Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Desis pipa uap dari mesin espresso kuningan itu perlahan mereda, meninggalkan suara tetesan air yang jatuh ke baki penampung dengan bunyi tik-tik yang ritmis. Mahesa masih memunggungi Felysha, kedua telapak tangannya bertumpu pada tepian konter logam yang terasa panas. Ia tidak segera berbalik, meski ia bisa merasakan tatapan Felysha yang jernih sedang menuntut sebuah akhir dari permainan peran yang ia bangun sejak tadi. Di dalam kepalanya, gema kata "Jakarta" yang diucapkan Felysha terus berputar, meruntuhkan satu per satu bata dari tembok pertahanan yang ia susun selama dua tahun di Paris.
Mahesa menarik napas panjang, membiarkan aroma susu yang dipanaskan dan sisa espresso memenuhi rongga parunya. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang; jika ia tetap diam, ia akan aman dalam kebohongannya, namun jika ia bicara, ia akan terseret kembali ke dalam identitas yang selama ini ia hindari. Tangannya yang memegang kain lap putih perlahan mengendur. Ia teringat pada sebuah gang kecil di Jakarta Selatan, tempat ia dulu sering menghabiskan sore dengan sepiring nasi goreng gila dan suara kereta api yang melintas setiap lima menit.
"Dua tahun saya nggak makan nasi uduk di Kebon Kacang," suara Mahesa keluar begitu saja, sangat rendah, hampir menyerupai bisikan yang ditelan oleh alunan musik jazz di pojok ruangan.
Aksen Prancisnya yang kaku dan dibuat-buat tadi mendadak hilang sepenuhnya. Ia menggunakan intonasi yang jauh lebih berat, dengan logat Jakarta yang sangat natural—sebuah suara yang selama ini ia kubur di bawah tumpukan celemek baristanya. Mahesa perlahan memutar tubuhnya, melepaskan cengkeramannya pada mesin kopi. Ia menatap Felysha yang kini masih duduk mematung di kursi tinggi depan konter.
Felysha menahan napas. Matanya membelalak, jemarinya yang tadi sedang merapikan tali tas sketsa kini membeku di udara. Ia menatap Mahesa seolah-olah pria itu baru saja melakukan sebuah sulap yang mustahil. "Kamu... barusan ngomong apa?"
Mahesa meletakkan kain lapnya di atas meja konter dengan gerakan yang sangat pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah satu jengkal lebih dekat ke arah konter. "Saya dari Tebet, Non. Jakarta Selatan. Dekat stasiun yang kalau sore jalannya macetnya minta ampun karena pintu perlintasan keretanya nggak mau kompromi."
Felysha perlahan duduk kembali ke kursinya, seolah-olah kakinya mendadak kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Ia menatap Mahesa dengan ekspresi yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa tidak percaya, kelegaan yang luar biasa, dan sedikit kekesalan karena merasa dipermainkan. "Tebet? Kamu... kamu beneran orang Indonesia?"
Mahesa mengangguk pelan, sebuah senyuman tipis yang sangat pahit muncul di sudut bibirnya. Ia meraih selembar tisu, mengelap ujung jari-jarinya yang sedikit lembap. "Maaf soal akting di awal tadi. Di Paris, kadang lebih gampang jadi orang asing yang nggak punya masa lalu daripada terus-menerus ditanya kapan mau pulang atau kenapa masih ada di sini."
Ia melepaskan ikatan celemek cokelat tuanya, menyampirkannya di atas kursi tinggi di belakangnya. Tanpa penutup kain itu, Mahesa terlihat lebih manusiawi, hanya seorang pria muda dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan guratan urat di lengan bawahnya yang kokoh. Ia menyandarkan kedua tangannya di atas konter, menatap Felysha dengan sorot mata yang jauh lebih lunak daripada sebelumnya.
"Felysha," Mahesa menyebut nama itu dengan intonasi yang benar, tanpa aksen yang dipaksakan. "Nama yang bagus. Tapi kamu bener, Jakarta memang berisik. Dan anehnya, suara berisik itu yang bikin saya sering nggak bisa tidur di sini karena Paris rasanya terlalu sunyi kalau jam dua pagi."
Felysha tertawa kecil, tawa yang kali ini benar-benar lepas, tidak lagi tertahan oleh rasa canggung atau ketakutan. Ia merapatkan syalnya, menatap Mahesa dengan binar mata yang kembali hidup. "Tebet... itu jauh banget dari Menteng kalau lagi macet. Tapi di sini, rasanya kayak cuma berjarak satu meja."
"Satu meja dan segelas kopi," tambah Mahesa. Ia mengambil sebuah stoples kaca berisi biji kopi mentah, membukanya, dan menghirup aromanya sejenak. "Dulu saya ke sini buat belajar arsitektur. Saya mau gambar gedung-gedung yang lebih bagus dari gedung-gedung kotak di Jakarta. Tapi ternyata, di sini saya malah lebih sering gambar garis di atas buih susu. Hidup memang kadang suka bercanda, kan?"
Felysha menumpukan kedua sikutnya di atas meja konter, memajukan tubuhnya sedikit agar bisa mendengar suara Mahesa dengan lebih jelas. "Kenapa berhenti arsitekturnya?"
Mahesa terdiam selama beberapa detik. Ia menatap ke arah pintu kedai yang tertutup rapat, melihat bayangan orang-orang yang melintas cepat di trotoar luar. "Masalah klasik, Non. Beasiswa diputus, Ayah meninggal, dan saya nggak punya cukup uang buat beli kertas kalkir atau penggaris mahal. Jadi saya mulai kerja di dapur, jadi kuli di pasar, sampai akhirnya terdampar di sini. Belajar cara bikin espresso yang sempurna supaya orang-orang Prancis ini mau ngeluarin koin dari kantong mereka."
Ia kembali menatap Felysha, dan kali ini ia memperhatikan setiap detail kecil pada wajah gadis itu—lingkaran hitam tipis di bawah matanya, plester transparan yang menyembul di balik syal, dan cara Felysha memegang pensil sketsanya. Mahesa merasa ada sebuah getaran rasa bersalah yang kembali merayap di dadanya. Gadis di depannya ini adalah korban dari rencananya bersama Pierre, namun ia juga satu-satunya orang yang memberinya rasa "pulang" sore ini.
"Kamu tahu, Mahesa?" Felysha berbicara dengan suara yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang membagikan rahasia besar. "Waktu kamu ngomong bahasa Indonesia tadi, rasanya kayak aku baru aja nemu oksigen di tengah ruangan yang hampa udara. Aku merasa... aku nggak perlu lagi takut salah bicara. Aku nggak perlu takut orang menghakimi aksenku."
Mahesa mengangguk paham. "Itu perasaan yang saya rasain selama dua tahun ini. Bicara bahasa Prancis atau Inggris itu capek. Rasanya kayak lagi pakai baju yang kekecilan. Semuanya terasa ketat, nggak nyaman, dan bikin sesak. Tapi sore ini... terima kasih sudah cerita soal Menteng. Itu bikin saya ingat kalau saya masih punya tempat asal."
Felysha tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah Mahesa lihat dalam hidupnya. "Kamu jangan panggil aku 'Non' terus. Namaku Felysha."
"Kebiasaan, Non... eh, Felysha," Mahesa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sedikit canggung. Ia berbalik menuju rak belakang, mengambil botol air mineral dan menuangkannya ke dalam gelas kecil untuk dirinya sendiri. "Jadi, desainer mode? Kenapa harus Paris? Jakarta bukannya lagi berkembang pesat buat urusan baju-baju begitu?"
"Julian yang mau," jawab Felysha singkat. Ia mengambil pensilnya kembali, mulai membuat coretan kecil di pinggiran buku sketsanya tanpa sadar. "Dia bilang, kalau aku lulusan Paris, status sosialku bakal naik. Dia bisa pamer ke teman-temannya kalau istrinya lulusan IFM. Dia nggak peduli aku suka desainnya atau nggak, yang penting gelarnya."
Mahesa memperhatikan gerakan tangan Felysha. "Kamu nggak suka desain?"
"Aku suka jahit. Aku suka lihat bagaimana satu potong kain bisa merubah bentuk tubuh seseorang. Tapi aku benci kompetisinya. Aku benci bagaimana orang-orang di sini melihat mode cuma sebagai simbol kekayaan. Di toko Ayah dulu, mode itu soal fungsi. Soal bagaimana orang ngerasa nyaman buat ibadah atau kerja." Felysha mendongak, menatap Mahesa. "Kamu sendiri? Masih suka gambar gedung?"
Mahesa berjalan menuju laci di bawah mesin kasir. Ia menarik keluar sebuah buku sketsa kecil yang sampulnya sudah agak kusam. Ia membukanya di depan Felysha, memperlihatkan gambar-gambar gedung tua di daerah Le Marais dan Saint-Germain yang digambar dengan sangat mendetail menggunakan pulpen hitam. Garis-garisnya tegas, perspektifnya sempurna, menunjukkan bahwa pembuatnya memang memiliki dasar arsitektur yang kuat.
"Cuma ini yang tersisa dari arsitekturnya," ucap Mahesa sambil membolak-balik halaman bukunya. "Setiap kali saya kangen kuliah, saya bakal duduk di pojok jalan dan gambar gedung yang ada di depan saya. Itu cara saya buat tetap ngerasa kalau saya bukan cuma sekadar pelayan kopi."
Felysha terpana melihat sketsa-sketsa itu. Ia menyentuh salah satu halaman yang memperlihatkan gambar atap-atap Paris yang ikonik. "Ini bagus banget, Mahesa. Jauh lebih bagus dari tugas sketsa teman-temanku di kampus. Kenapa nggak coba kerja di biro arsitek di sini?"
Mahesa tertawa pendek, kali ini tawanya terdengar lebih pahit. "Tanpa ijazah dan tanpa izin kerja yang bener? Di Paris? Itu mimpi di siang bolong, Felysha. Di sini, identitas saya cuma barista. Kalau saya nekat, saya bakal dideportasi sebelum sempat ngeraut pensil."
Ia menutup bukunya kembali, menyembunyikannya di balik konter. Mahesa merasa ia sudah terlalu banyak membuka diri. Ia harus ingat batasannya. Ia harus ingat bahwa Felysha adalah mangsa, dan ia adalah predator yang sedang menyamar. Namun, melihat Felysha yang menatapnya dengan kekaguman yang jujur, ia merasa predator di dalam dirinya sedang tertidur lelap, digantikan oleh Mahesa sang mahasiswa rantau yang kesepian.
"Kopimu sudah dingin," Mahesa menunjuk cangkir biru tua itu. "Mau saya buatkan yang baru? Kali ini gratis. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena sudah pura-pura jadi orang sombong tadi."
Felysha menggeleng pelan, ia mengangkat cangkirnya dan meminum sisa kopinya yang sudah dingin hingga habis. "Nggak usah. Dingin pun rasanya tetap enak karena sekarang rasanya nggak sepahit tadi. Ternyata bicara pakai bahasa sendiri itu beneran bikin semuanya jadi lebih ringan."
Ia berdiri dari kursinya, merapikan mantelnya dan menyampirkan tas sketsanya ke bahu. Felysha menatap Mahesa lama, seolah sedang menghafal setiap inci wajah pria itu agar tidak hilang dalam ingatannya. "Aku harus pergi. Andre pasti sudah mulai curiga kalau aku terlalu lama di gang sesepi ini."
Mahesa mengangguk, ia berjalan menuju pintu, bermaksud membukakannya untuk Felysha. Saat tangannya menyentuh gagang pintu kayu biru itu, ia berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Felysha yang berdiri tepat di sampingnya.
"Felysha," panggil Mahesa pelan.
"Ya?"
"Hati-hati di jalan. Jangan lewat gang yang lampunya mati lagi. Paris jam segini mulai nggak ramah sama orang yang melamun," ucap Mahesa dengan nada yang sangat serius, hampir seperti sebuah peringatan tulus dari seorang teman lama.
Felysha tersenyum manis, senyuman yang membuat Mahesa merasa jantungnya berdetak satu kali lebih cepat. "Aku tahu. Sekarang aku punya tempat berteduh kalau aku merasa Paris terlalu dingin. Sampai ketemu besok, Mahesa."
Felysha melangkah keluar, bel pintu berdenting nyaring untuk terakhir kalinya sore itu. Mahesa berdiri di ambang pintu, memperhatikan sosok Felysha yang berjalan menjauh di antara bayangan gedung-gedung tua. Ia melihat bagaimana syal wol biru gadis itu melambai tertiup angin musim gugur. Mahesa menarik napas panjang, aroma parfum mawar yang ditinggalkan Felysha masih terasa di udara.
Ia menutup pintu kembali, lalu memutar tanda di depan kaca dari Ouvert ke Fermé. Kedai sudah waktunya tutup. Mahesa berjalan kembali ke konter, mengambil cangkir bekas Felysha. Ia meraba permukaan keramiknya yang masih menyisakan sedikit kehangatan dari jemari gadis itu.
Tiba-tiba, suara pintu belakang terbuka. Pierre masuk dengan langkah santai, jaketnya masih berbau asap rokok yang tajam. Pria Prancis itu bersiul pelan sambil melemparkan tas pinggangnya ke atas meja.
"Gimana, Mahesa? Lumayan nggak hasil tips hari ini?" tanya Pierre dalam bahasa Prancis.
Mahesa tidak menjawab. Ia hanya fokus mencuci cangkir biru tua di tangannya, menggosoknya dengan busa sabun sampai benar-benar bersih. Ia merasa ada sebuah jurang besar yang baru saja terbuka di antara dunianya bersama Pierre dan dunianya yang baru saja bersinggungan dengan Felysha. Mahesa menyadari satu hal yang paling menakutkan: ia tidak lagi merasa uang enam ratus Euro di sakunya berharga. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar ia bisa melihat Felysha tersenyum lagi besok pagi tanpa harus merasa seperti pengkhianat.
"Ada apa dengan wajahmu?" Pierre mendekat, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. "Kamu kelihatan kayak orang yang baru aja liat malaikat."
Mahesa meletakkan cangkir yang sudah bersih ke rak pengering. "Cuma capek, Pierre. Paris hari ini rasanya terlalu berisik."
Ia mematikan lampu kedai satu per satu, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam keremangan. Di bawah cahaya bulan yang mulai menyelinap melalui jendela, Mahesa menyadari bahwa hidupnya di Paris baru saja menjadi jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Ia telah menemukan jembatan menuju Tebet, namun jembatan itu terbuat dari kaca yang sangat tipis, dan satu kesalahan kecil saja bisa membuat segalanya hancur berantakan.