NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

BAB 17

HARGA YANG TAK TERBELI

​Pengetahuan Adrian Aratama tentang dunia sangatlah praktis: segala sesuatu memiliki label harga. Jika sebuah masalah muncul, ia akan melempar uang ke arahnya sampai masalah itu menghilang atau berubah menjadi keuntungan. Baginya, kasih sayang adalah transaksi, dan rasa bersalah bisa dihapus dengan angka nol yang cukup banyak di belakang sebuah cek.

​Melihat Aisha menangis kemarin telah meninggalkan lubang menganga di dada Adrian. Dan secara insting, Adrian mencoba menambal lubang itu dengan cara yang paling ia kuasai: materialisme.

​Siang itu, sebuah kotak beludru hitam berlogo Cartier tergeletak di tengah meja kerja Aisha. Di dalamnya, sebuah jam tangan emas putih bertahtakan berlian kecil melingkar anggun, memantulkan cahaya lampu kantor dengan kemilau yang menyilaukan. Harganya cukup untuk membangun dua ruang kelas di sekolah dasar, namun bagi Adrian, itu hanyalah sebuah gestur "maaf" dan "penghiburan".

​Aisha baru saja kembali dari meninjau maket di ruang sebelah saat ia mendapati benda itu. Ia tertegun sejenak, menatap benda asing itu, lalu perlahan menutup kotaknya tanpa menyentuh isinya.

​Ia berjalan menuju kantor Adrian. Tanpa mengetuk, ia masuk.

​Adrian sedang duduk di balik meja besarnya, berpura-pura sibuk dengan laporan keuangan. Ia melirik Aisha, lalu ke arah kotak hitam di tangan wanita itu. Sebuah senyum kemenangan yang tipis muncul di sudut bibirnya.

​"Aku harap itu bisa membuat suasana hatimu lebih baik hari ini," ucap Adrian tenang. "Itu seri terbatas. Tidak banyak wanita di Jakarta yang memilikinya."

​Aisha meletakkan kotak itu di depan Adrian dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah benda itu adalah bahan peledak yang bisa meledak kapan saja. "Terima kasih atas niat baik Anda, Pak Adrian. Tapi saya tidak bisa menerimanya."

​Senyum Adrian memudar. Ia meletakkan penanya. "Kenapa? Apa kau tidak suka modelnya? Aku bisa meminta Sarah menukarnya dengan—"

​"Bukan soal modelnya, Pak," potong Aisha sopan namun tegas. "Ini soal apa yang benda ini representasikan. Anda mencoba memberikan solusi material untuk masalah emosional dan spiritual yang saya hadapi. Anda pikir, dengan memakai jam tangan mahal ini, beban dari tekanan ayah saya akan berkurang?"

​Adrian bersandar pada kursinya, rahangnya mengeras. "Aku hanya ingin kau merasa dihargai. Aku ingin kau tahu bahwa kau bekerja untuk pria yang mampu memberikan apa pun yang kau inginkan. Anggap saja itu bonus atas dedikasimu pada sabotase kemarin."

​Aisha menatap mata Adrian, matanya kini tidak lagi sembab, melainkan bersinar dengan martabat yang teguh. "Penghargaan bagi saya bukan berasal dari apa yang melingkar di pergelangan tangan saya, Pak. Penghargaan adalah saat Anda menghormati prinsip saya. Memberi saya barang semewah ini—yang nilainya jauh di luar batas profesionalisme—justru membuat saya merasa rendah."

​"Rendah?" Adrian berdiri, merasa egonya baru saja ditampar. "Aku memberimu kemewahan, Aisha! Kebanyakan wanita akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kotak itu!"

​"Maka Anda selama ini hanya bertemu dengan wanita yang bisa dibeli," balas Aisha tanpa ragu. "Saya bukan salah satu dari mereka. Di dunia saya, harga diri saya tidak diukur dari merk apa yang saya pakai. Jika saya menerima ini, maka saya membenarkan prasangka Bianca dan ibu Anda—bahwa saya adalah wanita yang mengambil keuntungan dari kedekatan saya dengan Anda."

​Adrian terdiam. Ia merasa seolah-olah seluruh logika transaksionalnya baru saja runtuh berkeping-keping di depan wanita bercadar ini. Ia menatap kotak beludru itu, lalu kembali ke Aisha.

​"Kau menolakku," gumam Adrian, suaranya mengandung nada tidak percaya yang bercampur dengan rasa sakit yang aneh.

​"Saya menolak pemberiannya, Pak, bukan niat baiknya," Aisha mengoreksi. "Jika Anda ingin menghibur saya, berikan saya waktu untuk menyelesaikan perhitungan struktur ini tanpa gangguan. Berikan saya kepercayaan bahwa saya bisa menghadapi masalah keluarga saya sendiri. Jangan mencoba membeli ketenangan saya dengan emas."

​Aisha berbalik untuk pergi, namun ia berhenti di ambang pintu. "Satu hal lagi, Pak Adrian. Dalam keyakinan saya, perhiasan terbaik bagi seorang wanita adalah rasa malunya dan kehormatannya. Dan kedua hal itu tidak dijual di toko mana pun di dunia ini."

​Setelah pintu tertutup, Adrian perlahan mengambil kotak Cartier itu. Ia membukanya, menatap berlian-berlian yang kini tampak mati dan tak bermakna. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian Aratama merasa miskin. Ia memiliki miliaran rupiah di bank, tapi ia tidak memiliki "mata uang" yang bisa menyentuh hati Aisha.

​Ia menyadari sebuah pelajaran pahit tentang harga diri. Selama ini ia berpikir ia adalah sang pemberi, sang pelindung yang berkuasa. Namun kenyataannya, Aisha jauh lebih kaya darinya. Aisha memiliki prinsip yang tidak bisa digoyahkan oleh emas, sementara Adrian selama ini hanya memiliki benda-benda yang bisa dibeli.

​Rasa remuk di hatinya kemarin kini berganti menjadi rasa hormat yang sangat mendalam, hampir seperti rasa takut. Ia mulai memahami bahwa untuk mendapatkan Aisha, ia tidak bisa menggunakan jalan pintas material. Ia harus "membayar" dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: perubahan karakter, pemahaman, dan pengorbanan ego.

​Adrian menekan tombol intercom. "Sarah, ambil kotak ini di mejaku. Kembalikan ke toko, atau berikan pada yayasan yatim piatu untuk dilelang. Aku tidak ingin melihatnya lagi."

​"Tapi, Pak, itu—"

​"Lakukan saja, Sarah."

​Adrian berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah konstruksi Green Oasis. Di bawah sana, para pekerja sedang bekerja keras membangun fondasi. Ia menyadari bahwa ia sedang melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri. Ia sedang membongkar fondasi lamanya yang materialistis dan dangkal, mencoba membangun sesuatu yang lebih kokoh, sesuatu yang mungkin suatu saat nanti cukup layak untuk bersanding dengan prinsip Aisha.

​"Kau benar, Aisha," bisik Adrian pada kaca jendela yang dingin. "Beberapa hal memang tidak memiliki label harga. Dan aku harus belajar bagaimana cara mendapatkan hal-hal itu."

​Sore itu, Adrian tidak mengirimkan perhiasan lagi. Sebagai gantinya, ia mengirimkan sebuah catatan kecil lewat Sarah ke meja Aisha. Isinya hanya satu kalimat pendek:

​Aku mengerti sekarang. Maafkan ketidaktahuanku. Fokuslah pada pekerjaanmu, aku akan menjaga jarak yang kau minta.

​Aisha membaca catatan itu dan merasakan beban di bahunya sedikit terangkat. Di balik cadarnya, ia tersenyum—sebuah senyum syukur karena pria itu akhirnya mulai belajar bahasa yang ia gunakan. Bahasa tentang harga diri, martabat, dan kehormatan yang melampaui segala kemilau dunia.

​Pertempuran mereka masih jauh dari kata usai, namun hari ini, satu benteng besar dalam diri Adrian telah runtuh, digantikan oleh benih pemahaman yang lebih tulus.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!