Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Friendzone
Baskara keluar dari lift transparan. Desain yang disengaja agar menghindari anak-anak istimewa di AIC mengalami ketakutan atau panik di ruang tertutup.
Sang pemilik AIC itu melangkah menuju lobi. Di ruangan yang didominasi oleh warna sagu dan aksen terakota itu, terlihat sosok wanita sedang melihat ke arah parkiran dari dinding kaca.
Kesan ketus hilang dari wajah Suci, yang tercetak adalah raut sendu. Ia melihat mobil Sagara telah meninggalkan pelataran parkir AIC.
Suci dapat mendengar suara langkah di belakangnya. Ia dapat pastikan itu adalah Baskara. Bahkan langkahnya pun dapat ia kenali.
"Yuk, jalan Ci. Anak-anak udah balik semua kan?"
Suci mengangguk. Joko, pramukantor terlihat membereskan ruang lobi. Baskara dan Suci berjalan bersama menuju kendaraan mereka.
"Hhmm, Ci... Apa mau bareng aja? Tapi mobil lo aman nggak ya kita tinggal?"
"Udah, masing-masing aja Bas. Lagian repot ntar lo besok. Biasa juga gitu." Suci membuka pintu mobilnya.
Baskara menipiskan bibirnya. "OK, tempat biasa ya." Baskara mengakhiri ucapannya dengan senyum. Suci mengabaikannya. Ia memilih langsung masuk ke dalam mobil.
Smiljan Space, tujuan kedua sahabat itu adalah sebuah kedai kopi estetik di daerah Ciputat, yang enam bulan belakangan kerap disambangi mereka. Setelah Baskara bercerai.
Awal Baskara bercerai, Suci terkadang berangkat dan pulang bersama Baskara. Namun, setelah Baskara pindah ke rumah ibunya, sebulan terakhir ini, hal itu tak lagi dilakukan.
Terlebih kini ada Aditi. Teman perjalanan baru bagi Baskara. Membuat Suci merasa tersingkirkan.
Suci tiba terlebih dahulu. Itu hampir bisa dipastikan. Baskara memang selalu meminta Suci berada di depannya jika berangkat berbeda mobil.
Alasan Baskara agar keadaan Suci bisa terpantau jika ada apa-apa. Seperhatian itu memang Baskara.
Suci langsung masuk ke dalam Smiljan kemudian memesan di konter. Untuknya hot cappuccino, untuk Baskara iced double shot espresso. Pilihan baku mereka.
Suci melangkahkan kaki jenjangnya ke pojokan Smiljan, tempat favorit mereka. Ia duduk, menyandarkan punggungnya yang terasa begitu tegang.
Baskara terlihat memasuki area kedai kopi. Ia menghampiri Suci. "Udah pesen?" Suci mengangguk.
Baskara menarik kursi berwarna cokelat muda. Ia menyandarkan tubuhnya sambil bersedekap.
"Kenapa lo, Ci. Kayak sedih gitu?"
"Ngantuk gue," jawab Suci.
"Ngantuk malah ngajak ngopi. Balik, molor, hehehe..." Baskara melihat sekeliling Smiljan.
"Padahal enak kopinya, tapi masih sepi aja ni tempat dari awal-awal kita ke sini," ujar Baskara.
"Kayaknya mereka banyak orderan online deh. Malah enak, sepi gini." Suci memajukan tubuhnya. Ia menopang pipi kanannya dengan telapak tangan.
Pesanan keduanya datang diantar pelayan. Suci juga memesan donat dan kentang goreng. Pesanan spontan.
Baskara mengaduk kopinya dan langsung meneguk minuman pahit itu. Sensasi kafein membuatnya lebih nyaman.
"Kenapa lo ngotot banget nggak ngizinin Diti balik sama Gara?"
Suci mengenggam cangkir keramik berwarna pasir dengan kedua tangannya. Ada kehangatan yang menenangkannya. Ia meneguknya. Hangat mengalir ke dalam tubuh.
"Karna gue ngehindarin pertanyaan yang waktu kejadian Kavi meltdown Sabtu kemaren. Bapaknya Diti kayak kurang suka, anaknya berangkat ama gue, balik ama cowo laen.
Kan gue udah cerita ama lo. Jadi yaa itu sih. Napa, lo mau bilang, gue jealous?"
"Bukannya emang gitu?" Suci mencebikkan bibirnya.
"Gue nggak suka aja sama cara Gara. Gue rasa dia liat Diti udah bukan cuma jadi terapis Kavi.
Jelas-jelas si Diti keberatan balik ama dia. Terus aja dipaksa. Harusnya lo nanyanya ama Gara, kenapa dia yang ngotot."
Suci menghela napas. Ia kembali meneguk kopinya yang berbusa.
"Hebat juga si Diti bisa bikin kalian ribut. Itungan hari lho. Mau kayak gimana kalian, sebulan ke depan?" Suci tersenyum sinis.
"Apa sih Ci?" Baskara membuang muka.
"Gara bisa secepet itu ya tertarik ama Diti?" tanya Suci.
"Bukan perkara tertarik atau gimana sih Ci. Ya, karna begitu dia liat si Diti bisa bikin Kavi responsif, dia jadi eksploitasi si Diti.
Gue paham Gara antusias, cuma harusnya dia nggak mutusin sendiri." Baskara menipiskan bibirnya.
"Terus menurut lo gimana?" tanya Suci.
"Ya, harusnya diskusi dulu sama kita. Terus liat-liat juga si Ditinya gimana. Tetep ada batasannya." Baskara mencomot kentang goreng di depannya.
"Iya, lo bener. Tapi kayaknya si Diti seneng-seneng aja tuh. Buktinya tadi mereka ketawa-ketawa pas nggak ada kita." Suci ikut mencomot kentang goreng.
"Diti sih emang supel. Sama siapa juga asik-asik aja," Baskara tersenyum.
"Kenal banget ya lo sama dia." Suci menipiskan bibirnya. Seketika kentang goreng terasa sulit ditelan, seret.
"Ya iya lah, tau dari kecil. Itu anak emang lucu sih dari kecil. Suka ngintil kakaknya, ya jadi ngintil gue juga." Mata Baskara terlihat menerawang.
"Pas kemaren ketemu lagi, gue pikir udah agak kaleman, taunya masih koplak. Gemesin sih tapinya." Baskara kembali tersenyum.
Suci kembali merasa sesak di dadanya. Ia meneguk kembali kopi. Berharap kafein dapat menguatkan jantungnya.
"Jadi, lo ngakuin nih, lo juga tertarik sama si Diti?" tanya Suci.
Baskara terdiam, kemudian tersenyum. "Tau deh, Ci. Nyenengin aja deket sama dia. Lo tau kan hidup gue belakangan kayak gimana. Ada dia bikin stress gue nguap."
Suci merapatkan giginya. Ia tak rela Baskara menjadikan Aditi sosok menyenangkan alias membuat nyaman. Harusnya ia, sahabat Baskara sejak lama.
"Eh, lo belum cerita soal dokter itu. Gimana Ci?" Baskara menyeruput kopinya.
"Hhhmm, dia berondong Bas, 30 umurnya. Tapi nggak keliatan sih, gue kan kece ya?"
"Hahaha, iya Ci. Lo nggak keliatan 33. Kayak 32 lebih 11 bulan."
"Yey, garing lo. Kebiasaan, kalo muji suka nggak niat. Tapi emang kata tuh dokter dia kira kita seumuran." Suci terdiam.
"Terus gimana? Malah bengong. Dia dokter di mana? Eh namanya siapa?" Baskara kembali mengambil kentang goreng.
"Namanya... Adrian. Dia apa ya, aduh gue lupa."
"Jihh, kok lupa? Kata lo udah deket?" Baskara mengerutkan dahinya.
"Kepengen nyokap gue, hehehe... Tapi emang boleh juga sih. Soalnya paket lengkap gitu. Ganteng, lewat deh lo Bas."
Suci menatap Baskara. Berharap ada kecemburuan di wajah sang sahabat. Sepertinya nihil.
"Iya, di mata lo doang lewat. Di mata semua orang, gue lebih ganteng, hahaha..."
Suci mengiyakan ucapan Baskara dalam hati. "Iyain aja deh. Tapi buat Mira, si Billy lebih ganteng, hahaha..."
"Wah, parah lo Ci. Parah dah omongan lo." Baskara membuang muka.
"Dih, becanda sih Bas. Masih belum move on sama mantan? Bilangnya aja udah mati rasa.
Kata lo, biar aja si Mira mau kawin apa gimana sama si Billy. Taunya gagal move on!" Suci bicara sambil memiring-miringkan bibirnya.
Baskara bangkit dari duduknya dan menjejalkan donat ke mulut Suci sambil tertawa. "Diem lo, berisik, hahaha..."
"Eh, Bas...hhmmm.." Suci memukul-mukul lengan Baskara. Tak lama pria berkaca mata itu melepas donat dari bibir Suci kemudian melahapnya.
"Rese lo, Bas!" Suci mengelap bibirnya yang belepotan oleh gula cair donat. Ia terhenyak melihat Baskara memakan donat yang telah menempel di bibirnya.
"Ntar kenalin gue ama tuh dokter. Biar gue nilai. Gue berharap yang ini lanjut ya, Ci.
Gue juga pengen lo bahagia ama pasangan lo." Baskara menatapnya sambil meneguk kopi.
Suci menelan ludah. Ia raih cangkir kopi kemudian menyesapnya. "Liat ntar ah."
"Belum jadi, udah sombong lo, Ci. Sok nggak butuh gue." Baskara mencebikkan bibirnya. Suci hanya menundukkan wajahnya.
Duo sahabat itu kemudian berbincang ringan tentang agenda mereka esok hari. Mereka kemudian menunaikan salat Magrib di musala Smiljan.
Suci menghampiri Baskara yang menunggunya menunaikan salat. Sahabatnya itu tengah menekan-nekan layar ponselnya.
"Ci, udah gue top up G*pay lo ya. Ganti ngopi tadi." Baskara tersenyum pada Suci.
"Ih, orang gue mau ntraktir lo juga, yang lagi disalip si Gara."
"Yeh, minta disumpel lagi ni anak." Baskara mendelikkan matanya kemudian tertawa. Tawa yang menular pada Suci.
Suci masuk ke dalam pintu rumah yang dibuka oleh ibundanya, Rahma. Wajah lembut sang ibu mengobati sedih hati Suci.
"Gimana sayang, tadi kerjanya?" Rahma menggandeng tangan Suci sambil berjalan ke dalam rumah.
"Ya, gitu lah Bun. Tadi lama di luar, survei." Suci duduk di sofa ruang tengah. Rahma ikut duduk di sampingnya.
"Bun, hhmm... soal Bunda mau... ngenalin anak temennya Bunda, yang dokter itu.... boleh deh Bun, Uci coba." Suci tersenyum pada Rahma.