NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Cahaya fajar yang masih samar-samar mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar utama.

Aisyah membuka matanya perlahan, wajahnya tampak sangat tenang setelah beristirahat.

Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Rizal yang tertidur lelap di sampingnya.

Ada gurat kelelahan yang mulai memudar, berganti dengan ketenangan yang belum pernah terlihat sebelumnya pada wajah suaminya itu.

Aisyah tersenyum kecil. Ia beranjak dari tempat tidur tanpa suara, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu.

Setelah selesai berwudhu, ia kembali ke tepi ranjang.

"Mas Rizal," panggil Aisyah dengan suara yang sangat lembut sambil mengusap pelan bahu suaminya.

Rizal melenguh pelan, matanya perlahan terbuka dan langsung bertemu dengan tatapan teduh istrinya.

"Bangun, Mas. Sudah masuk waktu Subuh," ucap Aisyah lagi.

"Ayo kita sholat berjamaah. Mas imamnya ya?"

Rizal sedikit terkejut ketika mendengar perkataan dari istrinya.

Menjadi imam untuk wanita sehebat Aisyah adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Namun, ia melihat dukungan yang luar biasa di mata istrinya.

"Tapi, Aisyah, bacaanku mungkin tidak sebagus itu," bisik Rizal ragu.

Aisyah menggenggam tangan Rizal, membantunya duduk dan menyerahkan tongkat kayunya.

"Allah tidak melihat seberapa bagus suara kita, Mas, tapi seberapa tulus hati kita menghadap-Nya. Aku ingin memulai hari pertama transformasi Mas dengan doa yang kita panjatkan bersama. Ayo, Mas."

Rizal akhirnya mengangguk. Dengan perlahan, ia bangun dan pergi mengambil wudhu.

Beberapa menit kemudian, di sudut kamar yang sudah tergelar sajadah, Rizal berdiri di depan sebagai imam meskipun dengan kaki yang masih kaku.

Di belakangnya, Aisyah berdiri dengan mukena putih bersih, siap mengikuti setiap gerakan suaminya.

Suasana menjadi sangat syahdu saat suara Rizal yang sedikit serak mulai melantunkan takbiratul ihram.

Setelah salam, Rizal memanjatkan doa yang panjang.

Ia menangis dalam sujud terakhirnya, bersyukur atas kesempatan kedua yang diberikan Tuhan melalui Aisyah.

Aisyah yang berada di belakangnya pun ikut meneteskan air mata, merasakan ketulusan suaminya.

"Terima kasih sudah membimbingku, Mas," ucap Aisyah setelah mereka selesai bersalaman dan Rizal mencium keningnya.

"Aku yang berterima kasih, Aisyah. Kamu menyelamatkanku dari dunia, dan sekarang kamu membimbingku untuk akhirat," jawab Rizal tulus.

Aisyah tersenyum, namun matanya kemudian melirik ke arah pintu.

Ia tahu, di balik ketenangan ibadah pagi ini, ada badai bernama Intan yang sedang bersiap untuk menyerang.

"Sekarang, Mas istirahat sebentar ya. Aku akan turun untuk melihat apakah 'pelayan' kita sudah menyiapkan sarapan atau belum," ucap Aisyah dengan nada yang berubah menjadi tegas.

Suasana pagi di dapur kediaman Baskoro terasa sibuk dengan denting peralatan masak.

Aisyah turun ke lantai bawah dengan mukena yang masih tersampir di bahunya, niat hati ingin melihat perkembangan "pelayan" barunya. Namun, pemandangan yang ia dapati justru membuatnya mengernyitkan dahi.

Bi Inah tampak sedang sibuk sendiri memotong sayuran, menggoreng telur, dan menyiapkan kopi dengan napas yang terengah-engah.

Meja makan masih kosong, dan piring-piring bekas semalam sebagian masih menumpuk di wastafel.

"Bi Inah? Kok sendirian?" tanya Aisyah heran.

"Mana Intan, Bi?"

Bi Inah menghentikan aktivitasnya sejenak, wajahnya tampak lelah dan sedikit ketakutan.

"Masih tidur, Nyonya. Tadi subuh saya sudah coba ketuk pintu kamarnya untuk bantu masak, tapi..."

"Tapi apa, Bi?"

"Saya malah dimaki-maki, Nyonya. Waktu saya sedikit menarik selimutnya supaya dia bangun, kaki saya malah ditendang sampai saya tersungkur. Katanya dia bukan babu dan tidak sudi bangun sepagi ini," lapor Bi Inah dengan suara lirih.

"Astaghfirullah..." Aisyah mengelus dadanya, menarik napas panjang mencoba meredam amarah yang mulai naik ke ubun-ubun.

"Benar-benar tidak punya tata krama."

Tiba-tiba, suara ketukan tongkat kayu terdengar dari arah tangga. Rizal muncul dengan wajah yang sangat tenang, namun sorot matanya tajam.

Ia rupanya mendengar seluruh percakapan itu dari kejauhan.

"Sayang, biarkan aku yang membangunkannya," ucap Rizal pendek.

Aisyah menoleh ke arah suaminya. "Mas, biar aku saja—"

"Tidak, Aisyah. Dia butuh sentuhan seorang 'Ayah' untuk mendidiknya," potong Rizal dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Rizal melangkah menuju meja dapur, tangannya meraih sebuah gelas kaca bening.

Ia mengisinya dengan air dingin dari dispenser hingga penuh.

Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia berjalan menuju area belakang, tempat kamar kecil Intan berada.

Aisyah dan Bi Inah hanya bisa terpaku mengikuti langkah Rizal.

BRAK!

Rizal menendang pintu kamar Intan yang tidak terkunci dengan ujung tongkatnya.

Di dalam sana, Intan masih meringkuk di bawah selimut tipis, mendengkur halus seolah tidak terjadi apa-apa.

"Bangun, Intan!" suara Rizal menggelegar di ruangan sempit itu.

Intan hanya menggeliat malas. "Berisik, Bi! Pergi sana! Aku masih ngantuk!"

Tanpa bicara sepatah kata pun lagi, Rizal menyiramkan seluruh isi gelas air dingin itu tepat ke wajah Intan.

"AHHH! BANJIR! APA-APAAN INI?!"

Intan meloncat bangun dengan wajah basah kuyup dan napas memburu.

Begitu matanya terbuka lebar, ia melihat Rizal berdiri tegak di depannya dengan gelas kosong di tangan.

"Lima menit dari sekarang, kalau kamu tidak ada di dapur untuk membantu Bi Inah, aku akan menyeretmu keluar rumah ini dan membuangmu ke terminal terdekat. Tanpa uang, tanpa baju ganti, dan tanpa nama Baskoro," ucap Rizal dengan nada sedingin es.

Intan gemetar, bukan hanya karena dingin, tapi karena ia melihat kilat kemarahan yang nyata di mata pria yang dulu selalu mengalah padanya itu.

"Kamu, tega!" isak Intan.

"Aku lebih dari tega untuk orang yang tidak tahu berterima kasih sepertimu," sahut Rizal sambil berbalik pergi.

"Lima menit, Intan. Jam dimulai dari sekarang."

Intan segera berjalan keluar kamar dengan rambutnya yang biasanya tertata rapi di salon kini kusut masai, dan baju tidurnya basah kuyup akibat siraman air dari Rizal.

Dengan kemarahan yang tertahan di dada, ia melangkah menyeret kakinya menuju dapur, melewati Aisyah yang sedang berdiri tenang mengawasi keadaan.

Aisyah menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki, tidak ada raut kasihan sedikit pun.

Ia menarik kursi di meja makan, lalu duduk dengan anggun.

"Bagus, kamu akhirnya bangun. Sekarang cepat kerjakan tugasmu. Tolong buatkan kopi hitam tanpa gula untuk Mas Rizal, dan susu cokelat hangat untukku, Intan."

Intan mengepalkan tangannya di balik celemek yang baru ia sampirkan.

"Ma, aku belum mandi, badanku basah semua—"

"Tugas pertama adalah melayani, bukan mengeluh," potong Aisyah tajam.

"Cepat kerjakan, atau gelas kedua akan mendarat di wajahmu."

Dengan gerutuan pelan, Intan mulai menyalakan pemanas air.

Tangannya yang masih terbalut perban seadanya tampak gemetar saat menyendok bubuk kopi.

Aroma kopi yang kuat mulai menyeruak, namun bagi Intan, aroma itu terasa seperti bau kekalahannya.

Sementara itu, Rizal duduk di kepala meja, meletakkan tongkatnya di samping kursi.

Ia menatap lurus ke arah dapur, memastikan Intan tidak melakukan hal yang aneh-aneh pada minuman mereka.

"Bi Inah, bubur Mas Rizal apa sudah siap?"

"Siap, Nyonya," jawab Bi Inah dengan sigap.

Ia membawa semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan emping dan irisan cakwe yang ditata sangat rapi.

"Ini untuk Tuan Rizal. Masih panas, Tuan."

"Terima kasih, Bi," ucap Rizal tulus.

Intan datang dengan nampan gemetar. Ia meletakkan secangkir kopi di depan Rizal dan segelas susu cokelat di depan Aisyah.

Saat meletakkan kopi untuk Rizal, Intan sengaja membungkuk sedikit lebih rendah, membiarkan rambutnya yang basah jatuh menjuntai, mencoba menarik perhatian Rizal sesuai rencana busuknya dengan Hadi semalam. Namun, Rizal bahkan tidak meliriknya. Ia justru sibuk meniup buburnya.

"Kenapa masih di sini?" tanya Aisyah ketus sambil menyesap susu cokelatnya.

"Sana kembali ke dapur. Bantu Bi Inah mencuci kuali besar bekas rebusan tadi. Jangan harap bisa sarapan sebelum semua peralatan masak bersih."

Intan menghentakkan kakinya dan kembali ke dapur dengan wajah merah padam.

"Lihat saja nanti, saat Mama berangkat ke kantor, aku akan membuat suamimu ini melupakan namamu, Ma!" gumam Intan yang kemudian kembali ke dapur.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!