Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Asumsi Bersalah
Setelah kembali ke dalam mobil, Chen Shi meregangkan badan, lalu mengambil sebatang rokok dari dasbor.
“Nona Polisi, bolehkan aku mengambil satu?” tanyanya sambil mengangkat alis.
“Silakan saja,” jawab Lin Dongxue, nada suaranya keras dan kaku. “Oh ya, aku akan mengganti uangmu sekarang.”
Chen Shi mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya. Di layar terlihat sebuah kode QR. Lin Dongxue hendak memindai untuk mengirim uang, tetapi kemudian menyadari bahwa kode itu ternyata adalah kode tambah teman. Ia langsung mengerutkan kening.
“Kenapa malah kode ini? Siapa yang mau menambahkan orang sepertimu sebagai teman WeChat?!”
Chen Shi tersenyum santai.
“Hanya untuk menambahkan kontak WeChat. Ada masalah?”
“Aku tidak mau menambahkanmu! Kau itu tersangka pembunuhan. Jangan bermaksud macam-macam!”
Ia berhenti sejenak, lalu bertanya dengan curiga,
“Sebenarnya apa niatmu?”
“Apa maksudmu ‘apa niatku’? Aku tidak punya niat apa pun.”
“Kau sangat tahu apa yang sudah kau lakukan! Dari awal kau sudah berusaha membuatku menambahkanmu. Kau pura-pura tidak peduli pada pekerjaanku, lalu berusaha terlihat baik, bahkan memberi umpan sepasang sepatu gratis. Jangan kira aku mudah dibujuk! Kolega-kolegaku sudah menyelidiki latar belakangmu.”
Chen Shi menghela napas kecil, sedikit getir.
“Aku benar-benar tidak tahu apa yang ‘sudah kulakukan’. Mengapa kau tidak menjelaskannya saja agar aku mengerti?”
Lin Dongxue langsung menatapnya tajam.
“Apa yang kau lakukan pada malam tanggal sepuluh September?”
“Aku bekerja, makan bersama beberapa teman sesama sopir, lalu pulang, mandi, dan tidur.”
Lin Dongxue mencibir.
“Jangan kira aku semudah itu percaya. Apa lagi yang kau lakukan?”
“Kau kira hidup seorang sopir sepertiku penuh kejutan dan petualangan? Kalau begitu, mengapa kau tidak saja mengingatkanku apa yang katanya telah kulakukan?”
“Hentikan akting polos itu! Kau hanya pura-pura tidak tahu. Kau tidak bisa menipuku!”
Chen Shi mematikan ujung rokok ke asbak dan menunjuk wajahnya.
“Coba lihat wajah tampan ini. Apakah ini wajah seorang tersangka?”
“Baik–jahat itu tidak tertulis di wajah!” bentak Lin Dongxue.
“Itu tidak sepenuhnya benar. Walaupun tidak tertulis secara harfiah, ada ‘tanda-tanda’ yang bisa dibaca orang yang peka. Misalnya, aku bisa melihat seketika bahwa pencuri tas tadi gugup dan gelisah, sangat berbeda dari orang biasa.”
Ponsel Lin Dongxue berbunyi. Ia membuka layar dan melihat beberapa pesan dari kakaknya—bertanya mengapa ia belum tiba.
Ia menoleh tajam. “Jalankan mobil!”
Ia membuka pintu dan duduk di kursi penumpang depan. Dengan cepat ia menangkap tangan kanan Chen Shi. Tangannya terlihat putih, panjang, dan tampak bukan tangan pekerja kasar. Chen Shi tersenyum kecil.
“Ada apa? Kau bisa membaca garis tangan?”
Pertanyaan itu berakhir dengan bunyi klik. Sebuah borgol menjerat pergelangan tangan kanan Chen Shi. Lin Dongxue hendak memasang ujung satunya pada pergelangan tangannya sendiri, ketika Chen Shi berkomentar datar,
“Bodoh sekali. Kalau begitu, bagaimana aku menyetir? Pasangkan di setir saja—bagian kiri!”
Lin Dongxue menyipitkan mata, merasa diremehkan. Chen Shi menjelaskan,
“Aku butuh tangan kanan untuk mengatur transmisi, dan tangan kiri untuk memegang setir. Kau pernah menyetir?”
“Diam! Jangan terlalu banyak bicara!”
Dengan kesal, Lin Dongxue membuka borgol itu, lalu membungkuk melewati dada Chen Shi untuk mengunci pergelangan tangan kirinya ke setir. Chen Shi mengamati gerakannya.
Kalau aku ingin menjatuhkannya sekarang, mengambil kunci, dan kabur, itu sangat mudah…
Namun pikiran berikutnya melintas lebih ringan:
Tapi gadis ini, tubuhnya… luar biasa juga.
Setelah mobil kembali melaju, Chen Shi bertanya,
“Siapa namamu?”
“Aku tidak sudi mengobrol dengan tersangka pembunuhan!”
Chen Shi menghela napas halus.
“Kau terus menyebutku tersangka. Terdengar menakutkan sekali. Bagaimana jika—dalam satu kemungkinan kecil—aku bukan pelakunya?”
Lin Dongxue menatapnya. Tatapan itu benar-benar tampak penuh keyakinan diri—berbeda dari kebanyakan pelaku kejahatan lain. Sejujurnya ia agak terguncang, tapi segera menepis keraguannya.
Latar belakangnya saja mengerikan. Tidak mungkin dia bukan pelakunya…
“Itu tidak mungkin!”
“Aku bilang jika. Bagaimana kalau kita bertaruh?”
“Apa taruhannya?”
“Jika aku bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah, kau traktir aku makan.”
“Dalam mimpi!” Lin Dongxue mendengus gusar.
“Miss, dengarkan dulu. Aku hanya seorang sopir. Tiba-tiba kau undang aku ‘minum teh’ di kantor polisi—bagimu ini hal kecil, tapi bagiku ini besar. Apa kata keluargaku? Rekan-rekanku? Lalu hari ini aku kehilangan belasan ribu yuan karena tidak bisa mengambil pesanan. Apa kalian mau menggantinya?”
“Belasan ribu yuan? Mobilmu terbuat dari berlian?”
“Mungkin saja. Atau mungkin aku seharusnya menjemput seorang ibu hamil kaya raya yang akan melahirkan. Kalau ia senang, ia mungkin memberiku amplop merah tebal.”
“Kau ini benar-benar banyak bicara!” Lin Dongxue menahan rasa muak. Ia paling tidak suka pria seperti Chen Shi—bahkan lebih menyebalkan dari Xu Xiaodong.
Chen Shi terus menggodanya dengan sikunya.
“Ayo, bertaruh lah. Kau tidak rugi.”
Akhirnya Lin Dongxue meledak,
“Baik! Karena kau tidak akan bisa membuktikan apa pun!”
“Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini,” jawab Chen Shi sambil tersenyum tipis.
Mobil terus melaju hingga berhenti di lampu merah. Chen Shi menundukkan kepala dan memainkan ponselnya.
Tiba-tiba ponsel Lin Dongxue berbunyi.
Sebuah notifikasi WeChat muncul:
“Pengguna bernama ‘Big Grey Wolf’ ingin menambahkan Anda sebagai teman.”
Ikonnya adalah foto aktor Wu Yanzu.
Chen Shi tertawa,
“Jadi nomor ponselmu juga nomor WeChat-mu!”
Lin Dongxue menatapnya garang. Chen Shi menambahkan,
“Cepat terima permintaanku. Kalau tidak, bagaimana nanti kau menghubungiku untuk mentraktir makan?”
Lin Dongxue tak pernah bertemu orang setega kulit Chen Shi. Akhirnya ia menerima permintaan itu, namun langsung mengatur agar Chen Shi tidak bisa melihat moments-nya.
Ketika mobil memasuki halaman kantor polisi, Lin Dongxue melihat Lin Qiupu dan beberapa anggota lain berdiri menunggu di pintu seperti menyambut tamu penting. Mereka mendekat sambil memuji keberuntungan Lin Dongxue yang luar biasa—baru keluar sebentar sudah membawa pulang tersangka.
Lin Qiupu berkata dengan nada tegas,
“Dongxue, jika kasus ini berhasil diselesaikan, kontribusimu akan dicatat.”
Saat itu, pintu mobil terbuka. Chen Shi turun sambil melambaikan tangan.
“Halo semuanya! Namaku Chen Shi. Sudah siang ya? Ada makan siang?”
Semua orang terdiam. Belum pernah mereka melihat tersangka yang bersikap seolah sedang menghadiri pertemuan keluarga.
Lin Dongxue berbisik pelan,
“Orang ini licik. Jangan terkecoh!”
Lin Qiupu memberikan instruksi,
“Xiao Hai, Xiao Wang, bawa dia ke ruang interogasi!”
Dua jam kemudian, pintu ruang interogasi terbuka keras-keras. Dua polisi keluar dengan wajah letih dan frustasi.
“Aku tidak sanggup lagi! Dia terlalu logis, terlalu detail! Tidak ada celah! Kapten, Anda saja yang interogasi!”
Lin Qiupu meletakkan cangkir tehnya.
“Baik. Aku yang akan berbicara dengannya.”
Lin Dongxue meraih jaketnya.
“Aku ikut!”
Ia ingin melihat langsung bagaimana kakaknya menghadapi pria itu.
Ketika mereka masuk ke ruang interogasi, Chen Shi mengeluh,
“Kursi ini tidak nyaman. Wasirku bisa kambuh. Bisa dapat bantal?”
Lin Qiupu meletakkan berkas kasus di meja dan mengerutkan kening.
“Ketika kau memilih melanggar hukum, kau sudah memilih menerima konsekuensi. Jika ingin nyaman, kau seharusnya hidup jujur di rumah.”
Chen Shi menjawab tenang,
“Aku ingatkan sekali lagi—aku bukan kriminal. Saat ini aku hanya tersangka. Memperlakukan seorang tersangka seperti seorang pelaku, itu berarti kalian membalik prinsip dasar hukum. Anda mencampuradukkan asas praduga tak bersalah menjadi praduga bersalah. Dalam istilah halus, ini kelalaian. Dalam istilah kasar… ini penyalahgunaan kewenangan.”
Lin Qiupu menghentakkan tangan di meja.
“Jangan bermain kata-kata denganku! Aku langsung ke intinya. Pada malam 10 September, apa yang kau lakukan? Jawab dengan detail!”
Chen Shi menghitung dengan jarinya.
“Dari pukul enam sampai tujuh tiga puluh, aku makan di warung bersama beberapa sopir. Dari tujuh tiga puluh sampai pukul dua pagi, aku mengemudi—mengambil pesanan dan mengantar penumpang. Kalian bisa memeriksa catatan perjalanan. Pukul dua tiga puluh aku pulang, mandi, dan tidur.”
Petugas pencatat berbisik,
“Itu persis sama seperti keterangan sebelumnya…”