Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 AKHIRNYA...
Pagi hari lamaran itu akhirnya datang.
Langit cerah setelah semalam sempat diguyur hujan. Udara terasa lebih segar dari biasanya, seolah ikut merapikan suasana hati yang sejak subuh sudah tidak tenang.
Di rumah Ara, aktivitas dimulai lebih awal. Ibunya sudah bangun sejak sebelum azan Subuh, memastikan dapur rapi dan ruang tamu siap menerima tamu. Karpet digelar, meja disusun ulang, bunga segar diletakkan di sudut ruangan.
Ara duduk di depan meja rias, rambutnya sedang ditata oleh MUA langganan keluarga. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.
“Tarik napas dulu” ujar sang MUA lembut “Hari ini bukan ujian skripsi”
Ara tersenyum kecil “Rasanya lebih deg-degan dari sidang”
Ibunya masuk ke kamar, membawa segelas air hangat “Minum dulu. Jangan sampai haus ditahan”
Ara menerima gelas itu dengan tangan sedikit dingin. Ia menatap dirinya di cermin. Dress sage dengan outer lace lembut yang dipilih beberapa hari lalu kini tergantung rapi di sisi lemari, menunggu dikenakan.
Hari ini bukan tentang tampil sempurna.
Hari ini tentang kesiapan.
Sementara itu, di rumah Danu, suasananya juga tidak kalah tegang.
Danu sudah rapi dengan setelan broken white yang dipilihnya. Rambutnya disisir lebih formal dari biasanya. Di ruang tamu, kotak-kotak seserahan telah disusun dengan hati-hati, siap dibawa.
Ayahnya berdiri memperhatikan.
“Sudah siap jadi calon kepala keluarga?” tanyanya setengah bercanda, tapi nadanya serius.
Danu menarik napas pelan “Belajar, Yah”
Ibunya tersenyum bangga “Yang penting niat dan tanggung jawab”
Rombongan keluarga inti berkumpul. Paman, tante, dan dua sepupu ikut mendampingi. Bukan rombongan besar, tapi cukup untuk mewakili.
Sebelum berangkat, Danu menyempatkan diri membuka ponsel.
Danu: Sudah siap?
Balasan masuk beberapa detik kemudian.
Ara: Iya tapi agak deg-degan.
Danu: Sama.
Ara: Jangan lupa senyum ya nanti.
Danu: Kamu juga.
Ara: Mas…
Danu: Iya?
Ara: Terima kasih ya.
Danu terdiam sejenak sebelum membalas.
Danu: Hari ini aku datang bukan cuma buat melamar. Aku datang buat bertanggung jawab.
Ara menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya meletakkannya.
Matanya terasa sedikit hangat.
Menjelang pukul sebelas pagi, mobil rombongan Danu memasuki halaman rumah Ara.
Jantung Danu berdetak lebih cepat dari biasanya.
Pintu mobil dibuka. Ia turun lebih dulu, membantu ibunya. Kotak seserahan diangkat satu per satu dengan hati-hati.
Di teras, keluarga Ara sudah menyambut.
Ayah Ara berdiri paling depan, wajahnya tenang tapi penuh wibawa.
“Assalamu’alaikum” ucap ayah Danu lebih dulu.
“Wa’alaikumsalam” jawab ayah Ara.
Jabat tangan pertama itu terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena beban, tapi karena makna.
Rombongan dipersilakan masuk.
Ruang tamu yang biasanya terasa biasa saja kini menjadi saksi langkah baru dua keluarga.
Danu duduk di sisi ayahnya. Tangannya bertaut di atas lutut, berusaha tetap tenang.
Beberapa menit berlalu dengan obrolan ringan tentang perjalanan, tentang cuaca, tentang kabar keluarga. Namun semua tahu, inti pertemuan belum dimulai.
Akhirnya ayah Danu meluruskan duduknya
“Kedatangan kami hari ini” ucapnya tenang “ingin menyampaikan niat baik. Anak kami Danu dengan izin Allah ingin melamar putri Bapak dan Ibu”
Suasana mendadak lebih hening.
Ara yang berada di kamar mendengar suara itu samar-samar. Tangannya mengepal pelan di atas pangkuan.
Di ruang tamu, ayah Ara mengangguk perlahan.
“Terima kasih atas niat baiknya” jawabnya. “Kami sebagai orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anak kami”
Ia menoleh pada Danu.
“Danu”
Danu mengangkat wajahnya.
“Kamu yakin dengan keputusan ini?”
Pertanyaan itu sederhana tapi berat.
Danu menarik napas pelan.
“Saya yakin, Pak. Bukan karena saya merasa sudah sempurna. Tapi karena saya siap belajar dan bertanggung jawab.”
Tidak ada kalimat puitis. Tidak ada janji berlebihan.
Hanya kejujuran.
Ayah Ara menatapnya beberapa detik, seolah menilai bukan hanya kata-kata, tapi keteguhan.
Lalu ia mengangguk.
“Kalau begitu kami selalu orang tua menerima lamaran ini”
Kalimat itu terasa seperti angin yang melepaskan beban panjang.
Ibunda Ara menahan senyum haru. Ibu Danu mengusap sudut matanya pelan.
Danu menunduk hormat “Terima kasih, Pak”
Ara akhirnya dipanggil keluar.
Langkahnya pelan. Dress sage itu jatuh ringan di tubuhnya, sederhana tapi anggun. Rambutnya ditata natural, riasannya lembut.
Begitu ia duduk di samping ibunya, matanya tanpa sadar mencari Danu.
Dan menemukannya.
Danu menatapnya dengan senyum kecil senyum yang sama seperti saat di butik, tapi kini lebih dalam.
Kotak cincin dibawa ke tengah.
Tidak besar
Tidak mencolok
Danu menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ia berdiri, melangkah satu langkah mendekat
“Ara” ucapnya pelan, cukup untuk terdengar semua orang.
Ara mengangkat wajahnya.
“Aku datang hari ini dengan niat baik. Bukan cuma ingin memintamu jadi calon istriku… tapi ingin berjalan bersamamu ke depan. Pelan-pelan. Saling belajar”
Ruangan terasa sunyi.
“Ara, maukah kamu menerima lamaranku?”
Ara tidak langsung menjawab.
Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya utuh.
“Aku mau”
Jawaban itu sederhana tapi penuh kesadaran
Danu mengambil cincin, menyematkannya perlahan di jari manis Ara. Tepuk tangan kecil terdengar dari keluarga.
Bukan tepuk tangan meriah tapi hangat.
Ara menunduk sejenak, lalu berbisik pelan saat Danu kembali duduk.
“Mas”
“Iya?”
“Tangan kamu tadi dingin”
Danu tersenyum kecil “Kamu juga”
Mereka tertawa kecil, cukup untuk meredakan sisa tegang.
Setelah prosesi utama selesai, suasana berubah lebih santai. Foto keluarga diambil. Seserahan dibuka satu per satu. Canda kecil mulai terdengar.
Sepupu Ara menggoda “Akhirnya resmi ya Dek”
Ara hanya tersenyum, masih memandangi cincin di jarinya.
Di sudut ruangan, Danu dan ayah Ara sempat berbincang berdua.
“Ingat” ucap ayah Ara pelan “melamar itu langkah awal. Menjaga itu yang panjang”
Danu mengangguk mantap “Iya, Pak. Saya akan ingat”
Menjelang sore, rombongan Danu pamit.
Di teras rumah, sebelum masuk mobil, Danu menoleh ke arah Ara yang berdiri di samping ibunya.
Tidak ada sentuhan berlebihan.
Hanya tatapan yang kini berbeda makna.
Bukan lagi dua orang yang sedang mencoba.
Tapi dua orang yang sudah sepakat.
Mobil perlahan menjauh.
Ara berdiri beberapa detik lebih lama di teras, angin siang menyentuh wajahnya.
Ibunya mendekat “Gimana rasanya?”
Ara menarik napas panjang.
“Tenang, Bu”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua persiapan dimulai, degup jantungnya bukan karena takut.
Rumah Ara terasa lebih lengang setelah rombongan Danu benar-benar pergi.
Beberapa kursi masih belum dikembalikan ke posisi semula. Gelas-gelas bekas minum tertata di atas meja. Bunga di sudut ruangan masih segar, tapi suasananya berbeda lebih sunyi, lebih lega.
Ara masuk ke kamar pelan-pelan, membawa kotak cincin kecil yang tadi sempat dilepas untuk difoto. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi cincin yang kini resmi melingkar di jarinya.
Bukan soal kilau batunya.
Tapi maknanya.
Ponselnya bergetar.
Danu: Sudah sampai kamar?
Ara tersenyum kecil.
Ara: Iya. Kamu sudah di jalan?
Danu: Baru mau berangkat. Tadi ditahan ayah kamu dulu
Ara: Emang ada apa
Danu: Enggak. Cuma diingatkan
Ara bisa menebak isi pengingat itu.
Ara: Soal menjaga?
Danu: Iya
Beberapa detik hening.
Danu: Dek
Ara: Iya?
Danu: Terima kasih sudah bilang “aku mau” tadi
Ara menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas.
Ara: Aku bilang itu bukan karena acara hari ini indah.
Danu: Lalu?
Ara: Karena aku percaya kamu nggak cuma datang hari ini. Kamu bakal datang terus.
Di halaman rumah, sebelum masuk mobil, Danu membaca pesan itu sambil tersenyum tipis. Dadanya terasa hangat.
Danu: InsyaAllah.
Mobil akhirnya melaju.
Sore harinya, setelah rumah kembali rapi dan tamu-tamu keluarga besar pamit, Ara membantu ibunya membereskan sisa makanan.
Ibunya memandang cincin di jari Ara sekilas.
“Rasanya beda ya?” tanyanya lembut.
Ara mengangguk kecil “Iya, Bu.”
“Takut?”
Ara menggeleng pelan “Lebih ke… sadar tanggung jawab.”
Ibunya tersenyum “Lamaran itu bukan cuma soal diterima. Itu soal menjaga komitmen sebelum benar-benar sah”
Ara diam, menyerap kalimat itu dalam-dalam.
Di rumah Danu, suasananya juga masih hangat.
Ibunya sibuk membalas pesan dari keluarga yang menanyakan kabar lamaran. Ayahnya duduk santai, tapi sesekali menatap Danu dengan ekspresi bangga yang tak terlalu diperlihatkan.
“Kamu kelihatan lebih tenang sekarang” ujar ibunya
Danu tersenyum kecil. “Karena sudah jelas arahnya Bu”
Malamnya, setelah semua benar-benar sepi, Danu masuk ke kamar dan akhirnya bisa bernapas lega.
Ia membuka galeri ponselnya.
Foto Ara tadi siang memenuhi layar. Senyumnya lembut. Matanya tenang.
Danu: Dej
Ara: Iya?
Danu: Aku baru sadar sesuatu.
Ara: Apa lagi?
Danu: Tadi pas kamu keluar dari kamar… rasanya kayak lihat masa depan berdiri di depan aku
Ara terdiam cukup lama sebelum menjawab.
Ara: Jangan bikin aku baper lagi hari ini.
Danu tersenyum.
Danu: Kamu tadi cantik banget
Ara: Kamu juga beda
Danu: Beda gimana?
Ara: Lebih ganteng
Danu memandangi kata itu.
Dulu, waktu SMA, ia bahkan tak berani bermimpi berdiri di rumah Ara sebagai calon suami. Ia hanya anak petani yang merasa selera Ara terlalu tinggi untuknya. Ia pernah menyembunyikan rasa karena takut tak cukup.
Tapi hari ini, ia tidak datang membawa status atau gelar.
Ia datang membawa kesungguhan.
Dan Ara menerimanya.