NovelToon NovelToon
Diremehkan Karena Miskin, Ternyata Aku Punya Sistem Analisis Nilai

Diremehkan Karena Miskin, Ternyata Aku Punya Sistem Analisis Nilai

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kebangkitan pecundang / Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.

Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.

Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.

[Sistem Analisis Nilai Aktif.]

[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]

Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.

Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.

Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?

(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16—kebenaran

Gudang tua di pinggir kota itu tapak lupuk, tua dan terlihat sangat tidak layak huni. Lampu leon menggantung redup. Suasana sunyi sekali.

Rahmat membuka ponselnya mengecek arah lokasi, tampaknya ia berada di tempat yang benar.

Kalau saja orang normal masuk, pasti mereka pada ketakutan, namun bocah ini tak normal, maka dia memasuki gudang tua itu bahkan tanpa terlihat takut sama sekali.

“Permisi, halo …” itu adalah kalimat sapaan yang dia lontarkan seolah tidak tahu bagaimana posisi ia berada.

Beberapa preman yang nangkring di sana, sedang pesta minum, makan, beberapa mengimpor bandar sabu, mendadak mengalihkan perhatian ke arah sumber suara.

Seorang bocah. Ya, anak remaja biasa dengan pakaian kemeja, tidak ada yang terlihat istimewa dari perawakan dia, namun sikapnya yang santai dan terlihat belagu membuat semua orang naik pikam.

Satu orang melempar botol kaca ke arahnya, Rahmat menghindar dengan mudah.

“Woi, bocah! Lo tahu nggak ini tempat apa? Cari mati apa?”

“Tempat nongkrong?” jawab Rahmat santai.

“BUKAN—eh gak salah juga sih, TAPI LO BERANI BANGET DATANG KE MARKAS KITA KAYAK GITU!”

Beberapa orang berdiri, mereka pasang kuda seolah siap bergelut. 

Rahmat menghela napas. “Santai-santai … aku kesini mau cari Tomy?”

“Apa urusanmu sama bos kita!”

Tomy yang dari tadi sedang asik makan di pojokan, melihat kegaduhan itu. Ternyata rahmat sudah sampai.

Tomy langsung menyeringai, ia langsung membubarkan kerumunan preman pasar ini. Ia bilang Ramat adalah tamu, jadi mereka pada tenang untuk sementara waktu.

“Mana duitnya? Satu miliar. Sesuai janji jangan kurang dan lebih.”

\[Ding!\]

\[Sistem analisis psikologi aktif\]

\[Target sedang berbohong\]

Rahmat balik tersenyum. Sesuai yang ia duga, kalau begitu semua teori yang ia buat selama ini benar.

Rahmat tidak banyak bicara. Ia merogoh tasnya. Beberapa bukti saldo transfer, nominal penuh diperlihatkan.

Tomy mengambil dokumen itu, tangannya sempat berhenti sejenak karena tidak percaya, lalu dia terkekeh, dan memunculkan wajah emosi.

“Apa maksudnya ini Rahmat!!?”

“Maksudnya gimana? Aku membayar sesuai kesepakatan.”

“Matamu buta atau gimana?!” Tomy memperlihatkan dokumen itu lebih jelas. Angka 50 juta tertulis disana, bukan 1 miliar. “Apa lo minta digebukin lagi? Mumpung pasukan ku semua disini!”

“Apakah aku melakukan kesalahan?” Heran Rahmat.

“Ini apa? 50 juta!?’ suaranya naik. “Perjanjian kita satu miliar.”

Ramat menatapnya datar, tanpa ketakutan sama sekali. “utangku bukan satu miliar.”

Tomy tertawa sinis. “Lo gila apa gimana? Bunga jalan terus.”

“Yang gila itu situ!” Sahut rahmat. “Ini sudah janggal bahkan sejak awal.”

Rahmat menggeleng pelang.

Rahmat menggeleng pelan. “Utang awalku—ralat maksudnya ayahku utang  awalnya utang cuma 150 juta.”

“Waktu berlalu banyak, bunga makin naik sampai 200 juta.” 

Beberapa preman yang tadi siap ribut jadi ikut dengar.

Rahmat melanjutkan dengan suara tenang, jelas, seperti orang sedang presentasi. “Bunga yang disepakati 10% per bulan. Tanpa denda tambahan. Tanpa penalti tersembunyi.”

Ia mengangkat ponselnya, menampilkan foto kontrak lama. “Empat bulan pertama dengan penuh cara kematian aku nyicil,  berhasil bayar sedikit demi sedikit walau gak sampai ratusan juta. Jadi totalnya harusnya: 200 juta + (10% × 4 bulan).”

Ia berhenti sebentar. “Artinya 200 juta + 80 juta. Total 280 juta.”

Suasana mulai sunyi. Tomy menyeringai paksa. “Itu kalau cuma empat bulan.”

Rahmat mengangguk. “Baik. Kita hitung sampai hari ini.”

Ia geser layar lagi. “Sudah berjalan 10 bulan.”

“200 juta + (10% × 10 bulan).”

“200 juta + 200 juta.”

“Total 400 juta.”

Ia menatap Tomy.

“Kalau pun dihitung pakai bunga majemuk — yang bahkan tidak tertulis di kontrak — angkanya tetap tidak akan menyentuh satu miliar.”

Rahmat memperbesar simulasi angka di layar. “Dengan bunga majemuk 10% per bulan selama 10 bulan…”

Ia menyebut hasilnya. “Sekitar 518 juta.”

Beberapa preman saling pandang. Bingung dengan perhitungan matematika mendadak.

Rahmat menurunkan ponsel perlahan. “Sekarang jelaskan ke aku…”

“Dari mana angka satu miliar itu muncul?”

Tomy terdiam sepersekian detik. Bocah ini berbeda! Ada sesuatu yang janggal dengan rahmat, sesuatu yang bahkan membuat dia bergidik takut, padahal tempo hari dia cuma sampah yang bisa diinjak-injak, tapi sekarang? Ia terlihat seperti potensi yang berbahaya.

Rahmat melangkah satu langkah mendekat. “Tambahan biaya administrasi 50 juta.” “Denda keterlambatan 20 juta per bulan.” “Biaya penagihan lapangan.” “Biaya risiko.” “Biaya pengamanan.”

Rahmat tertawa kecil. “Kebohongan kecil yang terus kau taruh ke bocah sudah gak mempan! Kau kira sudah berapa lama aku berurusan denganmu!”

“Semua itu tidak pernah ada di kontrak!”

Sistem kembali berbunyi pelan.

[DING]

 [Detak jantung target meningkat] 

[Tingkat stres: tinggi] 

[Pola kebohongan terdeteksi]

Rahmat menatap lurus. 'Sudah kuduga teoriku benar.’ sejak awal memang sudah tidak wajar, ayahnya memang tukang brengsek hutang sampai ratusan juta, tapi kalau dihitung tidak mungkin sampai satu miliar, namun rahmat yang dulu tidak punya kekuatan untuk menyangkal bahwa itu salah, sekarang dia baru punya kekuatan untuk membantah.

“Lo sengaja naikin angka tagihan dan parahnya bukan cuma ke aku.”

Ia menggeser layar ponsel lagi. Beberapa nama klien lain muncul. Beserta nominal tagihan asli dan nominal yang ditagihkan. Ia mendapatkan beberapa laporan keuangan setelah membeli saham dari PT milik Tommy dengan nama anonim. Ia bisa melihat disana Laporan perusahaan memang terlihat normal. Tapi di mata Rahmat, sistem menyusun pola arus kas yang janggal.

Sistem mendeteksi anomali transaksi pihak berelasi dan Dana keluar dengan kode operasional, tapi tidak pernah kembali sebagai aset perusahaan.

Selisihnya besar.

Ada yang 300 juta ditagih 600 juta. Ada yang 150 juta ditagih 400 juta.

Preman-preman itu mulai terlihat tidak nyaman.

Rahmat melanjutkan, suaranya tetap stabil.

“Modusnya sederhana.”

“Lo bilang bunga naik.”

“Lo tambahin denda.”

“Lo takut-takutin.”

“Selisihnya masuk ke rekening pribadi lo.”

Tomy membentak. “Ngaco!”

Sementara Tomy terkejut, darimana dia dapat data itu! Lalu ia teringat, tempo hari ada seseorang yang membeli saham di perusahaannya dengan nama anomali Jangan bilang akun anomali itu adalah rahmat? Tidak dia terlalu pikir berlebihan.

“Padahal pinjaman awalnya cuma 500 juta.”

Seorang preman pelan-pelan menoleh ke Tomy.

“Bang… itu semua bener?”

“Bang… kalau benar … berarti kita cuma kambing hitam?”

 yang disini bukanlah seorang preman biasa, mereka adalah beberapa perkumpulan penagih hutang, yang diketuai oleh tomy sebagai ketua divisi penagih hutang. Artinya mereka adalah pegawai resmi dari PT Andalan 

Tomy tidak langsung jawab. Ia tidak langsung menjawab 

“Bos gimana ini!?”

“Bagaimana kalau kita sampai ketahuan? Kita semua juga bisa kena imbasnya!”

Rahmat memanfaatkan momen itu. “Perusahaan kalian reputasinya hancur karena klien merasa ditipu.”

“Mereka lapor ke komunitas bisnis.”

“Mereka kasih review buruk.”

“Investor mundur.”

“Dan bos kalian kira itu karena kondisi ekonomi.”

Rahmat berhenti sebentar. Lalu menunjuk dada Tomy pelan.

“Padahal karena lo.”

Tomy mengepalkan tangan. “anggaplah semua teori lo benar, tapi gak rubahh fakta lo belum lunas hutang! lo pikir dengan 50 juta ini lo bisa lolos—”

Rahmat memotong. “50 juta itu bukan pelunasan.”

Semua menoleh.

“Ini cuma cara mengundang emosimu.”

Rahmat melanjutkan dengan santai. “Itu biaya audit kecil yang tadi aku lakukan. Dengan kata lain, kalau kamu masih belum paham … itu biaya untuk membongkar kebusukan mu!”

Ia mengeluarkan satu map tipis dari tasnya.

“Pelunasan sebenarnya 400 juta. Sesuai hitungan sah.”

“Akan aku transfer.”

“Tapi…” Ia menatap Tomy tanpa berkedip. “Setelah kita luruskan angka.”

Suasana berubah.

Dulu Tomy adalah pihak yang menginjak-injak da menekan Rahmat, tapi sekarang Tomy lah yang ditekan.

Rahmat menutup dengan kalimat pelan namun tajam. “Kalau mau paksa satu miliar… Aku bisa kirim semua data ini ke bosmu. Aku mau lihat gimana reaksinya, pasti dirimu dipecat atau diantar ke polisi karena melakukan penipuan.”

Sunyi total. Gudang tua itu terasa jauh lebih dingin sekarang.

Dan untuk pertama kalinya malam itu… Tomy tidak terlihat seperti bos.

1
Martono Tono
bagus
Manusia Biasa: Terima kasih kak sudah membaca
total 1 replies
isnaini naini
cie..cie..aq baca smbil snyum2 ini thor....
Manusia Biasa: hehe terimakasih sudah membaca kak. emang dua pemuda pemudi ini lucu cara interaksinya
total 1 replies
isnaini naini
aq ikut grogi nih al....😄
isnaini naini
astaga mat...alya sdh jungkir balik km nya lempeng...trlalu polos apa gimana sih km ini...😄
Manusia Biasa: wkwkw anakku emang gitu kak🗿 terlalu serius
total 1 replies
Jujun Adnin
lanjut
Manusia Biasa: Baik kak ditunggu updatenya ya kak, setiap hari saya usahakan 3x😁🙏
total 1 replies
isnaini naini
alya kah yg diajak nonton konser thor????
Manusia Biasa: di konser nanti bakal banyak plot terbuka, dijamin asik hehe. terima kasih sudah membaca kak
total 2 replies
Gege
apik dan epic bangeed...lanjoot Thor.. 10k kata tiap update
Manusia Biasa: siap, kak. ditunggu updatenya lagi ya
total 1 replies
Yuliani Jogja
sumpah aku ngakak Baca ini
Manusia Biasa: Terima kasih kak
total 1 replies
Yuliani Jogja
Gaz Ayo jual mamat
Manusia Biasa: gazzz
total 1 replies
Yuliani Jogja
noir plot twist banger wkwk
Manusia Biasa: wkwkwkwk emang kakak
total 1 replies
Yuliani Jogja
kann
Yuliani Jogja
putri? celebrate yang Diselamatin itu paling🤭
Yuliani Jogja
💪mantap gas terus rahmat
Gege
ide ceritanya warbyasaah...mungkin sekali update 10k kata kereen Thor..
Manusia Biasa: terima kasih kakak sudah membaca, ditunggu updatenya besok ya, saya usahin 3x setiap hari kalau gak ada kesibukan wkwk
total 1 replies
Yuliani Jogja
Karya luar biasa
Yuliani Jogja
mantapp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!