikit lebih berat.

Setelah beberapa jam di rumah Bayu, mereka akhirnya pulang.

Malam sudah turun.

Lampu jalan mulai menyala.

Mereka berjalan bersama menuju parkiran.

Bayu terlihat jauh lebih santai sekarang.

"Aku mulai terbiasa."

Raka menatapnya.

"Jangan terlalu nyaman."

Bayu tertawa.

"Tidak apa-apa. Ini cuma seminggu."

Nadia berjalan di tengah mereka.

Angin malam membuat rambutnya sedikit berantakan.

Ia berkata pelan,

"Kadang sesuatu yang dimulai sebagai pura-pura… bisa jadi kebiasaan."

Raka menatapnya.

"Kau serius?"

Nadia tersenyum kecil.

"Aku tidak tahu."

Bayu akhirnya pergi lebih dulu.

Ia naik motor dan melambaikan tangan.

"Sampai besok!"

Raka dan Nadia berdiri di pinggir jalan.

Untuk pertama kalinya hari itu…

mereka berdua saja.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Raka akhirnya berkata,

"Kau tadi menjawab mungkin."

Nadia menoleh.

"Iya."

"Kenapa?"

Nadia menatap lampu jalan.

"Lalu aku harus menjawab apa?"

Raka tidak langsung menjawab.

Nadia menatapnya.

"Kau mau aku menjawab tidak?"

Pertanyaan itu membuat Raka diam.

Beberapa detik.

Akhirnya ia berkata pelan,

"Aku tidak tahu."

Nadia tersenyum kecil.

"Kau selalu tidak tahu."

Raka tertawa pelan.

"Itu keahlianku."

Sebelum mereka berpisah, Nadia berkata sesuatu yang membuat Raka memikirkannya sepanjang malam.

"Raka."

"Iya?"

"Kalau suatu hari aku benar-benar punya pacar…"

Raka menatapnya.

Nadia melanjutkan,

"Kau akan tetap jadi temanku?"

Raka mencoba tersenyum.

"Tentu."

Nadia mengangguk.

"Bagus."

Lalu ia berjalan pergi.

Raka berdiri sendirian di pinggir jalan.

Menatap punggungnya menjauh.

Dan untuk pertama kalinya…

Raka benar-benar takut.

Takut kalau suatu hari Nadia benar-benar menjadi milik orang lain.

Di rumah Bayu malam itu…

Nenek Bayu duduk di kursinya sambil tersenyum kecil.

Ia berkata pelan pada dirinya sendiri,

"Permainan baru saja dimulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!