Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARENA SEPULUH SERIGALA
Fajar menyingsing dengan suara terompet kerang yang mengguncang lembah Puncak Awan Putih, suaranya bergema di antara tebing-tebing tinggi seolah-olah alam sendiri sedang memberikan peringatan. Alun-alun utama Perguruan Kunci Langit telah disulap menjadi kompleks arena batu raksasa. Sepuluh arena melingkar mengelilingi satu arena utama di tengah, menciptakan atmosfer gladiator yang mencekam.
Ribuan murid dari berbagai faksi duduk di tribun, menciptakan kebisingan yang menyerupai badai. Di panggung kehormatan, para tetua berpakaian sutra dengan sulaman benang emas duduk dengan wajah angkuh. Di sisi kanan mereka, duduk perwakilan Klan Lu yang mengenakan jubah biru laut, dipimpin oleh Tetua Lu yang tatapannya sedingin es. Di sisi kiri, perwakilan Klan Han yang misterius mengamati dengan diam, mata mereka tajam mencari bibit unggul yang bisa mereka rekrut—atau musnahkan.
Tian Feng berdiri di lorong gelap menuju Arena Nomor Empat. Lorong itu berbau lembap dan lumut, memberikan kontras tajam dengan sinar matahari yang mulai membanjiri ujung jalan. Tubuh Feng terasa seperti sedang direndam di dalam air es; efek dari Pil Pembalik Napas mulai bekerja dengan cara yang menyiksa. Meridiannya berdenyut kencang, seolah-olah ada ribuan jarum mikro yang sedang menjahit ulang jalur aliran energinya.
"Ingat, Feng," suara Guru Lin terdengar dari balik bayangan lorong. Pria tua itu tidak menampakkan diri, namun auranya yang tenang memberikan sedikit sandaran bagi Feng. "Jangan gunakan satu tetes pun kekuatan Tao-mu secara eksplisit. Biarkan pil itu yang melakukan pekerjaannya. Jika kau mengeluarkan cahaya hijau itu di depan Tetua Agung, bukan hanya kau yang akan tamat, tapi seluruh paviliun kita akan dibakar habis."
"Saya tahu, Guru. Rasa sakit ini... sudah cukup menjadi pengingat yang sangat efektif," jawab Feng dengan suara serak. Ia melangkah keluar, menyipitkan mata saat cahaya matahari menghantam wajahnya yang pucat.
Begitu sosok berpakaian jubah abu-abu kusam itu muncul di arena, sorakan ejekan meledak dari tribun penonton.
"Itu dia! Si Sampah dari Paviliun Pengobatan!"
"Lihatlah jalannya, dia tampak seperti baru saja bangkit dari kubur!"
"Sepuluh ribu batu roh untuk siapa pun yang bisa membawa telinganya padaku!" teriak seorang murid dari tribun klan Lu, yang disambut tawa riuh.
Di tengah arena batu yang luasnya hampir tiga puluh meter itu, sepuluh murid pilihan dari faksi Lu sudah menunggu dengan formasi melingkar. Mereka semua adalah murid inti kelas bawah, berada di Ranah Pengumpulan Chi Tingkat 4 atau 5. Di tengah mereka, berdiri Lu Ba. Tubuhnya raksasa, tingginya hampir dua meter dengan otot-otot yang menonjol seperti akar pohon tua. Di pundaknya, ia memikul sebuah gada besi berduri yang beratnya mungkin ratusan kilogram.
"Tian Feng," Lu Ba menyeringai, menampakkan deretan gigi yang tidak rata. "Tuan Muda Lu Chen memberikan instruksi khusus. Kami dilarang membunuhmu dalam sepuluh menit pertama. Kami harus memastikan setiap tulang di tubuhmu merasakan hantaman sebelum kau diizinkan pingsan."
Feng tidak membalas. Ia hanya berdiri dengan posisi goyah, tangannya gemetar pelan. Di mata penonton dan para tetua, ia tampak seperti domba yang malang, tersesat di tengah kandang serigala yang kelaparan. Namun, di balik kelopak matanya yang berat, Feng sedang mengaktifkan Mata Naga Pengintai.
Pesan Sistem: Analisis Musuh Dimulai. Sepuluh target terdeteksi. Formasi: Serigala Pengepung. Titik lemah kolektif: Arus Chi yang terlalu agresif.
"Mulai!" teriak wasit, seorang tetua tingkat menengah dengan jubah kuning.
Lu Ba tidak bergerak, ia hanya memberikan isyarat dengan dagunya. Dua murid kembar di sisi kiri, Han Di dan Han Do, menerjang maju. Mereka menggunakan teknik Tendangan Badai Pusaran. Keduanya melompat secara sinkron, menciptakan pusaran angin kecil yang tajam di sekitar kaki mereka.
Feng tidak menghindar dengan lincah seperti pendekar pada umumnya. Ia justru melakukan gerakan yang terlihat seperti orang limbung yang hendak terjatuh ke depan. Ia justru masuk ke dalam jangkauan tendangan lawan, bukan menjauh.
BUGH!
Tendangan Han Di mendarat tepat di ulu hati Feng. Suara hantamannya begitu keras hingga penonton di barisan depan meringis. Han Di tersenyum penuh kemenangan, menunggu Feng memuntahkan darah dan tumbang. Namun, senyum itu membeku.
Ia merasa seolah-olah baru saja menendang sebuah lubang hitam yang hampa. Seluruh Chi di kakinya, yang seharusnya meledak menghancurkan organ dalam Feng, justru tersedot masuk ke dalam tubuh pemuda abu-abu itu. Dan dalam hitungan mikrodetik, energi itu dikompresi oleh efek Pembalik Napas dan dilepaskan kembali melalui titik sentuh yang sama.
KRAKK!
Suara tulang yang hancur terdengar mengerikan. Bukan tulang rusuk Feng, melainkan tulang kering Han Di yang patah menjadi tiga bagian akibat energinya sendiri yang dipantulkan kembali dengan kekuatan dua kali lipat. Han Di terpental mundur, matanya membelalak kaget sebelum rasa sakit yang luar biasa membuatnya pingsan seketika.
"Apa?!" Han Do, kembarannya, berteriak kaget. Ia mencoba menyerang dengan pukulan telapak tangan ke arah pelipis Feng.
Feng hanya memiringkan kepalanya sedikit—sebuah gerakan yang tampak tidak sengaja karena ia terlihat seperti sedang kehilangan keseimbangan. Tangan Han Do menghantam pundak Feng. Kejadian yang sama terulang. Han Do berteriak saat tangannya mendadak layu dan hancur, meridian di lengannya meledak karena tidak sanggup menahan arus balik energinya sendiri.
"Sialan! Dia memakai alat pusaka terlarang!" Lu Ba menggeram, wajahnya memerah karena malu melihat dua anak buahnya tumbang tanpa perlawanan berarti. "Semuanya, serang bersamaan! Jangan beri dia ruang untuk bernapas! Hancurkan dia sampai jadi bubur!"
Delapan murid sisanya mengepung Feng. Pukulan, tendangan, tebasan telapak tangan, dan hantaman siku menghujani Feng dari segala penjuru. Atmosfer di arena menjadi kacau. Debu batu beterbangan saat energi Chi beradu.
Feng tetap pada posisinya yang limbung. Ia mempraktikkan Langkah Bayangan Mabuk dengan cara yang paling menyedihkan namun efektif. Ia bergoyang ke kiri, sebuah pedang kayu lewat di atas kepalanya. Ia tersandung ke kanan, sebuah pukulan menghantam angin. Dan setiap kali serangan lawan berhasil mendarat di tubuhnya, suara DUM DUM DUM terdengar berat, diikuti oleh erangan kesakitan dari si penyerang.
Di tribun kehormatan, Tetua Lu berdiri dari kursinya hingga meja di depannya bergetar. "Lin! Apa yang kau lakukan pada bocah itu?! Lihat tubuhnya! Itu bukan teknik bela diri ortodoks! Dia menggunakan semacam sihir pembalik!"
Guru Lin tetap duduk tenang, menyesap teh panasnya dengan gerakan yang lambat dan sengaja membuat gusar. "Tetua Lu, jangan terlalu emosional. Anda sendiri yang setuju menjadikannya 'Kelinci Percobaan' eksperimen alkimia saya. Tubuh Tian Feng saat ini adalah kuali hidup yang penuh dengan residu kimia medis yang sangat tidak stabil. Serangan murid-murid Anda justru memicu reaksi berantai pada sisa-sisa energi di tubuhnya. Bukankah ini menarik? Kegagalan yang bisa menghasilkan pertahanan mutlak."
Lu Chen, yang duduk di belakang ayahnya, mencengkeram pegangan kursi kayu cendana hingga hancur menjadi serpihan. Matanya merah padam. Ia melihat sepuluh orang pilihannya kini satu per satu tergeletak di arena dengan posisi tubuh yang aneh. Ada yang tangannya membengkak seperti balon, ada yang kakinya melintir, dan ada yang terus memuntahkan busa putih.
"Kalian tidak berguna!" Lu Ba meraung. Ia melemparkan gada besinya ke tanah dengan dentuman keras yang meretakkan lantai arena. "Minggir semua! Biar aku yang menghabisi sampah ini!"
Lu Ba mengumpulkan seluruh Chi-nya. Tubuhnya mulai memancarkan cahaya merah kusam. Ini adalah teknik Tubuh Besi Berdarah, sebuah teknik terlarang yang membakar darah penggunanya demi kekuatan fisik yang luar biasa. Ia melesat maju, kecepatannya tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya yang raksasa.
Mata Naga Pengintai: Deteksi Serangan Puncak. Kekuatan: 800 Kilogram tekanan. Saran: Jangan terima secara langsung, titik netralisasi ada pada detik ke-0.5.
Feng menarik napas dalam. Ia merasakan botol pil di pinggangnya bergetar. Rasa sakit di dadanya sudah mencapai puncaknya. Darah hitam mulai mengalir dari sudut bibirnya, namun matanya tetap fokus pada kepalan tinju raksasa Lu Ba yang mengarah tepat ke wajahnya.
Lu Ba meluncurkan pukulan terkuatnya. Suara ledakan udara terdengar saat tinju itu membelah atmosfer.
Feng tidak menghindar. Ia justru maju satu langkah pendek, menurunkan pusat gravitasinya, dan membiarkan tinju Lu Ba menghantam dahinya dengan sengaja.
BOOM!
Gelombang kejut yang dihasilkan membuat debu di seluruh arena Nomor Empat beterbangan ke udara, menghalangi pandangan penonton selama beberapa detik. Keheningan yang mencekam menyelimuti alun-alun.
Saat debu perlahan menipis, sebuah pemandangan yang mustahil terlihat. Lu Ba masih berdiri dengan tinju menempel kuat di dahi Tian Feng. Namun, kaki Lu Ba gemetar hebat hingga lantai batu di bawahnya retak sedalam sepuluh sentimeter. Darah segar mulai mengucur deras dari telinga, hidung, dan mata Lu Ba.
"Terima kasih... untuk sumbangan energinya," bisik Feng dengan nada dingin yang hanya bisa didengar oleh Lu Ba. "Ini akan membantuku membayar bunga hutangku hari ini."
DUAK!
Lu Ba jatuh berlutut. Matanya kosong. Seluruh energi yang ia kumpulkan dari membakar darahnya sendiri telah ditarik masuk ke dalam pusaran Pil Pembalik Napas milik Feng dan dipukulkan kembali ke dalam meridian utamanya secara instan. Tubuh raksasa itu ambruk ke depan, tak sadarkan diri dengan meridian tangan yang hancur total.
Feng terhuyung-huyung, tubuhnya bergoyang seperti daun yang tertiup angin. Ia menyeka darah hitam dari bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap lurus ke arah panggung kehormatan, tepat ke mata Lu Chen yang kini gemetar antara amarah dan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Pemenang Babak Kualifikasi... Tian Feng dari Paviliun Pengobatan!" teriak wasit dengan nada bicara yang masih tidak percaya.
Feng berjalan tertatih keluar dari arena. Setiap langkahnya meninggalkan jejak darah hitam di lantai batu. Ia menang, tapi ia tahu harganya sangat mahal. Di dalam saku jubahnya, perkamen rahasia itu memberikan kilatan cahaya yang hanya bisa dilihat olehnya.
> "Misi Selesai: Bertahan di Arena Sepuluh Serigala."
> "Pencapaian: Menghancurkan Faksi Inti Lu."
> "Hadiah: Penurunan Hutang Karma 5%."
> "Bonus: Ekstraksi Chi Lawan berhasil (Penguatan Dantian)."
> "Status Hutang: 20%."
>
"Sakit ini..." Feng bergumam pelan sambil memegangi dadanya yang sesak. "Ternyata benar-benar investasi yang menyakitkan."
Di panggung kehormatan, Tetua Lu mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lehernya menonjol. Namun, di sisi lain, Tetua dari Klan Han tampak tersenyum tipis. "Menarik. Paviliun Pengobatan tahun ini mengirimkan monster yang sangat unik."
Sementara itu, Lu Chen berdiri perlahan. Ia menarik pedang peraknya dari sarungnya, membiarkan bunyi logam yang tajam bergema di sekitar panggung. "Besok... aku sendiri yang akan memastikan kau tidak bisa lagi berakting menjadi korban, Feng. Aku akan membedah tubuhmu untuk melihat iblis apa yang kau sembunyikan di sana."
Feng terus berjalan tanpa menoleh, masuk kembali ke dalam lorong gelap, di mana Guru Lin sudah menunggunya dengan botol obat baru yang baunya seperti bangkai binatang. Pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai.