NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Siang yang Beracun

Restoran yang dipilih Livia berada di lantai paling atas sebuah hotel bintang lima. Dinding kacanya memperlihatkan pemandangan kota yang luas, seolah siapa pun yang duduk di sana sedang mengawasi dunia dari atas.

Alina datang tepat waktu.

Ia mengenakan blus putih sederhana dan rok hitam panjang tidak mencolok, tapi elegan. Ia tidak berniat datang sebagai pesaing gaya. Ia datang sebagai dirinya.

Livia sudah duduk lebih dulu, anggun dengan gaun biru tua dan senyum yang terlalu manis untuk dianggap tulus.

“Kau tepat waktu,” ucap Livia ketika Alina mendekat.

“Aku tidak suka membuat orang menunggu,” jawab Alina tenang.

Mereka berjabat tangan singkat, formal.

Begitu duduk, pelayan datang menuangkan air. Tidak ada basa-basi panjang. Ketegangan sudah cukup mengisi ruang di antara mereka.

“Aku tidak menyangka kau akan datang,” kata Livia sambil membuka menu, meski jelas ia sudah tahu apa yang akan dipesan.

“Mengapa tidak?” Alina tersenyum tipis. “Aku juga penasaran ingin berbicara langsung.”

“Langsung?” ulang Livia, mengangkat alis. “Tentang apa?”

Alina menatapnya lurus. “Tentang niatmu.”

Livia tertawa pelan, suaranya lembut tapi mengandung sindiran. “Aku menyukai wanita yang tidak berputar-putar.”

Ia menutup menu dan memesan tanpa melihat lagi.

“Baiklah,” lanjutnya setelah pelayan pergi. “Niatku sederhana. Aku ingin bekerja sama dengan Arsen.”

“Secara bisnis?” tanya Alina.

“Dan mungkin lebih.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Alina tidak terkejut. Ia sudah menduga.

“Kau tahu dia sudah menikah,” ucap Alina pelan.

“Kontrak,” koreksi Livia cepat. “Semua orang tahu itu hanya sementara.”

Alina menahan reaksi.

“Semua orang tahu?” tanyanya ringan.

Livia tersenyum. “Dunia bisnis kecil, Alina. Informasi bergerak cepat.”

Jadi rumor tentang pernikahan kontrak mereka sudah sampai ke telinga Livia.

Menarik.

“Dan menurutmu,” lanjut Livia, “apa yang akan terjadi setelah kontrak itu berakhir?”

Alina bersandar sedikit. “Itu bukan urusanmu.”

“Benarkah?” Livia mencondongkan tubuhnya. “Jika aku ingin berada di posisi itu setelah kau pergi, bukankah itu jadi urusanku?”

Ada kejujuran dingin dalam kalimat itu.

Ia tidak menyembunyikan ambisinya.

Alina menatapnya tanpa gentar. “Masalahnya, kau terlalu yakin aku akan pergi.”

Senyum Livia memudar sedikit.

“Maksudmu kau ingin memperpanjang kontrak?”

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

Makanan datang, memotong percakapan yang mulai menajam.

Beberapa menit berikutnya diisi dengan keheningan tipis yang sarat makna.

Lalu Livia berbicara lagi, kali ini lebih pelan.

“Kau tahu, Arsen bukan tipe pria yang mudah jatuh hati.”

Alina tidak menjawab.

“Tapi jika dia mulai merasa… dan kemudian mengetahui bahwa kau menyembunyikan sesuatu besar darinya, menurutmu apa reaksinya?”

Jantung Alina berdetak lebih cepat.

Ia menjaga wajahnya tetap tenang.

“Aku tidak tahu apa yang kau maksud.”

Livia tersenyum, puas melihat ada reaksi sekecil apa pun.

“Aku hanya mengingatkan,” katanya ringan. “Pria seperti Arsen tidak suka dibohongi.”

Kata itu menggantung lama.

Dibohongi.

Alina menghabiskan sisa makanannya perlahan, meski nafsu makannya menghilang.

Saat mereka berdiri untuk pergi, Livia mendekat sedikit.

“Aku tidak berniat merebut sesuatu yang bukan milikku,” bisiknya lembut. “Tapi jika kau tidak cukup kuat mempertahankannya… aku tidak akan ragu.”

Alina menatapnya.

“Kita lihat saja,” jawabnya pelan.

Sore itu, Alina kembali ke kantor dengan pikiran lebih berat.

Ia tidak takut pada ancaman Livia. Yang mengganggunya adalah kemungkinan bahwa perempuan itu sudah mencium sesuatu tentang identitasnya.

Saat memasuki ruang kerja Arsen, ia menemukan pria itu sedang berbicara di telepon dengan nada tajam.

“Tidak. Kita tidak akan membuka opsi kursi dewan tambahan,” katanya tegas sebelum menutup panggilan.

Ia menoleh ketika melihat Alina.

“Kau dari mana?”

“Makan siang,” jawab Alina singkat.

“Dengan siapa?”

Ada jeda sepersekian detik.

“Livia.”

Rahang Arsen mengeras. “Kau pergi sendiri?”

“Ya.”

“Kenapa tidak bilang padaku?”

Alina mengangkat alis tipis. “Perlu?”

“Dia tidak datang hanya untuk makan siang.”

“Aku tahu.”

Arsen berjalan mendekat, ekspresinya sulit dibaca. “Apa yang dia katakan?”

Alina menimbang jawabannya.

Ia tidak ingin memancing amarah. Tapi ia juga tidak ingin menyembunyikan semuanya.

“Dia percaya kontrak kita akan segera berakhir,” katanya akhirnya. “Dan ia siap menggantikan posisiku.”

Keheningan langsung menegang.

“Dan kau?” tanya Arsen pelan.

“Aku bilang dia terlalu yakin.”

Tatapan Arsen berubah. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar strategi di sana.

“Kau tidak terganggu?” tanyanya.

“Haruskah aku?”

Arsen terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Aku tidak pernah memberi ruang padanya.”

“Aku tahu.”

“Dan aku tidak akan.”

Kata-katanya terdengar seperti janji.

Alina menatapnya dalam.

Masalahnya bukan Livia.

Masalahnya adalah apa yang akan terjadi jika suatu hari Arsen tahu bahwa wanita yang ia bela ini… bukan sekadar istri kontrak biasa.

Malam itu, Alina menerima pesan dari Adrian.

“Ada kebocoran informasi kecil tentang latar belakang Anda. Tidak detail, tapi cukup untuk memancing rasa ingin tahu.”

Dadanya mengencang.

“Dari mana?”

“Belum pasti. Tapi jejaknya mengarah ke lingkaran Livia.”

Alina menutup mata sejenak.

Permainan mulai berubah arah.

Ia tidak bisa lagi hanya mengamati.

Jika Livia benar-benar mulai menggali masa lalunya, identitasnya sebagai pewaris keluarga finansial terbesar bisa terungkap sebelum ia siap.

Dan jika itu terjadi…

Arsen akan tahu ia menyembunyikan sesuatu sebesar itu sejak awal.

Di kamar, Arsen berdiri di dekat jendela saat ia masuk.

“Aku sedang memikirkan sesuatu,” katanya tanpa menoleh.

“Apa?”

Ia berbalik perlahan.

“Jika kontrak ini berakhir besok,” ucapnya pelan, “apa kau akan pergi begitu saja?”

Pertanyaan itu datang tanpa peringatan.

Alina menatapnya.

Ia bisa menjawab dengan mudah. Bisa berkata ya, sesuai rencana awalnya.

Tapi kata itu terasa berat di tenggorokan.

“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.

Arsen berjalan mendekat, berhenti tepat di depannya.

“Aku mulai tidak ingin ini berakhir seperti yang kita sepakati.”

Napas Alina tercekat.

Di luar sana, ancaman Livia semakin nyata.

Rahasia semakin rapuh.

Dan di dalam ruangan ini, pria yang seharusnya hanya bagian dari strategi bisnisnya… mulai menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Perasaan.

Jika ia terus menunda kebenaran, ia mungkin akan kehilangan kepercayaan Arsen.

Tapi jika ia mengungkapkannya sekarang, permainan yang sudah ia rancang dengan hati-hati akan runtuh.

Dan untuk pertama kalinya, Alina tidak yakin pilihan mana yang lebih menyakitkan.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!