NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Sinar matahari pagi masuk menembus celah-celah ventilasi posko, membawa aroma rumput basah dan kayu yang terbakar dari dapur warga. Mika berdiri di depan cermin kecil yang sudah agak buram, mengeringkan rambutnya yang masih lembap dengan handuk kecil. Ia berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa saja, meski bayangan tangan Alvaro yang mengusap pipinya tadi malam terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Aduh, kenapa pipi gue masih kerasa anget sih," gumamnya pelan sambil menepuk-nepuk wajahnya sendiri.

Namun, ketenangannya tidak bertahan lama. Dari pantulan cermin, ia melihat Siti dan Asia sudah duduk berjejer di atas kasur lantai, menatap punggungnya dengan seringai lebar yang sangat mencurigakan. Mereka tidak bicara, hanya saling sikut sambil menahan tawa.

Mika menghentikan kegiatannya, lalu berbalik dengan wajah ditekuk. "Kalian kenapa sih? Pagi-pagi udah kayak orang kerasukan jin sawah gitu."

Siti berdehem, suaranya dibuat-buat menjadi sangat serius. "Tadi malem... sekitar jam setengah dua belas, gue kebelet pup. Pas gue mau bangunin lo buat nemenin, eh, gue liat lo nggak ada di kasur. Kosong melompong. Lo ke mana, Mik?"

Mika terkesiap sejenak, tapi dengan cepat ia menguasai diri. "Ohh itu... Gue cuma cari makan. Perut gue keroncongan, nggak bisa tidur."

"Tapi kok lama banget?" sambung Asia, kali ini sambil menaik-turunkan alisnya. "Gue sempet kebangun juga jam satu kurang, pintu baru kebuka pelan-pelan. Lo makan sate di Madura dulu atau gimana?"

"Iya, soalnya gue cari makannya di deket dermaga. Jauh, kan? Kenapa sih kalian interogasi gue kayak tersangka begini?" Mika segera membereskan sisirnya dengan gerakan cepat, mencoba mengalihkan perhatian.

"Sama siapa hayoo??" Siti mulai mendekat, menyudutkan Mika ke arah tembok. "Mik, ngaku deh lo... lo udah mulai deket ya sama Pak Alvaro? Bau-bau jaket denimnya tadi malem kecium lho pas lo lewat depan kasur gue."

Wajah Mika seketika berubah merah padam. "Nggak tau, ah! Nggak jelas banget kalian. Udah, ayo siap-siap. Kita nanti telat. Kita hari ini harus bantu warga buat ndesel, kan?"

Mika segera menyambar tas rimba dan sepatu boots-nya, lalu kabur keluar posko sebelum teman-temannya sempat bertanya lebih jauh. Di luar, ia menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang kembali kencang setiap kali nama Alvaro disebut.

Hari ini agenda tim KKN Perairan adalah membantu warga melakukan proses ndesel—istilah lokal untuk menyedot air dari sungai menggunakan mesin pompa (disel) untuk mengairi sawah-sawah yang mulai mengeras tanahnya. Karena proyek irigasi besar mereka baru tahap persiapan, bantuan jangka pendek ini sangat dibutuhkan petani.

Mika, Siti, dan Asia sudah berada di tengah hamparan sawah hijau yang luas. Aroma solar dari mesin disel mulai menyeruput udara pagi.

"Aduh, Mik! Kakinya amblas!" teriak Asia saat ia mencoba melangkahi pematang sawah yang licin.

Mika tertawa kecil melihat temannya itu, meskipun ia sendiri harus berjuang keras menjaga keseimbangan. "Makanya, Siti, jangan cuma jago gosip di posko, jago di lumpur juga dong!"

Namun, tawa Mika terhenti saat ia melihat sosok pria tinggi tegap berjalan di pematang sawah dengan santai, seolah-olah lumpur itu adalah karpet merah. Alvaro datang dengan kaos singlet hitam dan celana pendek selutut, memperlihatkan betisnya yang kokoh. Ia memikul sebuah pipa besar di bahunya seolah beban itu tidak ada artinya.

"Selamat pagi, Mahasiswi Perairan," sapa Alvaro dengan nada datar, namun mata tajamnya sempat melirik ke arah Mika sejenak—sebuah tatapan yang membuat Mika teringat kembali pada kejadian nasi goreng tadi malam.

"Pagi, Pak," jawab Siti dan Asia serempak dengan nada yang sangat ramah (terlalu ramah menurut Mika).

Mika hanya mengangguk singkat. "Pagi."

Proses pemasangan pipa disel ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pipa-pipa besar itu harus disambungkan dan ditanam sebagian ke dalam lumpur agar tidak bergeser saat tekanan air menguat.

"Mik, tahan ujung yang itu!" teriak Arga dari kejauhan.

Mika mencoba menahan pipa plastik besar itu dengan kakinya, namun tenaga air yang mulai dipompa terlalu kuat. Kakinya terpeleset di dalam lumpur yang dalam.

"Aaaaa!"

Mika jatuh terduduk di dalam lumpur sawah yang hitam dan lengket. Pipa itu lepas dan mulai menyemprotkan air ke segala arah, termasuk ke arah wajah Mika yang baru saja bersih dari masker hitam tadi malam.

"Mika!" Siti panik tapi ia sendiri takut masuk ke lumpur yang lebih dalam.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar menarik pipa itu dengan satu sentuhan kuat, mengarahkannya kembali ke jalur yang benar. Suara mesin disel yang tadinya menderu kencang tiba-tiba dimatikan. Alvaro berdiri tepat di depan Mika yang kini basah kuyup dan penuh lumpur dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Alvaro menatap Mika yang malang. Bukannya tertawa seperti biasanya, ia justru mengulurkan tangannya dengan wajah yang sangat serius.

"Sudah saya bilang, jangan ceroboh," suara Alvaro rendah, namun kali ini terdengar lebih seperti perhatian daripada ejekan.

Mika menyeka lumpur di matanya, menatap tangan Alvaro yang terulur. Ia merasa sangat malu, apalagi di depan teman-temannya yang tadi pagi menggodanya. "Saya bisa sendiri, Pak."

"Jangan keras kepala. Lumpur ini dalam, kaki kamu bisa terjepit akar kalau salah tumpuan," tegas Alvaro. Tanpa menunggu persetujuan Mika, ia menarik tangan gadis itu dan mengangkatnya berdiri dengan satu tarikan kuat.

Mika berdiri tepat di depan Alvaro. Kali ini, mereka berdua sama-sama kotor karena lumpur. Alvaro tidak melepaskan tangan Mika segera. Ia menggunakan jempolnya untuk mengusap sedikit lumpur yang menempel di dagu Mika.

"Pulanglah ke posko. Ganti baju," ucap Alvaro pelan. "Urusan di sini biar saya dan teman-teman laki-lakimu yang selesaikan."

"Tapi, Pak—"

"Ini perintah Kepala Desa," sela Alvaro dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.

Mika hanya bisa menunduk, jantungnya kembali berkhianat. Ia bisa merasakan tatapan Siti dan Asia dari kejauhan yang pastinya sudah menyiapkan sejuta pertanyaan baru untuk nanti malam.

Mika berjalan pulang dengan gontai. Namun, saat ia sampai di ujung sawah yang agak sepi, ia mendengar suara langkah kaki cepat di belakangnya.

"Mikayla."

Mika berbalik. Alvaro berdiri di sana, sedikit terengah.

"Ini," Alvaro melemparkan sesuatu. Mika menangkapnya dengan refleks. Itu adalah botol air mineral yang masih dingin dan selembar handuk kecil bersih dari tas motornya. "Bersihkan mukamu sebelum sampai di posko. Teman-temanmu itu tukang gosip, saya tidak mau mereka melihatmu berantakan begini."

Mika tertegun. "Bapak... tau mereka tukang gosip?"

Alvaro mendengus pelan, lalu mendekat selangkah. "Saya tahu segalanya tentang desa ini, termasuk siapa saja yang sedang membicarakan saya di belakang."

Alvaro menatap Mika dengan pandangan yang sangat dalam, membuat Mika merasa seolah-olah waktu berhenti berputar. "Tadi malam... nasi gorengnya enak?"

Mika mengangguk pelan. "Enak, Pak. Makasih."

"Bagus. Karena saya tidak mau kamu kekurangan energi untuk bertengkar dengan saya besok," ucap Alvaro dengan seringai tipis yang kali ini terasa sangat... manis.

Pria itu kemudian berbalik dan kembali menuju kerumunan warga di sawah, meninggalkan Mika yang berdiri mematung di pinggir jalan desa dengan botol air di tangan.

"Dajjal... tapi kok perhatian," gumam Mika sambil tersenyum tanpa sadar.

Mika berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Ia tahu, mulai hari ini, KKN-nya bukan lagi soal pengabdian masyarakat atau nilai A, tapi soal bagaimana ia menemukan sisi hangat dari seorang pria yang dulunya ia anggap sebagai musuh terbesar. Namun, ia tidak tahu bahwa tantangan sesungguhnya baru saja dimulai, karena seseorang dari masa lalu Alvaro mulai muncul di desa itu.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!