NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luapan patah hati Jeny

"Jeny, aku ga nyangka ketemu kamu disini."

"Kak Kairi, kok bisa ketemu disini ya, kakak kenal sama pengantinnya?."

"Mempelai wanitanya adalah sepupuku Jen."

"Ooo... ok baiklah, sampai nanti kak."

"Jen kamu mau antri makanan kan, aku ikut kamu aja, aku mau ngobrol sama kamu."

Sebenarnya aku merasa risih mengobrol dengannya tapi aku tidak bisa menolaknya mentah-mentah disini.

"Kamu kenal pengantinnya juga Jen?."

"Ga juga, kak Erick yang kenal, aku datang sama kak Erick."

"Kamu cantik Jen."

"Makasih", ucapku menanggapinya dengan malas.

"Jen aku lolos tes untuk perekrutan kerja di kampus kemarin."

"Selamat kak."

"Apa kamu mau pergi bareng aku buat ngerayainnya, gimana kalau nonton Jen, kamu mau? Atau kita makan aja?."

"Aku tebak kita cuma pergi berdua, iya kan?."

"Ya..." ucapnya ragu, mungkin ia bingung dengan tampang kesalku saat ini.

Aku keluar dari antrian makan dan pergi keluar meninggalkan ballroom, aku tau kak Kairi pasti mengikuti. Aku tidak bisa dipermainkan terus menerus seperti ini, aku harus memutuskan ketidakjelasan yang mengganggu ini.

Saat aku menemukan tempat yang agak sepi aku menghentikan langkahku.

"Jen aku salah apa?", tanyanya bingung.

"Salah apa kak? Aku cape dipermainkan sama kakak, dengan sikap ga jelas kakak."

"Aku ga pernah mempermainkanmu Jen, sungguh Jen."

"Kakak tau aku suka kakak, butuh keberanian besar aku ngomong begitu sama kakak, mungkin kakak terbiasa mendengar seseorang menyukai kakak, tapi kakak adalah orang pertama yang aku nyatakan perasaanku. Apa kakak pernah menjawab secara jelas soal pernyataanku? Apa kakak pernah mengirimkan pesan padaku? Ga pernah kan. Tapi sikap kakak seolah-olah kakak menyukaiku. Mungkin cuma aku yang berlebihan disini karena terbawa perasaan. Jadi sekarang aku minta, jauhi aku, jangan dekati aku lagi, jangan pernah mengobrol hanya berdua seperti ini lagi, atau mengajakku ke suatu tempat, anggap kita hanya kenal nama."

Ucapku terengah engah karena antara gugup, kesal dan ingin menumpahkan semua yang aku rasakan selama ini.

"Aku juga menyukaimu Jen, sungguh."

"Sungguh kak? Sekarang kakak bilang begitu, setelah aku mengkonfrontasi kakak seperti ini?", ucapku kesal.

"Jen aku...", ia berusaha memegang lenganku, tapi aku melangkah mundur menghindarinya.

"Aku menyukaimu, selalu menyukaimu, cuma aku selalu merasa rendah diri berhadapan denganmu, aku cuma anak sederhana yang mengandalkan beasiswa untuk kuliah, kamu juga tau waktuku hanya untuk kampus dan kerja part time. Aku pernah iseng mengetik namamu di google hanya karena memikirkanmu, namun malah berujung tau bahwa nama belakang keluargamu adalah salah satu pemilik perusahaan."

"Apa kamu ingat Jen, aku pernah bilang setelah aku berhasil diterima di perusahaan aku akan bersamamu. Jadi aku mengatakan ini karena aku merasa sudah lebih percaya diri untuk meraih tanganmu Jen."

"Kakak sungguh egois ya, apa yang kakak katakan terdengar indah tapi egois juga. Bagaimana kalau kakak tidak berhasil dengan impian kakak, aku harus menunggu berapa lama lagi sampai mendapat pengakuan dari kakak. Tunggu... aku salah bicara, seharusnya aku ga menunggu kakak. Apa kakak pernah mikirin ini dari sisi aku? Sudah jelas aku suka sama kakak, aku ga mikirin status ekonomi keluarga kakak, kalau dibilang aku juga yatim piatu, siapa yang bisa menghakimi kakak kalau kakak memang niat sama aku, tapi sikap kakak yang bimbang ini membuat aku berasa jadi layangan, aku butuh kepastian bukan main tarik ulur. Alasan kakak tadi... kakak ini cowok kan ga bisa lebih jantan apa? aku kan ga minta dinikahin, aku juga tau soal perjuangan kakak, itu salah satu alasan kenapa aku memberanikan diri menyatakan duluan, tapi apa harus selalu aku yang datang ke arah kakak, mengejar dan menunggu kakak. Pernahkah kakak mengirimkan pesan padaku, coba cek kapan kakak terakhir WA aku. Wajar kan aku berasa jadi layangan, aku bukan barang kak, aku punya perasaan. Kalau kakak tidak cukup jantan dengan perasaan kakak, mungkin perasaan kakak tidak sekuat yang kakak pikir. Aku butuh diperjuangkan bukan digantungkan sama keadaan yang ga jelas."

"Jeny... aku sungguh menyukaimu, aku..."

"Udah cukup kak, aku ga mau denger alasan kakak lagi."

Ya sudah cukup untuk hari ini, aku benar benar sudah mengeluarkan semua kartuku, kini saatnya permainan dihentikan. Aku ingin pulang, berbaring di tempat tidurku dan melupakan semua ini.

"Jen..."

Jangan ikuti aku kak, aku lagi ga mau lihat muka kakak saat ini, jangan buat aku tambah kecewa dengan sikap kakak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!