Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Latihan Basket
Bel pulang telah berbunyi. Semua murid berhamburan untuk keluar. Vanya dan kedua sahabatnya masih setia menunggu di kelas karena sudah pasti parkiran masih macet.
"Sayangggggg" panggil Tian saat memasuki kelas Lea. Dengan setia, Radit dan Vano mengikuti di belakangnya.
"Eh, sayang. Kamu hari ini ada latihan basket kan?" tanya Lea.
Tian mendekat ke arah meja Lea, "Iya nih. Kamu ngga papa kan nunggu sebentar? Palingan sampe jam 5 aja kok"
"Yaudah ngga papa. 2 jam doang mah kecil" balas Lea santai.
"Lo berdua temenin gw dong nungguin Rizal" pinta Lea.
Rain dan Vanya sudah bersiap untuk pulang. Hari ini mereka berdua free. Sedangkan jadwal latian Rain adalah besok sabtu. Ada beberapa anggota yang berhalangan hadir hari ini, sehingga jadwal latihan di ganti besok.
"Males anjay" jawab Rain cepat.
"Nggak setia kawan banget lo ah" ucap Lea dengan wajah cemberut.
"Lo yang punya pacar kenapa jadi gw yang ikut nungguin juga" balas Rain lagi.
"Tungguin ajalah Rain, lagian tadi kita belum jadi ngobrol kan perihal masalah lo" ucap Vanya.
"Yaudah iya" pasrah Rain. Ia paling tidak bisa menolak Vanya.
"Yessssss.... Thanks girls" sorak Lea.
Mereka berenam pun berjalan beriringan menuju ke lapangan outdoor, tempat yang biasa di gunakan untuk latihan basket. Karena lapangan indoor biasanya di gunakan oleh tim futsal sekolah.
"Van" panggil Vano pelan. Vanya yang berjalan di samping kiri Vano tak merespon sama sekali panggilan itu.
"Vanya" panggil seseorang di belakang mereka.
"Kamu mau nungguin aku latihan Van?" orang yang memanggil Vanya itu ternyata adalah Raza. Saat Raza memanggil Vanya, mereka berenam kompak menghentikan langkah.
"GR banget lo jadi cowok. Kalo gw malu tuh" sindir Vano.
"Gw mau nemenin Lea yang nungguin ayangnya" jawab Vanya tanpa memperdulikan sindiran Vano.
"Oh yaudah. Kalo gitu sekalian aja nungguin aku latian. Nanti pulang nya aku anter ya Van?" pinta Raza.
"Liat nanti aja" balas Vanya cuek.
"Ayo Za, bareng aja" ajak Lea.
"Ih sayang kamu kok baik banget sih sama dia. Aku cemburu tau" ucap Tian.
Mereka kini berjalan kembali dengan tambahan Raza yang langsung menyelusup diantara Vanya dan Vano sebelum nya agar bisa bersisian dengan gadis itu.
"Apasih lo, gw duluan ya yang di samping Vanya!" sentak Vano tak terima sambil tetap melanjutkan langkahnya.
"Brisik anjing!" umpat Vanya.
Hal itu langsung membuat yang lain nya tak berani bersuara hingga mereka sampai ke lapangan.
"Aku latian dulu ya sayang" pamit Tian sambil memberikan ciuman jauh.
"Van, semangatin gw dong" pinta Vano tanpa tahu malu.
"Mending aku aja Van" sambar Raza tak ingin kalah.
"Males. Udah sana lo berdua ke lapangan!" usir Vanya dengan nada galak.
Mereka berdua pun langsung kompak berlari ke lapangan.
"Ada ada aja Van, para fans lo" ucap Rain sambil geleng-geleng kepala.
"Biarin aja" balas Vanya cuek.
Vanya, Lea dan Rain duduk di kursi penonton paling bawah.
Para anggota tim basket kembali bertanding. Disana ada Surya, namun kali ini ia hanya berani menatap Vanya saja beberapa kali tanpa berniat menggoda seperti biasanya.
"Kadal gurun udah nyerah tuh kayaknya" celetuk Lea sambil memakan cemilan yang ia keluarkan dari tasnya.
"Biarin" balas Vanya.
"Btw lo beneran tadi pagi ketemu Rafael di jalan?" tanya Lea.
"Nggak sengaja" jawab Rain malas.
"Terus dia ngapain aja tuh sampe berentiin mobil lo?" tanya Lea lagi.
"Cuman nanya-nanya doang" jawab Rain seadanya.
"Ceritain aja napa sih yang detail biar gw ngga nanya-nanya mulu" omel Lea mulai terlihat kesal.
"Gw males bahas dia"
"Pantesan tumben banget lo tadi hampir telat. Ternyata oh ternyata" ucap Vanya ikut-ikutan.
"Udah ah, males tau bahas tuh cowo. Ganteng sih ganteng. Tapi tengil banget anjir" ucap Rain dengan wajah kesal.
"Vanya" panggil seseorang.
Rain dan Lea pun refleks ikut menoleh. Bahkan Surya, Raza dan Vano ikutan menoleh juga meski mereka masih di dalam pertandingan.