Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ragu untuk ikut
"Jangan biarkan dia masuk" ucap Juno yang sedang menahan Hengki untuk masuk ke dalam rumah Anjas
Pagi pagi sekali Hengki sudah datang ke rumah Anjas, dia semakin khawatir dengan kondisi Triana yang tidak mau makan bahkan tidak mau minum vitamin yang di resepkan dokter untuknya, dia hanya menangis sepanjang malam ingin bertemu dengan Anjas dan ingin kembali pada Anjas.
"Gue perlu bicara dengan Anjas Jun, please biarin gue masuk" ucap Hengki
"Kak Anjas sedang sarapan, jangan sampai mood sarapan dia rusak karena dia lihat Lo, pergi deh sana" kesal Juno
"Triana bisa mati kalau Anjas nggak tarik peletnya dari dia" ucap Hengki
"Cih.. Lo pikir gue akan percaya, pelet, yang ada juga Lo yang pakai pelet sejak lama! jangan berani Lo nuduh kak Anjas, dia itu laki laki bersih bahkan dia tidak pernah telat shalat" ucap Juno
"Iblis juga ahli ibadah dulunya Juno, dan banyak orang sesat bersembunyi di balik topeng agama!" bentak Hengki
"Termasuk Lo kan, pergi dari sini!" balas Juno sudah muak kesal.
"Juno gue mohon, Triana sedang hamil dan dia sejak Kemarin tidak makan, kondisinya mengkhawatirkan" bujuk Hengki yang membuat Juno berpikir keras.
"Lo tunggu di sini, jangan sampai dia masuk ke dalam halaman, kalau dia masuk mungkin rumah ini juga akan di bakar kak Anjas" perintah Juno
"Baik pak" jawab para bodyguard di sana tetap menahan Hengki
Juno masuk, dia menemui Anjas yang sedang menyiapkan tas Adisti untuk sekolah dan Anjas menghela nafasnya panjang karena mendengar nama Hengki di pagi hari cukup membuat moodnya rusak pagi itu.
"Juno nggak akan bilang kasihan kak, tapi Juno tidak tega kalau anak yang ada dalam kandungan Triana meninggal, dia tidak berdosa" bisik Juno
"Tapi kak Juna juga tidak tahu apa yang dia maksud dengan pelet, paling juga dia cuman mengada ada" ucap Anjas
"Juno tahu kak, tapi ikuti saja maunya dia, temui Triana biar Adisti hari ini Juno yang antar, dia pasti mengerti" bujuk Juno
"Adis nggak apa apa kan berangkat dengan Om Juno? papa sudah siapkan bekal untuk Adis dan untuk ibu guru juga, tolong berikan padanya nanti ya" tanya Anjas di tatap datar Juno
"Iya papa, tapi nanti saat jemput Adis papa jangan telat ya" jawab Adisti
"Pasti" jawab Anjas mengecup kening Adisti.
Anjas pergi keluar rumahnya, dia melihat Hengki yang masih di tahan para bodyguard di depan gerbang rumahnya dengan tatapan kebencian, tatapan itu tidak pernah berubah dari sejak dia menemukan Hengki sedang bermain api dengan Triana.
"Maksud lo apa menuduh gue memelet Triana! apa Lo pikir gue bodoh mau balikan sama gorong gorong" sinis Anjas
"Tapi Triana terus manggil nama Lo jas, gue nggak mau dia kenapa napa, apalagi dia sedang hamil dan sejak kemarin belum makan, tolong Lo temui dia supaya dia mau makan" ucap Hengki
"Lo nggak keberatan istri Lo gue bujuk di depan mata Lo sendiri?" tanya Anjas
"Demi anak gue jas, gue nggak mau anak yang ada dalam rahim Triana hilang, dia tidak bersalah dalam permusuhan kita" jawab Hengki
"Terus gue harus terus jadi babu istri Lo gitu? gue nggak mau" ucap Anjas
"Lo nggak usah bohong sama gue jas, gue tahu Lo pergi ke dukun untuk memelet Triana kan, dia nggak akan kaya gitu kalau nggak kena guna guna" ucap Hengki
"Kalau gue punya kemampuan untuk mengguna guna orang, gue bakal bunuh kalian, ngapain gue pelet dia, nggak ada untungnya, yang ada gue rugi karena duit gue dia pakai untuk foya foya!" sinis Anjas
"Please jas, gue mohon sama Lo, kalau nggak bisa Lo lihat gue sama Triana, Lo lihat bayi yang tidak berdosa itu" ungkap Hengki
"Sialan, kenapa dia menggunakan bayi itu untuk membuat gue menyerah, kalau bukan karena gue nggak mau melenyapkan nyawa yang tidak bersalah, gue nggak akan pernah perduli mau dia mati ataupun sekarat" batin Anjas
"Oke, gue ikut Lo sekarang dan cepat karena gue sibuk" ucap Anjas
"Lo mau naik mobil gue atau pakai mobil Lo sendiri?" tanya Hengki
"Najis" sinis
Anjas akhirnya ikut dengan Hengki dengan cara mengikutinya dari belakang, dia tidak yakin Hengki benar benar menyayangi bayi yang ada di dalam kandungan Triana tapi tetap Anjas ikuti karena dia tidak mau kalau sampai bayi yang tidak berdosa jadi korban.
Hampir setengah jam dia mengikuti mobil Hengki dan mereka berhenti di sebuah rumah yang belum pernah di lihat Anjas sebelumnya kalau Hengki punya rumah seperti itu tanpa tahu kalau rumah itu adalah rumah Kunto, dukun Hengki.
Anjas masuk tanpa curiga ke dalam halaman rumah itu, dia keluar dari mobil karena Hengki juga sudah keluar dari sana bahkan tetap mengikuti Hengki ke dalam rumah yang terlihat begitu sepi itu.
"Tunggu, gue panggil Triana dulu" ucap Hengki
Anjas tidak duduk, dia melihat sekeliling yang membuat instingnya mengatakan kalau di sana ada bahaya dan bisa menjebak Anjas kapanpun. Dan ternyata benar saja, Anjas di minta ke sana untuk di tes oleh Kunto, apakah Anjas punya ilmu hitam atau tidak karena saat masuk ke dalam rumah itu tubuh Anjas tidak menyimpan keanehan apapun.
"Mas Anjas!" panggil Triana berlari tapi di tahan Hengki
"Lo lihat sendiri kan apa yang terjadi sekarang, jujur saja sama gue kalau Lo itu pelet dia" ucap Hengki sama sekali tidak membuat Anjas goyah dengan kebohongannya.
"Mas, aku mau balikan sama kamu mas, ayo kita bina rumah tangga bahagia kita lagi" ucap Triana
"Aku tidak mau, aku tidak mengerti apa yang terjadi sama kamu Triana, tapi Hengki, tidakkah menurut Lo itu karena pelet dari Lo yang sudah tidak bekerja lagi pada Triana" cibir Anjas
"Gue tidak memelet Triana! Dia yang merayu gue lebih dulu, lagipula gue sama sekali tidak akan tergoda kalau tidak di goda duluan, Lo tahu itu Anjas" jawab Hengki membuat Anjas tersenyum miring.
"Benarkah? Tapi Lo pasti pakai susuk pemikat kan? Nggak mungkin Lo punya banyak pacar dengan kondisi ekonomi Lo yang pas pasan itu dulu" ejek Anjas
"Gue nggak pakai susuk dan gue bisa buktikan itu, tapi bagaimana Lo akan buktikan kalau Lo nggak memasang apapun di tubuh Lo!" jawab Hengki
"Gue juga bisa buktikan kalau memang ada caranya, silahkan Lo uji gue" balas Anjas
"Lo harus berendam di kolam depan rumah gue ini" ucap Hengki