Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sherin. Sebab selama ini Sherin tahu bahwa adiknya itu tidak pernah dekat dengan siapapun setelah kejadian lima tahun lalu. Hati Axlyn seolah hanya menunggu Kay untuk mengenalinya kembali. Akan tetapi, Sherin juga tahu persis bahwa ingatan Kay tidak pernah kembali tentang kejadian di Kota Xennor, sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu dengan Kay lagi hingga memutuskan pindah ke Praha.
“Apakah Kakak akan percaya bahwa ayah dari anak didalam kandunganku adalah Kay?” tanyanya dalam hati.
Mendengar pertanyaan itu, Axlyn terdiam dalam keheningan. Jujur saja, ia ragu untuk mengatakannya bahwa ia bertemu Kay kembali saat bertugas. Membantunya secara suka rela, hingga tumbuh bibit kembar di dalam perutnya. Melihat sikap diam sang adik, Sherin mengerti ada sesuatu yang belum siap untuk adiknya itu bicarakan dengannya.
“Tidak apa, jika kau belum siap memberitahukannya kepada Kakak! Kakak percaya kau memiliki alasan tersendiri dengan masih menyembunyikannya dari Kakakmu ini,” ujarnya seolah mengangkat beban berat di hatinya.
“Makasih, Kak! Sudah mau mengerti, Axlyn!” ucapnya lagi seraya memeluk erat tubuh kakaknya.
Kini Axlyn akhirnya merasa sedikit lega, sebab ia tidak perlu menanggung kehamilan kembar ini sendirian karena sang Kakak akan selalu mendukung dan selalu ada di sisinya. Tak apa jika Kay masih melupakan tentang dirinya, bahkan tidak mengetahui tentang kehadiran buah hatinya, Axlyn percaya ia bisa melewati semuanya dengan baik.
...****************...
Tiga hari setelah kembali dari Praha, Kay mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Awalnya hanya mual. Ia mengira itu efek jet lag. Atau mungkin karena terlalu banyak minum bir hitam di pesta yang sempat ia hadiri. Lambungnya terasa perih, seperti terbakar. Ia bahkan sempat menyalahkan makanan yang dimakannya tengah malam.
“Hueekk… Hueek….”
Terdengar suara muntahan seseorang dari balik pintu kamar mandi begitu Noah memasuki ruangan Ceo yang menjadi tempat bekerja Kay selama ini. Rasa penasarannya membuatnya nekad masuk begitu saja, sampai matanya tertuju pada sosok Kay yang bersandar pada dinding dengan wajahnya yang sudah sangat pucat.
“Kau muntah lagi? Sejak kembali dari Praha kau terus muntah dan sangat sensitif, sebaiknya periksakan ke dokter saja,” ujar Noah membantu memapah Kay keluar dari kamar mandi dan membawanya ke sofa panjang yang ada di sana.
“Diamlah! Ocehanmu membuat kepalaku semakin sakit,” sentaknya sengit.
“Kay, apa mungkin kau terkena asam lambung,” ujar asistennya, Noah, sambil menyodorkan obat.
Kay mengangguk malas. “Mungkin saja. tolong belikan aku obatnya.”
“Baiklah, aku akan memerintahkan seseorang untuk membelikannya.”
Noah tidak terlalu ambil pusing, ia segera menelpon sekertaris Kay untuk mendapatkan obat lambung terbaik. Namun mual itu tidak pergi. Seminggu berlalu. Ia bahkan semakin sensitif terhadap bau. Aroma kopi favoritnya mendadak membuatnya ingin muntah. Parfum sekretarisnya yang biasanya tak ia sadari kini terasa menusuk kepala.
...****************...
Minggu kedua, Kay bangun pagi dengan perut melilit dan muntah di wastafel.
“Ini sepertinya nggak normal,” gumamnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. Pucat. Ada lingkaran gelap di bawah mata. “Jika salah makan atau asam lambung biasa, seharusnya sekarang sudah membaik. Tapi kenapa mualnya semakin memburuk? Ada yang tidak beres dengan tubuhku?”
...****************...
Minggu ketiga, emosinya mulai tak stabil. Kay marah tanpa sebab pada rapat direksi, lalu lima menit kemudian merasa bersalah dan hampir menangis. Ia juga mulai mengidam secara tidak masuk akal, stroberi dingin yang ditaburi garam.
“Aku kenapa, sih?” bisiknya frustrasi.
“Lah? Malah kau yang bertanya, seharusnya aku yang menanyakan itu. Kau aneh setelah kembali dari Praha. Atau jangan-jangan kau sedang hamil kali?” celetuk Noah yang berhasil membuat Kay menatapnya tajam.
“Omong kosong!” sentak Kay tidak terima.
“Maksudku… bukan kau yang benar-benar sedang hamil. Mungkin saja wanita yang mengambil malam pertamamu itu yang sedang mengandung anakmu?” jelas Noah lebih spesifik.
Kay terdiam beberapa saat, memikirkan bahwa kemungkinan apa yang Noah katakan bisa saja benar. “Kau sudah menemukan petunjuk tentangnya?” tanya Kay kemudian.
“Tidak ada kabar sama sekali, yang artinya orang yang kita bayar untuk melakukan pencarian terhadap wanita itu masih tidak menemukan petunjuk apapun,” jawab Noah.
“Aku tidak benar-benar menghamili seorang hantu, ‘kan?” gumam Kay pelan seolah kini meragukan keyakinannya sendiri bahwa wanita itu manusia atau benar hantu seperti yang pernah Noah katakan sebelumnya.
“Bwahahaaaa… Kau masih memikirkan kata-kataku sampai sekarang?” Noah tak bisa lagi menahan tawanya.
“Sialan, bagaimana aku tidak memikirkannya. Sudah hampir dua bulan dan jejaknya tidak ditemukan sedikitpun. Jika dia memang benar manusia, seharusnya ada sedikit jejak yang tertinggal, bukan?” Kay benar-benar frustasi sekarang.
“Hmm, benar juga!” gumam Noah. “Namun, jika dipikirkan lagi… apakah di Praha ada setannya?”
“Aish, bajingan ini! Aku sudah hampir mempercayai ucapanmu dan sekarang kau malah meragukan ucapanmu sendiri. Benar-benar sialan yah kau, Noah Mannix Martin!” umpat Kay sembari melempar berkas yang berada di hadapannya.
“Hahahaaa… Pakmil lagi sensi! Kaburrr… selamatkan diri.”
Noah dengan cepat menghindar dan berlalu pergi meninggalkan Kay di ruangannya dengan tawa yang masih bisa Kay dengar meski pintu ruangannya sudah tertutup.
...****************...
Genap satu bulan telah berlalu dan gejala itu tidak juga hilang. Akhirnya, atas desakan Noah, Kay pergi ke dokter keluarga mereka. Serangkaian pemeriksaan dilakukan. Lambungnya baik-baik saja. Hasil darah normal. Tidak ada infeksi, tidak ada gangguan organ. Dokter itu, seorang pria paruh baya yang mengenal Kay sejak kecil. Dokter itu menatapnya lama sebelum berkata dengan hati-hati.
“Secara fisik Anda sehat.”
“Lalu kenapa saya muntah tiap pagi? Aku bahkan sensitif terhadap makanan dan bau tertentu?” Kay mulai kehilangan kesabaran.
Dokter itu menarik napas. “Ada kondisi yang jarang terjadi, tapi nyata. Namanya kehamilan simpatik. Atau couvade syndrome.”
Kay seketika terdiam. Lain halnya dengan Noah yang reaksinya sangat diluar dugaan dan membuat Kay semakin pusing sekaligus kesal dibuatnya. “Waahh, hantunya benar-benar bisa hamil, Kay?”
“Shut up, Noah!” geram Kay dengan suara penuh penekanan.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌