Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: SABOTASE DAN VARIABEL TAK TERDUGA
Udara di koridor terasa menipis, seolah disedot paksa oleh kepanikan yang tiba-tiba mencekik leher Keyla. Jari-jarinya yang gemetar menyentuh permukaan dingin sampul kulit buku itu—benda asing yang seharusnya tidak berada di antara tumpukan buku catatannya yang rapi. Itu adalah *Bible*-nya anak basket. Kitab suci strategi yang berisi pola serangan, kode pertahanan, dan rahasia kelemahan setiap pemain SMA Cakrawala.
Jika buku ini ditemukan di tasnya, narasi yang dibangun Vanya akan menjadi sempurna: Keyla Aluna bukan hanya perebut pacar orang, tapi juga mata-mata musuh yang mencuri aset sekolah demi menghancurkan karier Bintang.
"Key? Muka kamu pucat banget, kayak mayat hidup!" bisik Dinda tajam, menyadari perubahan drastis pada sahabatnya. Ia melirik Bintang yang semakin dekat, langkah kakinya membelah kerumunan siswa yang berbisik-bisik.
"Din..." Suara Keyla tercekat, nyaris tak terdengar di tengah hiruk-pikuk koridor. "Buku strategi... ada di tasku."
Mata Dinda membelalak. Ia tidak bertanya 'kok bisa?' atau 'siapa yang naruh?'. Otak pragmatis gadis itu langsung bekerja lebih cepat daripada kalkulator. Dengan gerakan kilat, Dinda menyambar ritsleting tas Keyla dan menutupnya rapat-rapat, lalu memutar tubuh Keyla menghadap dirinya, memunggungi Bintang yang tinggal berjarak tiga meter.
"Jangan dilihatin!" desis Dinda dengan logat Suroboyoan yang kental, matanya menyapu sekeliling dengan waspada. "Ada yang njebak kon. Kalau Bintang lihat sekarang di depan banyak orang, bakal runyam. *Act normal, for God's sake!*"
"Ada apa ini?" Suara bariton itu terdengar di belakang punggung Keyla. Ada nada mendesak dan khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
Keyla memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil keberanian 'Cassiopeia' dalam dirinya. Ia berbalik perlahan. Bintang berdiri di sana, alisnya menukik tajam saat melihat kertas-kertas hinaan yang baru saja dirobek Dinda dari pintu loker.
"Siapa yang nempel ini?" tanya Bintang, suaranya rendah tapi memancarkan aura bahaya yang membuat beberapa siswa di sekitar mereka mundur teratur. Ia menatap secarik kertas di tangan Dinda yang bertuliskan 'PENGKHIANAT'.
"Penggemar fanatikmu yang kurang asupan otak," sembur Dinda, meremas kertas itu menjadi bola kecil. "Udah lah, Bin. Bawa Keyla pergi. Di sini hawanya panas, banyak setan."
Bintang mengalihkan pandangannya pada Keyla. Tatapannya melembut seketika, kontras dengan rahangnya yang mengeras menahan amarah. Tanpa peduli pada puluhan pasang mata yang menonton—termasuk beberapa anggota *cheerleader* yang berbisik-bisik di sudut—ia meraih tangan Keyla. Jemarinya yang hangat dan besar membungkus tangan Keyla yang sedingin es.
"Kita pergi," kata Bintang tegas. Ia tidak meminta persetujuan siapa pun. Ia menarik Keyla lembut namun posesif, membelah lautan siswa menuju area parkir, meninggalkan Dinda yang kini berdiri berkacak pinggang menantang siapa saja yang berani menatapnya sinis.
***
Di dalam kabin mobil Bintang yang hening, suara AC terdengar seperti deru badai bagi telinga Keyla. Aroma *pine wood* dan *citrus* yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan. Mobil itu diparkir di sudut area belakang sekolah yang sepi, tempat Bintang biasanya bersembunyi jika ingin bolos jam kosong.
Bintang melepas sabuk pengamannya dan memutar tubuh menghadap Keyla. "Kamu nggak apa-apa? Jangan dengerin mereka. Aku bakal cari tahu siapa yang nempel tulisan itu di loker kamu. Aku janji."
Keyla menatap mata elang itu. Mata yang selalu ia tulis dalam puisi-puisinya sebagai pusat galaksi. Bintang begitu tulus ingin melindunginya dari serangan verbal, tanpa tahu ada bom waktu fisik yang tersimpan di pangkuan Keyla.
*Jujur atau sembunyi?* Batin Keyla berperang. Vanya—atau siapapun yang mengirim pesan itu—ingin Keyla panik. Mereka ingin Keyla menyembunyikan buku itu, lalu tertangkap basah saat pemeriksaan tas, membuat Bintang merasa dikhianati.
Jika ia menyembunyikannya, ia sama saja membenarkan tuduhan bahwa ia tidak bisa dipercaya.
"Bintang," suara Keyla bergetar. Ia menunduk, tangannya mencengkeram erat tali tas punggungnya. "Ada... ada sesuatu yang harus kamu lihat. Tapi berjanjilah kamu nggak akan marah sama aku."
Bintang mengerutkan kening, menyentuh dagu Keyla agar gadis itu mendongak. "Hei, aku nggak akan marah. Kenapa? Ada ancaman lain?"
Dengan tangan gemetar, Keyla membuka ritsleting tasnya. Ia merogoh ke dalam, melewati buku Biologi, dan menarik keluar buku bersampul kulit hitam itu. Ia meletakkannya di *dashboard* mobil.
Keheningan yang menyusul terasa lebih berat daripada gravitasi Jupiter.
Bintang menatap buku itu. Matanya membelalak. Ia mengenal buku itu lebih baik daripada siapapun. Itu buku catatan strategi pelatih yang hilang pagi ini—alasan kenapa seluruh tim basket dimarahi habis-habisan sebelum latihan.
"Keyla..." Bintang mengambil buku itu, membolak-baliknya cepat untuk memastikan isinya. "Kenapa ini ada di tas kamu?"
"Aku nggak ngambil, Bin! Sumpah!" Keyla merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tadi pas aku mau buka loker, ada pesan masuk dari nomor nggak dikenal. Mereka bilang buku itu udah ada di tasku. Mereka mau ngejebak aku biar ketahuan pas kamu dateng."
Keyla buru-buru mengeluarkan ponselnya, membuka pesan ancaman itu dan menyodorkannya pada Bintang. Ia tidak boleh membiarkan kesalahpahaman tumbuh barang sedetik pun. Ia sudah lelah menjadi bayangan; ia harus berani menghadapi cahaya, betapapun menyilaukannya.
Bintang membaca pesan itu. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat. Ia membanting ponselnya sendiri ke kursi belakang dengan frustrasi.
"Vanya," geram Bintang. Nama itu keluar seperti racun. "Atau salah satu kacungnya. Mereka tahu buku ini hilang. Pelatih Pak Haryo ngamuk tadi pagi karena buku ini nggak ada di ruang ganti. Kalau sampai pelatih tahu buku ini ada di kamu..."
"Aku bakal dikeluarin dari sekolah. Atau seenggaknya diskors dan dicap pencuri," sambung Keyla lirih. "Dan kamu... tim kamu bakal nganggep kamu pacaran sama mata-mata musuh."
Bintang menoleh, menatap Keyla tajam. Namun, tidak ada tuduhan di sana. Hanya ada penyesalan mendalam. "Maaf. Maafin aku, Key. Gara-gara deket sama aku, kamu jadi sasaran main kotor mereka. Ini bukan cuma soal kita lagi, ini soal final basket."
Bintang mengusap wajahnya kasar. "Mereka mau ngerusak mental tim lewat kamu. Kalau aku sibuk belain kamu yang dituduh nyuri, konsentrasiku pecah. Dan Rio..." Bintang terdiam sejenak, teringat foto Vanya dan Rio. "Rio pasti dapet keuntungan kalau strategi kita bocor."
"Terus kita harus gimana?" tanya Keyla. "Kalau aku balikin ke ruang guru, CCTV bakal nangkep aku. Kalau aku buang, aku ngilangin aset sekolah."
Bintang menatap buku di tangannya, lalu menatap Keyla. Sebuah ide gila melintas di matanya.
"Kita nggak akan balikin buku ini sekarang," kata Bintang tegas. "Pak Haryo tahunya buku ini hilang dicuri orang luar atau terselip. Biarin aja dulu."
"Tapi Bin—"
"Dengerin aku," potong Bintang, meraih tangan Keyla dan menggenggamnya erat. "Kalau kita lapor sekarang, kamu tetap jadi saksi. Vanya pasti udah nyiapin saksi palsu yang bilang liat kamu masuk ruang ganti anak cowok. Kita nggak bisa main sesuai aturan mereka."
Bintang mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke manik mata Keyla. "Kamu percaya sama aku, kan?"
Keyla mengangguk pelan. "Selalu."
"Bagus. Karena mulai sekarang, kita bakal mainin permainan mereka, tapi dengan cara kita. Cassiopeia nggak pernah kalah dalam merangkai kata, kan? Sekarang saatnya kamu bantu aku merangkai strategi."
Keyla mengerjap bingung. "Maksudnya? Aku nggak ngerti basket, Bintang. Aku cuma tahu kalau bola masuk keranjang dapet poin."
Bintang tersenyum miring, senyum yang jarang ia perlihatkan—senyum penuh tantangan. "Buku ini udah nggak aman. Isinya mungkin udah difoto sama Vanya dan dikirim ke Rio sebelum ditaruh di tas kamu. Strategi lama kita udah basi. Kita butuh strategi baru. Dan aku butuh otak jenius kamu buat bikin kode yang nggak bakal bisa dipecahin sama anak SMA manapun."
"Kode?"
"Iya. Kita bakal bikin *playbook* baru. Pakai bahasa yang cuma dimengerti sama kita. Bahasa bintang."
Jantung Keyla berdesir. Di tengah krisis ini, Bintang justru mengajaknya masuk lebih dalam ke dunianya, menggabungkan dua hal yang paling mereka cintai: basket dan astronomi.
***
Sepulang sekolah, Keyla tidak langsung pulang. Bintang membawanya ke sebuah kafe kecil di pinggiran Surabaya yang jarang dikunjungi anak-anak SMA Cakrawala. Mereka duduk di pojok, dengan laptop Keyla dan buku sketsa strategi milik Bintang yang baru dibeli di minimarket.
Keyla merasa seperti berada dalam film mata-mata, tapi dengan nuansa romansa yang kental. Selama tiga jam, Bintang menjelaskan pola pergerakan pemain—*pick and roll*, *isolation*, *zone defense*. Dan tugas Keyla adalah menerjemahkannya menjadi kode-kode visual yang tidak mencurigakan.
"Jadi, kalau *Point Guard* kasih sinyal ini," Bintang menggambar pola jari, "artinya kita lakuin serangan cepat lewat sayap kiri."
"Itu terlalu gampang ditebak kalau Rio udah pelajari pola lama kalian," komentar Keyla, menggigit ujung pulpennya. Kebiasaan berpikirnya muncul. "Gimana kalau kita ganti istilahnya? Serangan cepat itu kayak komet. Lintasannya eksentrik, cepat, dan tak terduga."
Bintang menatapnya kagum. "Oke, 'Komet Halley' buat serangan balik cepat. Terus buat pertahanan *man-to-man*?"
"*Binary Star*," jawab Keyla cepat. "Dua bintang yang saling mengikat gravitasi. Satu pemain kunci lawan, ditempel ketat sama satu pemain kita. Nggak boleh lepas orbit."
Mereka menghabiskan sore itu dengan tertawa dan berdiskusi serius. Untuk pertama kalinya, Keyla merasa berguna bukan hanya sebagai pendukung di pinggir lapangan, tapi sebagai bagian dari inti kekuatan Bintang. Rasa takut akibat ancaman di loker tadi perlahan menguap, digantikan oleh adrenalin kolaborasi.
Namun, realitas kembali menghantam saat Bintang mengantar Keyla pulang. Langit sudah gelap. Mobil Bintang berhenti di depan pagar rumah Keyla yang sederhana.
"Makasih, ya," ucap Bintang lembut, tangannya masih enggan melepaskan jemari Keyla. "Hari ini berat banget buat kamu, tapi kamu malah bantu aku nyelesain masalah tim."
"Aku seneng bisa bantu. Rasanya... aku nggak cuma jadi penonton lagi," Keyla tersenyum tipis.
"Kamu nggak pernah cuma jadi penonton, Key. Kamu pusat semestanya," balas Bintang, membuat pipi Keyla memanas.
Saat Keyla hendak turun, ponsel Bintang berdering. Layar mobil menampilkan nama penelepon: *Coach Haryo*.
Bintang mengangkatnya dengan mode *loudspeaker* agar Keyla bisa mendengar. Wajahnya berubah tegang.
"Halo, *Coach*?"
*"Bintang! Kamu di mana?"* Suara pelatih terdengar meledak-ledak. *"Saya baru dapat info dari anak-anak. Ada yang bilang liat buku strategi itu dibawa sama cewek dari kelas XI IPA 2. Dan rumornya, cewek itu pacar kamu!"*
Jantung Keyla mencelos. Rumor itu menyebar lebih cepat dari cahaya. Vanya benar-benar tidak memberi jeda.
*"Besok pagi sebelum bel masuk, saya mau ada pemeriksaan tas mendadak buat seluruh kelas XI. Kalau buku itu ketemu di salah satu dari mereka, saya nggak peduli siapa bapaknya atau siapa pacarnya, saya akan laporin ke polisi atas tuduhan pencurian dan sabotase!"*
Sambungan telepon terputus.
Keyla menatap Bintang dengan horor. Buku itu masih ada di *dashboard* mobil Bintang. Aman untuk saat ini. Tapi pemeriksaan tas besok pagi? Itu berarti Vanya akan memastikan buku itu kembali ke tas Keyla entah bagaimana caranya, atau Vanya punya rencana cadangan.
"Besok pagi..." gumam Keyla.
"Tenang," Bintang mematikan mesin mobil, tatapannya dingin dan tajam menatap jalanan kosong di depan. "Buku ini aman sama aku. Tapi kita harus mancing tikusnya keluar."
"Maksud kamu?"
Bintang menoleh, senyum misterius tersungging di bibirnya. "Vanya atau mata-matanya pasti berharap buku itu ada di tas kamu besok. Mereka bakal nunggu momen pas guru meriksa tas kamu. Kita bakal kasih mereka pertunjukan."
"Tapi gimana caranya?"
"Besok, kamu datang ke sekolah bawa tas yang sama. Bersikaplah gugup. Pancing mereka buat merasa menang. Biar mereka sendiri yang gali kuburan mereka."
Keyla menelan ludah. Ini berisiko tinggi. Tapi melihat keyakinan di mata Bintang, Keyla mengangguk. Ia bukan lagi bintang redup yang bersembunyi. Ia adalah supernova yang siap meledak.
Saat Keyla masuk ke kamarnya dan mengintip dari jendela, mobil Bintang masih ada di sana sesaat sebelum melaju pergi. Ponselnya bergetar lagi. Pesan baru.
Kali ini bukan dari nomor tak dikenal. Tapi dari Vanya.
*"Nice try, Cassiopeia. Nikmati malam terakhir lo sebagai murid baik-baik. Besok, semua orang bakal tahu siapa lo sebenarnya: maling."*
Keyla tidak membalas. Ia hanya menatap layar ponselnya, lalu beralih menatap buku catatan Fisika di mejanya. Ia mengambil pena, dan di halaman kosong paling belakang, ia menulis satu kalimat:
*"Dalam astronomi, posisi pengamat menentukan apa yang terlihat. Besok, Vanya akan belajar bahwa dia melihat dari sudut pandang yang salah."*
Perang dingin ini baru saja memanas, dan Keyla sudah siap memegang kendali.