Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Assalamu’alaikum," suara Adnan memecah keheningan selasar masjid.
Suara Adnan yang rendah, namun membawa wibawa yang membuat langkah Kinan terhenti seketika.
"Wa’alaikumussalam," jawab Pak Marbot dengan wajah berseri-seri, sementara Kinan hanya mampu menjawab dalam hati.
Kinan segera bangkit dari duduknya. Jemarinya yang gemetar meletakkan jam tangan tua itu di atas meja kayu di antara mereka.
Ia merasa hawa kesucian di tempat ini terlalu menyesakkan dadanya yang penuh noda.
Ia ingin segera pergi, kembali ke kegelapan yang selama ini menjadi persembunyiannya.
"Ini jam Anda, Ustadz. Saya hanya mengantarkannya. Permisi," ucap Kinan tanpa berani mengangkat wajahnya.
Ia memutar tubuh, bersiap melangkah lebar menuju kegelapan jalan raya.
"Tunggu, Mbak. Tolong, duduklah sebentar," potong Adnan cepat.
Kinan sedikit terkejut sampai langkahnya tertahan oleh nada bicara Adnan yang begitu tenang.
"Saya sudah mengembalikannya, Ustadz. Tugas saya selesai. Saya tidak butuh imbalan apa pun."
"Saya tahu Anda tidak mencari imbalan," sahut Adnan sambil melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan.
"Tapi ada amanah yang jauh lebih berat dari sekadar jam tangan ini yang harus saya sampaikan. Tolong, duduklah kembali. Sebentar saja."
Pak Marbot yang mengerti situasi itu ikut mengangguk.
"Duduklah, Nak. Ustadz Adnan bukan orang sembarangan. Beliau ingin bicara baik-baik."
Dengan perasaan berkecamuk antara takut rahasia identitasnya terbongkar dan rasa sungkan pada sang pengampu agama.
Akhirnya Kinan perlahan kembali duduk di ujung kursi kayu.
Ia meremas ujung jilbabnya, menunduk dalam-dalam, menatap lantai masjid yang bersih mengkilap.
Adnan mengambil jam tangan itu, mengelusnya dengan ibu jari seolah melepas rindu pada peninggalan ibunya. Namun, pikirannya tertuju pada nazar yang baru saja ia langitkan.
Ia menatap sosok wanita di depannya; wanita yang tampak gelisah, yang datang dengan pakaian sederhana namun menyimpan rahasia di balik matanya yang sayu.
"Siapa nama Anda?" tanya Adnan lembut.
"Kinan," jawabnya singkat, suaranya nyaris berbisik.
"Mbak Kinan," Adnan menjeda kalimatnya, menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk melompati jurang takdir.
"Kehadiran Anda di malam ini, membawa kembali benda ini, bukan sekadar kebetulan bagi saya. Ini adalah jawaban dari sebuah janji yang saya ucapkan kepada Allah beberapa saat yang lalu."
Kinan mengernyitkan keningnya, masih tak berani menatap mata sang Ustadz.
"Janji apa maksud Anda?"
Adnan menatap Pak Takmir sejenak sebagai saksi, lalu kembali pada Kinan.
"Saya bernazar, siapa pun wanita yang mengembalikan jam ini, akan saya jadikan ia istri saya."
Bagai disambar petir di malam yang tenang, Kinan mendongakkan kepalanya.
"Apa yang Anda katakan, Ustadz?" tanya Kinaan dengan suara bergetar hebat.
"Anda tidak tahu siapa saya. Anda tidak tahu betapa kotornya tangan yang memegang jam Anda ini!"
Kinan tersentak, kursi kayu yang didudukinya sedikit bergeser menimbulkan bunyi decit yang memecah keheningan masjid.
Ia berdiri dengan napas yang memburu, seolah-olah kata-kata Adnan adalah api yang baru saja menyulut luka di kulitnya.
"Hentikan, Ustadz! Jangan bicara sembarangan!" suara Kinan meninggi, bergetar antara amarah dan rasa ngeri.
Ia menatap Adnan untuk pertama kalinya—sepasang mata yang bening dan tenang, sangat kontras dengan matanya sendiri yang kuyu dan penuh noda.
Kinan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mundur selangkah demi selangkah menjauhi cahaya lampu masjid.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda? Anda adalah seorang pemuka agama, dihormati, suci. Sedangkan saya? Tangan yang mengembalikan jam Anda ini adalah tangan yang sama yang setiap malam memegang gelas-gelas maksiat. Tubuh ini sudah ternoda oleh pekatnya dunia malam yang mungkin tidak akan pernah Anda bayangkan seumur hidup Anda."
Pak Marbot tertegun, wajahnya langsung pucat mendengar pengakuan blak-blakan wanita di depannya. Namun, Adnan tidak bergeming sama sekali.
Ia tetap berdiri di sana, menatap Kinan dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan tatapan menghakimi, melainkan tatapan seorang pelaut yang melihat seseorang tenggelam di tengah badai.
"Jangan hancurkan martabat Anda demi sebuah janji yang bodoh," lanjut Kinan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Carilah wanita yang Hafidzah, yang suci, yang layak masuk ke rumah Anda tanpa membuat keluarga Anda malu. Jangan saya!"
Adnan maju selangkah, suaranya tetap rendah namun penuh penekanan yang merasuk hingga ke relung hati Kinan.
"Mbak Kinan, Nazar saya bukan kepada manusia, tapi kepada Allah. Dan Allah tidak pernah salah menggerakkan kaki seseorang untuk sampai ke tempat ini."
Adnan menatap jam tangan tua di telapak tangannya, lalu kembali menatap Kinan.
"Saya tidak mencari seseorang yang sudah merasa memiliki kunci surga. Saya mencari teman untuk bersama-sama menuju ke sana. Dan malam ini, Allah mengirim Anda—bukan sebagai kesalahan, melainkan sebagai pintu dakwah yang paling nyata bagi saya."
Kinan terdiam saat mendengar perkataan dari Adnan yang seperti air dingin yang menyiram bara api di dadanya. Namun, ketakutan akan dunia luar yang akan menghancurkan Adnan jika menikahinya masih jauh lebih besar daripada harapan apa pun yang baru saja tumbuh.
Kinan menatap Adnan dengan tatapan menantang, sebuah upaya terakhir untuk menghancurkan harapan sang Ustadz.
"Baiklah kalau Ustadz memaksa. Tapi malam ini, Ustadz harus melihat sendiri bagaimana pekerjaan saya. Setelah itu, semuanya di tangan Anda. Keputusan Ustadz akan saya terima setelah Anda melihat dunia saya yang menjijikkan."
"Saya terima tawaranmu." ucap Adnan sambil menganggukkan kepalanya.
Malam itu, sebuah pemandangan ganjil terjadi. Mobil Adnan membelah kegelapan menuju sebuah klub malam yang bising dengan dentuman musik remix dan lampu neon warna-warni yang menyilaukan.
Di depan pintu masuk, aroma alkohol dan asap rokok menyambut indra penciuman Adnan yang terbiasa dengan aroma kayu gaharu dan minyak wangi non-alkohol.
"Duduk di sini, Ustadz. Jangan ke mana-mana sampai saya selesai," bisik Kinan sebelum menghilang di balik pintu ruang ganti.
Adnan duduk di sebuah sudut remang-remang. Kehadirannya dengan baju koko bersih dan wajah teduh tampak seperti setitik cahaya di tengah kegelapan yang pekat.
Orang-orang di sekitarnya menatap heran, namun Adnan tak peduli.
Jemarinya bergerak lincah di balik saku, memutar butiran tasbih digital, sementara bibirnya tak henti melantunkan dzikir.
Beberapa saat kemudian, Kinan muncul. Ia telah kembali menjadi sosok yang "lain".
Kinan mengenakan pakaian yang jauh dari kata sopan, dengan riasan yang menonjolkan kecantikannya secara provokatif.
Ia mulai melayani tamu, menuangkan minuman, dan tertawa dalam kepalsuan di bawah sorotan lampu disko.
Sesekali ia melirik ke arah Adnan, berharap melihat gurat kemarahan atau jijik di wajah pria itu. Namun, Adnan justru tersenyum tipis. Matanya tidak menatap Kinan dengan pandangan syahwat maupun hinaan.
Pikirannya justru melayang jauh ke masa lalu, pada kisah yang pernah ia pelajari di pesantren.
Ia teringat betapa mulianya Allah dalam menerima hamba-Nya yang ingin pulang.
Ia teringat kisah wanita dari kaum Juhainah yang datang kepada Rasulullah SAW dengan perut buncit membawa dosa zina.
Wanita yang lebih mencintai kesucian jiwanya daripada nyawanya sendiri.
“Betapa indahnya keadilan langit,” batin Adnan di tengah bisingnya musik klub.
Ia merenungi ucapan Rasulullah tentang wanita itu.
"Sungguh dia telah bertaubat dengan taubat yang seandainya dibagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, maka itu cukup bagi mereka."
Adnan melihat Kinan bukan sebagai "pendosa", melainkan sebagai wanita Juhainah di masa modern.
Seseorang yang mungkin sedang berteriak minta tolong di dalam hatinya yang paling dalam, namun tak tahu jalan pulang.
Bagi Adnan, jika Allah saja bisa begitu mencintai hamba yang bertaubat hingga menjadikannya mulia, siapalah dia sebagai manusia yang berani menutup pintu itu?
Musik berhenti sejenak untuk pergantian lagu. Kinan menghampiri meja Adnan dengan napas yang sedikit terengah.
"Bagaimana, Ustadz? Masih mau menjadikan wanita yang dipandangi ratusan lelaki di tempat ini sebagai istri Anda?" tanya Kinan ketus, mencoba menutupi rasa malunya.
Adnan menghentikan dzikirnya, menatap Kinan dengan ketulusan yang belum pernah Kinan temui pada lelaki mana pun di klub itu.
"Mbak Kinan, saya baru saja teringat kisah seorang wanita di zaman Nabi. Dia datang memohon disucikan meski tahu taruhannya adalah nyawa. Allah mencintainya bukan karena dosanya, tapi karena keberaniannya untuk mengakui kesalahan dan kembali."
Adnan langsung bangkit dari tempat sambil merapikan pakaiannya.
"Malam ini saya sudah melihat 'pekerjaan' Anda. Sekarang, izinkan saya menunjukkan 'pekerjaan' saya sebagai seorang suami: yaitu menuntunmu pulang ke rumah Allah. Keputusan saya tetap sama. Saya akan melamarmu secara resmi besok pagi."
Kinan hampir menjatuhkan gelas yang ada di tangannya.
Pertahanannya runtuh tepat di tengah lantai dansa.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅