NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8 KAMAR UTAMA YANG TIDAK BOLEH DIMILIKI

Keputusan itu jatuh pelan.

Tidak diumumkan.

Tidak dirayakan.

Tapi getarnya menyebar ke seluruh rumah.

“Mulai malam ini,” kata pemuda itu singkat, “dia pindah ke kamar utama.”

Kalimat itu diucapkan di ruang keluarga, setelah makan siang.

Tanpa emosi.

Tanpa penjelasan.

Sunyi.

Bukan sunyi terkejut.

Tapi sunyi sebelum badai.

Ibu pemuda itu tertawa kecil lebih dulu.

Tertawa yang terlalu pelan untuk disebut tawa.

“Kamu bercanda?”

Pemuda itu berdiri tegak.

“Tidak.”

Tawa kecil itu berhenti.

“Kamu tahu kamar utama itu apa?” suara ibunya mulai panjang.

“Itu bukan sekadar kamar. Itu simbol.”

Ia berdiri, berjalan pelan, seolah setiap langkahnya adalah pelajaran.

“Kamar itu milik perempuan yang diakui. Yang pantas. Yang mengerti posisi.”

Ia berhenti tepat di depan gadis itu.

Dan omelannya mulai mengalir—panjang, rapi, kejam.

“Kamu lihat dirimu?”

“Kamu lihat caramu bicara?”

“Caramu duduk? Caramu makan?”

Ia tersenyum tipis.

“Perempuan seperti kamu itu belum layak menginjak karpet kamar utama.”

Gadis itu menunduk.

Tidak membantah.

“Kamu jangan salah paham,” lanjutnya tanpa jeda.

“Aku tidak menghina.”

Ia menggeleng perlahan.

“Aku sedang mengingatkan.”

Ia menoleh ke pemuda itu.

“Kamu ini pintar. Jangan bodoh hanya karena satu keputusan kakekmu.”

Nada suaranya naik sedikit.

“Kalau kamu memaksakan ini, kamu sedang menampar seluruh keluarga.”

Ipar perempuan ikut menyela, omelannya lebih lebay, lebih nyeplak.

“Kak, kamu ini kenapa sih?”

Ia menepuk dadanya sendiri.

“Kita ini bukan keluarga yang kekurangan perempuan berkelas.”

Ia menunjuk gadis itu terang-terangan.

“Yang ini saja salah pegang sendok, salah cara minum, salah cara diam.”

Ia mendengus.

“Kamu mau taruh dia di kamar utama?”

Ia tertawa sinis.

“Nanti karpet mahal itu bau minder.”

Beberapa sepupu ikut tertawa.

Nenek mengetukkan tongkatnya.

“Kamar utama itu bukan hadiah.”

Ia menatap gadis itu lama.

“Kamu jangan besar kepala.”

Gadis itu menggeleng cepat.

“Saya tidak, Nek.”

“Diam,” kata nenek itu.

“Kalau tidak ditanya.”

Ia menoleh ke pemuda itu.

“Kalau kamu lakukan ini, jangan salahkan kami kalau kami menganggap dia benar-benar orang luar.”

Kalimat itu sengaja dipanjangkan.

Dibiarkan menggantung.

Mengancam.

Ibu pemuda itu kembali bicara, lebih panjang, lebih sistematis.

“Perempuan itu dibentuk oleh lingkungannya.” “Kami ini mendidik perempuan sejak kecil agar tahu bagaimana membawa nama keluarga.”

Ia menunjuk dada gadis itu.

“Dan kamu datang tanpa bekal apa-apa.”

Ia tersenyum pahit.

“Kami ini bukan sekolah gratis.”

Hening.

Gadis itu berdiri perlahan.

Bukan untuk membela diri.

“Saya bisa tetap di kamar tamu,” katanya pelan.

“Saya tidak keberatan.”

Kalimat itu seperti bensin.

“Lihat?” ibu pemuda itu langsung memotong, nadanya meninggi.

“Ini yang aku maksud!”

Ia menepuk meja.

“Tidak punya ambisi. Tidak punya harga diri.”

Ia mencondongkan tubuh.

“Perempuan seperti ini bukan istri. Ini… pelengkap hidup.”

Iparnya ikut menimpali cepat,

“Benar! Kalau dari awal sudah pasrah begini, jangan naik kelas!”

Ia menyeringai.

“Kamu tahu apa yang paling menjengkelkan dari perempuan sepertimu?”

Gadis itu tidak menjawab.

“Bukan karena kamu miskin,” lanjutnya panjang.

“Tapi karena kamu membuat kami terlihat kejam kalau menolakmu.”

Ia tertawa pendek.

“Padahal kami hanya jujur.”

Pemuda itu akhirnya bergerak.

Ia melangkah maju satu langkah.

Tidak banyak.

Tapi cukup membuat semua mata tertuju padanya.

“Cukup.”

Satu kata.

Pendek.

Ruangan membeku.

“Kamar utama bukan soal pantas atau tidak,” lanjutnya dingin.

“Itu soal status.”

Ia menatap ibunya.

“Dan statusnya jelas.”

Ibunya menatap balik, matanya tajam.

“Kamu memilih perempuan ini daripada keluarga?”

Pemuda itu menjawab tanpa ragu.

“Aku memilih istriku.”

Kata itu jatuh berat.

Iparnya tertawa kecil, getir.

“Wah, cepat sekali terbawa peran.”

Pemuda itu tidak menoleh.

“Dia pindah malam ini.”

Ia menoleh ke gadis itu.

“Kemas barangmu.”

Gadis itu terdiam.

“Tidak perlu,” katanya pelan.

“Barang saya sedikit.”

Ibunya tertawa tanpa humor.

“Lihat? Bahkan untuk pindah kamar saja dia tidak membawa apa-apa.”

Ia menatap gadis itu dengan tatapan dingin.

“Jangan salah paham. Kamar utama itu tidak akan mengubah siapa dirimu.”

Gadis itu mengangguk.

“Saya tahu.”

“Kamu tahu?” iparnya menyeringai.

“Kalau tahu, seharusnya kamu menolak.”

Ia mendekat, berbisik cukup keras.

“Perempuan yang tahu diri itu tidak mengambil tempat yang bukan miliknya.”

Pemuda itu menoleh tajam.

“Dia tidak mengambil.” Ia berhenti sejenak.

“Aku yang memberinya.”

Sunyi.

Nenek mengetukkan tongkatnya lagi.

“Kita lihat berapa lama.”

Ia menatap gadis itu.

“Perempuan sepertimu biasanya tidak kuat.”

Kalimat itu adalah vonis.

Malam itu, gadis itu melangkah masuk ke kamar utama.

Kamar luas.

Tempat tidur besar.

Aroma bersih.

Ia berdiri kaku di tengah ruangan.

Pemuda itu berdiri di pintu.

“Kamu bisa tidur di sini.”

Gadis itu mengangguk.

“Iya.”

“Jangan salah paham,” katanya lagi, dingin.

“Ini hanya tempat.”

Ia berbalik pergi.

Pintu tertutup.

Gadis itu duduk di tepi ranjang.

Tangannya gemetar.

Kamar utama tidak terasa hangat.

Tapi untuk pertama kalinya—

ia tahu,

setiap omelan setelah ini

akan berubah jadi perlawanan diam.

Dan keluarga itu sadar satu hal:

mereka baru saja kehilangan kendali perlahan.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!