(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 108: Keputusasaan Fana
Tiga hari berlalu sejak hancurnya piringan giok kehidupan di sekte utara Kerajaan Yan.
Pagi itu, langit di atas Benteng Baja Perbatasan Utara Kerajaan Zhao tertutup oleh awan kelabu yang menggulung tidak wajar. Angin bertiup membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Raja Zhao, yang memimpin langsung bala bantuan dari Ibukota, berdiri tegak di atas tembok benteng setinggi dua puluh meter. Di sisinya, Putra Mahkota Zhao Tian menggenggam gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Puluhan ribu prajurit Zhao bersiap dengan busur silang berat dan tong-tong minyak bakar.
Namun, formasi pertahanan fana yang megah itu terasa seperti lelucon saat mereka melihat apa yang ada di depan mereka.
Di seberang dataran, lima puluh ribu pasukan Kerajaan Yan berbaris rapi. Tapi bukan jumlah mereka yang membuat Raja Zhao berkeringat dingin. Tiga puluh meter di depan barisan pasukan Yan, melayang di udara tanpa sayap atau pijakan, adalah seorang pria paruh baya berjubah abu-abu dengan sulaman bangau perak. Pria itu berdiri di atas sebuah pedang raksasa yang memancarkan cahaya hijau.
Ia adalah Tetua Mu, seorang ahli di tahap Awal Pembentukan Fondasi (Foundation Establishment) dari Sekte Awan Angin di Kerajaan Yan!
Bagi dunia yang baru saja mengalami retakan segel spiritual, eksistensi di ranah Pembentukan Fondasi adalah dewa berjalan yang sanggup meratakan kota seorang diri.
"Dengarkan aku, semut-semut dari Zhao!" Suara Tetua Mu bergema, diperkuat oleh Qi hingga memekakkan telinga para prajurit di atas benteng. Beberapa prajurit fana bahkan jatuh berlutut sambil memuntahkan darah hanya karena tekanan suaranya.
"Kalian berani membunuh murid pelacak sektemu! Hari ini, aku tidak akan menerima penyerahan diri. Aku akan meratakan benteng ini, membantai keluarga kerajaan kalian, dan menjadikan rakyat kalian sebagai budak penambang batu spiritual kami!"
Raja Zhao menggertakkan giginya. Ia adalah seorang raja yang tangguh, namun menghadapi seseorang yang bisa terbang membelah hukum alam, keputusasaan mulai merayap di hatinya.
"Pemanah Berat! Lepaskan Panah Penembus Awan!" teriak Raja Zhao, menolak menyerah tanpa perlawanan. "Ketapel minyak! Bakar langitnya!"
SWUUUSH! SWUUUSH!
Ratusan tombak besi raksasa seukuran batang pohon yang ditembakkan dari balista melesat membelah udara, diikuti oleh puluhan tong berisi minyak mendidih yang menyala. Serangan ini sanggup menghancurkan kavaleri terkuat di dunia fana.
Tetua Mu hanya mendengus meremehkan. Ia bahkan tidak repot-repot mengangkat tangannya.
Perisai Kayu Besi!
Sebuah lapisan cahaya berwarna hijau tua meluas dari tubuh Tetua Mu, membentuk kubah raksasa berdiameter sepuluh meter.
KRAAAK! PRANG!
Tombak-tombak besi yang melaju dengan kecepatan tinggi itu hancur berkeping-keping saat menabrak kubah cahaya, seolah menabrak dinding gunung. Tong-tong minyak bakar meledak di udara, namun apinya bahkan tidak bisa menghangatkan jubah sang kultivator. Seluruh serangan fana terkuat Kerajaan Zhao tidak berguna!
Keheningan horor melanda di atas benteng. Prajurit-prajurit Zhao menjatuhkan senjata mereka dengan tangan gemetar.
"Hanya ini kekuatan kalian?" Tetua Mu tertawa sinis. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Energi spiritual di alam bermutasi ini segera berkumpul, membentuk sebuah telapak tangan raksasa yang terbuat dari angin kencang setajam pedang. "Kalau begitu, matilah bersama kesombongan kalian!"
Telapak tangan raksasa itu meluncur turun ke arah tembok tengah benteng, tepat di mana Raja Zhao dan Zhao Tian berdiri!
"AYAHANDA! AWAS!" Zhao Tian menerjang maju, berusaha melindungi ayahnya dengan perisai fana miliknya.
Raja Zhao memejamkan matanya, menyadari bahwa inilah akhir dari kerajaannya.
Namun, kematian yang ditunggu tidak kunjung datang.
ZRAAAAAASH!
Suara sesuatu yang membelah udara dengan kecepatan hipersonik terdengar. Telapak tangan angin raksasa tingkat Pembentukan Fondasi itu tiba-tiba terbelah menjadi dua di udara, lalu meledak menjadi pusaran angin tanpa arah sebelum sempat menyentuh benteng!
Tetua Mu terbelalak. "Siapa?!"
Di udara kosong, tepat sepuluh meter di depan tembok benteng, sesosok bayangan tiba-tiba muncul.
Itu adalah seseorang yang mengenakan jubah hitam legam yang ujungnya berkibar liar, menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya disembunyikan di balik topeng besi kosong tanpa ekspresi. Entah bagaimana, sosok itu berdiri mengambang di udara, namun jika diperhatikan dengan teliti, ia tidak terbang menggunakan Qi. Ia terus-menerus menendang ruang hampa dengan kecepatan untuk menciptakan pijakan! (Seni Pembongkar Tulang Fana: Langkah Udara).
Di belakang sosok bertopeng itu, lima remaja berpakaian hitam ketat mendarat tanpa suara di atas parapet benteng. Mereka memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduk prajurit Zhao merinding. Aura Qi murni mengalir tipis dari tubuh mereka.
Itu adalah Jue Ying dan empat bayangan elit Sekte Langit Asura yang telah berhasil selamat dari siksaan Pil Darah Asura racikan Zhao Xuan, resmi melangkah ke Tahap Pertama Pengumpulan Qi.
Dan sosok bertopeng di udara itu, tentu saja, adalah Zhao Xuan. Di balik jubah kebesarannya yang menyembunyikan postur remajanya, mata emas asuranya menatap Tetua Mu dengan kebosanan.
"Jadi... kalianlah tikus-tikus yang membunuh muridku!" Tetua Mu memicingkan matanya. Ia bisa merasakan fluktuasi Qi Tahap Pertama dari kelima bayangan di benteng. Namun, anehnya, ia tidak merasakan setitik pun Qi dari sosok bertopeng yang sedang melayang di depannya.
"Kau bahkan tidak memiliki Qi! Alat sihir macam apa yang kau gunakan untuk terbang dan membelah seranganku?!" bentak Tetua Mu arogan. "Serahkan artefak itu, dan aku akan memberimu kematian yang tidak menyakitkan!"
Di balik topeng besinya, Zhao Xuan menghela napas.
Para kultivator di ranah rendah ini selalu sangat banyak bicara, batinnya
Tanpa repot-repot menjawab, Zhao Xuan mengangkat tangan kanannya dan memberikan isyarat kecil kepada Jue Ying di belakangnya. "Perhatikan dengan baik. Menghadapi Pembentukan Fondasi dengan tubuh fana, kuncinya adalah jangan membiarkan mereka menyelesaikan segel mantranya."
Begitu kata-kata itu terucap, tubuh Zhao Xuan lenyap dari pandangan. Bukan sekadar bergerak cepat, ia benar-benar menghilang, meninggalkan suara ledakan kecil di udara.
Tetua Mu tersentak. Insting Pembentukan Fondasi-nya menjerit. Ia segera menebalkan Perisai Kayu Besi-nya hingga batas maksimal.
BAM!
Dalam seperseribu detik, Zhao Xuan telah muncul tepat di depan kubah cahaya pelindung Tetua Mu.
"Bodoh! Perisaiku tidak bisa ditembus oleh kekuatan f—"
Ucapan Tetua Mu terputus. Zhao Xuan tidak memukul perisai itu. Ia meletakkan telapak tangannya dengan lembut di permukaan kubah cahaya.
Seni Pembongkar Tulang: Resonansi Kehancuran.
Berdasarkan ilmunya meracik pil di kuali besi tadi malam, Zhao Xuan mengirimkan gelombang getaran ekstrem melalui otot telapak tangannya. Getaran ini secara presisi menyamai frekuensi putaran Qi pada perisai tersebut, lalu membalikkannya!
PRANGGG!
Kubah cahaya tingkat Pembentukan Fondasi yang menahan ratusan panah balista itu hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh.
Mata Tetua Mu melotot ngeri. Sebelum ia bisa mundur atau menggerakkan jarinya untuk merapal mantra lain, Zhao Xuan melesat ke depan, mencengkeram wajah sang tetua dengan tangan kirinya yang kecil namun sekuat penjepit baja.
"Terlalu lambat," bisik suara dingin dari balik topeng besi Zhao Xuan.
Menggunakan momentum udara dan berat tubuh sang tetua, Zhao Xuan memutar tubuhnya di udara, mengubah sang kultivator menjadi meteor manusia.
DOOOOOOOOOM!
Zhao Xuan membanting Tetua Mu lurus ke bawah, menghantam daratan tepat di depan barisan lima puluh ribu pasukan Kerajaan Yan!
Tanah bergetar hebat. Sebuah kawah berdiameter dua puluh meter terbentuk seketika. Debu dan kerikil melesat ke segala arah, menjatuhkan ratusan barisan depan prajurit Yan.
Di tengah kawah tersebut, Zhao Xuan mendarat dengan anggun di atas dada Tetua Mu. Jubah hitamnya berkibar perlahan.
Di bawah kakinya, Tetua Mu memuntahkan darah segar bercampur serpihan organ dalam. Tulang rusuknya remuk total. Pedang terbang raksasanya telah hancur menjadi serpihan besi. Ia, seorang dewa Pembentukan Fondasi, dilumpuhkan hanya dengan satu sentuhan fisik murni.
Puluhan ribu pasukan Yan terdiam dalam kengerian mutlak. Jenderal mereka kehilangan kata-kata.
Di atas benteng, Raja Zhao dan Zhao Tian menahan napas mereka. Mereka baru saja melihat seseorang merobek langit, menghancurkan kultivator legendaris seolah membuang sampah, dan semua itu dilakukan oleh sosok bayangan yang memihak kerajaan mereka.
Zhao Xuan menunduk menatap Tetua Mu yang sedang sekarat di bawah telapak kakinya. Mata emas asura dari balik topeng besi itu berkilat tajam.
"Sampaikan pesan ini kepada hantu-hantu di sektemu saat kau tiba di neraka," suara Zhao Xuan bergema ke seluruh medan perang, datar dan absolut. "Langit di atas Kerajaan Zhao telah ditutup. Siapa pun kultivator yang berani terbang melintasi perbatasan ini... akan kucabut sayapnya dan kupatahkan lehernya."
Zhao Xuan memberikan sedikit tekanan tambahan pada kakinya.
KRAK.
Inti Dantian dan jantung Tetua Mu hancur serentak. Sang dewa palsu mati tanpa sempat meninggalkan kata-kata terakhir.
Zhao Xuan perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Jenderal Kerajaan Yan yang kini gemetar hebat di atas kuda perangnya. Tanpa Zhao Xuan perlu mengucapkan sepatah kata pun, aura kematian murni yang menguar darinya sudah cukup menjadi jawaban.
"M-Mundur... MUNDUR! TARIK PASUKAN!" jerit sang Jenderal Yan dengan suara melengking. Kepanikan massal terjadi. Lima puluh ribu prajurit berbalik arah, menjatuhkan senjata dan panji-panji mereka, melarikan diri bagaikan kawanan domba yang melihat iblis bangkit dari neraka.
Di atas kawah yang berdebu itu, bayangan Jue Ying dan keempat elit lainnya melompat turun dari benteng, berlutut dengan satu kaki di belakang Zhao Xuan.
Zhao Xuan tidak repot-repot menoleh ke arah benteng tempat keluarganya sedang tercengang takjub. Ia dan kelima bayangannya segera melebur ke dalam kepulan debu, menghilang sepenuhnya dari pandangan, menyisakan legenda tentang "Dewa Penjaga Berjubah Hitam" yang kelak akan menyebar ke seluruh penjuru Benua Tianyun.