NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8: Dekap Hangat Setelah Badai

Setelah berbulan-bulan hanya ditemani bayang-bayang dan bantuan rahasia dari Valerius, momen yang dinantikan itu tiba dengan cara yang paling mengerikan.

Pintu paviliun yang sudah rapuh itu hancur berantakan ditendang dari luar. Sosok pria dengan zirah yang retak, berlumuran darah kering dan debu peperangan, berdiri di sana. Raze. Matanya yang merah karena kurang tidur dan amarah seketika membelalak saat melihat pemandangan di depannya.

Paviliun itu lembap, bau amis air kotor menyeruak, dan di tengah ruangan yang hancur itu, Nona kecilnya berdiri dengan pakaian lusuh yang menempel di tubuh kurusnya.

"Nona..." suara Raze bergetar parah. Ia jatuh berlutut, mengabaikan luka-luka di tubuhnya sendiri. "Tempat ini... kenapa tempat ini menjadi begitu kotor dan hina? Apa yang terjadi selama hamba pergi?"

Rubellite tidak menangis. Ia justru menatap Raze dengan pandangan yang membuat ksatria itu bergidik; pandangan yang dingin dan penuh dendam.

"Kau ingin tahu apa yang terjadi, Raze?" suara Rubellite tenang, namun tajam. "Simpan air matamu. Bawa aku menghadap Ayahanda Kaisar sekarang juga. Biarkan aku yang menjelaskan semuanya."

Di Aula Utama Kekaisaran

Aula yang megah itu mendadak sunyi saat pintu besar terbuka. Raze melangkah masuk dengan pedang yang masih terhunus di samping, mengawal Rubellite yang berjalan dengan dagu terangkat meski tubuhnya tampak sangat ringkih. Di sisi aula, Valerius berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Rubellite dengan senyum tipis yang penuh antisipasi.

Kaisar yang duduk di singgasananya mengerutkan kening. "Raze? Kenapa kau membawa anak itu ke sini dengan kondisi sehina itu?"

Rubellite maju satu langkah sebelum Raze sempat bicara. Ia menatap lurus ke mata pria yang menyebut dirinya Ayah itu.

"Hina, Ayahanda?" suara Rubellite menggema. "Kondisiku hari ini adalah cerminan dari bagaimana Kekaisaran ini berjalan saat pahlawannya sedang berperang. Selama Raze bertaruh nyawa di perbatasan, para ksatria yang kau beri gaji besar dan pelayan yang kau beri makan justru sibuk menyiramku dengan air pel, membiarkanku meminum air jambangan bunga, dan membiarkanku kelaparan hingga aku harus memakan roti berjamur."

Kaisar tertegun. Para ksatria seperti Jaxen dan Kaelen yang ada di sana mulai berkeringat dingin.

"Mereka tidak hanya menyiksaku," lanjut Rubellite, suaranya naik satu nada. "Mereka menghina martabat Kekaisaran dengan memperlakukan darah dagingmu lebih buruk dari binatang. Dan semua itu terjadi karena kau, Kaisar yang agung, sengaja membuang muka."

Melihat keberanian Rubellite, Raze segera melangkah maju dan bersujud dengan suara zirah yang berdentang keras di lantai marmer.

"Hamba melapor, Baginda Kaisar!" suara Raze menggelegar penuh amarah yang ditekan. "Hamba telah memenangkan perang di perbatasan, namun hamba menemukan pengkhianatan di dalam rumah sendiri. Demi martabat Nona Rubellite dan kehormatan militer, hamba menuntut pemecatan tidak hormat bagi seluruh ksatria dan pelayan yang terlibat dalam kekejaman ini! Jika tidak, maka pedang hamba yang akan menghakimi mereka di sini, sekarang juga!"

Kaisar menatap Rubellite, lalu beralih ke Valerius yang memberikan anggukan kecil—sebuah tanda bahwa Keluarga Duke Vermilion mendukung tuntutan ini.

"Lakukan," ucap Kaisar akhirnya dengan suara berat. "Pecat mereka semua. Seret mereka ke penjara bawah tanah."

Rubellite tidak tersenyum. Ia hanya menatap para pelayan yang kini menjerit memohon ampun saat diseret keluar. Baginya, ini hanyalah langkah pertama dari rencana besar yang telah ia diskusikan dengan Valerius.

Kaisar memberi isyarat, dan seorang wanita muda melangkah masuk. Ia tidak terlihat seperti pelayan istana yang kaku; wajahnya masih menyiratkan ketulusan yang belum tercemar oleh intrik kekaisaran. Rambutnya diikat sederhana, dan matanya yang jernih langsung membelalak saat melihat sosok kecil yang berdiri di tengah aula.

Itulah Anna. Ia adalah sosok yang memeluk Rubellite saat kedinginan di panti asuhan, yang rela membagi jatah makannya yang sedikit agar Rubellite tidak kelaparan.

"Nona... Nona kecilku," bisik Anna. Suaranya pecah.

Rubellite, yang selama ini membangun dinding es di sekeliling hatinya, merasakan dinding itu sedikit retak. Ia melangkah maju, melepaskan genggaman tangan Raze sejenak, dan membiarkan dirinya didekap oleh Anna. Pelukan Anna masih sama—hangat dan berbau seperti sabun murah yang dulu sering mereka gunakan di panti asuhan. Aroma yang mengingatkan Rubellite bahwa ia pernah dicintai sebelum dunia menjadi kejam.

Kaisar berdehem, memecah suasana haru itu. "Dia akan tinggal di paviliunmu mulai hari ini. Dia adalah satu-satunya orang yang identitasnya kau sebutkan sebelum pingsan waktu itu. Anggap saja ini sebagai... kompensasiku."

[Flashback]

Pandangan Rubellite kabur. Rasa sakit di sekujur tubuhnya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk, namun kesadarannya yang kian menipis justru membawanya kembali ke lorong dingin panti asuhan yang gelap.

Di sana, ia melihat bayangan dirinya yang lebih kecil, gemetar ketakutan di sudut ruangan. Namun, ia tidak sendirian. Seorang gadis muda—Anna—mendekapnya erat, menutupi tubuh mungil Rubellite dengan jubah tipisnya sendiri untuk menghalau dingin. Anna membisikkan doa-doa kecil, mengabaikan perutnya sendiri yang keroncongan demi memberikan suapan terakhir roti kering kepada Rubellite. 

"Jangan takut, Nona kecil. Selama aku di sini, kau akan aman," bisik Anna saat itu.

Kenangan itu berputar cepat. Kini, Rubellite berada di dalam kereta kuda kekaisaran yang megah namun terasa seperti penjara. Kaisar duduk di hadapannya, sosok yang agung namun tak tersentuh, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tubuh Rubellite bersimbah darah setelah insiden penjemputannya yang penuh kekerasan.

Napasnya tersengal. Rubellite tahu ia akan segera pingsan, namun ada satu hal yang terus menghantui pikirannya. Jika ia dibawa ke istana, apa yang akan terjadi pada satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia?

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Rubellite merangkak maju. Jemari kecilnya yang berlumuran darah mencengkeram jubah emas Kaisar—sebuah tindakan lancang yang bisa berujung hukuman mati. 

"Ayahanda..." suaranya pecah, nyaris menyerupai bisikan maut.

Kaisar terdiam, menunduk menatap tangan kecil yang mengotori jubahnya. "Bicaralah."

"Selamatkan... Anna," bisik Rubellite. Matanya yang merah berkaca-kaca, memancarkan keputusasaan yang mendalam. "Hanya dia... orang baik. Tolong, bawa dia... bersamaku."

Setelah kata terakhir itu terucap, cengkeraman Rubellite terlepas. Dunia menjadi gelap gulita saat ia jatuh pingsan di kaki pria yang ia panggil Ayah. Ia tidak tahu apakah permintaannya akan dikabulkan, namun dalam kegelapan itu, ia hanya berharap Anna tidak akan menderita di tempat yang ia tinggalkan.

[Masa sekarang]

Malam itu, paviliun Rubellite benar-benar berubah. Anna bergerak gesit, membersihkan ruangan dan menyiapkan segala keperluan Rubellite dengan penuh perhatian. Ia menyiapkan air hangat untuk mandi dan mengganti pakaian lusuh gadis itu dengan sutra yang lembut. Anna duduk di samping tempat tidur, menyanyikan lagu pengantar tidur lama dari panti asuhan sambil menyisir rambut Rubellite.

Raze berjaga di luar pintu, merasa sedikit lega mendengar suara Anna dan tahu bahwa Rubellite tidak lagi sendirian.

"Anna," panggil Rubellite pelan saat kepalanya bersandar di bantal. "Kau tahu, kan? Tempat ini berbahaya. Kau bisa saja dalam kesulitan karena bersamaku."

Anna berhenti menyisir. Ia mencium puncak kepala Rubellite dan tersenyum sedih. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Nona kecil. Kita adalah keluarga, ingat?"

Di pojok ruangan yang gelap, Valerius, yang kembali memantau secara rahasia, hanya terdiam. Ia melihat pemandangan itu dan menyadari bahwa Rubellite kini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh siapapun di istana ini: Kesetiaan murni dari seorang ksatria yang merasa bersalah (Raze) dan kasih sayang tulus dari seorang kakak (Anna).

Rubellite memejamkan mata. Ia merasa lebih kuat sekarang. Dengan Raze sebagai pedangnya, Valerius sebagai tameng politiknya, dan Anna sebagai rumahnya, Rubellite siap untuk berhenti menjadi korban dan mulai menjadi pemain utama dalam takdirnya sendiri.

Keesokan paginya, suasana paviliun terasa jauh berbeda. Anna sibuk menyiapkan gaun terbaik yang dikirimkan langsung dari penjahit kekaisaran, sementara Raze sudah berdiri tegak di depan pintu dengan zirah yang mengilap, siap mengawal sang Nona menuju jantung kekuasaan.

Namun, di dalam hatinya, Rubellite merasakan kecemasan yang luar biasa. Tubuhnya gemetar saat ia melangkah menyusuri lorong panjang menuju ruang kerja pribadi Kaisar. Ingatan tentang kehidupan sebelumnya—di mana Kaisar adalah sosok yang begitu dingin, kejam, dan tak tersentuh—terus menghantui pikirannya seperti mimpi buruk yang enggan pergi.

Saat pintu besar ruang kerja itu terbuka, aroma kayu cendana dan tinta mahal menyeruak. Di sana, di balik meja kayu besar, Kaisar duduk dengan wibawa yang mengintimidasi.

Rubellite tertunduk dalam, jemarinya meremas kain gaunnya dengan kuat. "Apa... apakah aku membuat kesalahan? Kenapa Yang Mulia memanggilku ke sini? Apakah pengumuman kemarin hanya sebuah jebakan?" batinnya ketakutan.

"Mendekatlah, Rubellite," suara Kaisar terdengar berat namun tidak setajam biasanya.

Rubellite melangkah maju dengan ragu hingga ia berdiri tepat di hadapan pria itu. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan. Kaisar menatap wajah mungil putrinya yang masih menyiratkan bekas-bekas penderitaan, lalu sebuah pemandangan langka terjadi: Kaisar tersenyum tipis.

"Mulai hari ini, kau adalah putriku yang sah. Bukan hanya di atas kertas, tapi di hadapan seluruh dunia," ucap Kaisar. Ia kemudian merogoh sebuah laci dan mengeluarkan sebuah stempel kecil dengan ukiran mawar merah dan naga, simbol kekuasaan pribadi seorang putri.

"Aku telah membersihkan paviliunmu, memberikanmu pengasuh yang kau inginkan, dan sekarang... aku memberikanmu otoritas. Gunakan ini untuk mendapatkan apa pun yang kau butuhkan. Jika ada yang berani merendahkanmu lagi, kau tidak perlu menunggu Raze. Kau sendiri yang punya kuasa untuk menghukum mereka."

Rubellite tertegun melihat stempel itu. Di kehidupan dulunya, ia tidak pernah mendapatkan pengakuan secepat dan sekuat ini. Ia menyadari bahwa kehadirannya sekarang telah mengubah jalannya takdir.

"Terima kasih, Ayahanda," suara Rubellite mulai stabil, meski masih ada getaran di sana.

"Dan satu hal lagi," Kaisar berdiri, berjalan mendekati Rubellite lalu meletakkan tangannya di bahu kecil gadis itu. "Aku tahu kau dekat dengan putra Duke Vermilion. Valerius adalah anak yang cerdas namun berbahaya. Gunakan hubungan itu dengan bijak. Kekaisaran ini membutuhkan sekutu, tapi seorang Putri harus tahu cara memimpin, bukan hanya mengikuti."

Rubellite mendongak, menatap mata Kaisar yang kini tidak lagi terlihat seperti monster di matanya, melainkan seorang pria yang sedang bertaruh besar pada dirinya.

Kaisar kembali duduk, namun sorot matanya yang tajam kini melunak, seolah ia sedang berusaha meruntuhkan dinding es yang selama ini ia bangun sendiri. Ia menyesap tehnya perlahan sebelum kembali menatap Rubellite yang masih berdiri mematung.

"Rubellite," panggilnya dengan nada yang lebih rendah. "Aku menyadari bahwa selama ini aku telah membiarkanmu tumbuh di tempat yang terlalu sunyi. Mulai sekarang, aku ingin kau lebih sering datang ke sini. Datanglah sesekali untuk menemaniku bicara, atau sekadar minum teh di sore hari."

Rubellite tersentak. Di kehidupan dulunya, dipanggil ke ruangan ini adalah sebuah hukuman, namun sekarang... sang Kaisar memintanya untuk hadir sebagai seorang teman bicara—sebagai seorang putri.

"Hamba... aku mengerti, Ayahanda," jawab Rubellite dengan suara pelan namun teguh.

Kaisar mengangguk puas. "Pergilah. Anna sudah menunggumu untuk menyiapkan keperluan barumu. Jangan biarkan dirimu terlihat lemah lagi di depan para bangsawan lain. Kau adalah seorang Valtia

Setelah pertemuan pribadi yang mendebarkan itu, Rubellite keluar dari ruang kerja Kaisar dengan langkah yang jauh lebih mantap. Di tangannya, ia menggenggam stempel otoritas dengan lambang naga dan mawar—simbol sah sebagai Putri Valtia.

Raze yang sejak tadi berjaga di luar pintu segera menegakkan tubuh. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari aura nonanya. Ketakutan yang tadi pagi menyelimuti Rubellite telah menguap, digantikan oleh ketenangan yang dingin sekaligus anggun.

"Nona, apakah yang mulia Kaisar mempersulit Anda?" tanya Raze, matanya menyelidik mencari tanda-tanda kecemasan.

Rubellite menggeleng pelan sambil menatap koridor istana yang megah. "Tidak, Raze. Justru sebaliknya. Beliau memintaku untuk lebih sering menemaninya minum teh dan bicara. Beliau... mengakuiku."

Raze tertegun. Ia tahu betul betapa dinginnya Kaisar selama ini terhadap siapa pun yang dianggapnya lemah. Pengakuan ini bukan sekadar gelar, tapi perlindungan paling absolut di seluruh Kekaisaran Valtia. 

"Kalau begitu, hamba akan memastikan setiap kunjungan Anda ke sana berlangsung tanpa gangguan," ujar Raze sambil meletakkan tangan di dadanya, memberi hormat.

Sore harinya, paviliun Rubellite dipenuhi oleh kiriman perabotan baru dan kain-kain sutra terbaik. Anna sibuk mengatur ulang ruangan dengan wajah yang sangat berseri-seri. Ia tak henti-hentinya bergumam syukur sambil menyiapkan teh melati kesukaan Rubellite.

"Nona, lihatlah! Sekarang paviliun ini tidak kalah cantik dengan kediaman permaisuri," ucap Anna riang.

Rubellite duduk di kursi barunya yang empuk, menatap ke arah jendela. Tak lama kemudian, seekor burung merpati pengirim pesan mendarat di sana—sebuah cara komunikasi rahasia milik Valerius. Rubellite mengambil gulungan kecil di kaki burung itu.

“Putri Valtia, minum teh dengan Kaisar adalah pedang bermata dua. Beliau bisa menjadi sekutu terkuatmu atau musuh yang paling tahu kelemahanmu. Jangan terlalu cepat percaya, namun gunakan setiap detik untuk menggali informasi. Aku akan menunggumu di pesta kebun besok.”

Rubellite membakar pesan itu di atas lilin, matanya berkilat menatap api yang melahap kertas tersebut. Ia menyadari bahwa posisinya sebagai Putri Valtia baru saja dimulai. Di depan sana, ada perjamuan teh yang harus ia hadapi, bangsawan yang harus ia bungkam, dan takhta yang harus ia jaga agar tidak lagi meremehkannya.

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!