Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Satu — Berhasil Keluar dengan Selamat
Selamat membaca ceritaku semoga kalian suka yaa..
Mereka mengikuti langkah Max, dengan Niki dan Vano yang berjaga di belakang para rakyat yang masih punya hak dalam hidup mereka masing-masing. Walau mereka juga menangisi bahwa beberapa anggota keluarga mereka yang mungkin saja sudah berubah dan menjadi sosok yang tidak mengenal mereka atau bisa mengenal mereka seperti raksasa itu.
Jay mendengar tangisan itu, “Tahan! Jangan bersuara, Kanihu bisa saja datang ke sini.”
Ujar Jay yang langsung membungkam banyak tangisan, mereka tentu tau apa itu Kanihu, tapi yang mereka lihat Kanihu liar, bukan Alpha. Sampai di pintu keluar yang Max tunjukan, mereka langsung disuguhi oleh beberapa truk militer terparkir rapi.
Max segera mengambil alih satu truk logistik yang terparkir di sisi gudang. Mesinnya masih hangat–siap dipakai. Cepat-cepat ia membuka bak belakang, membantu para tahanan naik. Truk itu cukup besar untuk menampung mereka semua, meski harus berhimpitan.
“Cepat! Naik semuanya!” serunya. Namun ketika mesin baru saja dinyalakan, di depan gerbang keluar sudah berdiri barisan Kanihu.
Puluhan.
Tubuh-tubuh hasil eksperimen itu memenuhi halaman, sebagian liar dengan gerakan patah, sebagian berdiri lebih tenang. Di tengah mereka, sang Alpha melangkah maju. Ia berbeda. Tatapannya sadar, dialah korban ke-5. Yang pertama dianggap “berhasil” mengendalikan insting liar. “Asgef…” bisik Arsya pelan. Sebelum Max mengangkat senjatanya, Arsya melangkah setengah langkah ke depan. Jay reflek menahan lengannya. “Sya..”
“Aku mau coba,” ucapnya pelan. Ia menatap langsung ke mata Alpha.
“Asgef,” panggilnya dengan nama manusianya. “Tolong beri kami jalan. Jika kamu ingin menghancurkan mereka yang sudah menghancurkan hidupmu, silahkan… tapi jangan paksa kami memilih jalan yang sama denganmu.”
Hening.
Angin malam berdesir di antara kendaraan dan reruntuhan.
“Kami tidak ingin melawan kalian,” lanjut Arsya. “Kami ingin menghentikan mereka.” tatapan sang Alpha berubah, seperti ada sesuatu yang retak di dalam dirinya. Jay bersiap menarik Arsya kapan saja.
Dan tiba-tibaa—sang Alpha berteriak. Suara panjang melengking, mengguncang udara. Jay langsung menarik Arsya ke belakang tubuhnya, melindunginya. Max mengokang pistol. Niki dan Vano bersiap menembak.
Mereka kira itu aba-aba serangan. Namun, kanihu-kanihu itu tidak bergerak ke arah mereka melainkan sebaliknya satu per satu lalu serempak. Mereka berbalik dan berlari masuk kembali ke dalam gedung. Menerobos pintu-pintu, memanjat dinding, menghancurkan kaca. Menuju ke jantung fasilitas. Menuju para ilmuwan, para penjaga, para manusia ambisi.
Jeritan mulai terdengar dari dalam, bukan lagi jeritan eksperimen, tapi jeritan ketakutan. Sang Alpha tetap berdiri di tempatnya.
Sendiri.
Ia menatap Arsya, lama.
Lalu perlahan, menundukkan kepalanya, bukan sebagai ancaman atau penguasa. Itu tanda hormat, tanda terima kasih. Arsya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kembali kasih,” ucapnya lembut.
Sang Alpha mengangkat kepalanya sekali lagi, kemudian berbalik dan melangkah masuk kedalam gedung, mengikuti kaumnya. Max menginjak pedal gas. Gerbang yang sudah rusak terbuka lebar.
Arsya menyandarkan punggungnya sejenak di bak truk yang terus melaju. Angin malam menyapu wajahnya. Dari kejauhan, perbukitan tampak gelap—sunyi.
Lalu jantungnya seperti berhenti.
Bukit itu
Lyno masih di sana.
“MAXX!!!” teriaknya tiba-tiba. “Adikku!! Tertinggal!”
CIIITTT—
Suara rem dipaksa berhenti memekakkan telinga. Tubuh para penumpang terhuyung ke depan. Beberapa orang berseru kaget.
Max paling terkejut.
Ia menoleh cepat ke belakang. “Apa?!”
Namun Arsya sudah melompat turun sebelum truk benar-benar stabil. Kakinya hampir terpeleset di tanah berbatu, tapi ia tak peduli. Matanya menatap ke arah lereng bukit. Di sana, siluet-siluet manusia sedang menuruni jalan setapal. Langkah cepat, tergesa.
Satu sosok berlari lebih dulu.
“Kakak!!!”
“Lyno!!”
Arsya berlari menghampiri tanpa menunggu lagi. Mereka bertemu di tengah jalan berbatu itu. Lyno langsung memeluk kakaknya erat. “Kakak… akhirnya..”
Suara pemuda itu bergetar, tapi penuh lega. Arsya memegang wajah adiknya, memastikan ia benar-benar baik-baik saja. “Kau tidak apa-apa??”
Lyno tersenyum kecil. “Aku tidak apa-apa, pria tua yang kita selamatkan itu, ternyata tabib. Dazzel sudah diobati.”
Di belakangnya, pria tua itu berjalan pelan sambil di bantu cucunya yang kini wajahnya tak lagi sepucat dulu. Gadis kecil itu bahkan sempat melambaikan tangan kecilnya ke arah Arsya.
Regan menyusul turun, menggendong seorang bayi dengan hati-hati. Di sampingnya, seorang wanita muda–yang usianya tak jauh dari ibu dari Regan. Menatap sekitar dengan mata lelah namun hidup.
“Kami pikir kalian…” Lyno menggantung kalimatnya. Arsya menggeleng cepat. “Kami berhasil.” Jay turun dari truk dan berjalan mendekat. Tatapannya melembut melihat Lyno yang berdiri tegak di depan Arsya. “Kau menjaga mereka dengan baik,” ujar Jay. Lyno tersenyum tipis. “Aku belajar dari orang hebat.”
Tanpa sadar, matanya sempat melirik ke arah Max yang berdiri tak jauh dari sana. Max terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil padanya. Seperti memberi pengakuan diam-diam.
Niki bersiul pelan dari atas truk. “Reuni keluarga memang menyentuh, tapi kalau kita mau hidup lebih lama, sebaiknya lanjut jalan.”
Vano sudah kembali naik ke kursi depan, dengan merangkul adik kembarnya Vino. “Asap dari kota akan menarik perhatian dalam waktu dekat.”
Arsya menggenggam tangan Lyno. “Kita pulang.”
“Kemana?” tanya Lyno pelan. Arsya menoleh ke arah kota yang mulai di lahap oleh jagoan merah, api mulai membesar. Lalu ke arah jalan panjang di depan mereka.
“Ke tempat yang tidak lagi dikuasai ketakutan.”
Max menyalakan mesin kembali.
Semua orang naik ke dalam truk—yang terluka, yang lelah, yang kehilangan, dan yang selamat. Kali ini, ketika kendaraan itu melaju meninggalkan perbukitan tidak ada lagi yang tertinggal. Niki merangkul dua pemuda lainnya, Asa dan Dazzel. Sedangkan Lyno menatap Jay dengan kagum karena telah melindungi kakaknya dari bahaya.
Lyno juga dianggap anak paling kecil oleh orang tua Jay. yang mengetahui bahwa putra mereka telah memiliki perasaan lebih terhadap Arsya walau situasinya sedang dalam gawat darurat. Tapi perasaan tetap berjalan.
Arsya dan Jay saling menatap di tengah gemuruh mesin truk dan suara orang-orang yang mulai terlelap karena lelah. Tidak banyak yang menyadari gerak kecil mereka.
Perlahan, diam-diam. Tangan mereka saling mencari, lalu bertaut erat dan hangat.
Bukan sekedar genggaman biasa, melainkan janji tanpa suara bahwa apapun yang datang setelah ini, mereka tidak akan berjalan sendiri.
Truk melaju melewati kota-kota yang hancur. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti kerangka tanpa jiwa. Jalanan retak, spanduk ambisi yang dulu digantung megah kini terbakar dan terinjak debu. Peradaban yang dibangun dengan keserakahan memang tidak pernah benar-benar kokoh.
Namun di antara kehancuran itu, mereka menemukan sesuatu yang tak terduga.
Sebuah desa.
Dulu disebut desa mati karena ditinggalkan, jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari teknologi dan jauh dari pengawasan.
Ironisnya.. Desa itulah yang paling hidup. Airnya jernih, udara paginya bersih dari asap dan jerit. Jay, Max, Vano, Niki, Arsya, dan yang lainnya memutuskan menetap di sana. Mereka membangun kembali, bukan dengan sistem pengawasan. Bukan juga dengan eksperimen tapi deng gotong royong.
Rumah-rumah kayu diperbaiki. Ladang dibuka kembali, anak-anak berlari tanpa takut akan jarum suntik dan ruang steril. Para orang tua kembali tertawa meski masih menyimpan luka masa lalu.
Desa itu perlahan berubah, menjadi kota kecil. Penuh warna, penuh suara, dan penuh kehidupan. Nama yang mereka pilih sederhana namun penuh makna.
Kota Ceria.
Karena setelah melewati gelap yang begitu panjang, mereka ingin mengingat bagaimana rasanya tertawa tanpa takut.
Setibanya di sana, hidup memang tidak langsung mudah. Mereka memulai dari nol, membangun rumah, menanam makanan. Menyembuhkan trauma, mengubur kenangan buruk dan memaafkan diri sendiri.
Max membuka ruang baca kecil untuk anak-anak mengenang kakaknya yang mengajarkan untuk selalu berpikir kritis. Niki mengurus sistem keamanan sederhana, tanpa kamera tersembunyi.
Vano dan Vino membantu membangun irigasi. Regan dan yang lain mengurus kebutuhan warga. Dan Arsya.. Ia sering berdiri di bukit kecil setiap sore. Menatap matahari yang tenggelam tanpa sirine, tanpa jeritan, serta tanpa lampu merah berputar.
Jay selalu menyusulnya. Kali ini, tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi, ia menggenggam tangan gadis itu di tempat terbuka. “Sudah selesai,” bisiknya. Arsya tersenyum kecil. “Bukan selesai,” jawabnya pelan. “Kita baru mulai.”
Angin sore menyapu Kota Ceria. Dan saat ini dunia tidak lagi terasa seperti tempat yang harus mereka lawan melainkan tempat yang akhirnya bisa mereka tinggali.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa support aku dengan klik Like dan Vote!!