Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Malam itu, rumah baru mereka terasa sangat sunyi. Hanya suara rintik hujan di luar yang menemani langkah kaki Ziva saat ia menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Ia baru saja selesai menonton drama di ponselnya untuk mengalihkan pikiran dari kenyataan pahit pernikahannya.
Namun, saat melewati depan kamar tamu di lantai bawah—kamar yang terpaksa ditempati Baskara karena Ziva melarangnya masuk ke kamar utama—langkahnya terhenti. Ia sayup-sayup mendengar suara rintihan tertahan yang memecah kesunyian.
"Tu om-om kenapa sih? Malam-malam bukannya tidur malah berisik," batin Ziva kesal.
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan ego. Ziva perlahan mendekati pintu kamar tamu yang sedikit terbuka. Ia mengintip melalui celah sempit itu. Di bawah temaram lampu tidur, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia duga. Baskara, pria yang selalu terlihat tegap dan kaku sebagai polisi, kini tampak begitu rapuh. Ia meringkuk di atas kasur dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Kirana... maaf... Kirana..." gumam Baskara berulang kali dalam igaunya. Suaranya serak dan penuh kepedihan.
Ziva mendengus pelan, mencoba mengeraskan hatinya. "Alah, palingan juga dia cuma caper sama gue biar gue kasihan," bisiknya pada diri sendiri.
Ia berniat berbalik dan melanjutkan langkahnya ke lantai atas. Namun, rintihan Baskara berubah menjadi suara gigilan gigi yang saling beradu. Napas pria itu terdengar pendek dan berat. Ziva menghentikan langkahnya. Ada bagian kecil dari nuraninya yang merasa tidak tenang. Dengan perasaan campur aduk, ia akhirnya mendorong pintu kamar itu hingga terbuka lebar.
Ziva mendekat ke arah ranjang. Begitu tangannya secara tidak sengaja bersentuhan dengan lengan Baskara, ia terperanjat. Hawa panas menyengat kulitnya.
"Astaga, badan lo panas banget, Kak! Lo abis ngapain sih?!" seru Ziva panik.
Ia menyentuh dahi Baskara, dan suhunya benar-benar tinggi. Sepertinya kelelahan fisik mengurus pernikahan, tekanan mental akibat rasa bersalah, serta kehujanan saat membuntuti Ziva ke kafe tadi sore akhirnya merobohkan pertahanan pria itu.
Meski mulutnya terus mengumpal, tangan Ziva bergerak sigap. Ia berlari ke dapur mengambil wadah berisi air hangat dan handuk kecil. Dengan telaten, ia mengompres dahi pria yang sangat ia benci itu. Ia juga menyelimuti tubuh besar Baskara dengan selimut tambahan karena pria itu terus menggigil.
Selama hampir satu jam, Ziva duduk di tepi ranjang, mengganti kompresan secara berkala. Ia melihat wajah Baskara yang biasanya kaku kini tampak sangat tersiksa. Ada rasa aneh yang menyelinap di hati Ziva—rasa kemanusiaan yang beradu dengan dendamnya.
Sekitar pukul sebelas malam, Ziva turun ke dapur untuk membuatkan bubur instan dan mengambil parasetamol. Ia kembali ke kamar tamu dan mendapati Baskara sudah sedikit sadar, meski matanya masih terlihat sayu dan berat.
Ziva meletakkan nampan berisi bubur dan obat di meja nakas dengan denting yang sengaja dikeraskan.
"Bisa makan sama minum sendiri kan lo? Gue nggak mau drama jadi istri yang harus ngurusin lo!" ketus Ziva saat melihat Baskara mencoba mendudukkan dirinya dengan lemah.
Baskara menatap Ziva dengan pandangan yang sulit diartikan. "Terima kasih, Ziva... Maaf merepotkan kamu," suaranya terdengar sangat parau.
"Udah, nggak usah banyak omong. Cepet makan terus minum obatnya biar lo nggak mati di rumah ini dan bikin gue makin repot," balas Ziva tajam, meski tangannya justru membantu mengganjal punggung Baskara dengan bantal agar pria itu bisa duduk lebih nyaman.
Ziva berdiri di ambang pintu, memperhatikan Baskara yang dengan tangan gemetar mencoba menyuap bubur ke mulutnya. Ia ingin pergi ke kamarnya di atas, tapi kakinya seolah terpaku di sana, memastikan bahwa pria itu tidak pingsan saat sedang makan.
"Gue balik ke kamar. Kalau butuh apa-apa... ya usahain sendiri," ucap Ziva sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu, meninggalkan Baskara yang menatap mangkuk buburnya dengan mata berkaca-kaca.
Malam itu, untuk pertama kalinya, kebencian Ziva sedikit terusik oleh pemandangan bahwa "pembunuh" yang ia maki setiap hari ternyata hanyalah manusia biasa yang bisa hancur oleh rasa sakit yang sama besarnya dengan yang ia rasakan.
***
Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela dapur, menyinari piring berisi nasi goreng yang asapnya masih mengepul tipis. Ziva duduk sendirian, menyantap hasil masakannya dengan gerakan malas. Tangan kirinya sibuk menggulir layar ponsel, memeriksa kotak masuk email yang sudah menjadi rutinitasnya sejak lulus sebagai lulusan ekonomi terbaik.
Namun, dahi Ziva berkerut dalam. Satu per satu email yang masuk membawa kabar yang sama: penolakan.
"Ini kenapa lamaran aku ditolak semua, ya... perasaan nilai aku juga bagus," gumamnya pelan sambil menghela napas panjang.
Ziva menatap layar ponselnya dengan nanar. Sebagai seseorang yang terbiasa dengan prestasi akademik yang gemilang, rentetan kata "Mohon maaf, saat ini kami belum bisa melanjutkan proses lamaran Anda" terasa seperti tamparan keras. Ia tidak tahu—dan mungkin tidak akan pernah diberi tahu—bahwa di balik semua penolakan itu ada tangan dingin yang bekerja.
Baskara, dengan koneksi dan otoritasnya sebagai seorang polisi, telah diam-diam memastikan bahwa tidak ada satu pun perusahaan besar yang menerima lamaran Ziva. Bukan karena ia ingin mengekang kebebasan istrinya, melainkan karena rasa bersalah yang teramat dalam atas kematian Kirana. Baginya, membiayai seluruh keperluan Ziva dan memastikan gadis itu tetap aman di bawah pengawasannya adalah satu-satunya bentuk penebusan dosa yang bisa ia lakukan saat ini. Ia ingin Ziva hidup tenang tanpa harus memeras keringat, sebagai ganti atas masa depan Kirana yang telah ia renggut secara tidak sengaja.
Suara langkah kaki yang berat dari arah tangga membuyarkan lamunan Ziva. Ia menoleh dan mendapati Baskara sudah rapi dengan seragam polisinya yang gagah. Wajahnya masih sedikit pucat, namun binar matanya jauh lebih segar dibanding semalam.
"Udah mendingan lo?" tanya Ziva ketus, mencoba menyembunyikan rasa ingin tahunya tentang kondisi kesehatan pria itu setelah ia kompres semalaman.
"Udah. Makasih," jawab Baskara singkat. Suaranya masih sedikit berat, namun ia berdiri dengan tegak, kembali ke sosok perwira yang kaku dan penuh tanggung jawab.
"Hmm. Tuh ada nasi goreng sisa gue," Ziva menunjuk ke arah wajan di atas kompor dengan dagunya. "Lo... makan. Tapi jangan geer! Gue cuma kasihan, nanti kalau lo mati di sini malah ngerepotin gue lagi urusan sama polisi-polisi temen lo itu."
Baskara hanya menatap Ziva diam, lalu mengangguk pelan. "Iya, aku makan."
Ziva tidak menunggu jawaban lebih lanjut. Ia segera berdiri dan melenggang menuju kamarnya di lantai atas dengan perasaan dongkol yang tertahan. Begitu sampai di kamar, ia langsung mengunci pintu dan meraih ponselnya kembali. Ia tidak puas hanya melihat email penolakan. Ia mencari kontak seorang HRD di sebuah perusahaan retail besar yang merupakan kenalan jauh dari dosen pembimbingnya dulu.
"Halo, selamat pagi, Pak... Iya, saya Ziva yang waktu itu mengirimkan berkas lewat email," suara Ziva berubah menjadi sangat sopan dan profesional, jauh berbeda dengan caranya bicara pada Baskara.
"Ah, Mbak Ziva... Iya, saya sudah lihat berkasnya. Nilai Mbak memang sangat memuaskan, bahkan salah satu yang terbaik yang pernah saya lihat," jawab suara pria di seberang telepon.
Mata Ziva berbinar sesaat. "Jadi, apakah ada kemungkinan saya dipanggil untuk wawancara, Pak? Saya sangat tertarik dengan posisi financial analyst di sana."
Terdengar jeda yang cukup lama dari seberang sana. Suara helaan napas berat membuat jantung Ziva berdegup kencang.
"Mohon maaf sekali, Mbak Ziva. Setelah diskusi internal dengan manajemen pusat, posisi tersebut saat ini sedang ditangguhkan... Eh, maksud saya, kami memutuskan untuk mencari kandidat lain. Sekali lagi mohon maaf, Mbak. Profil Mbak bagus, tapi ada kebijakan perusahaan yang tidak bisa saya jelaskan."
"Tapi Pak, apa ada yang salah dengan berkas saya? Atau mungkin pengalaman magang saya kurang?" tanya Ziva mendesak, suaranya mulai bergetar karena frustrasi.
"Bukan begitu, Mbak. Ini... murni keputusan manajemen. Semoga sukses di tempat lain ya, Mbak."
Klik.
Telepon diputus sepihak. Ziva menatap ponselnya dengan bingung. Kebijakan perusahaan? Manajemen pusat? Kalimat-kalimat itu terasa sangat kabur dan tidak masuk akal. Sebagai lulusan ekonomi terbaik, ia tahu betul bahwa profilnya adalah aset bagi perusahaan mana pun.
Ia tidak pernah tahu bahwa setiap kali namanya muncul di sistem rekrutmen perusahaan tersebut, sebuah peringatan atau "pesan khusus" dari pihak berwenang akan muncul, membuat HRD mana pun langsung mencoret namanya demi menghindari masalah dengan pihak kepolisian.
Ziva membanting tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa dunia seolah sedang bersekongkol untuk menjatuhkannya. Di saat ia ingin mandiri dan memulai hidup baru tanpa harus bergantung pada uang "pemberian" dari orang yang ia benci, pintu-pintu itu justru tertutup rapat.
Di lantai bawah, Baskara menyuap nasi goreng dingin itu dalam diam. Ia bisa mendengar suara langkah gelisah Ziva di atas. Hatinya perih, namun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah yang terbaik. Baginya, menjaga Ziva tetap "kecil" di bawah sayapnya adalah cara ia menjaga sisa-sisa napas Kirana yang masih tertinggal di dunia ini.