Mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang tadinya hanya seorang pemuda biasa, tapi, kehidupan yang sulit membuatnya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang agen.
Bukan hal yang mudah karena Wawan, tokoh utama di cerita ini sebenarnya adalah seorang penakut yang mengharapkan hidup normal dan santai.
Tapi, lama kelamaan Wawan menjadi terbiasa dengan pekerjaan berbahaya itu dan malah menjadi agen paling hebat di kesatuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekan berguguran
Dengan sangat hati-hati mereka masuk ke dalam gudang.
Suasana di dalam terasa sunyi dengan pencahayaan yang remang-remang.
Kadang-kadang, mereka di kejutkan oleh suara percikan listrik yang mulai usang.
".... Kok aku merasa kalau tempat ini bisa terbakar kapan saja, ya!?" Kata Wawan setelah melihat banyak percikan listrik.
"Iya, aku juga merasa begitu!" Timpal Raisya.
"Jangan pusingkan hal itu, fokus saja pada misi kita!" Tegur komandan dengan sorot mata tajam memandangi sekitar.
Dari sana mereka bertemu dengan dua orang yang sedang berjaga sambil mengobrol.
Mereka tak sadar kalau pada saat ini markas mereka telah di masukin oleh kelompok Wawan.
"Nak, segera bisik salah satunya!" Kata komandan memberikan tugas pada Wawan.
Segera Wawan berjongkok dan mengarahkan sniper nya pada salah satu orang. "Aku akan menembak yang kiri!" Kata Wawan sebelum menembak.
Dor!
Satu orang tumbang sedangkan satu lainnya menyusul setelah komandan juga ikut menyerang.
Dorr!!
Dengan senyap dua orang tadi di kalahkan oleh Wawan dan komandan.
Lanjut mereka memasuki gudang ini lebih dalam lagi hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan yang sangat besar dan luas.
Mata mereka semua terbuka lebar ketika memasuki ruangan itu.
"Tempat ini beda sekali dengan yang kita lewati tadi!"
"Di sini tidak tampak kumuh dan tidak ada percikan listrik dari kabel yang usang... Tempat ini benar-benar terawat dengan baik!" Kata Wawan.
"Dan juga... Apa-apa semua tabung gas subsidi ini!?"
"Berapa banyak tabung yang mereka simpan di sini!?" Lanjut kata Wawan setelah melihat tabung yang amat banyak di hadapannya.
Semua orang pun agak berpencar untuk melihat-lihat sekitar mereka.
Dan ketika semua orang fokus melihat-lihat, sebuah serangan yang sangat tidak terduga tiba-tiba saja muncul.
Dorr!!
Dorr!!
Dua tembakan itu menewaskan dia anggota kelompok agen rahasia.
Dan korbannya adalah para sepuh.
"Ada serangan!!" Teriak komandan mengejutkan semua orang.
Segera semua orang mencari tempat berlindung dari gempuran peluru yang berdatangan.
Keadaan menjadi semakin berbahaya karena musuh telah menyadari keberadaan kelompok agen rahasia.
Jadi orang yang berdatangan semakin banyak saja.
"Waduh!!"
"Gimana nih. Apa kita harus mundur atau kita harus melawan!?" Tanya Wawan pada komandan yang kebetulan bersembunyi di dekatnya.
"Mundur bagaimana? Kita sudah sejauh ini, tentu saja kita harus melawan hingga akhir!" Segera komandan membalas serangan.
Tidak cuma komandan.
Semua anggota yang lain ikut membalas serangan dimana mereka semua cukup bisa di andalkan karena masih bisa mengenai musuh meskipun berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan.
Wawan juga ikut membalas serangan dengan menggunakan snipernya.
Agak menyulitkan karena tidak seharusnya menggunakan sniper dalam baku tembak jarak dekat seperti ini.
Tapi karena tidak ada pilihan jadinya Wawan hanya bisa mengandalkan sniper panjangnya itu.
Di tengah-tengah baku tembak yang masih berlangsung, tiba-tiba saja agen Rambut Panjang muncul di belakang para musuh.
Entah sejak kapan atau bagaimana caranya dia sampai ke sana.
Yang jelas.
Agen Rambut Panjang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerang dari titik buta para musuh.
Dengan mudah ia menyumbangkan semua musuh yang fokus pada baku tembak.
"Semua musuh telah di bereskan!" Kata agen Rambut Panjang setelah baku tembak berhenti.
Semua orang berhenti menembak dan mulai pada keluar dari tempat berlindung mereka.
Mereka berkumpul lagi di tempat agen Rambut Panjang berada sekalian memeriksa kondisi para musuh.
"Berapa banyak yang masih hidup di tim kita!?" Tanya komandan pada wakilnya.
Wakil komandan langsung menjawab dengan ekspresi sedih. "Hanya tinggal kita saja. Sisanya telah gugur dalam baku tembak tadi!"
Yang tersisa sekarang hanya komandan, wakil komandan, Wawan, agen Rambut Panjang, agen Kepala Botak, Raisya, Arhan dan Sarah.
Sisanya telah gugur karena mereka kurang bisa menanggapi serangan yang tiba-tiba tadi.
"Tsk!! Sialan!!" Komandan tampak geram karena yang menjadi korban dalam misi kali ijin sangat banyak.
Pada saat itu komandan mulai merasa pesimis pada misi ini.
Hingga ia tiba-tiba punya keinginan untuk mundur dan menyelamatkan anggota pasukannya yang masih tersisa.
Agen Rambut Panjang yang menyadari perasaan komandan segera berkata...
"Kita sudah sejauh ini dan kita sudah kehilangan banyak anggota!"
"Akan sangat menyesakkan kalau kita mundur di tengah jalan!" Semua orang kecuali Wawan mengangguk.
Mereka sependapat untuk melanjutkan misi ini karena hanya tinggal sedikit lagi.
"... Kalian benar!"
"Tidak seharusnya kita mundur setelah kita sudah melangkah sejauh ini!" Komandan memimpin anggota pasukannya yang tersisa untuk melakukan serangan lebih dalam.
Sejenak kita beralih bagian paling dalam dari gudang ini.
Yaitu bagian yang di tempati oleh Yanto dan Kipli.
Saat itu, Yanto sedang duduk di meja kerjanya dengan ekspresi muram.
Tepat di sampingnya ada Kipli yang selalu menemani dan menjalankan tugas yang Yanto berikan.
Keadaannya ruangan yang mereka tempati itu terasa sangat sunyi dan sepi.
Tak lama, kesunyian itu pecah ketika seseorang menerobos masuk untuk melaporkan keadaan di garis depan.
"Kabar buruk, pak!?"
"Anak buah kita yang terlibat baku tembak dengan musuh di garis depan telah gugur semua. Dan sekarang musuh sedang bergerak lebih dalam!" Kata pria itu dengan tergesa-gesa.
Yanto mendengar itu sejenak terdiam.
Ia tidak panik, tapi juga tidak akan mengabaikan masalah ini begitu saja.
"... Kipli. Bawa semua anak buahmu dan tangani musuh!" Kata Yanto dengan penuh ketenangan.
"Baik. Saya akan berangkat sekarang...!" Sebelum Kipli selesai bicara, tiba-tiba saja pintu kembali di dobrak.
Brakk!!
"Tunggu, tuan!!" Layla, Sari dan Jaka masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi yang serius.
"Kurang ajar!!"
"Bisa-bisanya kau masuk ke dalam ruangan dengan cara menendang pintu seperti itu!" Teriak Kipli ketika tiga orang itu memasuki ruangan.
"Diam!!"
"Jika saja kau tidak berulah, aku juga tidak akan menjadi sangat tidak sopan seperti ini!" Balas Layla sambil menunjuk Kipli.
Kipli terdiam dengan alis mata yang berkerut.
Ia bertanya-tanya kenapa Layla menunjuk ke arahnya dengan jati yang sangat lurus seperti itu.
"... Apa maksudmu!?" Tanya Kipli penasaran.
"Tuan! Keributan malam ini terjadi karena kecerobohan si Kipli!"
"Orang-orang yang menyerang kita itu adalah para agen yang sebelumnya di tugaskan pada si Kipli untuk di lenyapkan!"
"Tapi orang malas ini tidak menyelesaikan tugasnya dan membiarkan musuh mengumpulkan senjata hingga akhirnya menyerang balik!"
"Tuan. Orang ini adalah penyebab kerugian yang kita alami!" Sekali lagi Layla menunjuk Kipli dengan telunjuk yang lurus.
Suasana menjadi hening.
Kipli di sini tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa celingak-celinguk dengan wajah panik serta takut.
"... Apa itu benar!?" Tanya Yanto pada Kipli dengan suara yang dingin.
Keringat dingin seketika bercucuran, membahasi kening dan punggung Kipli.
Ia tahu kalau kali ini bosnya itu sedang sangat marah besar.
"Tu... Tuan. Saya tidak mengira kalau semua ini akan terjadi!"
"Saya janji, saya akan membereskan masalah ini sesegera...!" Belum sempat Kipli menyelesaikan kalimatnya, ia tiba-tiba di tembak oleh Yanto.
Dorr!!
Suara ledakan peluru itu menggema, memecah kesunyian di dalam ruangan.
Kipli jatuh ke lantai dan tak bergerak lagi.
Cairan merah kemudian mulai menyebar ke sekitar tubuh Kipli yang tergulai di atas lantai keramik putih.