NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Bel pulang berbunyi.

Suasana kelas mulai ribut. Kursi digeser, tas diselempangkan, suara tawa bercampur.

Ryuga duduk santai di mejanya, memasukkan buku ke dalam tas dengan gerakan tenang. Wajahnya datar seperti biasa.

Zayden bersandar di meja belakang.

Keano duduk di atas meja sambil mengayun kaki.

Elric berdiri di dekat jendela, diam seperti patung.

Tiba-tiba suara lembut terdengar.

“Ga…”

Ryuga tidak langsung menoleh.

Naomi berdiri di samping mejanya, senyum tipis terpasang rapi.

“Aku pulang sama kamu ya?”

Zayden langsung angkat alis.

Keano berhenti mengayun kaki.

Elric melirik sekilas.

Naomi melanjutkan dengan nada manis,

“Sopir aku tadi nelpon. Mobilku mogok, masih di bengkel. Jadi… boleh ya aku nebeng?”

Ryuga menutup tasnya pelan.

“Gue sibuk.”

Hening satu detik.

“Sama yang lain aja.”

Keano langsung batuk pura-pura.

“Uhuk. Sibuk apaan, ketua?”

Zayden menyeringai tipis.

“Iya, jadwal lo kosong kok tadi.”

Ryuga melirik tajam.

“Gue nggak pernah bilang jadwal gue ke lo.”

Keano turun dari meja, mendekat dramatis.

“Wah, misterius banget. Sibuk sama siapa nih?”

Elric datar,

“Cewek?”

Ryuga berhenti sebentar.

Satu detik terlalu lama.

Zayden langsung menangkap.

“Ohooo.”

Keano menepuk meja.

“FIX. Ada yang beda dari ketua kita.”

Naomi tetap tersenyum, tapi sorot matanya mengeras sedikit.

“Sibuk apa, Ga?” tanyanya lembut lagi. “Aku nggak bakal ganggu kok.”

Ryuga berdiri, memasukkan tangan ke saku.

“Gue bilang sibuk ya sibuk.”

Zayden mendekat sambil berbisik cukup keras buat semua dengar,

“Biasanya kalau dia nolak cewek nggak sedingin ini.”

Keano menimpali,

“Biasanya lebih dingin lagi.”

“Diam lo.” desis Ryuga.

Naomi menatap Ryuga dengan mata sedikit memohon.

“Please, Ga. Cuma nebeng. Rumah kita kan searah.”

Ryuga menatap lurus ke depan.

“Lo punya banyak temen.”

“Aku maunya sama kamu.”

Keano langsung menutup mulutnya sendiri menahan tawa.

“Waduh.”

Zayden pura-pura melihat jam tangan.

“Ini awkward banget sih.”

Elric hanya memperhatikan Ryuga.

Ryuga menarik napas pelan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena Naomi.

Karena bayangan lain.

Naomi melangkah lebih dekat.

“Please, Ga. Boleh ya?”

Suaranya lebih lembut. Lebih pelan.

Ryuga akhirnya menatapnya langsung.

Tatapan dingin. Tegas.

“Lo budek?”

Suasana kelas langsung hening.

“Gue udah bilang gue sibuk.”

Senyum Naomi membeku.

Keano dan Zayden langsung saling pandang.

Naomi masih berusaha tenang.

“Aku cuma minta tumpangan…”

“Gue bukan sopir lo.”

Nada suaranya rendah, tapi tajam.

Zayden berusaha mencairkan suasana.

“Ya kali ini aja, Ga. Kasian.”

Ryuga meliriknya.

“Lo aja yang anter.”

Keano langsung mundur dua langkah.

“Eh jangan. Rumah gue beda arah.”

Elric akhirnya bicara pendek,

“Kalau nggak mau, jangan dipaksa.”

Naomi menatap Elric sekilas, lalu kembali ke Ryuga.

“Aku nggak maksa…” katanya lembut. “Aku cuma minta tolong.”

Ryuga terdiam sebentar.

Lalu suaranya turun sedikit, tetap dingin.

“Gue nggak bisa.”

“Kenapa?” tanya Naomi, nadanya mulai terdengar retak halus.

Ryuga tidak menjawab.

Keano berbisik pelan ke Zayden,

“Ini bukan soal sibuk.”

Zayden mengangguk kecil.

Naomi menarik napas panjang.

“Ya udah.”

Ia tersenyum lagi—senyum yang dipaksakan.

“Nggak apa-apa kok.”

Ryuga sudah berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti sepersekian detik, tanpa menoleh.

“Cari yang lain.”

Lalu ia pergi.

Pintu kelas tertutup.

Naomi berdiri diam menatap punggung Ryuga yang menjauh.

Wajahnya masih lembut.

Tapi tatapannya—

marah.

Kesal.

Kecewa.

Zayden menggaruk belakang lehernya.

“Uh… gue kayaknya juga mau cabut.”

Keano mengangguk cepat.

“Iya, suasananya… panas.”

Elric menatap Naomi datar.

Naomi menoleh ke mereka dengan senyum kecil.

“Nggak usah canggung. Aku nggak apa-apa kok.”

Keano tertawa kecil, gugup.

“Iya, keliatan banget nggak apa-apanya.”

Zayden menyikutnya pelan.

Naomi mengambil tasnya perlahan.

Dalam hati, jemarinya kembali mengepal.

“Sibuk ya…” gumamnya pelan.

Matanya mengarah ke pintu tempat Ryuga pergi.

“Lihat aja nanti.” bisiknya sangat pelan.

Senyumnya kembali terpasang.

Tapi kali ini—tidak selembut sebelumnya.

...----------------...

Di depan kelas 11 IPS 5 mendadak ricuh.

“ITU RYUGA!”

“Ya ampun, ganteng banget!”

“Ngapain dia ke sini?!”

Cewek-cewek berbisik histeris. Cowok-cowok pura-pura santai tapi jelas memperhatikan.

Di dalam kelas, Quinn yang lagi duduk santai langsung mengernyit.

“Ada apaan sih? Heboh banget.”

Vexa berdiri sambil menjinjit.

“Nggak tahu. Gue juga penasaran nih. Lihat yuk!”

Quinn baru saja bangkit dan melangkah beberapa langkah, Vexa mengikuti di belakangnya.

Lalu—

Suasana mendadak sunyi.

Ryuga masuk ke dalam kelas.

Langkahnya tenang. Wajahnya datar. Tatapannya lurus.

Langsung ke arah Quinn.

Jantung Quinn berdegup keras.

Seketika adegan di gudang belakang terlintas di pikirannya.

Napas yang terlalu dekat.

Tatapan yang terlalu dalam.

Wajahnya memerah tanpa bisa dikontrol.

Dan ciuman itu... ASTAGA!

“Kenapa lo diem?” bisik Vexa pelan.

Quinn belum sempat jawab.

Ryuga sudah berdiri tepat di depannya.

Hening.

Semua mata tertuju pada mereka.

Tanpa banyak kata, Ryuga menarik pinggang ramping Quinn, membuat jarak mereka nyaris tak ada.

Suara desahan kaget terdengar dari seisi kelas.

“ANJIR…”

“Dia megang duluan?!”

“Bukannya dia nggak suka cewek deket-deket?!”

Vexa sampai membeku di tempat.

Quinn membelalak.

“Ryuga! Lo ngapain?!”

Ryuga menunduk sedikit, wajahnya tetap datar tapi sorot matanya tajam.

“Pulang sama gue.”

Kalimat itu diucapkan begitu saja.

Quinn mengerjap sadar.

“Apa?”

“Pulang sama gue.” ulangnya tenang.

Quinn buru-buru menepis tangan Ryuga dari pinggangnya.

“Sorry. Gue udah dijemput.”

Ryuga menatapnya tanpa berkedip.

“Kalau gitu batalin sekarang.”

Suara riuh langsung muncul lagi.

“GILA.”

“Dia posesif banget.”

“Ini drama apa sih?!”

Quinn makin kesal.

“Lo kira gampang gitu?” desisnya pelan tapi tajam. “Gue bukan anak buah lo.”

“Gue nggak bilang lo anak buah gue.”

“Terus sikap lo apaan?! Dateng-dateng narik gue, nyuruh gue batalin jemputan? Lo pikir lo siapa?”

Ryuga mendekat sedikit, suaranya rendah.

“Orang yang nggak mau lo pergi sama siapa pun selain gue.”

Kelas langsung makin heboh.

Vexa menutup mulutnya sendiri.

“Gue lagi nonton sinetron apa gimana…”

Quinn melotot.

“Lo kebangetan tau nggak sih?!”

“Gue cuma ngajak pulang.”

“Cara lo ngajak kayak maksa!”

Ryuga mengangkat alis tipis.

“Lo nolak?”

“Jelas!”

“Karena lo takut?”

Quinn makin merah.

“Takut apaan?!”

“Takut sendirian sama gue.”

“Pede banget sih!”

“Kalau nggak takut, ayo.”

Tantangan itu menggantung di udara.

Quinn merasa semua mata menekan dirinya.

Ia mundur satu langkah.

“Gue bilang gue udah dijemput.”

“Batalin.”

“NGGAK!”

Suasana makin tegang.

Ryuga menatapnya lama.

“Lo bisa lari dari gue di gudang,” katanya pelan, cukup untuk Quinn dengar. “Tapi nggak di sini.”

Quinn langsung membeku.

Vexa menatap Quinn bingung.

“Gudang?”

Quinn cepat-cepat menoleh ke Vexa.

“Nggak ada apa-apa!”

Ryuga tersenyum tipis.

“Kita belum selesai.”

“Kita nggak punya apa-apa buat diselesaiin!”

“Punya.”

“Enggak!”

Ryuga mendekat lagi, suaranya merendah.

“Lo boleh pura-pura nggak peduli. Tapi badan lo gemetar tiap gue deket.”

Quinn langsung mendorong dadanya pelan.

“Jangan sotoy.”

“Buktinya sekarang.”

Quinn makin kesal.

“Lo bikin gue gemetar karena kesel!”

“Kesel juga bentuk perhatian.”

“Lo nyebelin banget!”

Vexa akhirnya menarik lengan Quinn pelan.

“Udah, Quin…”

Quinn langsung pegang tangan Vexa.

“Ayo, Xa.”

Ia menatap Ryuga terakhir kali.

“Gue nggak bisa diatur-atur sama lo.”

Lalu Quinn menarik Vexa melewati Ryuga.

Seluruh kelas otomatis memberi jalan.

Ryuga tidak menahan.

Ia hanya berdiri diam.

Tangan di sampingnya mengepal kuat.

Tapi wajahnya tetap tenang.

Beberapa detik setelah Quinn benar-benar menjauh—

Senyum miring terangkat di sudut bibirnya.

“Kita lihat…” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.

Tatapannya mengikuti punggung Quinn.

“Sampai kapan lo mau lari dari gue.”

...----------------...

Lorong sekolah menuju gerbang masih ramai oleh murid yang pulang.

Quinn berjalan cepat sambil menarik tasnya agak kesal.

Vexa menyusul di sampingnya dengan senyum lebar yang mencurigakan.

“Jadi…” Vexa mulai dengan nada sengaja dibuat santai.

Quinn langsung melirik tajam. “Jangan mulai.”

“Mulai apa? Gue belum ngomong apa-apa, Quin.”

Quinn mendengus. “Muka lo udah niat banget buat ngeledekin.”

Vexa terkekeh. “Ya gimana nggak? Ketua Ravenix dateng ke kelas cuma buat ngajak lo pulang. Itu bukan hal biasa.”

Quinn mempercepat langkah. “Dia cuma iseng.”

“Iya? Iseng narik pinggang orang di depan satu kelas?”

Quinn tersedak sendiri. “Vexa!”

“Kenapa? Fakta kok.” Vexa mencondongkan wajahnya mendekat. “Dan lo nggak nolak pas dia narik.”

“Gue kaget!”

“Hmm… kaget tapi nggak teriak.”

Quinn berhenti mendadak. “Lo tuh temen apa netizen julid sih?”

Vexa ketawa. “Temen yang peduli sama perkembangan kisah cinta lo.”

“NGGAK ADA kisah cinta.”

“Oh ya? Terus tadi itu apa? Seminar kewirausahaan?”

Quinn memutar bola matanya. “Dia cuma nyari masalah.”

“Nyari masalah apa nyari lo?”

Quinn langsung diam setengah detik. “Lo kebanyakan nonton drama.”

Vexa menyenggol lengannya pelan. “Tapi serius, Quin… dia beda banget tadi.”

“Beda gimana?”

“Biasanya dia cuek, dingin, kayak nggak peduli dunia. Tadi? Posesif banget.”

Quinn pura-pura santai. “Nggak posesif. Cuma… rese.”

“Rese yang bilang nggak mau lo pulang sama siapa pun selain dia?”

Langkah Quinn sedikit melambat tanpa sadar.

Vexa langsung menangkap itu. “NAH! Lo mikir kan?”

“Enggak!” Quinn buru-buru menyangkal. “Gue cuma kesel aja.”

“Kesel kok pipi lo merah?”

Quinn langsung menutup pipinya dengan tangan. “Panas!”

“AC lorong nyala.”

“Gue kepanasan dari dalam!”

“Dari dalam hati maksudnya?”

“VEXA!”

Beberapa murid yang lewat sampai menoleh karena suara Quinn meninggi.

Vexa tertawa puas. “Ya ampun, lo tuh gampang banget kebaca.”

“Gue nggak kebaca apa-apa.”

“Lo grogi.”

“Enggak.”

“Lo deg-degan.”

“Enggak.”

“Lo seneng.”

“ENGGAK!”

Vexa mengangkat kedua tangan menyerah. “Oke oke. Nggak seneng. Cuma matanya tadi nggak bisa lepas dari dia.”

Quinn langsung terdiam lagi.

Tadi memang… saat Ryuga berdiri dekat banget, napasnya terasa jelas. Tatapannya bikin susah fokus.

Vexa menyipitkan mata. “Lo keinget sesuatu ya?”

Quinn refleks menelan ludah. “Nggak.”

“Gudang?”

Quinn hampir tersandung kakinya sendiri. “Lo bisa nggak sih nggak nyebut itu?!”

“Berarti ada sesuatu di gudang.”

“Nggak ada!”

“Tapi tadi dia bilang ‘lo bisa lari dari gue di gudang’.”

Quinn menggigit bibirnya kesal. “Dia cuma ngomong asal.”

“Quinn.” Vexa berhenti berjalan dan menghadapinya. “Lo suka dia?”

Quinn membelalak. “Apa sih?!”

“Jawab.”

“Enggak!”

“Tapi lo nggak keliatan benci juga.”

Quinn terdiam sesaat. “Gue cuma… nggak suka diatur.”

“Jadi kalau dia nggak maksa, lo bakal mau?”

Quinn terdiam lebih lama kali ini.

Vexa tersenyum makin lebar. “Gotcha.”

“Apaan sih!”

“Lo nolak bukan karena nggak mau. Tapi karena gengsi.”

“Gue nggak gengsi!”

“Lo takut keliatan gampang.”

Quinn memalingkan wajahnya. “Dia pikir dia bisa seenaknya. Dateng, narik gue, nyuruh gue batalin jemputan.”

“Tapi lo tetep dengerin dia kan? Lo jawab semua ucapannya. Lo nggak pernah seaktif itu kalau cowok lain ngajak ngobrol.”

Quinn mengerutkan kening. “Maksud lo?”

“Kalau cowok lain, lo bakal cuek atau langsung pergi. Tadi? Lo debat panjang.”

Quinn langsung terdiam lagi.

Mereka sudah hampir sampai gerbang.

Vexa menepuk bahu Quinn pelan. “Dia nggak kayak rumor, Quin.”

“Rumor apa?”

“Katanya dia nggak suka cewek deket-deket. Tapi tadi? Dia yang deket duluan.”

Quinn menggigit bibir bawahnya tanpa sadar.

“Dan cara dia liat lo…” lanjut Vexa pelan, “…itu bukan tatapan iseng.”

Quinn menoleh cepat. “Tatapan apaan?”

“Tatapan orang yang nggak mau kehilangan.”

Jantung Quinn berdetak sedikit lebih keras.

“Lo kebanyakan analisa.”

“Enggak. Gue cuma jeli.”

Di depan gerbang, mobil jemputan Quinn sudah terlihat.

Vexa menyenggolnya sekali lagi. “Tapi jujur ya…”

“Apa lagi?”

“Kalau tadi lo batalin jemputan dan pulang bareng dia, itu bakal jadi momen paling heboh seangkatan.”

Quinn mendengus. “Gue nggak butuh sensasi.”

“Tapi lo butuh dia?”

Quinn menatap Vexa tajam.

Vexa langsung mengangkat tangan. “Oke oke, terakhir. Kalau besok dia dateng lagi dan ngajak dengan cara yang lebih sopan… lo bakal nolak lagi?”

Quinn membuka pintu mobilnya.

Ia berhenti sebentar.

Lalu menjawab tanpa menoleh.

“Liat nanti.”

Vexa langsung tersenyum lebar. “Nah, itu baru jawaban jujur.”

Quinn cepat-cepat masuk ke mobil, tapi sebelum pintu tertutup—

Vexa masih sempat berteriak kecil, “Quinnn~ pipi lo merah lagi tuh!”

“DIEM LO!”

Mobil pun melaju, meninggalkan Vexa yang masih tertawa geli di depan gerbang.

Tak jauh dari sana, Ryuga berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku jaketnya.

Tatapannya masih mengikuti mobil itu sampai benar-benar hilang di tikungan.

Ia menghela napas berat.

“…Hah.”

Suara langkah mendekat.

Zayden muncul lebih dulu, tangan di saku, ekspresinya santai tapi mata penuh rasa ingin tahu.

Di belakangnya Keano yang sudah senyum-senyum usil, dan Elric yang seperti biasa datar tanpa ekspresi.

Naomi juga ada di sana. Diam. Mengamati.

Zayden berhenti di samping Ryuga.

“Lo belum balik?”

Ryuga tak menoleh. “Ngapain nanya?”

“Gue kira lo udah cabut. Tadi kan lo bilang sibuk.”

“Belum pengen balik.”

Keano langsung nyengir. “Belum pengen… atau belum rela?”

Ryuga akhirnya melirik sekilas. Tatapannya dingin.

“Ngomong yang jelas.”

Keano menunjuk ke arah jalan tempat mobil Quinn tadi pergi.

“Itu tadi mobil siapa?”

“Mobil orang.”

“Orang siapa?” Keano makin sengaja memancing.

Ryuga mendecih pelan. “Bukan urusan lo.”

Zayden menyipitkan mata, memperhatikan wajah Ryuga yang biasanya datar, tapi sekarang rahangnya sedikit mengeras.

“Lo nungguin cewek tadi ya?”

Ryuga diam.

Keano menepuk bahu Zayden. “Bukan nungguin. Tapi ngawasin.”

“Bedanya tipis.” balas Zayden santai.

Elric yang dari tadi diam akhirnya bicara singkat.

“Dia suka orang di mobil itu. ”

Semua langsung menoleh ke Elric.

Ryuga melirik tajam. “Lo jangan mulai.”

Elric mengangkat bahu. “Fakta.”

Keano mendekat sedikit ke Ryuga, pura-pura berbisik keras.

“Eh… tapi kayaknya cewek itu mirip sama yang di HP lo deh.”

Ryuga langsung menoleh tajam. “Sok tahu.”

“Lah, gue kan pernah liat wallpaper hp lo. Rambutnya sama, mata nya juga. Jangan bilang cuma kebetulan.”

Zayden memicingkan mata, otaknya langsung menyambung potongan-potongan kejadian hari ini.

“Jangan bilang…” ia menoleh ke Ryuga, “…itu cewek yang lo cium tadi?”

Ryuga langsung berjalan beberapa langkah menjauh, jelas tak mau menjawab.

“Berisik.”

Keano bersiul pelan. “Wih… berarti bener.”

Zayden tertawa kecil. “Ketua Ravenix ternyata bisa juga ya kepincut.”

“Gue nggak kepincut.”

“Terus tadi di kelas 11 IPS 5 lo ngapain? Razia tas?”

Keano ngakak. “Iya, ngecek buku catatan anak IPS.”

Ryuga berhenti. Menoleh perlahan.

Tatapannya dingin, tapi ada sedikit kilatan peringatan di sana.

“Gue cuma ngajak dia pulang.”

“Dengan narik pinggangnya di depan satu kelas?” Keano menahan tawa.

“Gue nggak minta komentar.”

Zayden menyender ke tiang gerbang.

“Namanya siapa?”

Ryuga diam sesaat.

“Quinn.”

Keano mengangkat alis. “Oh… anak baru itu?”

Zayden mengangguk pelan. “Pantes nggak pernah keliatan sebelumnya.”

Elric menatap Ryuga lebih lama.

“Lo kenal dia sebelumnya.”

Bukan pertanyaan. Tapi pernyataan.

Ryuga tak langsung jawab.

“Hm.” gumamnya pendek.

Keano langsung heboh. “HAH? Jadi bukan cuma anak baru random?”

Zayden menatap lebih serius sekarang. “Lo nggak pernah cerita.”

“Gue nggak wajib cerita.”

“Temen SMP?”

Ryuga melirik sekilas. Diam.

Keano langsung menunjuk dengan ekspresi dramatis. “Wah wah wah… masa lalu terkuak.”

Zayden terkekeh. “Pantes cara lo liat dia beda.”

“Beda apaan?”

“Kayak barang lo mau diambil orang.”

Ryuga menatap lurus ke depan lagi.

“Dia bukan barang.”

“Tapi lo tetep nggak suka dia dijemput orang lain.” celetuk Keano cepat.

Ryuga tak menjawab.

Itu sudah jawaban.

Di belakang mereka, Naomi berdiri diam.

Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.

Quinn.

Nama itu berputar-putar di kepalanya.

Cewek yang dicium Ryuga.

Cewek yang diajak pulang.

Cewek yang ditatap dengan cara berbeda.

Naomi menarik napas pelan, lalu melangkah mendekat dengan senyum lembut yang biasa ia pakai.

“Ga…”

Semua menoleh.

Naomi berdiri di depan Ryuga, suaranya halus seperti biasa.

“Kelihatannya kamu udah nggak sibuk.” Ia tersenyum tipis. “Aku boleh pulang sama kamu, nggak?”

Keano langsung menahan senyum. Zayden pura-pura melihat ke arah lain. Elric tetap diam memperhatikan.

Ryuga menatap Naomi sebentar.

Ekspresinya kosong.

“Nggak.”

Jawabannya datar. Tanpa ragu.

Senyum Naomi membeku sepersekian detik.

“Tapi kan sekarang kamu nggak sibuk…” ucapnya pelan.

“Sekali nggak. Tetep nggak.”

Suasana sekitar mulai terasa canggung.

Beberapa murid yang belum pulang berhenti, pura-pura main HP tapi jelas mendengar.

Naomi masih mencoba tersenyum. “Aku cuma… nggak enak pulang sendiri.”

“Lo punya sopir.”

“Mobilku masih di bengkel.”

“Naik mobil temen lo.”

Naomi terdiam. Wajahnya mulai memerah, bukan karena malu manja—tapi karena harga dirinya terasa ditampar lagi.

Zayden berdeham kecil, berusaha netral.

Keano malah pura-pura lihat langit.

Ryuga tak berkata apa-apa lagi. Ia berjalan menuju motor sport hitamnya yang terparkir tak jauh dari gerbang.

Suara mesin dinyalakan memecah suasana.

Naomi berdiri kaku di tempat.

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Ditolak lagi…”

“Kasihan banget…”

“Padahal dia cantik…”

“Tapi Ryuga kayaknya nggak tertarik.”

Wajah Naomi makin merah.

Tangannya mengepal kuat, kukunya hampir menekan kulit.

Tatapannya mengarah ke jalan tempat mobil Quinn tadi pergi.

Sementara itu, Ryuga sudah memakai helmnya.

Sebelum benar-benar melaju, Zayden mendekat sedikit.

“Ga.”

Ryuga melirik.

“Lo yakin mau deketin Quinn? Terus Naomi?”

Ryuga terdiam sesaat.

Mesin motornya masih menyala.

“Bukan urusan lo.” katanya datar. "Dan Naomi bukan siapa-siapa di hidup gue."

Lalu ia memutar gas.

Motor sport hitam itu melesat keluar gerbang, meninggalkan angin dan tatapan yang belum selesai.

Naomi berdiri mematung.

Dalam hatinya hanya satu nama yang bergaung.

Quinn.

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!