Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan atau tidak?
Ketika mendengar cerita keren tentang Komandan Ksatria Louise Harden mendobrak pintu untuk menyelamatkan pemilik asli tubuh ini saat peristiwa pelecehan, Rhea sempat berpikir untuk mengenalnya karena penasaran.
Saat itu, sosok komandan dalam benaknya adalah ksatria dingin nan tampan yang memiliki rasa keadilan tinggi dan berbakat. Ksatria yang mengertakkan giginya untuk melawan bangsawan tinggi demi menyelamatkan gadis malang. Dia begitu tinggi dan tak tersentuh.
Namun, siapa pria kekar yang pura-pura menangis ini? Dialah komandan dingin, keren, dan tak tersentuh itu? Apa Louise Harden merupakan nama yang pasaran?
Rhea hampir berteriak karena tidak percaya. Tetapi dia memang Louise Harden, Komandan Ksatria Kerajaan Romanov. Putra Mahkota mengonfirmasinya dengan pasti.
Azz merasa tidak begitu senang melihat gurunya yang hilang ingatan memiliki ketertarikan lagi dengan Komandan Louise, jadi dia sengaja mendeskripsikan sifat ramahnya dengan sedikit dilebihkan.
“Itu benar-benar dia, Guru. Dia memang terlihat konyol dan tak dapat diandalkan,” jelas Azz, nadanya seolah mengenalkan barang curian. “Namun, dia adalah ksatria terkuat kedua di kerajaan ini. Setidaknya, dua kali serangan Anda dapat dia tahan dengan mudah.”
“Itu tidak benar! Anda menurunkan standar saya, Yang Mulia!” Louise merasa dihina dan mencoba membela diri. “Saya pernah mencoba menahan empat kali serangan sihirnya yang berbeda berturut-turut!”
“Hanya selisih dua…”
“Dua merupakan jumlah yang sangat banyak!” teriak Louise.
“Benarkah? Aku tidak tahu itu…”
Pertengkaran keduanya membuat Rhea terkekeh. Dia melepas tangannya yang digenggam erat oleh Putra Mahkota dan menaruhnya di kepala anak itu, menepuk rambut hitam legam tersebut dua kali.
“Kalian terlihat sangat dekat,” kata Rhea sambil tersenyum.
Azz menempatkan tangannya ke rambut yang baru saja disentuh dan menjawab tegas,
“Tidak! Itu karena sifatnya memang seperti itu kepada semua orang,” kata Putra Mahkota. “Jika bukan karena ingin mempelajari ilmu pedangnya, muridmu ini tidak akan mentoleransi ketidaksopanan itu.”
Maka dapat dimengerti mengapa Putra Mahkota Azz tiba-tiba mengganti tempat belajarnya. Sepertinya dia baru saja berlatih ilmu pedang dengan Komandan Ksatria Louise dan memilih melanjutkan belajar di tempat ini daripada di tamannya.
“Saya mengerti, Yang Mulia.” Rhea mengangguk lalu bertanya ketika merasa waktu berlalu.
“Kapan kita melanjutkan pembelajaran?”
Sepertinya Azz juga lupa karena percakapannya dengan Louise. Setelah mengamati Rhea yang sedikit pucat, dia mengajaknya duduk di tempat yang lebih nyaman di sana.
Di lapangan ilmu pedang yang bertujuan untuk latihan para ksatria, sofa panjang di sudut ruangan dan meja teh kecil menarik perhatiannya.
“Ada tempat seperti ini di sini?” gumam Rhea saat dia menepuk sofa yang halus dan empuk.
“Jangan terkejut, ini karena kebiasaan Yang Mulia Raja yang setiap bulan mengawasi latihan para ksatria,” timpal Louise yang mengikuti mereka tanpa malu-malu.
“Saat kau berkunjung ke divisi utama ksatria kedua tempatku memimpin, bukankah kau selalu minum teh di sofa empuk yang sama?”
Louise berjalan menuju bagian sofa di ujung dan duduk dengan nyaman.
“Oh, oh ya! Kau kehilangan ingatanmu! Jadi kau pasti tidak ingat!” pekik Louise sambil memukul kepalanya sendiri. “Bodohnya diriku ini…”
“Kenapa kau ikut ke sini, Komandan Louise?” Putra Mahkota Azz menatapnya dengan tidak senang. “Latihan pedangku denganmu sudah selesai dan aku harus belajar sihir!”
Rhea juga menatap ke arahnya dengan bingung. “Benar, apa yang Anda lakukan di sini, Komandan? Sebagai ksatria, seharusnya Anda melanjutkan pekerjaan daripada di sini.”
Louise menyisir rambut pirang terangnya dan berkedip, lalu tersenyum cerah. “Hah, senangnya… Sebagai bos ksatria Divisi Kedua kerajaan, saya memutuskan menggunakan cuti bulananku hari ini untuk mengawasi Yang Mulia belajar sihir bersamamu.”
“Saya tidak bermaksud mendekati Rhea, saya hanya penasaran tentang perkembangan sihir Anda, Yang Mulia!” Louise tersenyum polos, duduk di ujung sofa yang sangat berjauhan dari mereka, terlihat meyakinkan.
“Mohon maaf, Komandan Louise, tetapi saya keberatan,” balas Putra Mahkota, tak bergeming. “Pelajaran sihir dari seorang arcmage sangat berharga. Tidak boleh ada yang mengganggu pembelajaran. Atau Anda ingin mendapat hukuman?”
“Maaf, bisakah Anda pergi terlebih dahulu, Komandan Louise? Jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan, aku akan menemuimu kalau ada waktu,” lanjut Rhea hati-hati.
Rhea sebenarnya tidak keberatan, karena dia juga tidak benar-benar punya ilmu yang harus diajarkan kepada Putra Mahkota yang sudah jenius itu hari ini.
Tetapi sikap Putra Mahkota Azz kali ini memang agak agresif, tidak seperti biasanya. Dia tidak tahu apa yang Louise lakukan pada Putra Mahkota hingga bocah itu terus bersikap tajam. Rhea hanya perlu mendukung keinginannya sebagai guru.
“Terima kasih, Rhea! Aku akan mengingat janjimu. Temui aku untuk berbicara, oke?” Louise langsung menjawab permohonannya.
Ketika mengira masalah ini selesai dengan baik,
Louise ternyata tidak bergerak dari tempat duduknya. Azz yang duduk di samping Rhea terlihat kehilangan kesabarannya dan melotot dengan muka merah.
“Komandan, bisakah Anda pergi?” Rhea mendesak dengan lembut. Tangannya menepuk punggung muridnya untuk menenangkannya.
“Kenapa? Aku juga harus mengawasi perkembangan Putra Mahkota dalam uji coba penggabungan kekuatan mage dan ksatria! Aku mengajarinya ilmu pedang, dan kamu mengajarinya sihir! Kita sama-sama gurunya!”
“Benarkah seperti itu?” Rhea berhenti, memiringkan kepalanya untuk melihat Putra Mahkota dan mencoba menenangkan muridnya dengan tangan yang lain.
Tetapi Putra Mahkota tidak menerima alasan itu dengan mudah dan mengusirnya dengan kasar.
“Cukup, aku tidak mau kau di sini. Kau bukan guruku, hanya orang beruntung dari sekian banyak ksatria yang tidak sengaja terpilih untuk mengajariku ilmu pedang. Pergi, atau mau aku panggilkan Komandan Ksatria Istanaku?”
Kata-kata itu cukup kasar untuk menyerang harga diri seseorang. Rhea yang mendengarnya merasa sakit hati; dia menarik lengan muridnya dengan maksud menghentikannya. Namun, saat ia mendongak, matanya berpapasan dengan mata Louise.
Tidak seperti yang ia duga, di balik mata itu tidak ada gejolak apa pun selain rasa penasaran dan sikap main-main.
Rhea merasa kekhawatirannya sia-sia.
“Baiklah, Anda benar, Yang Mulia.”
Akhirnya, Komandan Ksatria Louise berhasil terbujuk dan menghilang diam-diam. Ketika melihat punggungnya menjauh, Rhea menghela napas lega. Ekspresi Azz sedikit rileks dan menatap Rhea dengan wajah seperti biasanya, tenang dan dewasa. Namun, ketika dia hendak berbicara, teriakan keras Louise di kejauhan memutusnya.
“Ingat untuk menemuiku saat kau senggang!”
Rhea terkejut dengan suara keras itu. Matanya melebar ketika melihat Louise melambai dari kejauhan.
“Dasar anjing gila!” Azz mengumpat tajam.
Rhea mengerutkan kening dan menegur, “Yang Mulia? Jangan mengumpat.”
Azz menyilangkan lengan, pura-pura tidak mendengar tegurannya. “Guru sudah selesai membaca dua buku itu, kan?”
Melihat Azz mengabaikan tegurannya, Rhea tidak memaksa dan menjawab pertanyaan tersebut. “Ya, selesai kemarin malam.”
Putra Mahkota Azz mengangguk, kemudian mengajukan pertanyaan lain. “Guru juga berlatih keras sampai kehabisan energi sihir?”
Tatapan Azz tertuju pada lingkaran sihir Rhea yang tampak sedikit lebih tipis daripada biasanya. “Berapa lama dan mantra apa yang digunakan Guru saat berlatih tadi malam?” Dia menatapnya dengan ekspresi aneh.
”Biasanya arcmage memiliki energi sihir berkali-kali lipat dibanding mage biasa. Jarang sekali melihat energi itu terkuras sampai separuhnya.”
Rhea malu memikirkan alasan hal ini terjadi. Sungguh menjengkelkan memiliki seseorang yang begitu teliti mengawasi keadaan fisiknya.
Mata Putra Mahkota memang sangat jeli.
Awalnya dia hendak berbohong, mencoba menyalahkan pingsannya yang menimbulkan efek lain, namun dia berubah pikiran saat mata ungu itu berkilat menusuk. Entah mengapa, Rhea merasa kebohongan apa pun akan terungkap oleh tatapan mata itu.
Akhirnya, terpaksa dia menjawab jujur sambil sedikit menundukkan pandangan karena malu.
“Guru lupa memiliki intoleransi terhadap makanan yang mengandung daging. Kemarin malam tidak sengaja mencoba satu potong steak sapi premium yang dibuat koki baru istana,” ucapnya cepat.
“Kemudian tadi pagi efeknya terasa, energi sihir Guru terkuras.” Rhea mendongak ketika melihat tangan Putra Mahkota gemetar, lalu menjelaskan lagi. “Dokter memberi Guru ramuan ajaib yang terbuat dari kristal arcana. Sekarang rasanya baik-baik saja, jangan khawatir.”
Mata ungu tua itu terlihat lebih gelap. Rhea sedikit takut dan menunduk menatap bibir Azz. Tanpa emosi, bibir itu terkatup lurus dan pucat.
Tersentak, Rhea merasakan telapak tangannya ditarik dan melihat tangan kecil Putra Mahkota mencengkeram lengannya.
“Yang Mulia? Anda khawatir? Tenang, saya baik-baik saja.” Rhea menjadi kaku ketika cengkeraman di lengannya menguat. Ia membiarkan Putra Mahkota membuka telapak tangannya dan meraba seolah mencari sesuatu.
Ekspresi Azz sangat serius ketika mengamati tangannya. Rhea merasa pegal karena menunggu dengan kaku hingga akhirnya tangannya dilepaskan. Begitu Rhea rileks, dia mendapati Putra Mahkota Azz menutup matanya sambil bernapas kasar.
“Yang Mulia?”
Setelah mendengar panggilan khawatir itu, Azz membuka matanya dan menoleh ke arah Rhea. Dia menatap dengan ekspresi rumit—antara khawatir, takut, dan bingung. Rhea tak mengerti mengapa Putra Mahkota menatapnya seperti itu. Dia kemudian menyadari ada sesuatu yang salah.
Mungkinkah fakta bahwa Rhea tidak bisa makan daging menyimpan rahasia yang lebih dalam? Apakah ini berhubungan dengan identitasnya sebagai warga Kekaisaran Suci? Apa orang Kekaisaran Suci juga tidak bisa makan daging?
Saat itu, Putra Mahkota berdiri dan menarik Rhea keluar dari lapangan latihan. Rhea hanya bisa pasrah mengikuti tanpa melawan, sedikit ketakutan.
Di pintu masuk, kepala pelayan menunggu bersama para ksatria. Ketika melihat Azz menarik tangan Rhea, ekspresi kepala pelayan mengeras.
Kepala pelayan memberi salam, kemudian bertanya, “Yang Mulia, pelajarannya sudah selesai? Belum dua jam berlalu.”
Putra Mahkota mendongak dan melirik wajah Rhea yang pucat di sampingnya, lalu berkata tegas, “Bawa Guru beristirahat. Pelajaran diliburkan sampai dia pulih.”
Ini adalah hukuman mati bagi Rhea yang ingin memantapkan hatinya agar bisa hidup lebih tenang. Dia menelan ludah, mencoba memprotes. “Yang Mulia, gurumu ini baik-baik saja, kita bisa melanjutkan pelajaran yang tertunda…”
Azz menoleh ke arah kepala pelayan tua, mengabaikan perkataan Rhea. “Biarkan Guru tinggal di istana ini. Bawa dokter tua dan pelayan dekatnya juga ke sini. Tolong biarkan dia istirahat dengan nyaman.”
“Baik, Yang Mulia,” jawab kepala pelayan patuh.
Rhea tak tahu apakah boleh beralasan lebih suka suasana Istana White Lotus, tetapi dia tidak berani bersuara karena merasa posisinya terancam bahaya.
“Maafkan saya, Guru,” ucap Putra Mahkota sambil menunduk sopan. “Anda bisa beristirahat sekarang. Tolong cepat pulih, tidak perlu khawatir. Saya akan menemui Ayah untuk melapor sendiri.”
Putra Mahkota kemudian berbalik dan berjalan cepat dengan langkah-langkah kecilnya.
“Apa?!” Rhea berteriak tanpa sadar.
Kepala pelayan tidak menghiraukan keterkejutan Rhea dan mendesak, “Nyonya Celeste, silakan ikuti saya ke kamar Anda.”
Rhea mengikuti dengan pikiran kosong. Otaknya dipenuhi tanda tanya, memutar kembali perilaku Putra Mahkota Azz setelah mendengar tentang intoleransinya terhadap daging.
Meskipun pandai membaca ekspresi wajah, dia tidak begitu pandai membuat deduksi. Dari semua kemungkinan, Rhea hanya bisa melihat satu kesimpulan menakutkan:
Putra Mahkota menebak dirinya adalah warga atau mata-mata Kekaisaran Suci dan melaporkannya pada Raja!
Rhea kehilangan semua tenaga.