"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
..
..
Pagi di pinggiran Jakarta selalu membawa aroma yang khas; perpaduan antara tanah basah sisa embun, asap kayu bakar dari tetangga, dan wangi masakan sederhana. Bagi Kalea, aroma itu biasanya menjadi musik pembuka harinya yang kini terasa lebih tenang. Namun, sudah hampir tiga minggu ini, melodi pagi itu berubah menjadi siksaan.
Kalea terbangun dengan rasa pahit yang mengumpul di pangkal tenggorokannya. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, namun bau minyak goreng yang tercium dari dapur—tempat Surya sedang menggoreng tempe—mendadak terasa seperti serangan gas beracun.
"Ugh..." Kalea menutup mulutnya rapat-rapat. Ia melompat dari tempat tidur, berlari sekencang mungkin menuju kamar mandi kecil di belakang rumah.
Brak!
Pintu kayu itu tertutup kasar. Kalea membungkuk di depan wastafel, membiarkan tubuhnya terguncang oleh rasa mual yang hebat. Perutnya melilit, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas organ dalamnya. Ia memuntahkan cairan bening berulang kali hingga matanya berair dan wajahnya pucat pasi.
"Kalea? Nak? Kamu nggak apa-apa?" suara Surya terdengar cemas di balik pintu.
Kalea membasuh wajahnya dengan air dingin, tangannya gemetar hebat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang sudah buram. Wajahnya yang dulu segar kini tampak tirus, matanya sayu, dan ada aura "berbeda" yang ia sendiri tidak mengerti.
"Nggak apa-apa, Yah. Cuma masuk angin. Mungkin gara-gara semalam nggak makan nasi," jawab Kalea parau. Ia berusaha mengatur napasnya yang tersengal.
Di dalam benaknya, sebuah pikiran mengerikan mulai muncul. Ia mencoba menghitung siklus bulanannya. Satu bulan lewat. Dua bulan lewat. Awalnya ia pikir itu hanya efek stres luar biasa setelah kebakaran mansion dan rentetan skandal keluarga Adiwinata. Ia pikir tubuhnya hanya sedang memprotes semua beban mental yang ia tanggung. Tapi rasa mual yang datang setiap pagi, sensitivitas terhadap bau, dan rasa nyeri di pinggangnya... semuanya mulai menunjuk ke satu arah yang tidak ingin ia akui.
"Nggak... nggak mungkin," bisiknya pada cermin. "Kita cuma melakukannya beberapa kali... dan... dia selalu berhati-hati, kan?"
Kalea teringat malam terakhir itu. Liam yang dikuasai obsesi, Liam yang tidak ingin melepaskannya. Apakah di tengah kegilaan itu, Liam sengaja melakukannya? Ataukah ini hanya lelucon takdir yang ingin mengikatnya selamanya pada darah Jionel?
Di luar rumah, sebuah mobil Avanza hitam yang tampak biasa saja terparkir sekitar lima puluh meter dari pagar rumah Kalea. Di dalamnya, dua pria berjaket hoodie duduk dengan peralatan komunikasi yang canggih. Salah satunya adalah Aris, asisten kepercayaan Liam yang kini bekerja secara sembunyi-sembunyi.
Aris memegang teropong, mengawasi setiap gerak-gerik di rumah itu. Ia mencatat sesuatu di tabletnya.
"Subjek kembali mengalami mual hebat pukul 07.15 WIB. Wajah pucat. Tidak nafsu makan. Aktivitas fisik menurun drastis dalam tiga hari terakhir."
Aris menghela napas. Ia tidak berani menyimpulkan apa pun, namun instingnya sebagai pria yang sudah lama melayani Liam mulai merasa ada yang ganjil. Meski begitu, tugasnya hanya melaporkan kesehatan Kalea, bukan mendiagnosisnya.
Lapas Kelas I Cipinang, Ruang Kunjungan Khusus.
Liam Jionel duduk di sana dengan angkuh, meski seragam narapidana biru itu seharusnya meruntuhkan harga dirinya. Ia menatap laporan yang dibawa Aris melalui selundupan. Matanya menyipit saat membaca kata "mual hebat" dan "pucat".
"Sudah berapa lama dia begini?" tanya Liam, suaranya rendah dan berbahaya.
"Hampir tiga minggu, Tuan. Awalnya kami pikir hanya kelelahan, tapi gejalanya menetap setiap pagi," jawab Aris hati-hati.
Liam mengepalkan tangannya di atas meja. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan kembali meluap. Di matanya, Kalea sedang menderita karena trauma yang ia berikan. Ia membayangkan api di mansion itu, asap yang merusak paru-paru Kalea, dan stres yang menghancurkan mental gadis itu.
"Dia sakit karena aku," gumam Liam, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Tubuhnya menolak semua ingatan tentangku, dan sekarang fisiknya hancur."
Liam sama sekali tidak berpikiran tentang kehamilan. Di dunianya yang gelap, ia hanya berpikir tentang kerusakan yang ia timbulkan. Ia melihat rasa sakit Kalea sebagai bukti betapa besarnya kebencian gadis itu padanya.
"Bawa dokter terbaik. Bilang itu program bakti sosial dari kecamatan atau apa pun. Aku ingin dia diperiksa secara menyeluruh. Jika perlu, suap kepala puskesmasnya agar memberikan perhatian khusus pada rumah itu!" perintah Liam.
"Baik, Tuan. Tapi Nona Kalea sangat waspada. Beliau menolak semua bantuan asing."
"Paksa, Aris! Gunakan cara yang halus, tapi pastikan dia minum vitamin dan makan dengan benar! Aku tidak ingin keluar dari sini dan menemukan dia hanya tinggal tulang belulang!" Liam berdiri, matanya berkilat-kilat penuh obsesi. "Dan satu lagi... siapa saja teman laki-lakinya yang datang berkunjung?"
"Hanya rekan kantor lamanya, Tuan. Dan Kenzo sempat lewat untuk memastikan keadaannya."
Liam menyeringai tipis. "Bagus. Pastikan tidak ada pria lain yang masuk ke radius sepuluh meter dari rumah itu."
Siang harinya, Aruna, Ghea, dan Ziva datang berkunjung. Mereka membawakan martabak manis dan sekantong jeruk nipis, mencoba menghibur Kalea. Namun, mereka justru dikejutkan dengan kondisi Kalea yang tampak sangat rapuh.
"Kal, lo beneran oke? Mata lo kuning, muka lo kayak orang nggak pernah liat matahari," Ghea berkomentar jujur, wajahnya penuh kecemasan.
Kalea mencoba tersenyum, menyandarkan punggungnya di kursi rotan. "Gue cuma kecapekan, Ghee. Lagi banyak deadline naskah aja."
"Atau jangan-jangan..." Ziva menggantung kalimatnya, matanya menatap perut Kalea yang tertutup daster longgar. "Lo udah telat belum, Kal?"
Jantung Kalea seolah berhenti berdetak sesaat. Ia tertawa garing. "Telat apanya? Menstruasi? Lo tau kan hidup gue kayak apa beberapa bulan terakhir? Stres, kebakaran, bokap keluar penjara... hormon gue pasti acak-acakan."
Aruna, yang selama ini paling diam, mengamati gerak-gerik Kalea. Ia melihat Kalea berkali-kali memegang pinggangnya dan bagaimana Kalea mendadak menjauh saat Ghea membuka kotak martabak yang aromanya sangat manis.
"Lo benci bau manis ya sekarang?" tanya Aruna menyelidik.
"Lagi nggak selera aja," jawab Kalea singkat.
Aruna tidak mendesak, tapi ia mulai menaruh curiga. Ia tahu Kalea sedang menyembunyikan sesuatu, entah itu penyakit atau... sesuatu yang lebih besar.
Malam semakin larut, dan rintik hujan mulai membasahi atap seng rumah Kalea. Ia duduk di meja makannya yang kayu, menatap piring nasi yang hanya tersentuh sedikit. Surya sudah tidur, meninggalkan Kalea dalam kesunyian yang mencekam.
Tiba-tiba, sebuah mobil van dengan logo "Dinas Kesehatan" berhenti di depan rumahnya. Dua orang wanita berseragam perawat turun membawa tas medis. Mereka mengetuk pintu pagar dengan ramah.
Kalea mengernyitkan dahi. Jam sembilan malam? Pemeriksaan kesehatan apa yang dilakukan jam segini?
Ia berjalan keluar, memegang daster panjangnya. "Ya? Ada apa Sus?"
"Malam, Nona Kalea. Kami dari tim pemantau kesehatan pasca-bencana wilayah Menteng dan sekitarnya. Berhubung Anda adalah salah satu korban kebakaran besar kemarin, kami ditugaskan untuk melakukan cek kesehatan berkala secara gratis," ucap perawat itu, suaranya sangat manis namun terlatih.
Kalea menatap mereka dengan tatapan curiga yang tajam. Ia teringat Liam. Ia tahu gaya pria itu. Liam tidak akan membiarkannya tenang.
"Siapa yang kirim kalian? Liam Jionel?" tanya Kalea dingin.
Perawat itu tampak bingung sejenak, namun segera menetralkan ekspresinya. "Kami dari dinas, Nona. Ini surat tugasnya."
Kalea tidak melihat surat itu. Ia menutup pagar dengan keras. "Bilang pada pria yang mengaji kalian... aku tidak butuh belas kasihan dalam bentuk tim medis. Aku sehat. Dan kalaupun aku mati, itu bukan urusan dia lagi! Pergi!"
Perawat itu hanya bisa saling pandang dan kembali ke mobil. Di kejauhan, di dalam mobil Avanza hitam, Aris menghela napas panjang. Ia mencatat kegagalan misi medis itu di tabletnya.
Kalea kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan merosot di balik daun pintu. Ia memegang perutnya dengan tangan gemetar. Ia tahu, cepat atau lambat, rahasia ini akan terungkap. Tapi untuk saat ini, ia ingin memilikinya sendiri.
"Kumohon... kalaupun kamu ada di sana, jangan jadi seperti dia," bisik Kalea pada perutnya yang masih rata.
Ia belum berani membeli alat tes kehamilan. Ia takut jika dua garis itu muncul, ia akan kehilangan kewarasannya. Ia lebih memilih berada di dalam ketidaktahuan yang menyiksa daripada kenyataan yang mengikat.
Di penjara, Liam Jionel menatap foto Kalea yang diambil diam-diam oleh anak buahnya sore tadi. Ia melihat Kalea sedang memegang perutnya di teras rumah. Ia mengira Kalea sedang menahan sakit lambung akibat stres.
"Maafkan aku, Kalea," bisik Liam, menyentuh layar ponselnya. "Aku akan segera keluar, dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah merasa sakit lagi."
Liam tidak tahu, bahwa di dalam rahim Kalea, benih yang ia tanam dalam kegelapan sedang mulai berjuang untuk hidup. Sebuah rahasia yang akan menjadi senjata paling mematikan bagi keduanya di masa depan. Sebuah kehidupan yang lahir dari transaksi satu miliar, obsesi, dan dendam yang tak kunjung usai.
Malam itu, Jakarta tertidur, namun dua jiwa yang hancur itu tetap terjaga, masing-masing memegang rahasia yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa dunia mereka sekali lagi.