Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
"Buset, parah sih." Arif menatap Ryuken.
"udah, udah. Sekarang gue tanya, kalian berdua jawab jujur, kalian menyimpan perasaan, kan?" tanya Gea dengan tatapan lekat ke Arif, lalu mengalihkan tatapannya ke Laras.
Ryuken tersenyum mendengar pertanyaan Gea. Lalu Ryuken berbicara, "Jujur saja, Rif, kita jadi saksi?" ucapnya.
"Ehm, aku jujur," Laras menatap begitu lekat.
"Iya, jujur, kalian saling punya perasaan kan?" tanya Gea menaikkan alisnya.
"Kan aku baru kenal sama Arif," Laras menatap Gea.
"Jujur," Gea menatap sambil menaikkan alisnya.
"Iya, iya," Laras menarik napas lalu kembali berbicara, "A-aku suka sama Arif," ucapnya terbata-bata.
Arif menatap lekat. Wajahnya mulai tersenyum, lalu dia pun berbicara, "Kamu suka sama aku?" tanya Arif.
Laras menganggukkan kepalanya. Arif mengalihkan tatapannya ke arah Gea. Tatapan Gea begitu lekat, lalu tersenyum sambil berbicara, "Sudah, Rif, sudah jelas, kan? Gue tahu Lo juga suka sama Laras," ucapnya.
"Ehm," Arif mengangguk sambil tersenyum.
"Lo juga sama?" tanya Ryuken sambil menatap Arif.
"Laras," panggil Arif, menatap lekat ke arahnya. Lalu Arif kembali berbicara, "Aku juga sama," ucapnya.
"Jirr, lama banget, sih," Abdul, dengan wajah tersenyum.
Arif, Laras, Gea, dan Ryuken mengalihkan tatapan mereka ke Abdul. Arif langsung bertanya, "Lama apanya?" tanyanya.
"I-itu, itu pesanannya lama banget," Abdul, dengan raut wajah tersenyum.
"Sabar, baru beberapa menit. Sudah, lanjut lagi, Rif. Langsung saja jadian," Ryuken mengalihkan tatapannya ke Arif.
"Hmz... sabar." Arif lalu menarik napas sambil mengalihkan tatapannya ke Laras, lalu kembali berbicara, "Kamu mau jadian sama aku?" tanyanya.
Laras tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Gea dan Ryuken ikut tersenyum saat mendengar ucapan mereka, sedangkan Abdul berbicara, "Nah, gitu dong! Kan jadi tidak lama menunggu," ucapnya dengan tatapan ke pelayan yang sedang melangkah membawakan pesanan mereka.
Arif, Laras, Gea, dan Ryuken mengalihkan tatapan mereka ke Abdul. Abdul yang memperhatikan lalu berbicara, "Eh, kalian kenapa? Maksudnya itu, Lo?" Abdul sambil menunjuk.
"Jirr lah, jadi Lo ga tahu?" tanya Ryuken.
"enggak tahu apa?" Abdul, dengan tatapan begitu lekat.
"Bjir, kebanyakan menunggu makanan, jadi enggak tahu kalau Arif sudah jadian sama Laras," Gea sambil menggelengkan kepalanya.
"Arif udah jadian kapan?" tanya Abdul dengan tatapan ke mereka.
"Telat," jawab Gea dengan keras.
"Ish, emang kapan jadiannya?" tanya Abdul, menatap Gea,
"Udahlah, ga usah tahu" gea dengan kesal, lalu mengalihkan tatapnya ke pelayan yang menaru makanan di meja itu,
***
sedangkan Sasa sedang melangkah. Di depan pintu kantornya, langkahnya terhenti saat telepon genggamnya yang berada di dalam tas kecilnya berbunyi.
Kring, kring, kring.
Dia mengambil telepon genggamnya, lalu melihat panggilan masuk di telepon genggamnya.
"Kak Yuli," bisiknya pelan, lalu mengangkat panggilan telepon itu.
Sasa menggerakkan teleponnya ke telinga, lalu dia pun berbicara, "Iya, halo, Kak." ucapnya sambil menjauh dari pintu masuk.
"Sasa, kamu bisa bantu tidak?" suara Yuli dari telepon genggamnya.
"Bantuin apa?" tanya Sasa, merasa penasaran.
"Hari ini ada meeting, kamu gantiin, ya? Soalnya aku lagi di luar kota, jadi ga bisa datang,"
"Aku juga ada jadwal, sih. Jadinya gimana? Memang jam berapa?"
"Nanti siang jam empat lewat."
"Ya sudah, gimana nanti saja. Kalau tidak bisa, nanti aku minta sama Laras."
"Tapi... Laras kan belum tentu memberi masukan."
"Iya, sih, lagian Laras masih sekolah. Dia pasti pulang sore, jam empat lebih. Ya sudah, Kak nanti aku sempatkan, kirim saja lokasinya."
"Iya, makasih, Sasa, nanti aku suruh sama asisten buat ngejemput kamu," suara Yuli dari telepon genggamnya, lalu panggilan telepon pun terputus.
Sasa menghela napas. Lalu dia pun memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas. Dia langsung melangkah pergi untuk masuk ke dalam gedung.
Saat di dalam, seorang wanita menghampirinya sambil berbicara, "Mba Sasa," panggilnya sambil menghentikan langkahnya di depan Sasa.
"Kenapa, Tia?" tanyanya.
"ini Ada yang tertarik dengan pembangunan restoran, dan hari ini juga kita harus bertemu investor, Mba."
"Baik, kalau begitu saya ke ruangan dulu," ucap Sasa sambil menganggukan kepala, lalu melangkah pergi.
***
Di restoran, Abdul, Gea, Ryuken, Laras, dan Arif sedang menikmati makanan, sampai selesai menikmati makan.
Kini Arif berdiri, lalu melangkah pergi menuju kasir untuk membayar.
Ryuken yang masih duduk, tatapannya lekat ke Abdul, Gea, dan Laras. Abdul lalu berbicara, "Tumben-tumben Arif traktir," ucapnya.
"Kebanyakan makan jadi lupa. Parah sih, udah enggak usah bahas," Gea menatap Abdul.
Sedangkan Arif, dia sedang berdiri di depan kasir. Dia berbicara, "Semuanya jadi berapa, Mas?" tanyanya.
"Semuanya jadi Rp620.000. Bisa dilihat di sini," ucapnya lalu menggeser kertas struk.
"Kalau cash, uangnya kurang? Bisa bayar pakai QR atau ATM ga?" tanya Arif, tangannya mengambil telepon genggam.
"Bisa banget. Biar lebih cepat, tinggal scan saja, ya," ucapnya menggeser QRIS dan menaruhnya di atas meja.
Arif langsung menscan dan membayar lewat aplikasi m-banking. Setelah proses pembayaran selesai, Arif menunjukkan telepon genggamnya untuk memperlihatkan pembayaran yang selesai.
"Sudah selesai, ya, Mas," ucap Arif, lalu dia melangkah pergi kembali menghampiri teman-temannya yang masih duduk.
Di depan meja makan, Arif pun berbicara, "udah yo, kita ke kelas," ucapnya dengan tatapan ke mereka.
Mereka semua lalu berdiri, dan mereka pun melangkah pergi bersama-sama keluar dari restoran untuk kembali ke sekolah.
Saat mereka melangkah masuk ke gerbang sekolah, Gea berbicara, "Rif, nanti malam ada race. Lo mau ikut ga?" ucapnya.
"Di mana?" tanya Arif.
"Jalur tol selatan," ucap Gea dengan tatapan ke Arif.
"Kok di jalan tol?" Arif merasa bingung.
"Iya, Rif, nanti malam jalan tolnya ditutup, biar enggak ada kendaraan yang lewat," ucapnya menatap Arif.
"Gue enggak ikut," Arif sambil menghentikan langkahnya lalu menatap ke Gea.
"Tumben, Rif? Hee, gue tahu sekarang, karena Lo baru jadian sama Laras, pasti Lo mau jalan, yakan?" Ryuken sambil tersenyum.
"Sok tahu! udah, ah, kita ke kelas," Arif menarik tangan Laras lalu membawanya pergi ke kelas.
Abdul, Gea, Ryuken masih berdiri menatap kepergian Arif dan Laras. Ryuken lalu berbicara, "Bjirrlah, enggak ada malu," ucapnya.
"Panas, ya? Makanya cari pacar, biar enggak sendirian," ucap Gea, lalu melangkah pergi.
Sedangkan Arif yang menarik Laras menuju kelas, Laras terus berbicara, "Rif, malu," ucapnya.
Laras dan Arif terhenti langkahnya. Di dalam kelas, Arif langsung mengalihkan tatapannya ke setiap murid yang sedang duduk di kursi masing-masing. Lalu dia mengalihkan tatapannya ke Laras.
"Hehe, yaudah, ya," Arif sambil tersenyum. Dia sedikit malu karena banyak orang di dalam kelas itu. Lalu mereka berdua pun melangkah pergi menuju ke kursi masing-masing.
Arif pun duduk, tetapi tatapannya masih tertuju ke Laras yang sedang duduk. Saat Laras melihat ke arah Arif, Laras tersenyum.
Arif ikut tersenyum dan menaikkan kedua alisnya.
Tak lama, suara bel sekolah berbunyi. Murid sekolah yang belum masuk, kemudian mulai masuk satu per satu. Tak hanya murid, guru pun melangkah masuk ke dalam kelas itu.
Jam pelajaran pun dimulai.