Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Yang Pulang
Hari di mana cuma Tuhan yang tahu tanggalnya, tepat pukul 06.30 pagi seorang laki laki muda berwajah tampan menunggu di depan apartemen seperti biasa, rutinitas kecil yang dicatat oleh malaikat, mahasiswa muda menjemput Dosen Killer
Pagi masih dingin kota yang malas. Jalanan belum terlalu ramai oleh orang orang beraktivitas.. Ia bersandar di motor, menatap pagar yang sebentar lagi akan terbuka—ritual kecil sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi.
Dan akhirnya....doa terjawab, pintu pun terbuka, seorang perempuan berkulit putih keluar dengan tas sandang di bahunya. Rambutnya diikat rapi, seperti biasa tapi entah kenapa, pagi ini wajahnya terlihat berbeda, lebih pucat, lelah, seperti orang semalaman tidak tidur karena dikejar hutang.
"Pagi, Bu," kata Dewa, mencoba tersenyum.
"Pagi."Jawabannya pendek, lembut datar.
" Siap berangkat? "
Ia hanya diam naik motor tanpa suara dan Perjalanan mistis pun dimulai.
Biasanya Wajah lembut itu akan bercerita sedikit—tentang kelas yang gak berubah, mahasiswa aneh nilainya anjlok, atau sekadar komentar kecil tentang cuaca yang tidak bersahabat. Tapi pagi ini tidak ada apa-apa, tidak ada suara, tidak ada tawa Hanya suara mesin motor dan angin memotong jalan.
Dewa akhirnya tidak tahan. Di lampu merah, ia menoleh sedikit.
"Bu… kenapa?"
Ia tidak langsung menjawab menatap lurus ke depan. Lampu merah menyala terasa terlalu terang menyorot
" Mohon maaf Bu "Dewa tergagap melihat ekspresinya di balik kaca spion
Perempuan itu menghela napas pelan.
"Bukan apa-apa."
Jawaban yang terlalu cepat tapi bukan itu jawaban.
Dewa tidak memaksa. Tapi sejak itu dadanya terasa tidak enak, perasaannya menggantung.
Sampai mereka tiba di parkiran kampus.
Dian turun dari motor. Melepas helm. Rambutnya sedikit berantakan oleh angin. Ia merapikannya dengan tangan yang tampak sedikit gemetar.
"Dewa."
"Iya, Bu?"
"Nanti jam sepuluh… ke ruangan saya."
Dewa mengernyit."Ada apa, Bu?"
Ia terlihat ragu berkata pelan."Ada surat."
"Surat?"
"Iya."
Perempuan itu menatap ke arah gedung fakultas dengan sorot kosong."Surat dari… Bandung."
Dewa tidak perlu bertanya lagi.Bandung hanya berarti satu nama, Arif.
--
Pukul 08.00
Grup WA: "EKONOMI 23 – TANPA DOSEN"
Rina : Genting.
Budi: Genteng apaan
Rina : Genting, bodoh !
Budi : Apa lagi, Lo Rin? Ibu Dian bawa bekal pink lagi?
Rina: Bukan ! Ini lebih aneh lagi!
Joko: Cepet! Jangan bikin penasaran!
Rina : Gue liat wajah Bu Dian sedih
Budi : Buset, Lo apa apaan Rin selidiki ibu Dian?
Rina : Gue gak sengaja melihatnya masuk kelas Matematika pagi tadi.
Joko : Wajah bu Dian sedih ?Ada apa ya ? Bukankah dia robot " Grace Terminator?"
Rina : Jangan ngomong kasar begitu, Jo, apapun bentuknya dia itu dosen kita lho.
Budi: Iya. Dosen killer.
Rina : Terserah Lo deh, gue gak ingin ibu Dian napa - napa.
Roby : Gue setuju, kita mesti invest
Budi: Lo mau jadi detektif lagi?"
Roby : Bukan cuma riset."
Budi: Riset apaan?
Rani: Riset kesehatan mental dosen
Budi : Kenapa Lo yang jawab, Pe' ak . Lo cuma pengen gosip di kampus.
Rani: Gak deh, ini termasuk science"
Joko : Science gigi Lo,
Roby : Udah, jangan bertengkar, Lo semua pada kepo.
--
Tepat pukul 10 Dewa mengetuk pintu membukanya perlahan.
Perempuan itu duduk di belakang meja. Ruangan rapi seperti biasa. Tapi di depannya ada sesuatu yang langsung menarik perhatian
Sebuah amplop cokelat tertutup dan tidak dibuka lagi seolah benda itu terlalu berat untuk disentuh.
"Bu?"
"Duduk, Dewa."
Ia duduk di kursi depan meja.Suasana ruangan terasa aneh, sunyi bahkan suara AC terdengar seperti kereta api jadul habis batubara. Perempuan itu mengambil amplop menatapnya, lalu meletakkannya lagi.
"Ini… surat dari Arif."
Dada Dewa tiba tiba mengencang meledak kena rudal ,"Dia kirim surat Bu?" katanya pelan."Bukan WA atau telepon?"
Dian tersenyum kecil pahit."Katanya… surat lebih personal."Ia menunduk sebentar. " dia meminta maaf lagi."
Dewa tertunduk tidak bicara, tangannya mengepal di bawah meja tanpa ia sadari.
"Lebih panjang dan lebih… jujur," lanjut Dian.
Hening.
"Ibu sudah membacanya?"
Ia mengangkat wajah."Saya sudah baca."
Dewa menegang. "Kalau boleh tahu isinya apa, Bu?"
Dian menatap amplop itu lama sekali seakan kata-kata di dalam bergaung di kepalanya.
"Dia minta saya datang ke Bandung."
"Untuk apa, Bu?" Kerongkongan laki laki itu terasa pahit
"Ada sesuatu."
"Apa lagi ?"
"Dia nggak mau mengatakan katanya rahasia."
Jantung Dewa berhenti sesaat.
kenapa selalu kembali ke sana, bisiknya lamat."Bu…" suaranya serak."Selalu ada kata rahasia, Ibu pergi?"
Perempuan itu tidak menjawab menatap kearah jendela, melihat mahasiswa lalu-lalang seperti biasa, hidup berjalan normal hanya dia yang berhenti."Saya … nggak tahu, Dewa, saya bingung."
Dewa ingin mengatakan sesuatu bahwa jangan pergi, Arif tidak pantas setelah membuat luka, ia takut kehilangan, tapi tidak ada satu pun yang keluar dari mulutnya, justru kalimat sederhana, " Ibu boleh saya anter?"
Dian menatapnya lamat ada sesuatu yang hangat di matanya."Kamu mau?"
"Iya."
"Kalau ibu mengizinkan, saya takut terjadi napa napa seandainya ibu pergi sendiri."
Untuk beberapa detik, perempuan itu menatapnya haru, senyum penuh ketulusan."Makasih, Dewa."Ia menggeleng pelan."Belum sekarang, saya masih perlu waktu."
"Kalau Ibu butuh apa-apa… saya di sini."
Ia tidak menjawab tapi matanya melembut.
---
Pukul 12.00
Nasi goreng di depan Dewa masih utuh di kantin ketika Roby datang membawa teh botol."Bro, gue denger dari Rina, ada masalah ?"
Dewa menatapnya lemah, " Gak pa - pa."
"Banyak gaya Lo, "
" Gue..." Bibirnya bergetar
"Cerita aja ma gue."
Laki laki itu dengan berat mengatakan
tentang surat dari Pak Arif, kota Bandung yang akan dihadang, dan tentang sebuah rahasia..."
Roby mendengarkan sampai selesai bersandar di kursi, " Rahasia apa ? Ini jebakan"
"Apa?"
"Jebakan, bro."
Roby menunjuk meja dengan sumpit.
"Laki laki itu mau menarik ibu Dian."
"Tapi.."
"Lo takut bakal ketahuan?"
"Gue gak tahu..By, gue bener bener bingung."
Hening, tidak lama.
"'Gue hanya takut, Dew, pak Arif nyelidikin Lo dan cincin, Lalu memberi tahu kepada Ibu Dian."
Tubuh dewa menegang.
"Dia datang sebagai seorang pahlawan, dan Lo hanya seorang laki laki pembohong pecundang." Roby mengangkat bahunya."Game over."
Kata-kata itu menghantam seperti batu.
"Tapi gue....nggak bisa diem aja, By."
"Lo nggak harus diem."
"Lalu?"
"Tapi lo juga jangan panik."
Ia menepuk bahunya "Kadang… yang paling susah itu nunggu."
"Nunggu?"
"Nunggu Ibu Dian mutusin sendiri."
Dewa menatap nasi gorengnya, "Gue cemas ..."
"Takut apa Lo ?"
"Takut… Ibu -"
" Memilih Arif." Roby tersenyum kecil."Bro Lo sadar nggak sesuatu?"
"Apa?"
"Dia cerita ke lo."
"Dia nggak cerita ke siapa-siapa."
Roby mencondongkan badannya
"Dia tanya pendapat lo minta ditemenin lo."
Ia mengangkat alis."Itu artinya… lo penting buat dia."
Dewa tidak menjawab dadanya terasa sedikit lebih ringan.
"Tenang aja." Roby menyeruput teh botol," Asalkan Lo tahan telinga "
" Ya gue tahu."
" Saingan lo gak hanya Pak Arif, Pak Dekan, tapi teman teman kampus yang rese'"
"Maksud nya?"
"Lo tahu gak, siapa yang Lo dekati ? Dosen dingin yang umur nya sama dengan Mak Lo."
"By...please jangan katakan itu lagi " Wajah dewa memutih. Gue menghormati dan menyayanginya dengan tulus."
" Tulus pale Lo, mengapa sekarang Lo baru katakan ?awalnya Lo cuma mengambil cincin kampret itu, kan ?"
Dewa mengangguk kecil
" Nah sekarang mengapa berubah skenario Lo?"
Dewa menarik napas dalam," Gue gak tahu By, sumpah bener gak tahu mengapa tiba tiba hati gue condong kepadanya."
" Lo bukan cinta, tapi kasihan."
" Kasihan kenapa ?"
" kasihan akan nasibnya, kisah cintanya yang tragis."
" Enggak," Dewa menggeleng kuat. Gue bukan kasihan, gue memang ingin menyayangi nya."
"'Lo stress bangke, perbedaan usia Lo jauh"
" Biarin"
" Lo pacaran ma Tante Tante."
" Masa bodo"
" Dia sebenarnya gak suka ma Lo, Lo aja yang kege-eran."
" By...akan gue buktikan
Roby menepuk bahunya, " Buktikan, jangan banyak bacot.
---
Pukul 17.00
Dewa menunggu lagi seperti hari-hari sebelumnya di parkiran kampus. Langit sore mulai berubah warna—jingga tipis yang menggantung di antara gedung fakultas.
Mahasiswa satu per satu keluar dari dalam kelas. Dan perempuan itu muncul di tangga gedung.
Dewa langsung mengenalinya.
Langkahnya masih sama—tenang, rapi, sedikit terburu tapi tetap anggun dan tenang
"Sudah selesai, Bu?"
"Sudah," jawabnya mengambil helm yang dewa sodorkan. Jari mereka sempat bersentuhan sepersekian detik, dan keduanya pura-pura tidak menyadari. Motor pun melaju keluar dari parkiran.
--
Angin sore berhembus lebih hangat dari biasanya.Kota mulai ramai oleh orang-orang yang pulang kerja. Dian duduk di belakang, memegang sisi jok seperti biasa tidak terlalu dekat tapi juga tidak sejauh dulu.
Motor berhenti di lampu merah yang panjang.
"Dewa."
"Iya, Bu?" Ia tidak menoleh hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Makasih… ya."
"Makasih apa?".
"Yang kemarin."
"Yang mana?"
"Kamu nawarin anter saya ke Bandung."
Dewa tersenyum kecil."Oh… itu."
"Iya." Ia menatap punggungnya, ada jeda beberapa detik. "Saya belum siap."
Dewa mengangguk pelan seolah sudah tahu jawabannya"Nggak apa-apa."
"Saya perlu berpikir."
"Ambil waktu sebanyak yang Ibu butuhkan, jangan terburu buru."ucapnya pelan, jantungnya berdegup seandainya pilihan itu jatuh ke arah yang salah.
Dian hanya diam, angin sore meniup rambut dan wajahnya yang lembut beberapa detik berlalu
"Dewa…"
"Iya?"
"Kamu orang baik."
Roman wajah Dewa berubah gugup, kulitnya memerah "Ah… biasa aja, Bu."
"Nggak." Suaranya lembut serius."Kamu beda."
Dewa tidak tahu harus menjawab apa.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Motor kembali berjalan tidak ada lagi yang bicara.
Tapi perjalanan pulang terasa berbeda lebih sunyi dan hangat.
Di antara suara angin, deru kendaraan, dan cahaya senja—Ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka pelan dan hati-hati.
Seperti benih kecil yang menemukan tanahnya.
Dan tanpa mereka sadari—
Setiap hari, benih itu semakin sulit untuk diabaikan.
makanya jujur aja deh Wa, jangan cm dipendam tok gimana bu Dian tau kalo kamu cm diem aja