Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Queensland
Kegelisahan Jake telah mencapai titik nadir. Di Seoul, ia bagaikan raga tanpa jiwa. Latihan dancenya berantakan, dan beberapa kali ia tertangkap kamera melamun di tengah syuting variety show. Pikirannya tertahan di Brisbane, di rumah kayu dengan pagar putih yang bertetangga langsung dengan rumah masa kecilnya.
Dengan tangan gemetar, Jake menghubungi ibunya, Dami, melalui panggilan video.
"Ma, tolong... periksa rumah sebelah sekali lagi. Apa lampu terasnya nyala? Apa mobil ibunya ada di garasi? Takara pasti pulang ke sana, Ma," pinta Jake dengan suara serak.
Matanya yang sembab tidak bisa lagi menyembunyikan kehancurannya.
Dami menghela napas panjang, menatap layar ponselnya dengan tatapan iba. Di belakangnya, Leah tampak ikut mengintip dengan wajah sedih.
"Jake, Mama sudah tiga kali bolak-balik ke sana hari ini," jawab Dami lembut. "Rumahnya gelap. Pagar digembok rapat. Mama bahkan sudah mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Sepertinya rumah itu kosong."
"Nggak mungkin, Ma! Arlo bilang dia pulang ke Australia. Ke mana lagi dia kalau bukan ke rumah itu?" seru Jake frustrasi, jemarinya menjambak rambutnya sendiri.
Leah mengambil alih ponsel ibunya. "Kak, dengerin aku. Aku tadi coba panggil-panggil nama Kak Takara dari balik pagar. Nggak ada suara sama sekali. Bahkan anjing tetangga sebelah saja tidak menggonggong. Benar-benar sepi."
"Tanya ibunya, Ma! Tolong tanyai Tante langsung. Dia pasti tahu di mana anaknya!" desak Jake lagi.
Dami terdiam sejenak sebelum menjawab, "Mama sudah mencoba menelepon ibu Takara, Jake. Tapi ponselnya juga tidak aktif. Mama rasa... mereka sengaja. Mereka tahu kamu akan mencari, dan mereka memilih untuk menghilang sementara."
Jake tersentak. Realita itu menghantamnya lebih keras dari apa pun. Takara tidak hanya memblokir nomornya, tapi ia juga membawa seluruh dunianya, termasuk keluarganya, menjauh dari jangkauan Jake.
———
Di sebuah kota kecil di pesisir Queensland, beberapa jam perjalanan dari Brisbane, Takara duduk di sebuah beranda pondok kayu kecil milik kerabat ibunya. Di sana, hanya ada suara ombak dan kicauan burung kakatua.
Ia melihat ibunya yang sedang mematikan ponsel dan meletakkannya di dalam laci.
"Tante Dami menelepon lagi, Ra," ucap ibunya pelan. "Jake pasti sedang sangat kacau di sana."
Takara menatap hamparan laut biru dengan pandangan kosong. "Biarin, Bu. Kalau aku kasih tahu di mana aku sekarang, dia bakal nekat datang. Dan kalau dia datang, aku nggak akan pernah bisa lepas dari dia."
"Kamu yakin dengan Arlo?" tanya ibunya hati-hati.
Takara menyentuh tangannya, tempat di mana Arlo menjanjikan sebuah awal yang baru. "Arlo ngasih aku ketenangan, Bu. Sesuatu yang nggak pernah aku dapet selama belasan tahun jagain perasaan buat Jake."
———
Di Seoul, Jake menutup teleponnya dengan perasaan hampa. Ia menatap jadwal tur dunianya yang akan dimulai dalam beberapa minggu ke depan. Harusnya ia fokus, tapi hatinya berteriak untuk pergi.
Ia berdiri dan menyambar jaketnya, berjalan menuju ruang manajer dengan langkah mantap.
"Aku butuh cuti tiga hari. Sekarang," ucap Jake tegas saat masuk ke ruangan manajer.
"Jake, kamu gila? Kita ada latihan formasi terakhir besok!" bentak sang manajer.
"Aku nggak peduli. Kalau aku nggak pergi ke Brisbane sekarang, aku nggak jamin bisa naik panggung dengan benar nanti," balas Jake dengan tatapan tajam yang tak terbantahkan.
———
"Mama tau kamu tidak mencintai Arlo, kamu hanya memaksakan hati," ucap ibunya lagi dengan suara yang lebih lembut namun mematikan. "Kamu cuma mau lari dari rasa sakit yang dikasih Jake, Ra."
Takara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isakannya pecah, lebih hebat dari saat ia memblokir nomor Jake di bandara tempo hari. Kebenaran itu terlalu telanjang untuk ia sangkal. Selama ini ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa kenyamanan yang diberikan Arlo adalah cinta, padahal itu hanyalah obat penenang.
Ibunya mendekat, membelai rambut Takara yang berantakan. "Kamu jangan sakiti Arlo yang mencintai kamu dengan tulus. Selesaikan dengan Arlo. Jangan jadikan dia tameng buat ngelindungin kamu dari Jake."
"Tapi Ma... Arlo baik banget. Dia selalu ada pas aku mau mati rasanya di Seoul," rintih Takara di sela tangisnya.
"Kebaikan dia nggak seharusnya dibalas dengan kepura-puraan, Nak. Kamu harus pulih karena diri sendiri, bukan karena ada orang baru. Kalau kamu terus begini, kamu bakal nyakitin dua pria sekaligus. Dan yang paling parah, kamu nyakitin diri kamu sendiri."
Takara tersedu-sedu. Ia membayangkan wajah Arlo, pria yang rela dipukul oleh Jake, pria yang rela mengambil cuti panjang demi menjaganya, dan pria yang menatapnya seolah ia adalah segalanya. Menjadikan pria setulus Arlo sebagai pelampiasan adalah kekejaman yang tak termaafkan.
Malam itu, Takara keluar menuju bibir pantai yang sepi di depan pondok. Ia memegang ponselnya yang masih mati. Di dalam sana, ada ribuan memori tentang Jake, dan ada pesan-pesan penuh perhatian dari Arlo yang baru saja mendarat di Brisbane untuk menyusulnya.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa membangun istana baru di atas pondasi yang masih berdarah-darah karena masa lalu.
"Maafin gue, Arlo. Gue nggak bisa egois lagi," batinnya.
———
Arlo menghela napas panjang. Sebagai pria yang selama ini menjadi pendengar yang baik bagi setiap keluh kesah Takara, ia memiliki intuisi yang tajam. Ia tahu, jika Takara mengirimkan lokasi yang begitu terpencil, itu bukan untuk merayakan reuni mereka, melainkan untuk memberikan sebuah titik akhir.
Arlo tiba di lokasi saat matahari mulai turun ke peraduan. Ia melihat sosok Takara berdiri membelakangi jalan, menatap hamparan laut biru yang luas. Angin pantai memainkan helai rambutnya yang kecokelatan.
Langkah Arlo terhenti beberapa meter di belakang gadis itu. Sebelum Takara sempat berbalik, Arlo sudah merasakan matanya memanas. Ia adalah pria yang tangguh di depan para pekerja proyek, ia adalah pria yang berani menghadapi amarah Jake, namun di depan Takara, ia hanyalah seorang pria yang sedang patah hati.
Takara berbalik perlahan. Ia melihat Arlo berdiri di sana dengan mata yang sudah merah dan basah.
"Arlo..." bisik Takara lirih.
Arlo tertawa getir di sela isakannya, ia menghapus air mata dengan punggung tangannya yang gemetar. "Gue udah tahu, Ra. Gue udah tahu dari cara lo natap laut itu, hati lo nggak pernah bener-bener berlabuh di gue."
Takara mendekat, matanya pun ikut berkaca-kaca. "Maafin gue, Arlo. Gue mencoba... gue bener-bener mencoba buat cinta sama lo selayak lo cinta sama gue. Tapi kata nyokap gue bener, gue nggak boleh nyakitin orang setulus lo dengan kepura-puraan."
Arlo menggeleng, ia menutup wajahnya sejenak. "Gue cinta banget sama lo, Takara. Gue rela nunggu, gue rela jadi bayangan, gue rela dihajar Jake berkali-kali asal gue bisa mastiin lo nggak nangis sendirian lagi."
"Justru karena itu, Arlo," potong Takara dengan suara bergetar. "Lo terlalu berharga buat dijadiin pelampiasan. Lo pantes dapet cewek yang hatinya utuh buat lo, bukan cewek yang cuma lari ke lo karena dia takut sendirian."
Arlo menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. Ia menatap Takara dengan sisa-sisa kasih sayang yang mendalam.
"Jadi, ini beneran akhirnya? Gue bahkan baru aja mendarat buat nyusul lo, Ra."
Takara mengangguk pelan. "Gue harus pulih sendiri, Arlo. Tanpa lo, dan tanpa Jake. Gue nggak mau nyeret lo ke dalam kekacauan hati gue lagi."