"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Skenario Pelarian di Bawah Hujan Peluru
[Waktu: Sabtu, 18 April, Pukul 21.05 PM]
[Lokasi: Lorong Rahasia Gedung Tua, Suzhou (Era Republik)]
Bau mesiu yang menyengat seketika memenuhi ruangan perpustakaan yang sempit itu. Suara ledakan dan desing peluru yang menghantam rak buku menciptakan simfoni kematian yang sangat nyata. Lin Xia merunduk, menutupi telinganya dengan tangan yang gemetar hebat. Serpihan kayu dan kertas dari buku-buku kuno berhamburan di sekitarnya seperti salju hitam.
"Jangan menutup matamu, Lin Xia! Tetap fokus padaku!" teriak Gu Jingshen di tengah kebisingan.
Pria itu berdiri kokoh seperti tembok baja di depan Lin Xia. Pistol di tangannya memuntahkan api setiap kali ia menarik pelatuk dengan presisi yang mengerikan. Setiap tembakannya menjatuhkan satu musuh yang mencoba merangsek masuk melalui pintu yang hancur. Namun, jumlah penyusup itu terlalu banyak.
"Kita tidak bisa bertahan di sini! Mereka akan mengepung ruangan ini!" Lin Xia berteriak balik, suaranya parau karena debu dan ketakutan.
Gu Jingshen menembak lampu gantung kristal di tengah ruangan hingga jatuh berdentum, menciptakan kegelapan sesaat dan kekacauan di pihak musuh. Ia segera menyambar laptop Lin Xia dengan satu tangan dan menarik pinggang Lin Xia dengan tangan lainnya.
"Ikuti aku! Ada lorong rahasia di balik rak buku sejarah!"
Mereka berlari menembus kegelapan. Gu Jingshen menendang sebuah tuas tersembunyi, dan sebagian rak buku bergeser, menampakkan sebuah lorong sempit yang lembap dan gelap. Begitu mereka masuk, Gu Jingshen menutup kembali pintu rahasia itu tepat saat rentetan peluru menghantam dinding kayu tempat mereka berdiri satu detik yang lalu.
Di dalam lorong, suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan suara napas mereka yang memburu.
"Kenapa... kenapa ada lorong di sini?" tanya Lin Xia sambil terengah-engah. Napasnya pendek-pendek, jantungnya terasa seperti ingin melompat keluar dari dadanya.
Gu Jingshen menyalakan senter kecil dari sakunya. Cahaya temaram itu menyinari wajahnya yang tercoreng jelaga, namun tetap terlihat sangat tampan dan tenang. "Karena kau yang menulisnya, Nona Penulis. Di naskah aslimu, Marsekal Gu Yan membangun lorong ini untuk melarikan diri jika dikhianati oleh bawahannya. Kau ingat?"
Lin Xia tertegun. Ia memang pernah menulis detail itu, tapi melihatnya secara nyata dalam bentuk lorong batu yang dingin dan berlumut adalah pengalaman yang sangat ganjil. Dunia fiksi yang ia ciptakan di kamar apartemennya di Shenzhen kini menjadi satu-satunya tempat persembunyian yang menyelamatkan nyawanya.
"Kita harus keluar dari gedung ini melalui pintu belakang yang mengarah ke kanal Suzhou," ujar Gu Jingshen sambil terus berjalan cepat, menarik tangan Lin Xia agar tidak tertinggal.
"Tapi di naskahku, pintu itu dijaga ketat oleh penembak jitu!" sela Lin Xia panik. "Marsekal Gu Yan seharusnya tertembak di sana! Itu adalah titik di mana skenario kematianmu dimulai!"
Gu Jingshen berhenti mendadak, membuat Lin Xia menabrak punggungnya yang keras. Ia berbalik dan menatap Lin Xia dengan tajam. "Itulah sebabnya kau harus mengubahnya sekarang. Gunakan laptop itu. Cari celah dalam logika ceritamu sendiri."
Lin Xia duduk bersimpuh di lantai lorong yang dingin, segera membuka laptopnya. Cahaya layar biru menerangi wajahnya yang pucat. Jarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang belum pernah ia capai sebelumnya.
[Sistem: Skenario Utama Terdeteksi. Adegan: Kematian Marsekal di Tepi Kanal.]
[Status: Tidak Dapat Dihapus. Syarat Perubahan: Masukkan Unsur 'Ketidakterdugaan'.]
"Ketidakterdugaan?" gumam Lin Xia. "Apa yang tidak terduga dalam sebuah perang?"
Di luar lorong, suara ledakan kembali terdengar, lebih dekat dari sebelumnya. Langit-langit lorong mulai merontokkan debu. Musuh sepertinya sudah menemukan mekanisme pintu rahasia itu.
"Cepat, Lin Xia! Mereka mulai masuk!" desak Gu Jingshen sambil mengokang senjatanya, bersiap melakukan perlawanan terakhir.
Lin Xia memeras otaknya. Jika ia tidak bisa menghapus penembak jitu itu, ia harus membuat mereka "tidak bisa menembak". Ia mulai mengetik dengan liar:
“Tepat saat Marsekal melangkah keluar, kabut tebal dari kanal Suzhou naik menyelimuti seluruh area, menelan pandangan para penembak jitu dalam kegelapan putih. Di saat yang sama, kembang api dari perayaan kota yang seharusnya dimulai esok hari, meledak lebih awal karena kecelakaan, mengalihkan perhatian semua orang.”
Layar laptop berkedip hijau. [Skenario Diperbarui: Efek Lingkungan Ditambahkan.]
"Sudah! Aku melakukannya!" seru Lin Xia.
"Ayo!" Gu Jingshen menyambar tangan Lin Xia dan mereka berlari menuju ujung lorong.
Begitu pintu besi kecil di ujung lorong terbuka, hawa dingin malam Suzhou menyambut mereka. Benar saja, kabut putih yang sangat pekat—lebih pekat dari kabut alami mana pun—tiba-tiba muncul dari permukaan air kanal, menelan dermaga kecil di depan mereka. Di langit, suara dentuman kembang api warna-warni mulai meledak, menerangi malam yang gelap dan menciptakan kebisingan yang membingungkan musuh.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan terdengar dari atas atap, tapi peluru-peluru itu meleset jauh karena para penembak jitu kehilangan arah dalam kabut.
"Lompat ke perahu itu!" perintah Gu Jingshen, menunjuk sebuah perahu kayu kecil yang tertambat di tepi kanal.
Mereka melompat masuk. Gu Jingshen dengan cepat memotong tali tambatan dan mulai mendayung dengan kuat, menjauh dari gedung tua yang kini mulai dilalap api. Di belakang mereka, gedung markas militer itu tampak seperti monster raksasa yang terbakar di tengah kabut.
Setelah merasa cukup jauh, Gu Jingshen menghentikan dayungannya. Mereka kini berada di bawah sebuah jembatan batu kuno yang gelap. Hanya suara gemericik air kanal yang terdengar.
Lin Xia jatuh terduduk di dasar perahu, seluruh tubuhnya lemas seolah tulang-tulangnya telah berubah menjadi jeli. Ia menatap tangannya yang masih gemetar. "Kita... kita selamat?"
Gu Jingshen meletakkan dayungnya. Ia menatap Lin Xia yang tampak kacau—rambutnya berantakan, cheongsam-nya kotor terkena debu lorong, dan matanya merah karena menahan tangis. Tiba-tiba, pria itu mengulurkan tangan dan menghapus noda jelaga di pipi Lin Xia dengan ibu jarinya.
Gerakannya begitu lembut, sangat kontras dengan sosok panglima perang yang baru saja membunuh musuhnya tanpa ampun.
"Kau melakukannya dengan baik, Lin Xia," ucap Gu Jingshen, suaranya kini tenang dan dalam. "Kau baru saja menyelamatkan nyawaku."
Lin Xia menatap mata Gu Jingshen. Dalam keremangan cahaya bulan yang menembus celah jembatan, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata pria itu. Bukan lagi kebencian karena adiknya yang hilang, melainkan sebuah pengakuan... atau mungkin sesuatu yang lebih dalam.
"Aku hanya ingin kita pulang," bisik Lin Xia, air mata akhirnya menetes jatuh. "Aku ingin kembali ke Shenzhen. Aku ingin kembali ke hidupku yang membosankan di depan komputer."
Gu Jingshen terdiam sejenak, lalu ia menarik Lin Xia ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan kepala Lin Xia di dadanya yang bidang. Lin Xia bisa mendengar detak jantung Gu Jingshen yang kuat dan stabil. Anehnya, pelukan pria yang paling ia takuti ini justru menjadi satu-satunya tempat yang terasa aman di dunia gila ini.
"Kita akan pulang," janji Gu Jingshen di puncak kepala Lin Xia. "Tapi sebelum itu, kita harus menemukan adikku. Dan aku rasa, orang yang mengatur semua ini ada di dalam permainan ini bersama kita. Menyamar sebagai salah satu pemain."
Lin Xia mendongak, menatap wajah tegas Gu Jingshen. "Maksudmu... ada pengkhianat di antara kita?"
"Ya. Dan seseorang itu tahu persis bagaimana caramu menulis." Gu Jingshen melepaskan pelukannya perlahan, matanya kembali waspada. "Kita tidak bisa mempercayai siapa pun sekarang, bahkan Xiao Li sekalipun, sampai kita tahu siapa yang benar-benar memegang kendali di luar sana."
Lin Xia merinding. Jika benar ada pemain lain yang sengaja mengubah naskahnya, berarti mereka semua sedang diobservasi. Seperti tikus di dalam labirin.
"Sekarang, kita harus menuju ke Dermaga Barat," lanjut Gu Jingshen. "Di sana ada rumah aman milik Keluarga Gu. Kita butuh istirahat sebelum fajar tiba, karena saat itulah babak kedua dari permainan maut ini dimulai."
Lin Xia mengangguk lemah. Ia memeluk laptopnya erat-erat, seolah itu adalah senjata satu-satunya yang ia miliki. Di bawah naungan jembatan kuno Suzhou yang bersejarah, di tengah malam yang dingin dan penuh rahasia, Lin Xia menyadari bahwa "Script of Love" yang ia tulis bukan lagi sekadar romansa picisan.
Ini adalah perjuangan untuk tetap hidup, di mana setiap kata yang ia ketik bisa menjadi napas terakhir bagi pria yang mulai mengisi ruang di hatinya.
[Waktu: Minggu, 19 April, Pukul 01.00 AM — Menuju Dermaga Barat]
[Lokasi: Kanal Suzhou, Wilayah Pingjiang]
Perahu kayu itu meluncur pelan di atas air yang gelap, membawa mereka menuju misteri yang lebih besar, sementara di kejauhan, api di markas militer masih menyala merah, menandai berakhirnya babak pertama dari naskah berdarah itu.
...****************...