Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Bayangan yang Tak Pergi
Langit malam masih terasa berat ketika mobil Arkan berhenti di halaman rumah. Percakapan di rooftop tadi belum benar-benar selesai, hanya tertunda oleh jarak dan diam.
Aluna turun tanpa berkata apa pun. Angin menyapu rambutnya yang tergerai, membuat pikirannya semakin kacau.
“Kau seharusnya tidak datang,” suara Arkan akhirnya memecah hening saat mereka memasuki ruang tamu.
“Aku tahu,” jawab Aluna pelan. “Tapi aku juga tidak ingin terus berada dalam gelap.”
Arkan menatapnya beberapa detik, seolah menimbang sesuatu. “Apa yang kau dengar tadi sudah cukup.”
“Belum.” Aluna menggeleng. “Yang belum cukup adalah kejujuranmu.”
Rahang Arkan menegang, tapi ia tidak membantah.
Malam itu mereka berpisah tanpa kesimpulan.
Namun sesuatu telah berubah—bukan lagi hanya soal kontrak atau sandiwara di depan publik. Kini ada ancaman nyata yang mengintai reputasi, keluarga, dan mungkin… perasaan mereka sendiri.
⸻
Keesokan paginya, berita tentang Wijaya Group kembali menjadi perbincangan hangat. Bukan karena pernikahan kontrak, melainkan karena rumor lama yang kembali beredar di forum bisnis.
Judul-judul anonim bermunculan:
“Alasan Sebenarnya Pertunangan Arkan Wijaya Dibatalkan?”
“Konflik Internal Keluarga Wijaya Terungkap?”
Aluna membaca semuanya dari ruang kerja kecil yang kini disediakan untuknya di kantor pusat.
Pintu terbuka tanpa diketuk.
Rena masuk dengan wajah cemas.
“Luna, ini bukan kebetulan.”
“Apa lagi?” tanya Aluna.
Rena menyerahkan tablet padanya. “Forum investor luar negeri mulai mempertanyakan stabilitas manajemen. Mereka menyebut ada dokumen lama yang akan dirilis.”
“Dokumen yang Cemalia bawa tadi malam,” gumam Aluna.
Rena menatapnya tajam. “Dia benar-benar serius, ya?”
Aluna hanya bisa mengangguk.
Ia tidak menyebutkan bahwa Cemalia secara terang-terangan ingin mengguncang rumah tangganya.
⸻
Di lantai atas, ruang kerja Arkan dipenuhi ketegangan.
Beberapa direktur duduk mengelilingi meja panjang, membicarakan potensi dampak jika dokumen lama itu benar-benar muncul di publik.
“Jika itu hanya masalah pertunangan yang batal, publik akan lupa dalam dua minggu,” ujar salah satu direktur.
“Tapi jika menyangkut konflik keluarga dan campur tangan internal…” tambah yang lain.
Arkan berdiri di ujung meja.
“Kita tidak akan menanggapi rumor yang belum terbukti.”
“Bagaimana jika bukti itu nyata?” tanya seorang pria tua bersuara berat.
Arkan menatapnya dingin. “Kalau nyata, kita hadapi. Tapi bukan dengan panik.”
Rapat selesai tanpa solusi jelas.
Begitu semua orang keluar, Kevin—asisten pribadinya—masih berdiri di dekat pintu.
“Pak, ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Seseorang mencoba mengakses arsip digital proyek lama yang berhubungan dengan periode pertunangan Anda.”
Arkan terdiam.
“Dari mana aksesnya?”
“Internal.”
Itu berarti orang dalam.
“Blokir sementara aksesnya. Dan kirim laporan lengkap padaku.”
Kevin mengangguk dan keluar.
Arkan berdiri lama menatap jendela kaca tinggi yang menghadap kota.
Cemalia bukan tipe orang yang bertindak sendirian.
Jika ia berani mengancam, berarti ia yakin punya sandaran kuat.
Dan itu yang lebih berbahaya.
⸻
Siang itu, Aluna dipanggil ke ruang Arkan.
Begitu pintu tertutup, Arkan langsung berkata, “Ada yang mencoba membuka arsip lama.”
“Cemalia?”
“Belum tentu. Tapi waktunya terlalu kebetulan.”
Aluna mendekat. “Apa sebenarnya isi dokumen itu?”
Arkan terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Surat rekomendasi pembatalan pertunangan. Ditandatangani ibuku.”
Aluna mengerutkan kening. “Bukankah itu keputusanmu?”
“Ya. Tapi surat itu berisi alasan formal yang… bisa disalahartikan.”
“Disalahartikan bagaimana?”
Arkan menatapnya lurus.
“Seolah-olah keluarga kami menolak Cemalia karena latar belakang keluarganya.”
Aluna terdiam.
“Itu bisa dianggap diskriminasi,” lanjut Arkan. “Dan bisa mencoreng nama perusahaan.”
“Apakah itu benar?”
“Tidak sepenuhnya.”
Jawaban itu tidak memberi kejelasan.
Aluna menghela napas. “Kenapa kamu tidak menyelesaikannya dengan bicara langsung pada Cemalia?”
“Aku sudah mencoba.”
“Dan?”
“Ia tidak ingin bicara. Ia ingin menang.”
Kalimat itu menggantung berat.
⸻
Sore menjelang ketika sebuah kiriman tiba di rumah.
Sebuah kotak kecil tanpa nama pengirim.
Bi Sari menyerahkannya dengan ragu. “Tadi ada kurir, Nyonya.”
Aluna membuka kotak itu di ruang tamu.
Di dalamnya hanya ada satu benda:
Sebuah cincin pertunangan.
Aluna membeku.
Arkan yang baru masuk dari pintu utama langsung menyadari perubahan ekspresinya.
“Apa itu?”
Ia menunjukkan cincin itu tanpa suara.
Wajah Arkan mengeras.
“Itu cincin Cemalia.”
“Kenapa dikirim ke sini?”
Arkan mengambilnya, menatap berlian kecil yang berkilau di bawah lampu.
“Karena dia ingin mengingatkanku.”
“Mengingatkan apa?”
“Bahwa aku pernah berjanji.”
Nada suaranya rendah, hampir seperti bisikan pada diri sendiri.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Pesan masuk.
Dari Cemalia.
‘Apa kau masih ingat malam saat kau berjanji tak akan mempermalukanku?’
Aluna menahan napas.
Arkan membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Pesan kedua menyusul.
‘Aku bisa membuat dunia tahu siapa yang sebenarnya mengkhianati siapa.’
Aluna menatapnya.
“Dia tidak akan berhenti.”
Arkan tersenyum tipis, tapi tanpa kehangatan. “Kalau begitu, kita pastikan dia tidak punya apa-apa lagi untuk digunakan.”
“Kita?”
“Kau istriku. Ini juga menyangkutmu.”
Untuk pertama kalinya, kalimat itu terdengar bukan sekadar formalitas.
⸻
Malam semakin larut.
Namun konflik belum juga mereda.
Sekitar pukul sebelas, Kevin menelepon.
“Pak… Anda harus melihat ini.”
Arkan menyalakan laptopnya.
Sebuah artikel baru saja terbit di situs gosip bisnis ternama.
Judulnya membuat Aluna merasa darahnya turun.
“Pernikahan Kontrak Arkan Wijaya Diduga Upaya Menutup Skandal Lama.”
Isi artikel itu menyebutkan bahwa pembatalan pertunangan dengan Cemalia berkaitan dengan konflik internal proyek keluarga.
Dan lebih parah lagi—
Disebutkan bahwa keluarga Aluna pernah bekerja dalam proyek yang sama.
Aluna membeku membaca kalimat itu.
“Ini bukan lagi soal cinta atau gengsi,” bisiknya.
Arkan memandang layar dengan mata tajam.
“Mereka mulai menyeret namamu.”
“Itu artinya mereka tahu latar belakangku.”
“Ya.”
Keheningan menekan ruangan.
Lalu Arkan berkata pelan, “Ini bukan kebetulan.”
“Apa maksudmu?”
“Pernikahan kita diumumkan terlalu cepat. Proyek lama tiba-tiba dibicarakan lagi. Arsip dibuka. Cincin dikirim.”
Aluna menelan ludah. “Kau pikir… semuanya terhubung?”
Arkan menutup laptopnya perlahan.
“Bisa jadi ada seseorang yang ingin mempertemukan semua potongan ini.”
“Untuk apa?”
“Untuk menjatuhkanku.”
Suara itu tegas.
Namun ada sesuatu yang lebih gelap di baliknya.
Aluna menatapnya dengan perasaan campur aduk.
“Kalau begitu… aku hanya pion?”
Arkan langsung menoleh tajam. “Tidak.”
“Tapi namaku ikut diseret.”
“Aku tidak akan membiarkan itu.”
Nada suaranya keras.
Terlalu keras.
Aluna mendekat perlahan.
“Arkan… ada satu hal yang belum kau jawab sejak tadi malam.”
“Apa?”
“Apakah benar pembatalan pertunangan itu murni keputusanmu?”
Arkan terdiam.
Beberapa detik terasa sangat panjang.
“Aku yang memutuskan,” katanya akhirnya.
“Tapi?”
“Tapi ibuku tahu sesuatu tentang keluarga Cemalia yang tidak pernah ia ceritakan padaku sepenuhnya.”
Jantung Aluna berdebar.
“Sesuatu seperti apa?”
Arkan menggeleng pelan. “Aku hanya tahu ia berkata, ‘Jangan ulangi kesalahan ayahmu.’”
Aluna membeku.
“Kesalahan apa?”
“Itu yang tidak pernah ia jelaskan.”
Ruangan kembali hening.
Lalu tiba-tiba lampu ruang tamu berkedip.
Beberapa detik kemudian padam.
“Listrik mati?” bisik Aluna.
Arkan langsung meraih ponselnya sebagai senter.
Dari luar terdengar suara mobil berhenti.
Langkah kaki mendekat ke arah gerbang.
Aluna menegang.
Arkan berjalan ke arah jendela dan menyingkap tirai sedikit.
Beberapa pria berdiri di depan rumah, membawa kamera.
Wartawan.
“Sial,” gumamnya.
Lampu kembali menyala beberapa detik kemudian.
Tapi suasana sudah berubah.
Ponsel Aluna bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia ragu sejenak sebelum mengangkatnya.
“Halo?”
Suara wanita di seberang terdengar lembut.
“Ternyata kau benar-benar tinggal di sana sekarang.”
Aluna membeku.
“Cemalia.”
“Aku hanya ingin kau tahu sesuatu, Aluna.”
“Apa lagi yang kau inginkan?”
Tawa kecil terdengar.
“Aku tidak pernah kalah dalam permainan yang kumulai.”
Klik.
Telepon terputus.
Aluna menatap Arkan dengan wajah pucat.
“Dia bilang ini permainan.”
Arkan menatap ke arah gerbang yang kini dipenuhi wartawan.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita pastikan dia lupa siapa yang lebih dulu belajar bermain.”
Namun tepat saat ia selesai berbicara, ponselnya kembali berbunyi.
Kali ini pesan masuk berupa foto.
Arkan membukanya.
Wajahnya langsung berubah.
Aluna mendekat.
Foto itu menampilkan Arkan dan Cemalia lima tahun lalu.
Bukan foto biasa.
Mereka terlihat sedang berdebat keras di lokasi proyek konstruksi.
Dan di sudut gambar—
Terlihat seorang pria lain berdiri tak jauh dari mereka.
Aluna menyipitkan mata.
“Siapa itu?”
Arkan membeku.
Pria dalam foto itu adalah ayah Aluna.
Dan yang lebih mengejutkan—
Tangan ayah Aluna sedang memegang map yang sama persis seperti yang dibawa Cemalia semalam.
Pesan di bawah foto itu hanya satu kalimat:
‘Semua dimulai dari sini.’
Dunia Aluna terasa goyah.
“Ayahku… ada di sana?”
Arkan menatap foto itu dengan sorot mata yang kini tidak lagi sekadar marah.
Melainkan sadar bahwa masa lalu yang ia kira telah selesai—
Baru saja membuka pintunya kembali.
Dan mungkin, sejak awal, pernikahan ini bukan hanya tentang hutang.
Melainkan tentang rahasia yang dikubur lima tahun lalu.
Dan seseorang baru saja menggali semuanya.
END BAB 6 🔥