NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Istilah yang Terpeleset

Malam itu, butik Nika yang biasanya dipenuhi dengan sketsa gaun malam dan sampel kain sutra, berubah fungsi menjadi ruang belajar darurat. Di atas meja kerjanya yang elegan, kini bertumpuk buku-buku berat dengan judul yang sanggup membuat kepala pening: Dasar-Dasar Konstruksi Beton, Manajemen Proyek untuk Pemula, hingga kamus istilah teknik sipil. Nika duduk dengan kacamata bertengger di hidungnya, pena di tangan, dan secangkir kopi hitam pekat di sampingnya—mencoba meniru gaya Devan saat bekerja lembur.

"Oke, jadi 'Slab' itu lantai beton, 'Column' itu tiang penyangga, dan... apa ini? 'Slump Test'?" Nika mengerutkan kening, membaca penjelasan tentang pengujian kekentalan beton. "Kenapa namanya mirip istilah orang sedang depresi? Apa beton juga bisa slump kalau stres?" gumamnya konyol.

Nika bertekad, jika ia tidak bisa memenangkan hati Devan lewat dapur (mengingat insiden gas air mata sambal terasi kemarin), maka ia harus memenangkannya lewat otak. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar pajangan cantik yang hanya tahu cara menghabiskan limit kartu kredit. Ia ingin Devan melihatnya sebagai pasangan yang setara, seseorang yang bisa diajak berdiskusi tentang proyek-proyek besarnya tanpa harus ada Clarissa sebagai penerjemah.

Keesokan harinya, saat makan malam yang sunyi—kali ini Devan pulang lebih awal karena ada dokumen yang tertinggal—Nika memberanikan diri untuk membuka suara. Devan sedang fokus memotong steak-nya dengan tenang, gerakannya sangat rapi hingga Nika merasa sedikit terintimidasi.

"Mas," panggil Nika pelan.

Devan hanya bergumam pelan tanpa mendongak, tanda bahwa ia mendengarkan namun tetap menjaga jarak.

"Aku dengar proyek di Bali itu sedang masuk tahap... um, pengecoran bore pile, ya?" Nika mengucapkan istilah itu dengan hati-hati, seolah-olah sedang membawa telur yang mudah pecah.

Tangan Devan yang memegang pisau terhenti sejenak. Ia mendongak, menatap Nika dengan dahi berkerut heran. "Kamu tahu dari mana istilah itu?"

Nika tersenyum kecil, merasa bangga karena berhasil menarik perhatian suaminya. "Aku baca-baca sedikit. Aku rasa, untuk proyek sebesar itu, kalian harus benar-benar memperhatikan... apa namanya... shrimp pada betonnya, agar tidak retak."

Hening sesaat. Devan menatap Nika dengan pandangan kosong selama beberapa detik, sebelum akhirnya bahunya mulai bergetar. Sebuah suara tawa pendek namun renyah keluar dari bibirnya.

"Apa kamu bilang tadi? Shrimp?" tanya Devan, kali ini ada binar geli di matanya yang selama berhari-hari hanya berisi kedinginan.

Nika berkedip bingung. "Iya, kan? Katanya beton bisa menyusut kalau airnya hilang, namanya shrimp?"

Tawa Devan pecah, kali ini lebih keras. "Nika... maksudmu itu Shrinkage. Menyusut. Bukan Shrimp. Kalau kamu masukkan shrimp ke dalam beton, yang ada proyekku jadi restoran seafood raksasa, bukan gedung."

Wajah Nika seketika memerah padam hingga ke telinga. Ia ingin sekali menenggelamkan wajahnya ke dalam piring sup di depannya. "Eh... maksudku itu! Lidahku terpeleset sedikit!"

"Dan tadi, apa kamu juga menyebut tentang 'metode bor-boran'?" goda Devan lagi. Ia meletakkan pisaunya, benar-benar memberikan perhatian penuh pada Nika untuk pertama kalinya sejak insiden draf cerai itu. "Namanya Bored Pile, Ni. Bukan metode bor-boran seolah kamu sedang membuat lubang sumur di kampung."

"Habisnya istilah kalian susah sekali!" gerutu Nika sambil mengerucutkan bibirnya. "Kenapa tidak pakai bahasa manusia biasa saja? Kenapa harus pakai bahasa planet teknik?"

Melihat ekspresi kesal Nika yang tampak sangat tulus dan menggemaskan, pertahanan Devan sedikit goyah. Rasa dingin yang ia bangun seolah retak oleh kebodohan konyol istrinya. Ia tidak menyangka Nika akan nekat mempelajari hal-hal yang dulu sangat ia benci hanya untuk mencari bahan obrolan dengannya.

"Lagipula," lanjut Nika dengan nada defensif yang lucu, "aku juga sudah belajar tentang foundation. Aku tahu kalau dasar itu sangat penting. Seperti pernikahan kita, Mas... pondasinya harus kuat, bukan?"

Senyum di wajah Devan perlahan memudar, berubah menjadi sebuah tatapan yang dalam dan melankolis. "Pondasi itu butuh campuran yang pas, Nika. Bukan cuma semen dan pasir, tapi juga waktu untuk mengering agar kokoh. Kalau dipaksa beban berat saat masih basah, dia akan runtuh. Itulah yang terjadi pada kita."

Suasana kembali menjadi serius, namun kali ini tidak terasa menyesakkan. Ada kejujuran yang mengalir di antara mereka. Nika meraih tangan Devan yang ada di atas meja, namun kali ini Devan tidak menarik tangannya dengan cepat. Pria itu membiarkan jari-jari lembut Nika menyentuh buku jarinya yang kasar.

"Kalau begitu, biarkan aku menjadi air yang membantu semen itu menyatu, Mas. Jangan suruh aku pergi dulu. Biarkan aku mencoba memperbaiki pondasi ini, meski aku sering salah sebut istilah teknik," bisik Nika sungguh-sungguh.

Devan menghela napas panjang. Ia menatap tangan mereka yang bersentuhan, lalu menatap Nika. "Kenapa baru sekarang, Ni? Kenapa baru sekarang kamu mau peduli?"

"Karena aku takut," jawab Nika jujur, air mata mulai menggenang. "Aku takut saat melihatmu tertawa dengan Clarissa, aku menyadari bahwa tawa itu seharusnya milikku. Aku takut kehilangan pria yang selama ini diam-diam membelikan syal di butikku hanya agar aku merasa sukses. Aku bodoh karena terlambat menyadari kalau kamu adalah rumah, sementara selama ini aku hanya ingin lari ke jalanan."

Devan menarik tangannya perlahan, namun ia memberikan sebuah anggukan kecil sebelum berdiri. "Istirahatlah. Besok aku harus ke lokasi proyek lagi sepagi mungkin. Jangan begadang cuma untuk menghafal kamus teknik. Kamu tidak cocok jadi kontraktor."

"Tapi aku boleh ikut ke lokasi lagi?" kejar Nika penuh harap.

Devan berhenti di ambang pintu ruang makan, ia menoleh sedikit. "Boleh. Tapi kali ini, pakai sepatu yang benar. Dan tolong... jangan sebut-sebut soal 'shrimp' di depan anak buahku jika kamu tidak ingin aku kehilangan wibawa."

Nika tertawa kecil di tengah sisa air matanya. "Siap, Pak Bos! Aku akan belajar istilah 'Shrinkage' sampai hafal di luar kepala!"

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Nika tidur dengan sebuah senyuman. Meskipun Devan belum memaafkannya sepenuhnya, setidaknya ia berhasil membuat pria itu tertawa. Dan bagi Nika, tawa Devan adalah kemenangan kecil yang jauh lebih berharga daripada semua tas mewah yang pernah ia beli. Ia mulai mengerti bahwa perjuangan ini bukan tentang seberapa cepat ia dimaafkan, tapi tentang seberapa konsisten ia menunjukkan bahwa hatinya kini telah benar-benar pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!