NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dekan Naik Darah

Pukul 07.30 Dewa baru saja mengantar Ibu Dosen ke kampus. Perjalanan pagi itu terasa berbeda, biasanya dia cerewet—mengkritik jadwal kuliah, mengomel soal laporan mahasiswa, atau tiba-tiba meledek cara Dewa membelokkan motor yang katanya "seperti orang belajar nyetir game balap".

Tapi pagi ini perempuan itu hanya diam,

bukan diam biasa tapi aneh diiringi dengan senyuman kecil tanpa sebab masalah.

Dewa meliriknya diam-diam lewat spion.

Kenapa Ibu dosen senyum senyum sendiri? Apakah gue salah jalan? Tapi jalan ini benar dan motor tidak nyungsep ke got Atau... jangan-jangan helm gue kebalik?

Namun Ibu tetap tersenyum

Sesampainya di parkiran kampus, ia turun dari motor, tanpa banyak kata, menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna merah lebih mirip kotak kue dari toko roti pinggir jalan.

"Untuk kamu," katanya seperti sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.

Dewa nyaris jatuh dari motor mulut nya menganga.

"B-Bu? Untuk saya?"

"Buka nanti."

"Sekarang saja, boleh Bu ?"

"Ngeyel, saya bilang nanti."

Dewa mengangguk patuh. "Oh... iya, Bu."

Ia berbalik arah, melangkah dua langkah, lalu berhenti. "Jam 10 nanti ke ruangan saya."

"Ada apa Bu? "

"Gak pa pa."

" Lho ?"

Perempuan cantik bertubuh langsing itu pergi tanpa banyak tanya dan Dewa masih duduk di atas motor, memegang kotak merah seperti sedang memegang bom waktu. Ia

lalu mengendusnya, hangat, aroma butter dan gula.

Kue...?Ia menatap kotak itu bingung, Ibu Dian bikin kue buat gue?

Otaknya langsung membeku menolak semua kemungkinan itu. Enggak mungkin, Ini pasti eksperimen psikologis. Dosen psikologi suka begitu, tapi Ibu Dian seorang dosen statistik penuh dengan hitungan angka dan rumus. Mungkin ini jebakan, tapi siapa yang mau menjebak nya?

Tangannya tetap menggenggam kotak itu erat-erat.

---

Pukul 08.00, Ruang Dekan

Prof Hadi duduk di kursi sofa besar yang terlalu mewah untuk ukuran selera kampus, Wajahnya memerah bukan karena malu—tapi tekanan darah yang melonjak tak menentu.

Seorang perawat berdiri di samping memegang alat tensi dengan tangan sedikit gemetar.

"Pak, tekanan darah Bapak 180 per 100."

"Biar!" Prof Hadi menggebrak meja dengan kuat, tinta, pulpen, penggaris melompat lompat kaget

Perawat tergagap menjatuhkan tensi meter

"Aku rela mati demi dia"Pak Dekan menjerit seperti anak remaja puber putus cinta.

Perawat diam, Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi tingkah aneh bujang lapuk. Dua tahun lalu, saat Prof Hadi jatuh cinta pada dosen Bahasa Inggris yang baru pindah, tekanan darahnya sempat di angka 200 dilarikan ke UGD karena ditinggal nikah, d

Sekarang?... sepertinya lebih parah mungkin ia bisa stroke atau mimisan.

"Kemarin malam Ibu Dian membatalkan dinner!" katanya geramnya. "Dan demi siapa?!" Ia menunjuk udara seperti sedang menuduh roh jahat kuyang merasuki,

"Asisten dodol."

Gadis berbaju putih dan cap dikepala itu mengedip bingung

"Mahasiswa kucel itu! Dewa! Anak yang mukanya belum pernah kena sunscreen!"

Ia mondar-mandir di belakang meja persis setrika an. "Apa kurangnya aku?! Aku seorang dekan! punya jabatan! punya mobil! Aku punya—"

Ia berhenti secara dramatis dan disambut oleh Perawat menjawab refleks."Kurang rambut, Pak?"

Sunyi.

Prof Hadi menoleh perlahan

Perawat pucat pasi. "Oh—maksud saya rambut Bapak rapi sekali—"

"Keluar."

Ia langsung kabur terbirit-birit

---

Prof Hadi berdiri di depan cermin merapikan rambut mulai mundur strategis ke belakang menarik pipi, menghirup perut.

"Aku masih ganteng," gumamnya.Ia memiringkan kepala. "Masih... kan?"

Cermin tidak menjawab tentu saja tidak karena kaca hanya memantulkan bentuk asli tanpa pura pura.

Intercom berbunyi.

"Pak, mahasiswa atas nama Dewa sudah datang."

Prof Hadi berhenti matanya menyipit seperti penjahat sinetron ditangkap polisi.

"Suruh dia masuk."

--

Pukul 08.15, Ruang Dekan

Dewa masuk dengan langkah hati-hati. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di ruang dekan.

AC dingin menggigit. Karpet tebal meredam langkah. Di dinding tergantung lukisan abstrak yang—menurut Dewa—mirip nasi goreng tumpah.

Dan di belakang meja...

Prof Hadi tersenyum.

Senyum yang terlalu manis untuk pagi hari. Senyum yang tidak pernah dipelajari mahasiswa di mata kuliah apa pun.

Dewa tercekat, tidak mengerti mengapa ia dipanggil oleh pak Dekan, apakah ini ada hubungannya dengan Ibu Dian?

"Silakan duduk, Dewa."

Ia duduk pelan-pelan takut kursi didepan nya meloncat bersekutu dengan pak dekan menganiayanya.

"Kamu mau kopi? teh? sebentar saya panggilkan janitor untuk membuatnya.

"Nggak usah, Pak."

"Jus?"

"Terimakasih, Pak."

"Susu?"

Dewa mulai curiga melihatnya gugup. "Nggak juga, Pak."

Prof Hadi mengangguk pelan beberapa detik. "Kamu tahu, Dewa... saya ini seorang dekan boleh dikatakan baik dan terpuji oleh mahasiswa, Dosen, dan Rektor di kampus."

"Iya, Pak."

"Saya suka menolong mahasiswa."

" Benar Pak."

" Dan saya suka memberi kesempatan kepada rekan dosen untuk berkembang."

" Eh, ya pak, saya tahu," Dewa tercelat lidah."

ini seperti ruang interogasi yang dibungkus kata-kata motivasi.

"Tapi..." lanjutnya dengan nada turun satu oktaf. "Saya tidak suka... dihalang-halangi."

Hening.

Dewa menelan ludah yang tersangkut di kerongkongannya.

"Kamu masih muda, Dewa, masa depanmu masih panjang."Beasiswa... rekomendasi kerja... nilai..." Prof Hadi menyandarkan punggungnya di sofa, matanya menatap tajam "Semua itu... ada di tangan saya." Kalimat itu menggantung di udara seperti awan hitam badai menerjang

"Ibu Dian batalkan dinner... demi kamu."

Dewa hampir tersedak ludahnya sendiri.

Demi gue?! Gue juga baru tahu!

"Saya sudah cek data kamu," lanjutnya dengan tenang "Kamu mahasiswa biasa."

"Iya, Pak..."

"Nilai pas-pasan."

Laki laki berparas tampan itu mukanya memerah sedikit tersinggung "Saya tahu pak .. tapi nggak pas-pas banget sih. Saya sekarang lebih rajin belajar..."

"Tidak punya organisasi, tidak punya prestasi."

Dewa mulai merasa CV hidupnya sedang dibakar di depan mata.

"Lalu... kenapa Ibu Dian memilih kamu?"

Ia menunduk, menatap meja ingin menjawab jujur, 'mungkin karena saya tulus, apa adanya dan sedikit tampan,' Tapi yang keluar kalimat

"Saya... nggak tahu, Pak, saya juga bukan pilihan."

Prof Hadi berpindah duduk disampingnya tubuhnya gemetar halus," Saya kasih saran dengan mu, jangan coba-coba lebih dari sekadar asisten."

Dewa tercekat melihat senyumannya seperti " "Joker" film Batman, licik, penuh tipu tipu membuatnya ingin muntah.

"Ibu Dian itu... milik saya."

."'Mohon maaf, bapak salah sangka, saya hanya seorang mahasiswa akhir, sedang berjuang untuk tamat kuliah dengan baik."

" Lalu?"

"'Saya mengerti posisi saya hanya seorang asisten."

" Terus ?"

Ia berdiri menarik napas, "Mohon maaf Pak, " katanya pelan berjalan ke arah pintu"Saya nggak ngerti soal 'milik'.""Tapi Ibu Dian itu... juga manusia bukan barang."

Dewa keluar meninggalkan Prof Hadi terdiam seperti baru ditampar skripsi 800 halaman.

---

Pukul 10.00, seperti janji nya Ibu Dosen pagi tadi Dewa memberanikan diri mengetuk pintu ."

" Silahkan masuk," suara lembut terdengar dari dalam ruangan.

Dewa membuka pintu wajahnya terlihat sedikit pucat bukan karena kurang tidur, tapi karena ada setan berwujud Dekan baru saja merusak paginya.

"Kamu kenapa Dewa?Kenapa wajahmu seperti maling ayam ditangkap masa?" Ibu Dian mencoba melucu

Tapi punch line nya terasa garing ditelinga Eh .gak pa pa Bu " Ia mengambil kursi duduk didepannya." Apa yang mesti saya lakukan, Bu?"

"Tidak," Perempuan itu menggeleng," Kamu harus cerita dulu."

"Bu,mohon maaf, " Dewa meletakkan kotak merah di atas meja dengan tangan gemetar. "Ini, Bu... makasih."

Dian mengernyit tidak menyangka pemberiannya di tolak, menatapnya penuh selidik." Ada apa ? kenapa pemberian saya di tolak ?"

"M- maaf, Bu, saya tidak pantas menerimanya ."

"Dewa." Nada suaranya berubah tinggi, "kamu membuat saya kecewa."

Dewa tertunduk, roman wajahnya pias pucat, merasa bersalah.

"Sekarang kamu ceritakan, sebelum saya marah."

"Pak De- kan me - manggil sa - ya, bu" katanya dengan terbata bata.

"Apa? kamu ada urusan dengannya ? "

" Tidak Bu."

" Lalu pak Hadi bilang apa?"

Dewa terpaksa menceritakan secara detail, mulai dari ancaman nilai, beasiswa yang dicekal sampai dengan kalimat "Ibu Dian milik saya." membuatnya surut langkah

Ruangan menjadi sunyi, tangan Dian mengepal menahan rasa marah "Dewa... saya minta maaf, gara gara saya kamu jadi begini."

"Bu! Ibu nggak salah apa-apa!"

"Tetap saja." Ia menghela napas berat. "Saya akan bicara dengan Pak Hadi ."

"Bu, jangan!"

"Tenang." Ia tersenyum tipis. "Saya tahu caranya menghadapi orang seperti dia. Kamu cukup jaga diri. Dan..." ia menunjuk kotak merah "Cicipi itu, hargai kue buatan saya."

"Ibu... yang bikin?"

Ia hanya tersenyum menatap penuh arti

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!