Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebaya Ibu
Pagi di Yogyakarta pecah dengan rona jingga yang lembut, menyinari jendela kamar Nina yang selama berbulan-bulan menjadi saksi bisu tumpukan kertas revisi dan tetesan kopi begadang. Namun hari ini, meja belajar itu bersih. Tidak ada lagi draf bab empat yang berantakan atau buku teori estetika yang terbuka lebar. Di atas ranjangnya, terbentang sebuah mahakarya yang jauh lebih berharga daripada gelar akademis mana pun.
Sebuah kebaya kutubaru berwarna merah marun dengan sulaman benang emas yang rumit. Kain jarik motif Sido Mukti yang tersampir di sampingnya tampak berkilat, menyiratkan doa tentang kebahagiaan yang berkesinambungan.
"Sini, Cah Ayu. Ibu pakaikan stagennya," suara Fatimah terdengar lembut dari ambang pintu.
Nina berdiri di depan cermin, membiarkan ibunya melilitkan kain stagen di pinggangnya dengan erat. Sentuhan tangan Fatimah terasa begitu magis. Setiap tusukan jarum pada kebaya itu adalah doa yang dijahit dengan cinta. Selama tiga minggu terakhir, Fatimah menolak semua pesanan jahitan pelanggan demi fokus menyelesaikan baju wisuda putri tunggalnya.
"Bagus sekali, Bu. Nina merasa seperti bukan Nina," bisik Nina, menatap pantulan dirinya. Wajahnya yang dipoles riasan tipis khas wisudawati tampak bersinar. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan melati yang aromanya menenangkan.
"Ini hadiah dari Ibu dan... dari Ayah," Fatimah tersenyum, meski matanya sedikit berkaca-kaca. "Ayahmu dulu selalu bilang, 'Bu, nanti kalau Nina wisuda, buatkan baju yang paling cantik, ya. Biar anak kita jadi primadona di kampusnya'."
Nina memeluk ibunya erat. Kehangatan itu meresap ke dalam dadanya, mengobati sedikit rasa rindu pada sosok Hamdan yang seharusnya berdiri di sampingnya hari ini.
***
Gedung serbaguna ISI Yogyakarta riuh dengan suara tawa, tangis haru, dan aroma parfum yang bercampur aduk. Nina berjalan dengan anggun di antara kerumunan toga hitam. Gelar S.Sn (Sarjana Seni) kini resmi tersemat di belakang namanya.
"Nina! Sini! Foto dulu!" teriak Maya yang sudah menenteng buket bunga matahari besar.
Maya dan Sari menghambur memeluk Nina. Ketiganya tertawa lepas, merayakan keberhasilan melewati masa-masa kritis pengejaran dosen pembimbing.
"Gila ya, akhirnya kita lulus juga! Mana si Shinta? Tadi aku lihat dia cemberut terus pas namamu disebut sebagai salah satu lulusan terbaik," bisik Sari sambil cekikikan.
Nina hanya tersenyum. Amarahnya pada Shinta sudah lama menguap. Baginya, prestasi ini adalah jawaban terbaik untuk semua fitnah yang pernah dilemparkan padanya. Sepanjang acara, Nina sesekali menyentuh ponsel di saku kebayanya. Tidak ada pesan dari Lebanon sejak dua hari lalu.
Mungkin Kak Arya sedang patroli atau sinyal di sana sedang buruk lagi, pikir Nina dengan sedikit rasa kecewa yang coba ia tepis.
"Kok melamun? Lagi mikirin Kapten yang jauh di sana ya?" goda Maya.
"Nggak kok. Cuma... sayang aja Kak Arya nggak bisa lihat ini secara langsung," jawab Nina jujur.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk berfoto, tertawa, dan saling melempar janji untuk tetap menjaga silaturahmi meski setelah ini mereka akan menempuh jalan masing-masing di dunia profesional tari.
***
Matahari sudah mulai condong ke barat saat Nina dan ibunya sampai kembali di asrama Korem. Fatimah meminta Nina turun duluan sementara ia mengambil barang di bagasi motor.
"Nina, masuk duluan saja. Ibu mau mampir sebentar ke rumah Bu RT di sebelah, mau antar titipan," ujar Fatimah dengan nada yang sedikit terburu-buru.
Nina mengernyit heran. "Tadi katanya capek, Bu?"
"Sebentar saja kok. Masuk sana, ganti baju dulu biar nggak gerah," Fatimah setengah mendorong Nina menuju pintu rumah.
Nina melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa begitu sepi. Lampu ruang tamu belum dinyalakan, menciptakan suasana temaram yang aneh. Namun, indra penciumannya menangkap sesuatu. Bau parfum yang sangat ia kenali. Bukan aroma melati dari sanggulnya, bukan pula aroma masakan ibunya.
Itu adalah aroma woody yang maskulin, bercampur dengan sedikit aroma sabun antiseptik yang khas.
"Ibu? Kok gelap?" tanya Nina sambil meraba sakelar lampu.
Begitu lampu menyala, Nina tersentak. Di tengah ruang tamu, berdiri seorang pria yang mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) TNI AD yang sangat rapi. Pria itu tidak menampakkan wajahnya. Ia memegang sebuah buket bunga mawar merah yang luar biasa besar, menutupi seluruh bagian dada hingga wajahnya.
Nina terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia baru saja melakukan lari maraton di atas panggung.
"Siapa ya?" tanya Nina dengan suara bergetar, meski hatinya sudah meneriakkan sebuah nama.
Perlahan, buket bunga itu diturunkan. Di balik kelopak mawar yang merah membara, muncul wajah yang selama satu tahun ini hanya bisa Nina lihat melalui layar ponsel yang buram.
Wajah itu kini lebih tirus, kulitnya sedikit lebih gelap terpanggang matahari Timur Tengah, namun sorot matanya tetap sama—tajam, hangat, dan penuh perlindungan.
"Selamat wisuda, Penari Kecilku. Maaf Kakak terlambat datang ke gedung," suara bariton itu terdengar nyata, bukan lagi berupa rekaman suara digital.
"Kak Arya?!" Nina menjerit kecil. Antara percaya dan tidak, ia berlari kecil menuju pria itu.
Pelukan yang Menuntaskan Rindu
Arya meletakkan bunga itu di atas meja dan dengan sigap menangkap tubuh Nina yang menghambur ke pelukannya. Persetan dengan kebaya yang takut kusut atau sanggul yang mungkin berantakan. Bagi Nina, pelukan ini adalah rumah yang sesungguhnya.
"Kapan Kakak sampai? Katanya masih sebulan lagi?" tanya Nina di sela isak tangis bahagianya. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Arya, menghirup aroma yang selama ini ia rindukan setiap malam.
Arya terkekeh, tangannya mengusap punggung Nina dengan lembut. "Tugas Kakak selesai lebih cepat. Kakak sengaja minta izin untuk langsung terbang ke Jogja begitu mendarat di Jakarta. Kakak tidak mau melewatkan hari paling penting bagi gadisku."
Fatimah masuk dari pintu depan sambil tersenyum lebar. "Ternyata kejutannya berhasil ya?"
"Ibu sudah tahu?" Nina menoleh ke arah ibunya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
"Mas Arya sudah telepon Ibu dari kemarin, Nin. Dia bilang mau kasih kejutan. Makanya Ibu tadi akting sedikit," ujar Fatimah sambil tertawa. Ia merasa lega melihat binar kebahagiaan di mata putrinya kembali menyala secara utuh.
Arya melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap Nina dari ujung kepala sampai ujung kaki. Matanya memancarkan kekaguman yang luar biasa.
"Kebayamu... cantik sekali. Kamu benar-benar sudah menjadi seorang Sarjana Seni sekarang," puji Arya tulus. Ia menyentuh pipi Nina yang kemerahan. "Kakak bangga padamu, Nin. Kamu membuktikan bahwa kamu bisa berdiri tegak meski badai menghantam."
Nina tersenyum manis. "Ini semua karena dukungan Kakak juga."
*
Sore itu, mereka duduk bertiga di teras rumah. Arya menceritakan sedikit pengalamannya di Lebanon, sementara Nina menceritakan betapa sulitnya ujian skripsi kemarin. Fatimah menyuguhkan teh hangat dan pisang goreng, suasana yang sangat mirip dengan masa lalu, namun kini dengan kedewasaan yang berbeda.
"Jadi, setelah ini apa rencanamu, Nin?" tanya Arya.
"Nina sudah diterima mengajar tetap di sanggar, Kak. Dan Nina juga diajak bergabung dengan tim koreografer untuk festival tari bulan depan," jawab Nina dengan semangat.
Arya mengangguk bangga. Namun, di balik senyumnya, ada sedikit beban yang ia simpan. Ia belum menceritakan pada Nina bahwa kepulangannya ke Jakarta besok akan disambut oleh rencana perjodohan yang lebih gencar dari ibunya. Tapi melihat kebahagiaan Nina hari ini, Arya bersumpah dalam hati untuk tidak merusak momen ini.
"Nin, boleh Kakak minta satu hal?" ucap Arya saat Fatimah sedang masuk ke dalam rumah.
"Apa, Kak?"
Arya meraih tangan Nina, lalu menyematkan sebuah cincin perak sederhana namun elegan di jari manis Nina. Bukan cincin pertunangan resmi, tapi sebuah tanda.
"Ini bukan lamaran resmi. Kakak tahu kita masih punya jalan panjang untuk meyakinkan keluarga Kakak. Tapi cincin ini adalah janji Kakak, bahwa ke mana pun Kakak pergi, dan rintangan apa pun yang menghalangi kita di Jakarta nanti, hatiku sudah tertambat di sini. Di Yogyakarta, pada kamu."
Nina menatap cincin itu, lalu menatap mata Arya. Ia tahu perjalanannya dengan Arya tidak akan mudah. Ia tahu sosok Ibu Lastri di Jakarta mungkin tidak akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Namun, melihat Arya yang rela terbang ribuan mil hanya untuk melihatnya memakai toga, Nina merasa memiliki kekuatan seribu prajurit.
"Nina akan jaga janji ini, Kak. Nina tidak akan menyerah, seberapa tinggi pun tembok yang harus kita lalui," jawab Nina mantap.
"Besok kita ke Jakarta ya. Kakak sudah hilang ke Papi kalau mau ajak kamu kesana" ucap Arya sembari membelai rambut Nina.
Matahari pun terbenam di balik asrama Korem, meninggalkan jejak warna ungu yang indah di langit. Di teras rumah sederhana nomor lima, seorang perwira dan seorang penari duduk bersisian, menikmati kebersamaan yang singkat namun bermakna. Mereka tidak tahu badai apa lagi yang akan datang di Jakarta esok hari, namun untuk malam ini, euforia wisuda dan aroma mawar merah adalah satu-satunya kenyataan yang mereka miliki.
Nina menyandarkan kepalanya di bahu Arya, merasakan detak jantung pria itu yang tenang. Gelarnya sudah ia raih, cintanya sudah kembali pulang, dan kini ia siap menari di panggung kehidupan yang sesungguhnya—bersama sang pelindung di sampingnya.