Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Buah Keisengan
Aroma semerbak mie instan, mengusik indra penciuman Kalandra. Setelah menikmati kopi panas, ia berpamitan pada Naina untuk beristirahat karena mata yang terasa lengket.
Sementara Naina, sedang asyik mengobrol dengan tetangga mereka yang tendanya berhadap - hadapan.
"Baru mau aku bangunin." Kata Naina saat menyembulkan kepalanya ke dalam tenda.
"Kamu udah masak, Na?" Tanya Kalandra.
"Udah. Ayo makan, Bang." Ajak Naina.
Kalandra pun keluar dari tenda dan melihat sudah ada mie rebus lengkap dengan telur, sayuran dan juga bakso.
"Mau kemana, Bang?" Tanya Naina.
"Cuci muka sebentar." Jawab Kalandra yang kemudian mengambil sedikit air hujan dari kantung plastik yang sengaja ia gunakan untuk menampung air hujan.
Kalandra kemudian duduk bersama Naina setelah mencuci wajahnya. Flysheet yang juga mereka gunakan sebagai dapur itu, tampak rapi dan bersih.
"Kok ada sayur? Kan gak bawa sayur?" Tanya Kalandra.
"Barter pake kopi sama tetangga depan." Jawab Naina yang membuat Kalandra tersenyum.
"Ini kok ada nanas?" Tanya Kal lagi.
"Oh, ini di kasih sama tenda kuning itu, tuh. Tadi dia minta air panas karena rombongannya yang bawa kompor belum sampe. Gak lama, dia balik lagi nganterin nanas ini." Jawab Naina.
Ada saja tingkah gadis di sebelahnya itu yang membuat Kalandra heran namun juga terhibur.
"Udah ah, jangan tanya terus." Kata Naina sambil menyendokkan mie juga lauk dan sayuran, kemudian memindahkan ke dalam mangkuk.
"Makan nih, Bang." Kata Naina sambil memberikan mangkuk itu pada Kal.
"Makasih, ya." Ucap Kalandra sambil tersenyum.
"Sama - sama." Jawab Naina.
Seperti biasa, Naina mengambil sedikit mie dan meletakkannya di pinggir tenda.
"Aku makan, ya. Silahkan kalau mau di cicip." Kata Naina.
Sepanjang sesi makan, Naina terus berceloteh. Ia menceritakan tentang para penghuni tenda yang berada di pos yang sama dengan mereka.
Celotehan gadis itu, tentu menjadi suasana yang berbeda untuk Kalandra. Jika biasanya ia mendaki untuk mencari ketenangan, kali ini pendakiannya terasa sedikit berisik. Meski begitu, entah mengapa Kalandra sangat menikmati keberisikan itu.
"Biar Abang aja yang cuci bekas makannya nanti." Kata Kalandra yang membuat Naina terdiam sejenak.
Ada ucapan Kalandra yang terasa berbeda saat masuk ke indra pendengarannya. Walaupun menyadari, namun Naina berusaha untuk pura - pura cuek.
"Biar aku aja, Bang. Lagian risih kalo lihat alat kotor gini." Jawab Naina sambil melanjutkan kegiatannya.
Kalandra pun membantu mengeringkan peralatan makan yang sudah di cuci oleh Naina dan kembali merapikannya agar tak berantakan.
Keduanya kemudian duduk sambil menikmati malam di Gunung yang masih berteman dengan tetesan air hujan.
"Kamu gak ganti kerudung? Kerudungmu lembab, nanti sakit kepala." Kata Kalandra sambil meraba puncak kepala Naina.
Bukannya menjawab, Naina justru tertegun dengan jantung yang berdebar kencang karena tangan Kalandra yang mengusap - usap puncak kepalanya.
"Jangan baper, Na. Mungkin Bang Kal nganggep kamu adik perempuannya. Secara, dia kan gak punya adik." Batin Naina berteriak.
"Ganti dulu, Na." Kata Kalandra lagi.
"I-Iya, Bang." Jawab Naina yang segera masuk ke dalam tenda untuk berganti kerudung. Tak lupa, ia menutup tenda terlebih dahulu.
Setelah mengganti kerudungnya yang lembab, Naina kembali keluar. Kali ini dengan memakai jaket karena udara dingin yang terasa mulai menusuk tulang.
"Na.."
"Iya, Bang?" Jawab Naina.
"Kamu bisa lihat makhluk ghoib?" Tanya Kalandra yang di jawab gelengan oleh Naina.
"Terus, kenapa kamu bisa lihat-" Kalandra tak melanjutkan ucapannya karena ia rasa Naina mengerti maksudnya.
"Aku juga gak tau, Bang. Tadinya, aku kira, beliau teman Abang." Jawab Naina.
"Abang bahkan sama sekali gak tau wujudnya." Kata Kalandra.
"Hah? Serius? Abang belum pernah lihat?" Tanya Naina yang di jawab anggukan oleh Kalandra.
"Apa selalu ada di sekitarku?" Tanya Kalandra.
"Enggak. Hanya waktu - waktu tertentu aja. Beliau datang seolah hanya mengawasi. Tapi, aku rasa beliau selalu datang kalau Abang merasa resah, takut atau dalam bahaya." Jawab Naina.
"Aku panggil beliau apa ya, Bang?" Tanya Naina kemudian sambil melihat ke belakang Kalandra.
"Beliau ada di sini?" Tanya Kalandra yang di jawab anggukan oleh Naina.
"Panggil saja Datok." Jawab Kalandra.
"Datok?" Tanya Naina sambil kembali menatap pria di belakang Kalandra.
Tak lama, Naina tersenyum dan mengangguk - anggukan kepalanya.
"Kenapa, Na?" Tanya Kalandra heran.
"Gak apa - apa, Bang." Jawab Naina.
Sejenak, keduanya kembali sama - sama terdiam. Mereka sama - sama melihat sorot headlamp di jalur pendakian yang berada di bawah mereka.
"Masih ada yang naik aja. Padahal hujan." Celetuk Naina.
"Ini masih sore, Na. Masih jam setengah sembilan." Sahut Kalandra.
Tak lama, seorang pendaki yang berlari, menghampiri tenda mereka.
"Kak! Tolong, Kak. Tolong temen saya hipotermia. Boleh saya menumpang sebentar di flysheetnya?" Katanya meminta bantuan.
"Dimana temannya?" Tanya Kalandra.
"Itu, masih di bawah. Tapi sebentar lagi sampe."
"Bawa ke sini aja." Kata Kalandra.
"Makasih, Kak." Ucap si pria.
Si pria yang meminta tolong tadi pun langsung mendirikan tenda bersama dua orang temannya yang lain. Tak lama, dua orang temannya itu sampai. Salah satu di antaranya mengalami hipotermia hingga kesadarannya hampir hilang.
Tanpa di komando, Kalandra dan Naina bergerak cepat menolong. Kalandra membungkus tubuh pendaki pria itu dengan emergency blanket yang selalu ia bawa. Sementara Naina segera merebus air.
"Ini tehnya, Bang." Kata Naina yang memberikan segelas teh manis pada Kalandra untuk di berikan pada si pendaki.
"Ada sisa air yang panas?" Tanya Kalandra.
"Ada, ini." Jawab Naina.
"Tolong basahi kaos ini pake air panas. Untuk mengompres." Pinta Kalandra.
Naina pun segera melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Kalandra. Untungnya, kondisi pendaki itu berangsur - angsur membaik dan ketika tenda kelompoknya sudah selesai, ia pun di bawa beristirahat di tenda kelompoknya.
"Gak tidur? Dingin. Besok pagi kita lanjut jalan." Kata Kalandra.
"Belum ngantuk, Bang. Abang gak tidur?" Tanya Naina.
"Baru bangun tadi, Na. Masak di suruh tidur lagi." Jawab Kalandra yang membuat Naina nyengir.
Mereka pun kembali mengobrol ke sana dan ke mari. Tentu banyak membahas tentang pendakian.
"Masuk aja kalau kedinginan. Nanti masuk angin." Kata Kalandra saat melihat Naina menghangatkan tangannya.
"Tapi masih pingin di sini. Yang lain aja masih pada main." Kata Naina yang melihat orang - orang di sekitarnya masih banyak yang mengobrol.
"Sini tanganmu." Kata Kalandra yang kemudian menautkan tangan Naina dengan tangannya. Ia lalu memasukkannya ke dalam saku jaket tebalnya.
Jantung Naina berdebar makin keras saat mendapat perlakuan manis dari Kalandra. Tetapi, memang dasar Naina usil, ia justru berniat menggoda Kalandra.
"Yang kiri belum, Bang." Goda Naina sambil menunjukkan tangan kirinya.
"Ch! Anak ini." Kekeh Kalandra yang kemudian berpindah duduk ke hadapan Naina. Ia pun melakukan hal yang sama pada tangan kiri Naina.
Naina sendiri tak berekspektasi jika Kalandra akan menuruti keisengannya dan pada akhirnya, ia sendiri yang kebingungan meredam gemuruh di hatinya.
yg crita stunya ko serem sih thor..
doble up donk