Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Tipis Yg Kembali
Setelah merasa belanjaannya sudah lengkap. Rombongan melanjutkan perjalanan menuju parkiran.
Langkah kaki rombongan itu terhenti di sebuah toko swalayan besar di pinggir pasar yang dipenuhi jajaran kulkas pendingin.
Bram, dengan sikap protektifnya, langsung menuju rak minuman.
"Ra, aku ambilkan susu ultra coklat yang besar ya? Biar kamu lebih bertenaga dan cepat pulih,"
ujar Bram sambil tangannya sudah menyentuh pintu kulkas, siap menarik kotak susu berwarna coklat tersebut.
"Jangan yang itu, Bram," potong Adrian tiba-tiba. Suaranya tidak tinggi, namun mengandung keyakinan yang sangat kuat.
Bram menghentikan gerakannya dan menoleh dengan kening berkerut.
"Kenapa?"
"Aurora tidak suka susu coklat. Terlalu manis dan bikin dia enek," ujar Adrian tenang, matanya menatap tajam ke arah deretan susu.
"Dia hanya minum susu UHT full cream biru yang plain. Tanpa rasa, tanpa gula tambahan."
Suasana mendadak hening. Bram tampak sedikit kaget karena detail sekecil itu luput dari pengamatannya.
Ia langsung menatap Aurora seolah meminta konfirmasi apakah rivalnya ini sedang membual atau bicara fakta.
Aurora terdiam sejenak. Ia menatap Adrian, lalu beralih ke Bram.
Sebuah senyum yang sangat manis—senyum yang tulus namun terasa getir bagi yang mendengarnya—terukir di wajahnya.
"Adrian benar, Bram. Aku memang lebih suka yang plain biru," jawab Aurora singkat.
Jawaban itu seolah menjadi kemenangan kecil bagi Adrian di tengah rentetan kekalahannya sejak dari Deli. Ia merasa setidaknya masih ada satu bagian dari diri Aurora yang hanya ia yang tahu secara mendalam.
Namun, bagi Sherly, validasi itu adalah bensin yang disiramkan ke api amarahnya.
Dadanya terasa sesak dan meledak-ledak. Ia muak melihat bagaimana Adrian masih mengingat detail sekecil itu tentang Aurora, dan ia lebih muak lagi melihat Aurora yang seolah "menikmati" perhatian dari tiga pria sekaligus.
"Sialan! Jadi dia bangga karena masih tahu selera Aurora? Dan Aurora... dasar perempuan haus perhatian! Dia sengaja membuat semua pria ini merasa memilikinya!" umpat Sherly dalam hati.
Wajahnya yang sudah kusam karena air amis kini ditambah dengan gurat kebencian yang sulit disembunyikan.
Berbeda total dengan Sherly, Firan justru menunjukkan sikap yang membuat Adrian merasa semakin kecil. Firan tidak terlihat terganggu atau tersaingi.
Ia justru mengangguk pelan, seolah mencatat informasi itu di dalam kepalanya.
"Terima kasih informasinya, Adrian," ucap Firan dengan suara yang sangat tenang dan tulus.
"Aku baru tahu Aurora se-disiplin itu soal rasa susu. Lain kali, aku tidak akan salah pilih."
Ketenangan Firan ini menunjukkan bahwa ia tidak merasa terancam oleh masa lalu Adrian.
Bagi Firan, mengetahui selera Aurora adalah sebuah proses, dan ia menghargai setiap informasi yang bisa membuatnya lebih mengenal wanita itu.
Ia tidak butuh validasi instan, karena ia tahu ia memiliki masa depan Aurora.
Bram akhirnya mengambil susu full cream biru dan membayarnya.
Mereka pun melanjutkan langkah menuju parkiran dengan tensi yang semakin aneh; Adrian yang sedikit tegak, Sherly yang mendidih, dan Aurora yang tetap menjadi pusat gravitasi di antara mereka semua.
...
Dapur besar di kediaman Aurora yang berdesain modern minimalis itu berubah menjadi panggung drama yang sunyi namun penuh emosi.
Bram telah berpamitan, menyisakan Firan yang dengan sigap menggulung kemejanya untuk membantu, serta Adrian dan Sherly yang terjebak dalam kecanggungan masing-masing.
Para asisten rumah tangga bergerak lincah membersihkan seafood dan sayuran sesuai arahan Aurora.
Aroma segar jeruk nipis yang diperas untuk menghilangkan amis ikan mulai memenuhi ruangan.
Menu yang Menghidupkan Kenangan
Firan, yang berdiri di samping Aurora sambil mengupas jagung, bertanya dengan nada lembut,
"Jadi, koki kita mau masak apa hari ini?"
Aurora tersenyum kecil, tangannya lihai memilah bumbu.
"Ikan kembung goreng krispi dengan sambal matah, nila asam pedas khas Pontianak, dan sayur bening bayam campur jagung sama labu siam. Segar untuk cuaca Medan yang lagi panas begini."
Mendengar kata "Ikan kembung goreng krispi sambal matah", jantung Adrian seakan berhenti berdetak sesaat.
Ingatannya langsung melesat ke masa-masa kuliah di mana mereka sering memasak bersama di kontrakan sederhana.
Itu adalah menu andalan Aurora yang paling Adrian sukai; menu yang selalu bisa meredam amarahnya seberat apa pun masalah yang mereka hadapi dulu.
"Dia memasaknya hari ini... Apa dia sengaja? Apa dia diam-diam masih mengingatku sebagai pria yang dia cintai?" batin Adrian dengan secercah harapan yang membuncah. Ia merasa seolah-olah menu itu adalah pesan rahasia dari Aurora untuknya.
Adrian memberanikan diri mendekat, mencoba mencairkan suasana.
"Ra, kalau daging sapi yang aku beli tadi, kapan rencana mau diolah?" tanya Adrian dengan nada seramah mungkin.
Aurora menoleh sebentar, tatapannya tetap tenang tanpa ada kebencian yang meledak.
"Sebagian akan aku buat camilan saja, Dri. Samosa dan rollade. Bisa untuk teman minum teh orang tua kita sore nanti."
Jawaban itu, meski sederhana, membuat Adrian merasa sangat dihargai. Ia merasa dilibatkan dalam rencana jamuan untuk orang tua mereka.
Ketegangan di antara mereka bertiga—Aurora, Firan, dan Adrian—terasa mencair menjadi sebuah harmoni yang dewasa di dapur itu.
Namun, bagi Sherly, suasana hangat ini adalah siksaan yang lebih pedih daripada disiram air amis di pasar tadi. Ia berdiri kaku di sudut meja dapur, memegang sebuah pisau kecil tapi bingung harus memulai dari mana.
Dia sama sekali tidak tahu cara membedakan lengkuas dan jahe, apalagi mengolah nila asam pedas yang rumit.
Melihat Adrian yang tampak "bahagia" dan asyik berbincang kecil dengan Aurora tentang resep, membuat kecemburuan Sherly meronta-ronta di balik dadanya.
Ia ingin sekali berteriak, membanting piring, atau menarik Adrian pergi dari sana.
Tapi ia terikat oleh topeng "wanita sholehah" yang sudah ia bangun.
Di depan para asisten rumah tangga dan terutama di depan Firan yang terus mengawasinya dengan tatapan tenang namun menyelidik, Sherly terpaksa harus tetap diam dan tersenyum kecut, pura-pura sibuk memetik daun bayam dengan tangan yang gemetar karena emosi.
Suasana dapur yang tadinya terasa mulai mencair mendadak kembali membeku dalam satu gerakan yang tidak disengaja.
Di tengah kesibukan menyiapkan bumbu sambal matah, tangan Adrian terjulur untuk mengambil ulekan kayu, namun pada saat yang bersamaan, Aurora juga menjangkau benda yang sama.
Kulit mereka bersentuhan.
Hanya sepersekian detik, namun bagi Adrian, sentuhan itu seperti sengatan listrik yang menghidupkan kembali ribuan kenangan.
Ia tertegun, matanya menatap jemari Aurora yang kini tidak lagi mengenakan cincin darinya.
Adrian tidak segera menarik tangannya, ia seolah terpaku pada momen "deja vu" yang sangat ia rindukan.
Firan, yang sedari tadi tenang mengupas jagung, ternyata tidak melewatkan detail sekecil itu. Ia meletakkan pisaunya dengan bunyi klotak yang cukup keras di atas talenan kayu, memecah keheningan.
Firan melangkah mendekat, tubuhnya yang tegap berdiri di antara Adrian dan Aurora.
Tanpa emosi yang meluap, ia mengambil ulekan tersebut dari bawah tangan mereka berdua, lalu memberikannya kepada Aurora dengan gerakan yang sangat protektif namun sopan.
"Ini, Ra. Hati-hati, ulekannya sedikit licin," ucap Firan. Suaranya rendah, namun ada nada otoritas yang sangat dingin di sana.
Firan kemudian menoleh sedikit ke arah Adrian.
Matanya yang biasanya teduh kini menatap Adrian dengan sorot yang seolah berkata: "Jangan melampaui batasmu."
Tidak ada makian, tidak ada dorongan fisik, namun aura kedinginan yang dipancarkan Firan membuat Adrian tersentak dan segera menarik tangannya dengan perasaan malu yang luar biasa.
Sherly, yang sejak tadi hanya menjadi penonton di sudut dapur, melihat kejadian itu dengan mata yang berkilat.
Awalnya ia marah melihat Adrian menyentuh Aurora, namun melihat bagaimana Firan "menertibkan" Adrian dengan satu tatapan dingin, Sherly merasa mendapat angin segar.
"Aduh, Adrian... kamu ini kalau mau bantu ya lihat-lihat dong, jangan sampai menyentuh yang bukan haknya. Nanti malah jadi fitnah, kan?" celetuk Sherly dengan nada bicara yang sengaja dibuat terdengar seperti nasihat agama, padahal hatinya sedang bersorak melihat Adrian dipermalukan oleh Firan.
Aurora sendiri tidak menunjukkan kepanikan. Ia hanya menarik napas panjang, mengambil ulekan dari tangan Firan, dan kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Terima kasih, Firan," ujar Aurora tanpa menoleh pada Adrian.
"Dri, kalau kamu mau membantu, tolong bantu asisten di sebelah sana untuk mengiris bawang saja. Biar area kompor ini aku dan Firan yang urus."
Pengusiran halus itu menjadi titik balik suasana hangat tadi.
Adrian sadar, meskipun Aurora memasak menu favoritnya, bukan berarti gerbang hatinya terbuka kembali.
Menu itu mungkin hanya bentuk penghormatan terakhir Aurora pada masa lalu, sementara masa depannya sudah dijaga ketat oleh pria setenang Firan.
Suasana dapur yang luas itu seakan terbagi menjadi dua dunia yang berbeda. Di satu sisi, Adrian berdiri mematung dengan pisau di tangan, namun pikirannya melayang jauh ke masa beberapa tahun silam.
Setiap bunyi ulekan yang beradu dengan cobek kayu dan aroma bawang merah yang ditumis seolah menjadi mesin waktu bagi Adrian.
Ia teringat akhir pekan di kontrakan kecil mereka dulu. Aurora yang selalu mengikat rambutnya asal-asalan, memakai apron lusuh, namun wajahnya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa saat mereka bereksperimen dengan resep baru.
Adrian ingat betul bagaimana ia selalu menjadi bagian "tenaga kasar"—mengulek bumbu sampai halus—sementara Aurora yang meracik rasanya.
Dulu, dapur adalah tempat kita paling bahagia, Ra, batin Adrian perih.
Ada senyum tipis di bibirnya mengingat keceriaan itu, namun di detik berikutnya, hatinya terasa seperti diremas saat menyadari bahwa kini ia hanyalah "tamu" yang sedang mengamati calon masa depan Aurora.
Tanpa disangka, Aurora yang sedang membelakangi semua orang sambil menghadap kompor, juga terseret dalam arus kenangan yang sama.
Aroma ikan kembung goreng yang mulai matang dan sambal matah yang segar seolah memanggil kembali bayangan masa lalunya bersama Adrian.
Bayangan tentang Adrian yang dulu begitu tulus membantunya, Adrian yang akan memeluknya dari belakang hanya untuk mencicipi rasa masakannya, seketika menghantam batinnya.
Perjuangan Aurora untuk membenci Adrian sejenak kalah oleh memori indah yang pernah mereka bangun.
Tanpa aba-aba, air mata Aurora menetes, jatuh membasahi pipinya dan jatuh ke atas talenan.
Bahunya bergetar sangat halus—sebuah tangis tanpa suara yang lahir dari luka yang belum kering sepenuhnya.
Firan, yang memiliki kepekaan luar biasa, langsung menyadari perubahan gestur tubuh Aurora. Ia tidak perlu bertanya. Ia tahu apa yang sedang dirasakan wanita itu.
Dengan gerakan yang sangat natural dan penuh perhitungan, Firan segera bergeser. Ia memosisikan tubuhnya yang tinggi dan tegap tepat di depan Aurora, menutupi pandangan Adrian dan Sherly dari arah belakang.
Ia seolah memasang barikade hidup agar kerapuhan Aurora tidak menjadi tontonan, terutama bagi Adrian yang mungkin akan menganggap tangisan itu sebagai harapan.
Firan mengambil selembar tisu dapur, lalu tanpa suara, ia mengulurkan tangannya di bawah wajah Aurora untuk menghapus air mata itu sebelum sempat menyentuh dagu.
"Biar aku yang lanjutkan mengaduk ini, Ra. Kamu siapkan piring saji saja," bisik Firan dengan suara yang sangat tenang dan menenangkan, seolah sedang memberikan pelukan lewat kata-kata.
Tatapan Firan saat itu sangat dalam—ada empati yang tulus namun juga ada ketegasan untuk tetap menjaga Aurora tetap tegak.
Aurora mendongak sebentar, menatap mata Firan yang begitu teduh, lalu mengangguk kecil sambil mencoba menenangkan napasnya.
Adrian tidak bisa melihat wajah Aurora, namun ia menyadari ada sesuatu yang terjadi di balik punggung lebar Firan.
Sedangkan Sherly, yang sedari tadi matanya seperti elang mencari kesalahan, menyipitkan mata.
Ia curiga ada sesuatu yang disembunyikan oleh Firan, namun ia tak berani mendekat karena aura "jangan ganggu" yang dipancarkan Firan begitu kuat.
Setelah Aurora menyelesaikan penataan di piring saji, ia menoleh ke arah Adrian dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Dri, cobalah. Ikan kembung goreng dan sambal matahnya sudah siap." ucap Aurora dengan nada suara yang tenang, seolah-olah semua badai yang terjadi sebelumnya menguap sejenak demi diplomasi di dapur.
Mendengar ajakan itu, Adrian merasa seperti mendapat lucky draw di siang bolong. Harapan yang tadinya redup mendadak berkobar lagi.
Tanpa membuang waktu, ia langsung bergerak menghampiri Aurora.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena antusias, ia mengambil sepotong kecil ikan kembung yang sangat krispi dan mencocolnya ke dalam sambal matah yang segar.
Satu gigitan masuk ke mulutnya.
Seketika, Adrian memejamkan mata dalam-dalam. Rasa gurih ikan yang digoreng dengan sempurna, berpadu dengan pedas dan segarnya irisan bawang merah serta serai, meledak di lidahnya.
Rasanya persis—benar-benar sama dengan rasa yang selalu ia rindukan selama ini.
"Ini... ini luar biasa, Ra," bisik Adrian dengan suara serak, seolah jiwanya baru saja kembali ke "rumah" setelah sekian lama tersesat dalam kegelapan.
"Rasanya masih sama persis seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Masakanmu selalu punya cara untuk membuatku merasa tenang."
Di sudut lain, Firan yang sedang merapikan peralatan dapur mendadak menghentikan gerakannya.
Kalimat Adrian yang menyebutkan bahwa rasa itu "masih sama persis seperti dulu" benar-benar membangkitkan api cemburu di dadanya.
Firan adalah pria yang cerdas. Ia tahu betul bahwa rasa yang tidak berubah itu adalah simbol dari cinta Aurora yang pernah begitu dalam dan luas untuk Adrian.
Firan menyadari bahwa meskipun ia adalah masa depan, Adrian memegang fragmen masa lalu yang sangat kuat di hati Aurora—sebuah fragmen yang bahkan Firan pun tidak bisa duplikasi dengan materi atau kebaikan apa pun.
Ada rasa sesak yang menghantam dada Firan melihat binar di mata Adrian, namun ia menolak untuk terlihat kalah.
Ia menarik napas panjang, menelan pahitnya kenyataan itu, dan tetap menjaga elegansinya.
Firan menoleh ke arah Sherly yang sedari tadi hanya berdiri mematung dengan wajah masam.
"Sherly, tolong bantu angkat rolade yang sudah selesai dikukus itu ke meja depan. Sepertinya para orang tua sudah menunggu camilannya," ujar Firan dengan suara yang tegas namun tetap sopan.
Secara halus, Firan sedang memecah kerumunan di dekat Aurora agar suasana tidak semakin emosional.
Ia sengaja memberi perintah pada Sherly untuk menegaskan bahwa di dapur ini, ada batasan yang harus dijaga.
Sherly mendengus pelan, namun ia tidak punya pilihan selain menuruti kata-kata Firan.
Ia mengangkat loyang rolade dengan kasar, sementara matanya terus melirik tajam ke arah Adrian yang masih asyik menikmati masakan Aurora.
Bagi Sherly, setiap pujian Adrian untuk masakan Aurora adalah tamparan bagi dirinya yang bahkan tidak tahu cara memegang pisau dengan benar.
Di dapur itu, ia merasa benar-benar menjadi orang asing, sementara Adrian, Aurora, dan Firan terjebak dalam cinta segitiga yang rumit dan menyakitkan.
Suasana di dapur perlahan kembali seimbang.
Para asisten rumah tangga segera mengambil alih tugas dari tangan Sherly yang nampak kikuk, dengan lihai mereka memotong rolade daging sapi tersebut menjadi irisan yang sangat presisi dan cantik, menatanya di atas piring porselen putih untuk disajikan.
Aurora, yang seolah memiliki radar emosional yang tajam, menyadari bahwa ketenangan Firan sempat goyah saat melihat interaksinya dengan Adrian tadi. Ia tidak ingin pria yang selalu menjaganya itu merasa dikesampingkan.
Aurora mengambil sebuah samosa yang baru saja ditiriskan—masih hangat dan berwarna cokelat keemasan yang sempurna. Ia berbalik ke arah Firan dengan binar mata yang kembali cerah.
"Firan, ini samosa isi daging kari favoritmu. Coba rasakan, apakah tekstur kulitnya sudah sesuai ekspektasimu?" ucap Aurora sambil mengulurkan tangannya, menyuapkan camilan itu langsung kepada Firan.
Tindakan Aurora ini adalah sebuah pernyataan. Ia seolah sedang menyembuhkan luka di hati Firan secara instan.
Firan yang tadi sempat merasakan perih di dada, seketika luluh. Ia menerima suapan itu dengan senyum lebar yang tulus, seolah amarahnya tersapu bersih oleh perhatian sederhana namun bermakna dari Aurora.
"Terima kasih, Ra. Sempurna... seperti biasanya," jawab Firan dengan nada suara yang kembali mantap, matanya menatap Aurora dengan penuh rasa syukur.
Aurora tidak ingin dicap sebagai tuan rumah yang memihak. Ia kemudian menoleh ke arah Adrian dan Sherly yang masih berdiri di sana.
"Dri, Sherly... silakan dicicipi samosa dan roladenya sebelum dibawa ke depan. Jangan sungkan," ajak Aurora dengan nada yang sopan, memberikan batas yang jelas antara perhatian pribadinya kepada Firan dan keramahtamahannya kepada tamu.
Adrian mengambil sepotong dengan perasaan yang campur aduk; ada rasa cemburu melihat kemesraan Aurora dan Firan, namun rasa masakannya tetap memberikan kenyamanan.
Sementara itu, Sherly dengan ragu mengambil sepotong rolade.
Begitu indra perasanya mengecap rasa daging sapi yang lembut dengan bumbu yang meresap sempurna, Sherly terdiam.
Di balik segala kebencian dan rencana liciknya, lidahnya tidak bisa berbohong.
"Sialan, ini benar-benar enak," batinnya kesal. Ia terpaksa mengakui bahwa dalam hal melayani keluarga dan penguasaan dapur, Aurora berada di level yang tidak akan pernah bisa ia capai hanya dengan modal "drama" dan sandiwara.
Dapur kini dipenuhi dengan hidangan yang menggugah selera.
Perpaduan antara masakan tradisional favorit masa lalu Adrian dan camilan premium favorit Firan menciptakan meja makan yang penuh cerita.
"Ayo, semuanya kita bawa ke meja depan. Orang tua kita pasti sudah sangat lapar," ajak Aurora, memimpin rombongan keluar dari dapur.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...