Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Brugh!
Dua orang satpam yang membawa Hana tersungkur di hadapan Alan. Kakak Hana itu duduk di kursi kebesarannya, menunggu. Ia memutar kursi, berhadapan dengan mereka.
"Tuan Muda, kedua orang ini kami temukan terikat di belakang gedung pesta. Saya sudah bertanya tentang nona Hana, tapi mereka tidak mau menjawabnya," ujar Jonas seraya menendang kedua tubuh itu dengan kesal.
Alan melirik mereka, tatapan matanya saja sudah membuat mereka terintimidasi. Tidak ada yang tahu keberadaan tempat rahasia itu, hanya Alan dan orang-orang yang bekerja di bawahnya saja.
"Aku hanya akan bertanya sekali kepada kalian. Katakan, di mana Hana? Bukankah kalian seharusnya membawa Hana ke gudang bawah tanah? Ke mana kalian membawa Hana?" cecar Alan menatap tajam keduanya.
Tatapan matanya begitu menusuk seolah-olah hendak menguliti mereka hidup-hidup.
"Tu-tuan, sungguh kami tidak tahu. Saat itu kami memang membawa nona Hana keluar, tapi saat di luar tiba-tiba kami diserang dan tak sadarkan diri. Kami benar-benar tidak tahu ke mana nona Hana pergi," ucap mereka terbata-bata.
Alan terdiam, memindai ekspresi wajah mereka yang ketakutan. Seseorang datang mengalihkan perhatian. Orang yang bertanggung jawab sebagai informan untuk Alan.
"Tuan, ini rekaman cctv gedung pesta yang Anda inginkan," katanya seraya menyerahkan sebuah tab kepada Alan.
"Sesuai cctv itu, nona Hana yang membuat mereka pingsan dan menyeret keduanya ke belakang gedung. Lalu, pergi begitu saja meninggalkan gedung pesta. Sejauh lima kilometer masih terpantau, tapi setelah itu tidak lagi ditemukan," lanjut orang tersebut memaparkan temuannya.
Alan melihat rekaman itu, di mana kedua satpam tersebut membawa Hana keluar. Lalu, dengan gerakan yang sangat cepat Hana membuat keduanya tak sadarkan diri. Ia juga menyeret mereka ke belakang gedung pesta. Alan tersenyum, tapi hatinya bimbang.
Ucapan pelayan di rumah, dan rekaman cctv sangat tidak sinkron. Hana seperti memiliki kepribadian ganda yang bisa berubah-ubah.
Siapa yang benar dan siapa yang harus aku percayai di sini? Ucapan pelayan itu atau rekaman ini?
"Tuan Muda!" tegur Jonas melihat Alan yang terdiam dengan mata terpaku pada layar tab.
"Jonas, cari tahu ke mana Hana pergi sebelum pesta pertunangan. Aku ingin sesuatu yang jelas!" titah Alan seraya menjatuhkan tubuh pada sandaran kursi.
"Baik, Tuan!" Jonas pergi membawa beberapa orang bersamanya, mencari tahu tentang kepergian Hana.
"Tuan Muda, bagaimana dengan kedua orang ini?" tanya sang informan kepada Alan.
Mata Alan menatapnya dengan tajam, meminta informasi tentang mereka berdua.
"Mereka memiliki keluarga yang hidup pas-pasan. Hidup mengandalkan dari gaji mereka sebagai satpam. Yang satu memiliki satu orang anak, dan satunya memiliki dua orang putri. Bagaimana kita akan menghukum?" papar informan itu dengan detail.
Keduanya mendongak dengan wajah yang cemas, berharap ada pengampunan apapun yang harus mereka lakukan.
"Bagaimana seharusnya aku menghukum kalian?" tanya Alan pada keduanya.
Mereka gelisah, saling menatap satu sama lain. Sebenarnya kesalahan mereka hanyalah menurut kepada Tuan Haysa membawa Hana keluar dari gedung.
"Tuan, apapun yang Anda perintahkan kami akan lakukan. Kami hanya berharap Anda membiarkan keluarga kami. Bahkan, jika kami harus mati biarkan mereka hidup, Tuan!" ucap salah satunya dengan kepala tertunduk.
Alan tidak sekejam itu, tak akan ia membunuh mereka. Apalagi setelah mengetahui kondisi rumah tangga keduanya.
"Kalian harus menjadi mata-mata untukku. Mengawasi Shopia dan Evan, berikan informasi apapun tentang mereka kepadaku. Mulai saat ini, kalian akan bekerja untukku, bukan untuk laki-laki tua itu!" ucap Alan dengan tegas.
Keduanya mendongak dengan mata berbinar.
"Baik, Tuan! Terima kasih, Tuan! Terima kasih! Kami tidak akan mengecewakan Anda, Tuan!" ucap mereka berdua bersungguh-sungguh.
"Pergilah!"
"Baik, Tuan!"
Keduanya bangkit dan pergi begitu saja.
"Tuan, bagaimana dengan villa di perkebunan teh? Apakah ada kemungkinan nona Hana pergi ke sana?" ucap Hans, informan yang dimiliki Alan.
Alan tertegun, mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Kau benar. Kita pergi!" katanya seraya bangkit dari kursi kebesarannya dan pergi bersama Hans menuju villa di perkebunan teh.
Hana, tunggulah! Kakak akan meminta maaf kepadamu. Mulai saat ini aku tidak akan membiarkan siapapun menindasmu!
hai jalang gk tau diri lo