apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terlupakan
senja mulai merayap di kaki langit, membiaskan warna jingga yang getir di atas permukaan kaca-kaca gedung tinggi.
Cavin Vior (Yuan Ru) menghentikan mobilnya di keheningan ruang parkiran yang dingin.
Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah keluar, menutup pintu mobil dengan dentum keras yang bergema, lalu menguncinya dari luar membiarkan Thalia terperangkap dalam mobil , entah sadar atau tidak kaca mobil bagian belakang sedikit terbuka.
"Om... Om... Thalia tidak bisa buka pintunya. Om, tolong..." Suara thalia merambat dari balik kaca jendela yang gelap, jemari mungil Thalia mengetuk-ngetuk kaca dengan sisa tenaga yang ada.
Namun, Cavin tetap pada keputusannya. Ia menuli kan pendengaran nya memunggungi bayang-bayang istrinya tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Di matanya, air mata dan ketakutan itu hanyalah sebentuk tipu muslihat yang dirancang dengan apik.
"Heh, sampai mana kau mampu bersandiwara dalam peran bodoh ini? Dasar wanita bermata duitan... wajah matre mu itu terbaca dengan jelas," gumam Cavin dengan nada sarkasme yang tajam,
kakinya melangkah mantap menuju lift yang akan membawanya ke lantai Apartemen empat lantai yang megah itu wilayah kekuasaannya.
Sunyi dan eksklusif. Setibanya di kamar, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang luas, membiarkan sepatu dan jasnya yang masih melekat
"Dasar wanita ular," desisnya rendah sebelum akhirnya sang malam menjemputnya masuk ke dalam alam bawah sadar
Waktu merambat pelan hingga sang surya mulai tenggelam sepenuhnya. Cavin terjaga saat perutnya mulai berbunyi, lapar yang tak tertahankan.
Ia melirik jam dinding yang terpaku bisu Dengan malas, ia membasuh diri di bawah kucuran air yang dingin, mencoba menghapus sisa-sisa kantuk yang menggelayut di pelupuk mata.
Hunian itu hampa dari aroma masakan. Tak ada persediaan bahan pangan di dapur mewahnya yang dingin, hanya telur dan mie instan dan beras .
Setelah rapi, ia mendapati dirinya terlalu enggan untuk membelah kemacetan kota. Sebuah aplikasi dalam genggamannya menjadi solusi, memesan hidangan restoran ia juga menghubungi ke amanan jika ada kurir pengantaran makanan untuk diarahkan ke atas
Beberapa saat kemudian, suara bel di tekan nyaring, memecah kesunyian ruangan. Cavin beranjak dari sofa, membuka pintu belakang untuk menyambut sang pengantar yang telah di arahkan oleh sekuriti
"Dengan Tuan Cavin " tanya kurir itu sembari menyodorkan kantong kertas yang menebarkan aroma masakan yang khas
"Iya. Berapa?" tanya Cavin singkat, matanya menatap datar pada bungkusan itu.
"Semuanya delapan puluh lima ribu, Tuan."
Cavin menghela napas, masuk kembali ke dalam mencari dompetnya. Ia membongkar laci kayu di sisi tempat tidur, merogoh saku celana yang tersampir di kamar mandi, namun benda kulit itu seolah raib. "Apa tertinggal di mobil?" pikirnya gusar. Beruntung, di saku jas yang ia pakai tadi pagi, terselip dua lembar uang kertas yang menyelamatkannya dari rasa malu.
"Beruntung masih ada sisa receh," ujarnya pelan sembari menyerahkan uang tersebut. Saat kurir menanyakan uang pas, Cavin hanya mengibaskan tangan, membiarkan sisa kembalian itu menjadi tip bagi sang pengantar.
Pintu tertutup rapat. Di meja makan yang sunyi, ia menyantap hidangannya langsung dari wadah yang di sediakan oleh restoran itu. Jus jeruk, air mineral, hingga puding manis tersaji di hadapannya.
Namun, di tengah setiap kunyahan, sebuah perasaan janggal mulai menggerogoti pikiran nya. Ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang terlupakan dalam benaknya.
" ada yang kurang, tapi apa ya " batin nya Namun, rasa lapar lebih mendominasi, hingga ia kembali tenggelam dalam pertandingan sepak bola di layar televisi kabel.
Drtt... Drtt... Drtt...
Sebuah getaran dari ponselnya memecah konsentrasi.
"Halo, ada apa?" sahutnya dingin.
"Bro, di mana? Kenapa tidak ke klub? Anak-anak mengajak kumpul," suara berisik dari seberang sana terdengar riuh.
"Tidak. Aku sedang malas. Besok aku banyak pekerjaan."
"Kau tidak asyik sejak menikah. Ayo, kami jemput sekarang!"
"Kubilang tidak, ya tidak," tukas Cavin keras.
"Jika kalian mau berkumpul maka datanglah ke sini. Tapi jangan lupa bawa minuman."
Minuman yang ia maksud bukanlah penawar dahaga biasa, melainkan cairan-cairan alkohol yang sanggup menidurkan nurani.
Ia menutup telepon itu tanpa menunggu balasan, kembali menatap layar televisi, sementara jauh di bawah sana, di kegelapan parkir yang dingin, ada jiwa yang masih terperangkap dalam ketakutan yang tak kunjung usai.