NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJALANAN PULANG — BADAI DI HORIZON

Matahari tepat di atas kepala saat Wei Chen meninggalkan lembah sungai.

Langkahnya ringan meski tubuhnya lelah. Di dalam tasnya, tanaman Darah Naga terbungkus rapi dalam wadah khusus pemberian Guru Anta. Tiga batang utuh dengan getah merah masih mengilap — cukup untuk membuat pil pemurni versi lengkap.

Wei Chen berjalan cepat. Ingin segera kembali. Setiap hari yang berlalu berarti satu hari kurang untuk Mei Ling.

Dia sudah menghitung. Perjalanan ke barat memakan waktu lima hari. Perjalanan pulang mungkin lebih cepat — jalur sudah dikenal, dan dia tidak perlu mencari-cari lagi. Tiga hari, mungkin empat, tergantung kondisi.

Berarti total perjalanan sekitar 8-9 hari. Mei Ling pasti sudah cemas setengah mati.

Wei Chen memegang jepit rambut di sakunya. Hangat, seperti biasa.

"Aku tunggu."

"Aku kembali," bisiknya pada angin.

---

Dua jam kemudian, Wei Chen sampai di desa pertama — Desa Cemara.

Wulan sedang duduk di depan rumahnya, menenun seperti Mbah Darmi. Melihat Wei Chen, matanya membelalak.

"Wei Chen?!" Dia bangun, berlari mendekat. "Kau sudah kembali? Cepat sekali!"

"Aku dapat yang kucari." Wei Chen tersenyum tipis. "Terima kasih atas petunjukmu."

Wulan memandangnya dengan kagum. "Kau benar-benar hebat. Biasanya orang butuh waktu berminggu-minggu."

"Aku buru-buru."

"Kekasihmu?"

Wei Chen mengangguk.

Wulan tersenyum lebar. "Syukurlah. Semoga dia sembuh." Dia menarik lengan Wei Chen. "Mari, istirahat dulu. Makan. Sebentar saja."

Wei Chen ingin menolak, tapi perutnya keroncongan. Dia belum makan sejak pagi.

"Baik. Sebentar."

---

Satu jam kemudian, Wei Chen melanjutkan perjalanan.

Wulan memberinya bekal banyak — nasi, lauk, bahkan buah-buahan. Wanita itu seperti kakak yang overprotektif.

"Jaga diri," katanya saat Wei Chen pergi. "Sampaikan salam pada kekasihmu."

Wei Chen mengangguk. Melambai. Lalu pergi.

---

Sore harinya, Wei Chen tiba di Desa Sidomulyo.

Mbah Darmi sedang di beranda, seperti biasa. Melihat Wei Chen, dia tersenyum.

"Nak, sudah kembali?" Matanya mengamati Wei Chen dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kau kurusan."

"Aman, Bu." Wei Chen duduk di sampingnya. "Mampir sebentar. Besok pagi lanjut."

"Mau makan? Aku masak sayur lodeh."

"Mau, Bu. Terima kasih."

Malam itu, Wei Chen makan dengan lahap. Mbah Darmi menemaninya, sesekali bertanya tentang perjalanan. Wei Chen cerita secukupnya — tentang Wulan, tentang Kakek Tua, tentang ular raksasa.

Mbah Darmi terkesiap saat mendengar ular itu. "Astaga, Nak. Kau selamat karena dilindungi dewa."

Wei Chen tidak percaya dewa. Tapi dia tidak membantah.

Setelah makan, dia tidur di gubuk yang sama. Lelah, tapi puas.

Besok, hari terakhir perjalanan.

---

Pagi-pagi sekali, Wei Chen sudah bangun.

Mbah Darmi menyiapkan bekal banyak — lebih banyak dari biasanya. "Untuk dua hari," katanya. "Jangan sampai kelaparan."

Wei Chen menerimanya. "Terima kasih, Bu. Saya tidak akan lupa kebaikan ibu."

"Ah, jangan sungkan." Mbah Darmi tersenyum. "Kau seperti cucuku sendiri. Pergilah. Dan jaga gadismu."

Wei Chen mengangguk. Lalu pergi.

---

Perjalanan pulang terasa lebih cepat.

Mungkin karena jalur sudah dikenal. Mungkin karena langkahnya lebih ringan. Atau mungkin karena Mei Ling ada di ujung jalan, menunggunya.

Wei Chen berjalan cepat, hampir berlari di jalur yang landai. Sesekali dia berhenti untuk minum atau makan, lalu lanjut lagi.

Menjelang sore, dia sudah melewati hutan tempat pertama kali bertemu perampok. Tidak ada siapa-siapa di sana — mungkin mereka sudah kapok.

Menjelang malam, dia sampai di bukit kecil yang jadi batas terakhir sebelum Desa Qinghe. Dari sini, dia bisa melihat cahaya-cahaya kunang-kunang di kejauhan — lampu-lampu desa.

Wei Chen tersenyum. Besok pagi, dia akan sampai.

Tiba-tiba, dia mendengar suara.

Bukan suara binatang. Tapi suara orang. Banyak. Dari arah desa.

Wei Chen menegang. Dia merayap ke tepi bukit, mengintip ke bawah.

Di luar desa, puluhan obor menyala. Orang-orang bersenjata berbaris rapi. Seragam mereka hitam, dengan simbol naga emas di dada.

Pasukan Hartono.

Wei Chen merasa darahnya berdesir. Jantungnya berdetak kencang.

Mereka menyerang. Saat aku pergi.

Dia melihat ke desa. Pagar kayu yang dibangunnya sudah jebol di beberapa tempat. Pos jaga terbakar. Suara benturan senjata terdengar samar-samar.

Wei Chen mengepalkan tangan. Ingin turun, ingin membantu. Tapi dia tahu, dengan level kultivasinya yang rendah, dia hanya akan mati sia-sia.

Dia butuh informasi. Butuh rencana.

Dia merayap turun dari bukit, mendekati desa dari sisi yang tidak dijaga.

---

Di dalam desa, pertempuran sengit terjadi.

Kakek Li bertarung di depan, tubuhnya bergerak seperti angin. Tapi lawannya bukan preman biasa — mereka kultivator level menengah, berpengalaman. Kakek Li mulai kelelahan.

Guru Anta di sisi lain, melindungi klinik. Pedangnya menari, tapi jumlah lawan terlalu banyak. Dia sudah terluka di lengan.

Lim Xiu memimpin para pemuda desa bertahan di balik pagar yang tersisa. Jarwo — yang kembali setelah kabar penyerangan — bertarung dengan nekat, mungkin untuk menebus kesalahannya.

Tapi yang paling membuat Wei Chen panik, dia tidak melihat Mei Ling.

Di mana dia?

Dia merayap lebih dekat. Mendekati rumahnya.

Di sana, di depan rumah, tiga orang bersenjata berdiri. Mereka menjaga pintu.

Wei Chen mengerti. Mereka menyandera Mei Ling.

---

Sementara itu, di ibu kota...

Hartono Lim duduk di kantornya, tersenyum puas. Laporan dari medan perang datang setiap jam.

"Pasukan kita sudah masuk desa, Tuan," lapor Mei Hua. "Perlawanan sengit, tapi kita unggul jumlah."

"Gadis itu?"

"Terkepung di rumahnya. Kita tunggu perintah."

Hartono mengangguk. "Jangan bunuh. Dia umpan."

Mei Hua mengerutkan kening. "Umpan?"

"Wei Chen pasti akan kembali. Dan saat dia kembali..." Hartono tersenyum dingin. "Dia akan lihat gadisnya di tangan kita."

Mei Hua mengangguk. "Cerdas, Tuan."

Hartono tertawa kecil. Kali ini, Wei Chen. Kau tidak akan bisa kabur.

---

Di Desa Qinghe, Wei Chen mengamati situasi.

Pasukan Hartono sekitar 200 orang. Kakek Li dan Guru Anta kuat, tapi mereka kalah jumlah. Pemuda desa sudah banyak yang terluka. Lim Xiu bertahan, tapi dia bukan petarung.

Wei Chen butuh rencana. Cepat.

Dia ingat jebakan-jebakan yang dipasang dulu. Mungkin masih ada yang berfungsi.

Dia ingat jalur rahasia di belakang desa — jalur yang hanya dia dan Mei Ling tahu.

Dia ingat sesuatu yang lain.

Gudang mesiu.

Di bengkel produksi, ada puluhan lampu qi dan tungku yang belum dikirim. Lampu qi bisa meledak kalau dipaksa — dia tahu itu dari eksperimen gagal dulu.

Wei Chen tersenyum tipis. Rencana gila mulai terbentuk.

Dia merayap ke bengkel.

---

Di dalam bengkel, tidak ada penjaga. Mereka terlalu sibuk di desa.

Wei Chen mengumpulkan lampu-lampu qi. Dua puluh buah. Dia mengutak-atiknya, mengubah sirkuit qi-nya jadi tidak stabil.

Sekarang, lampu-lampu itu seperti bom waktu. Satu sentuhan salah, bisa meledak.

Dia mengemasnya dalam karung. Lalu merayap ke posisi strategis — di belakang pasukan Hartono, dekat dengan tempat mereka berkumpul.

Dia melempar satu lampu ke tengah kerumunan.

Brak!

Ledakan. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat kacau. Beberapa prajurit terluka.

"Serangan dari belakang!" teriak seseorang.

Pasukan Hartono panik. Mereka tidak tahu berapa banyak musuh di belakang.

Kakek Li dan Guru Anta memanfaatkan kekacauan. Mereka menyerang lebih ganas, memukul mundur pasukan di depan.

Wei Chen melempar lampu kedua, ketiga, keempat. Ledakan bertubi-tubi.

Pasukan Hartono kocar-kacir. Tanpa komando yang jelas, mereka mundur.

Di tengah kekacauan itu, Wei Chen berlari ke rumahnya. Tiga penjaga di depan masih berdiri, bingung.

Wei Chen tidak memberi mereka waktu. Dengan tombaknya, dia menyerang.

Satu jatuh. Dua jatuh. Yang ketiga lari.

Wei Chen membuka pintu.

Mei Ling di dalam. Tangan terikat, mulut disumpal. Tapi matanya — matanya bersinar melihat Wei Chen.

Wei Chen memotong ikatannya. Membuka sumpalannya.

"Chen!" Mei Ling memeluknya erat. "Kau kembali! Aku tahu kau akan kembali!"

Wei Chen memeluknya. Hangat. Lega.

"Aku janji," bisiknya. "Aku selalu tepati janji."

---

Pertempuran mereda satu jam kemudian.

Pasukan Hartono mundur total. 50 tewas, 70 luka-luka. Sisanya kabur.

Kakek Li duduk di tanah, kelelahan. Guru Anta membalut lukanya sendiri. Lim Xiu mengumpulkan para pemuda, menghitung korban.

10 pemuda desa terluka. 2 tewas.

Wei Chen berdiri di tengah desa, memeluk Mei Ling. Matanya menatap ke selatan — ke arah ibu kota.

Hartono.

Perang ini belum selesai. Baru mulai.

Tapi malam ini, mereka menang.

Malam ini, mereka bersama.

---

Chapter 33 END.

---

1
Jack Strom
Bikin puyeng, lawannya itu-itu saja... 😁
Jack Strom
Kill them all!!! 😁😛
Jack Strom
Sip!!! 😁
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Wow... Sangat mengharukan... 😁
Jeffie Firmansyah
cukup menghibur 👍💪
Jeffie Firmansyah
mulai tumbuh arti cinta
Jeffie Firmansyah
3 bab sudah di baca bagus natral💪
Jeffie Firmansyah: natural*
total 1 replies
Jeffie Firmansyah
3bab sdh di baca bagus alurnya natural semangat /Good/
Jeffie Firmansyah
sippp semangat Thor 💪💪💪
Jeffie Firmansyah
hadir gabung permulaan lumayan alur enak di baca semoga kedepannya tambah seru dan tdk ngegantung ceritanya karena lama update nya semangat Thor💪💪💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!