Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
“Pagi, Ma,” sapa Tama.
“Pagi,” jawab Bu Diana singkat.
Namun nada suaranya sudah jauh lebih hangat dibanding beberapa minggu lalu.
Dita berdiri di samping alat bantu jalan. "Kita mulai dengan melatih sensor otot, ya Bu Diana."
"Iya, kamu yang paling tau, Dit."
Dita tersenyum.
"Aku deg-degan, Dit. Rasanya enggak sabar pengen bisa jalan lagi."
"Bisa, Bu. Optimis."
"Hihi, aku memang optimis, Dit. Ini semua berkat kamu." Bu Diana mengangguk. "Coba lihat Dita, aku udah bisa gerakin ujung jari kakiku."
"Itu karena usaha keras Bu Diana."
Bu Diana menatap perawatnya dengan penuh harapan dan rasa syukur. "Berkat kamu juga."
Ia berdiri perlahan.
Tangannya mencengkeram pegangan besi.
Kaki kanannya maju satu langkah.
Lalu kaki kiri.
"Ah, ternyata belum bisa..." gumamnya sedikit kecewa.
Tama berdiri tidak jauh dari sana.
Tatapannya serius.
Setiap gerakan ibunya seperti membuat dadanya ikut menegang.
“Bu Diana, jangan dipaksakan dulu,” kata Dita lembut, seraya menuntun Bu Diana agar kembali duduk di kursi rodanya.
Bu Diana menarik napas. "Ya ampun, Dit, aku udah enggak sabar pengen bisa jalan lagi."
Dita tersenyum.“Sabar, Bu. Pasti bisa jalan lagi.”
Tama akhirnya ikut tersenyum kecil.
Kemajuan kecil itu terasa seperti hadiah besar.
****
“Selamat pagi, Dokter Eros.”
Pria itu tersenyum ramah.
“Pagi, Dita. Bagaimana kondisi pasien kita?”
“Banyak perkembangan.”
“Bagus.”
Mereka masuk ke dalam rumah.
Tama yang sedang membaca berkas di ruang tamu langsung berdiri.
“Dokter Eros.”
Pria itu menyalami Tama.
“Bagaimana kabar Anda?”
“Baik.”
“Dan Bu Diana?”
“Jauh lebih baik, menurut Dita.”
Dokter Eros tertawa kecil.
“Kalau begitu saya ingin melihat langsung.”
Di ruang terapi.
Bu Diana sedang duduk di kursi.
Saat melihat dokter itu masuk, ia mengangguk.
“Dokter.”
“Selamat pagi, Bu Diana.”
Pemeriksaan dimulai.
Dokter Eros memeriksa refleks kaki.
Kekuatan otot.
Gerakan sendi.
Sementara Dita berdiri di samping mencatat beberapa hal.
Tama hanya berdiri di dekat jendela.
Memperhatikan.
Setelah beberapa menit, dokter itu tersenyum puas.
“Perkembangannya sangat baik.”
Dita terlihat lega.“Benarkah, Dok?”
“Sangat. Bahkan lebih cepat dari perkiraan saya.”
Bu Diana mengangkat alis.“Jadi saya bisa berjalan lagi?”
"Bisa Bu Diana. Optimis."
"itu yang Dita katakan sama saya, Dok." Bu Diana menoleh sekilas pada perawatnya, dengan senyum kecil.
“Kita lakukan terapi terus konsisten, kemungkinan besar dalam beberapa bulan ke depan sudah bisa berjalan.”
Tama yang mendengar itu langsung menoleh. Matanya sedikit melebar. "Dalam berapa bulan, Dok?"
Dokter Eros lalu berdiri. “Namun terapi harus ditingkatkan sedikit.”
Ia menoleh ke arah Dita.
“Dita, bisa kita diskusikan sebentar?”
“Tentu.”
Mereka keluar menuju koridor.
Di dalam ruang terapi kini hanya ada Tama dan Bu Diana.
Tama berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke koridor.
Dari sana ia bisa melihat Dita dan dokter Eros berbicara serius.
Dita mengangguk beberapa kali.
Kadang mencatat sesuatu di tablet kecilnya.
Bu Diana memperhatikan anaknya diam-diam.
Lalu tersenyum tipis.
“Kenapa kamu melotot begitu?”
Tama menoleh.
“Apa?”
“Ada apa di sana? Kenapa tidak bantu mama saja.”
"Iya, Ma. Kita ke koridor saja."
"Lah, ngapain ke koridor? Mama mau ke taman."
"Di taman panas, Ma."
Bu Diana mendengus kecil.
"Oh, ada alasan lain mau ke koridor ya? Mau nguping pembicaraan mereka?"
Tama langsung berdiri tegak.
“Apa sih Mama ini?”
"Aku juga wajib tau kalau ini tentang kesehatan Mama," kilah Tama.
"Kalau bukan?"
"Enggak penting."
Tama langsung berjalan ke arah pintu.
“Aku ambil minum dulu.”
Ia keluar sebelum ibunya sempat berkata lagi.
Begitu pintu tertutup, Bu Diana malah tertawa kecil.
****
Di koridor.
Dita dan dokter Eros masih berdiskusi.
“Terapi stimulasi otot perlu ditingkatkan,” kata dokter Eros.
“Saya juga berpikir begitu, Dok.”
“Namun jangan terlalu dipaksa. Usia pasien harus tetap diperhitungkan.”
Dita mengangguk.
“Baik.”
Tama lewat di belakang mereka menuju dapur.
Namun ia tetap bisa mendengar sedikit percakapan itu.
Beberapa menit kemudian diskusi selesai.
Dokter Eros menutup mapnya.
“Kalau begitu saya pamit.”
“Terima kasih banyak, Dok,” kata Dita.
Dita kembali masuk ke ruang terapi.
Bu Diana masih duduk di kursinya.
“Sudah selesai?”
“Sudah, Bu.”
“Apa kata dokter?”
“Kondisi Ibu sangat baik. Terapi akan sedikit ditingkatkan.”
Bu Diana terlihat puas.
Saat itu Tama kembali masuk sambil membawa segelas air.
Ia meneguknya.
Baru saja hendak duduk, Bu Diana tiba-tiba berkata santai.
“Eh Dita.”
“Iya, Bu?”
“Dokter Eros itu masih muda, ganteng dan ramah ya?”
Tama langsung berhenti minum.
"Iya, Bu. Semua nakes memang diharuskan ramah."
"Apa dia punya pacar?"
Dita terlihat bingung.
“Sepertinya… belum, Bu.”
Bu Diana mengangguk puas.
“Bagus juga.”
Tama mulai curiga.
“Bagus apanya?”
Bu Diana tersenyum lebar.
“Cocok kalau dijodohkan dengan Dita.”
“KHUK—!”
Tama tersedak air minumnya.
Batuk keras.