NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perisai Almamameter

Bagas menyadari bahwa ia sedang menjadi target operasi pembunuhan internasional. Namun, kali ini ia tidak akan lari. Ia akan menggunakan "pasukan" alumni SMK-nya di seluruh dunia sebagai perisai manusia dan intelijen tandingan. Perang fisik dimulai!.

Dari bengkel kecil, perjuangan Bagas kini melibatkan jaringan global yang ia bangun dengan keringat dan kejujuran.

Udara Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Bagas menerima laporan dari Pak Baron bahwa beberapa tim tentara bayaran elit telah mendarat di Singapura dan Australia, siap menyusup ke Indonesia dengan satu misi: melenyapkan Bagas Pratama. Dunia sedang menyaksikan revolusi energi, namun di balik layar, kekuatan lama sedang mencoba melakukan "format ulang" dengan kekerasan.

"Gas, kamu harus masuk ke perlindungan militer. Ini bukan lagi soal preman pasar atau polisi korup. Ini unit profesional," ujar Pak Baron melalui saluran radio yang sangat rahasia.

Bagas menatap ke luar jendela kantor Badan Energi Nasional. Di bawah sana, ia melihat ratusan anak muda mengenakan jaket almamater SMK dari berbagai sekolah. Mereka datang tanpa diperintah. Mereka mendengar kabar tentang ancaman terhadap Bagas melalui jaringan alumni Yayasan Pratama yang tersebar di media sosial.

"Tidak, Om Baron. Jika saya bersembunyi di balik tank militer, saya akan terlihat seperti penguasa yang ketakutan," jawab Bagas mantap. "Saya akan tetap di sini Saya punya perisai yang tidak bisa ditembus oleh peluru mana pun."

Bagas melakukan langkah yang sangat berani. Ia mengundang media internasional dan mengumumkan bahwa ia akan mengadakan "Pertemuan Teknis Terbuka" di sebuah stadion besar. Ia ingin menunjukkan cara pembuatan "Lempengan 15 Derajat" secara langsung kepada ribuan orang.

Strategi ini jenius sekaligus berbahaya. Bagas menjadikan dirinya umpan di tempat terbuka, namun di tengah ribuan "anak-anaknya" para lulusan SMK yang ia bantu.

Malam itu, stadion dipenuhi oleh lautan manusia berjaket almamater. Mereka membentuk rantai manusia di sekeliling stadion. Mereka adalah sistem keamanan yang paling sulit ditembus: mereka tidak bisa dibayar, dan mereka mengenal setiap jengkal kabel serta baut di tempat itu.

Di sebuah gedung tinggi di seberang stadion, seorang penembak jitu dari tim "Operasi Pembersihan" membidikkan lensanya ke arah podium tempat Bagas berdiri. Namun, setiap kali ia hendak menarik pelatuk, posisinya selalu terdeteksi oleh "tim sapu jagat" bentukan alumni SMK Bagas yang menggunakan drone rakitan murah untuk memantau setiap sudut atap gedung di sekitar lokasi.

"Target terkunci, tapi ada gangguan frekuensi dari bawah," lapor sang eksekutor melalui radio.

Para alumni SMK itu menggunakan perangkat pemancar sinyal (jame) yang mereka rakit sendiri dari barang bekas untuk mengacaukan navigasi dan komunikasi para pembunuh bayaran. Inilah perang asimetris: teknologi canggih jutaan dollar melawan kreativitas anak-anak bengkel yang memiliki solidaritas tanpa batas.

Di atas panggung, Bagas tetap tenang. Ia mendemonstrasikan cara mengikir tembaga di bawah sorotan lampu stadion. "Kekuatan kita bukan pada senjata," teriak Bagas ke mikrofon. "Kekuatan kita adalah saat ilmu ini sudah tidak lagi menjadi milik satu orang, tapi menjadi milik kalian semua!"

Di tengah acara, tiga orang pria bersenjata mencoba menerobos barikade belakang. Namun, mereka tidak berhadapan dengan tentara, melainkan dengan ratusan montir dan teknisi listrik yang menggunakan alat-alat kerja mereka kunci inggris, alat las, hingga kabel bertegangan tinggi untuk melumpuhkan para penyusup tersebut tanpa satu pun suara tembakan.

"Kami tidak butuh peluru untuk menjaga Kak Bagas!" teriak salah satu alumni sambil menyerahkan penyusup yang sudah terikat kabel kepada pihak berwajib.

Kegagalan operasi ini di depan mata dunia membuat para pemodal di Swiss panik. Mereka menyadari bahwa membunuh Bagas sekarang justru akan menjadikannya martir yang lebih berbahaya. Gerakan "The People’s Power" telah berubah menjadi perisai hidup yang tidak bisa dihancurkan secara militer.

Menjelang tengah malam, acara berakhir dengan damai. Bagas turun dari podium, tubuhnya gemetar karena kelelahan emosional yang luar biasa. Ia dikawal oleh barisan anak-anak SMK menuju mobilnya. Salah satu dari mereka, seorang remaja kecil dengan tangan penuh noda oli, menjabat tangan Bagas.

"Terima kasih, Mas Bagas. Dulu saya pikir saya cuma bakal jadi tukang tambal ban. Sekarang saya merasa saya sedang menjaga masa depan dunia," bisik remaja itu.

Bagas menangis. Ia menyadari bahwa misi hidupnya telah tercapai. Ia tidak lagi dicari karena kekayaannya, tapi karena ia telah memberikan martabat kepada jutaan orang.

Namun, di tengah haru itu, Pak Baron mendekat dengan wajah sangat pucat. Ia menunjukkan layar tabletnya. "Vance melakukan langkah putus asa, Gas. Dia tidak lagi menyerangmu. Dia meretas sistem satelit kontrol iklim global yang terhubung dengan jaringan energi lama. Dia ingin menciptakan badai elektromagnetik buatan yang akan menghancurkan seluruh sirkuit generator di bumi termasuk milik kita jika kita tidak menyerahkan kontrol server utamanya dalam 24 jam."

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!