NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Ajakan Dinner

Radit, Rain, Vano, Tian dan Lea telah pergi meninggalkan parkiran. Kini tinggalah Raza dan Vanya saja di sana. Suasana parkiran benar-benar sepi hanya tersisa beberapa kendaraan saja milik para murid yang masih memiliki kegiatan di sekolah.

"Keadaan lo gimana Van?"

"Udah lumayan mendingan. Makasih tadi udah nolongin gw" ucap Vanya tulus.

"Syukurlah. Iya sama-sama Vanya" Raza mengusap pelan puncak kepala Vanya.

"Eh sorry nggak sengaja. Gw selalu gemes kalo deket sama lo" ucap Raza setelah tersadar.

"Hm" balas Vanya cuek.

"Gw anter pulang ya Van? Nanti motor lo biar dianter aja sama bodyguard gw. Lo kan baru aja sembuh, masa mau naik motor sendiri sih?"

"Gw bisa bawa motor sendiri kok, badan gw udah enakan" tolak Vanya dengan halus. Padahal biasanya ia selalu menolak dengan kasar atau nada galak pada siapapun kecuali keluarga dan orang terdekat nya.

"Lo yakin Van?" tanya Raza lagi memastikan.

"Iya, lo tenang aja" balas Vanya disertai senyuman tipis.

"Em, nanti malem lo sibuk nggak? Gw mau ajak lo dinner"

Vanya nampak berfikir sejenak, "Yaudah boleh" jawabnya.

"Hah? Serius?" tanya Raza dengan wajah tak percaya.

"Iya"

"Gw jemput lo ya? Gw harus jemput dimana?"

"Kost Xxx jalan Xxx" jawab Vanya sedikit ragu 'Biarin ajadeh dia tau kostan gw. Daripada dia tau gw siapa'

"Oke oke. Nanti sebelum jam 7 gw samperin kost lo ya" ucap Raza sangat bersemangat.

"Gw duluan" Vanya pun menyalakan motor yang sedari tadi sudah di naiki nya.

"Bye" pamit Vanya sebelum benar-benar pergi.

"Yes yes yes. Ahirnyaaaaaa. Mamiiiiii sebentar lagi aku punya pacarrrrr" sorak Raza dengan kencang sambil melompat-lompat dan meninju udara.

Rumah Vanya

"Sayang, gimana keadaan kamu? Tadi Mama pengen langsung ke sekolah waktu Papa telpon kalo kamu pingsan, tapi nggak di bolehin. Mama khawatir banget sayang. Kok bisa sih kamu sampai pingsan kayak gitu? Apa bener karna kamu nggak makan sama sekali? Kalo kayak gini Mama nggak setuju kamu ngekost" Sinta menghentikan langkah putrinya saat melihat Vanya melewati Ruang Keluarga.

"Duh Mama, satu-satu dong nanya nya. Vanya bingung mau jawab yang mana"

"Kenapa kamu bisa sampe pingsan?" ulang Sinta.

"Vanya sebenarnya mau sarapan di sekolah, tapi waktu sampe parkiran, ada yang nge halangin Ma. Dia minta maaf mohon-mohon katanya ada yang nyuruh. Dan ternyata orang itu adalah Papa. Papa bikin orangtuanya bangkrut karena tau kalo cewek itu sengaja mau celakain Vanya" jelas Vanya.

"Apa? Kok Papa kamu nggak bilang sih sama Mama? Kenapa juga ada yang mau celakain kamu?" Sinta langsung tersentak kaget karena kesal sekaligus khawatir.

"Katanya dia cemburu karna pacarnya mutusin dia dan malah ngedeketin aku. Padahal pacarnya itu emang terkenal playboy Ma, di sekolah. Dia ngejar-ngejar aku dari MOS tapi aku nya nggak mau, dan dia malah macarin banyak cewek cuman buat manasin aku. Aneh banget kan Ma?" oceh Vanya.

"Iya sih aneh. Untung aja kamu nggak papa. Kapok deh kalo gitu, biarin aja orangtuanya bangkrut. Bisa-bisanya dia mau celakain anak Mama"

"Oh iya Ma, aku habis ini mau langsung ke kost ya. Nanti malem aku izin mau pergi dinner sama temen" ucap Vanya. Wajahnya sedikit menggambarkan keraguan.

"Dinner? Hayooo sama siapa? Temen apa temen hayoooo" goda Sinta sambil menatap Vanya dengan senyuman aneh.

"Apasih Ma! Temen kok" raut wajah Vanya langsung berubah cemberut.

"Iya deh iya temen. Siapa tau nanti jadi demen, ciahhh" goda Sinta lagi.

"ihhhh Mamaaaa" rengek Vanya.

"Yaudah sana ganti baju. Nanti biar Mama yang bilangin ke Papa. Kamu tenang aja, pokoknya Papa nggak akan ganggu waktu dinner kamu nanti malem. Tau sendiri Papa kamu se posesif apa, tapi kalo bodyguard Mama sih nggak bisa jamin ya. Lagian itu juga buat keamanan kamu, selagi nggak mencolok ngga papa kan?"

"Iya Ma, ngga papa. Aku juga mau lihat temen ku ini orangnya kayak gimana. Mungkin kalo emang beneran baik, bisa lah aku pertimbangin"

"Haha oke sayang. Jangan lupa kenalin ke Mama sama Papa ya"

"Siappp" Vanya mengangkat dua jempol tangan nya.

******

Hari ini Danu pulang lebih awal. Pukul 18.30 semua orang kecuali Vanya sudah berkumpul di meja makan. Mereka bertiga makan dengan tenang. Saat sesi makan hampir selesai, mereka mulai mengobrol santai sambil menikmati makanan penutup.

"Tadi Vanya kesini Ma?" tanya Fian.

"Iya Fian, tapi cuman sebentar aja" jawab Sinta.

"Apa bener Pa, Ma, tadi Vanya sempet pingsan waktu di sekolah?" tanya Fian lagi.

"Iya nak. Mungkin Papa harus lebih memperhatikan lagi anak itu. Dia itu kan pelupa, mana sekarang tinggal sendiri" jawab Danu sambil mengelap sudut bibirnya yang sedikit terkena cream dari stroberi cake buatan Sinta tadi sore.

"Tadi Vanya bilang sama Mama, malam ini dia mau dinner sama temen"

Ucapan Sinta itu sontak langsung membuat 2 laki-laki yang berada di meja makan tersentak kaget. Kedua mata mereka langsung melotot tak percaya.

"Kenapa baru sekarang sih sayang kamu bilangnya? Kenapa Vanya nggak bilang aja sama Papa langsung? Aduh anak itu"

Sinta yang ingin menyela suaminya langsung mengurungkan niat saat melihat Danu mulai menghubungi bodyguard kepercayaan yang ditugaskan untuk menjaga Vanya.

"Dimana posisi putri saya sekarang?"

"Sedang dalam perjalanan Tuan, nona Vanya di jemput oleh sebuah mobil. Setelah saya telusuri, mobil itu ternyata milik Putra dari Keluarga Pradipta. Saya dan rekan sedang mengikuti nya"

"Oke. Kabari saya apapun itu. Jangan sampai kalian kehilangan jejak. Awasi Putri saya dengan baik!"

"Siap, Tuan"

Panggilan itupun terputus. Sinta dan Fian bisa mendengar semua percakapan barusan karna Danu sengaja mengeraskan volume.

'Vanya, ternyata kamu beneran Se-niat itu buat lupain kakak. Nggak, nggak. Aku harus susulin Vanya'

"Fian, kamu mau kemana nak?" tanya Sinta saat melihat Fian beranjak dari duduknya.

"Fian, duduk! Biarkan saja. Papa percaya dengan dua bodyguard suruhan Papa" perintah Danu dengan tegas.

"Tapi Pa, ini pertama kalinya loh Vanya pergi sama cowok. Kalau cowok itu punya niat buruk gimana? Aku mau susulin Vanya ya Pa" mohon Fian dengan wajah cemas sekaligus menahan amarah.

"Nggak usah Fian! Biarin aja. Papa percaya Vanya bisa menjaga diri. Bodyguard juga pasti akan melindunginya kalau ada apa-apa. Kamu selesaikan saja pekerjaan mu. Papa dengar kinerja kamu menurun, apa bisa kamu jelaskan alasannya?" Danu mulai merubah raut wajahnya menjadi serius. Jika sudah mode begini Fian tak akan berani melawan.

"Maaf Pa. Aku memiliki sedikit masalah pribadi. Tapi Papa tenang aja, sebentar lagi akan aku selesaikan kok biar nggak mengganggu fokus ku dalam bekerja" ucap Fian hati-hati. Ia sedang mencoba memilih alasan yang bisa Papanya terima.

"Ya sudah kalau begitu. Papa percaya sama kamu. Selama ini kinerja mu selalu membuat Papa puas. Jangan sampai kecewakan kepercayaan Papa" ucap Danu.

"Baik Pa" jawab Fian pelan. Fian menundukkan wajahnya tak berani menatap ke arah Danu.

"Sudah sana, kembali ke kamar mu!" perintah Danu tanpa ingin di bantah.

"Iya Pa" dengan patuh Fian pun meninggalkan meja makan.

"Papa jangan ganggu Vanya pokoknya! Vanya udah janji bakal kenalin temen cowok nya itu ke kita. Awas aja sampe Papa telponin dia!" ancam Sinta tak main-main.

"Nggak sayang, aman. Papa mencoba buat percaya aja sama Vanya. Lagian ada bodyguard yang mengawasinya" jawab Danu. Kini wajahnya sudah lebih tenang.

"Nah gitu dong Pa. Yaudah yuk kita ke kamar" ajak Sinta dengan wajah genit.

Kedua orangtua Vanya pun ahirnya menuju ke kamar berdua.

1
R19
Ada yang nungguin kelanjutannya nggak nih? 🤭Terimakasih yang sudah mampir buat baca. Jangan lupa like & komen ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!